Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Garis Pertama

...#...

...Pena itu tidak bergerak lagi. Ujungnya masih menempel di kertas, dan di bawahnya tinta biru membentuk titik kecil yang melebar pelan-pelan, seperti luka yang baru mulai merembes....

...Hendar tidak menoleh ke arah pintu. Itu yang pertama Bima perhatikan. Orang yang baru mendengar suara dari luar biasanya menoleh, atau setidaknya berhenti bernapas. Hendar hanya menggeser map biru itu setengah jengkal ke arah Bima, seperti pelayan yang merapikan piring sebelum tamu berikutnya datang....

..."Dia terlambat," katanya pelan. "Biasanya dia tidak terlambat."...

..."Bima." Suara dari luar lagi, kali ini lebih dekat. Pagar besi di depan rumah berderit. "Taruh penanya."...

...Wartini melangkah dari ambang pintu ke samping meja, tangannya menggenggam ujung selendang. "Mas, dengar Ibu. Taruh."...

...Bima tidak menaruhnya. Ia menatap titik tinta itu. Ada satu hal yang mengganggunya sejak tadi, dan baru sekarang ia bisa menyebutnya. "Tadi Bapak bilang kalau saya nggak tanda tangan, ada yang tanda tangan untuk saya."...

..."Betul."...

..."Berarti orang itu belum punya tanda tangan saya yang cukup bagus."...

...Hendar tidak menjawab. Jarinya berhenti mengetuk map....

..."Formulir di warung itu cuma satu tanda tangan," lanjut Bima. Suaranya pelan, tapi ia mendengar sendiri bahwa suaranya tidak gemetar. "Dan waktu itu saya lagi ngiris daging. Tangan saya masih bau bawang. Tandanya pasti jelek. Makanya Bapak butuh yang ini."...

...Wajah Hendar tidak berubah. Tapi kacamatanya, yang tadi sudah ia pasang rapi, ia betulkan sekali lagi dengan telunjuk. Bima sudah cukup lama berjualan di pasar untuk tahu apa artinya orang yang membetulkan sesuatu yang tidak perlu dibetulkan....

...Pintu depan terbuka tanpa diketuk....

...Alessia berdiri di sana dengan mantel basah di bahu. Rambutnya terikat asal, dan ada goresan baru di pelipis kirinya, tipis, sudah mengering. Di belakangnya Rico menjaga pagar dengan satu tangan di balik jaket. Alessia tidak langsung masuk. Ia melihat meja, kertas, pena, lalu tangan Bima, dan Bima melihat napasnya turun sedikit, seperti orang yang baru sampai di anak tangga terakhir....

..."Belum," katanya, hampir pada dirinya sendiri....

..."Belum," kata Bima....

..."Garis pertama?"...

..."Titik."...

..."Titik masih bisa dibuang."...

...Hendar tertawa kecil lewat hidung. "Selamat pagi, Nona. Saya baru mau menyeduh teh."...

..."Kamu tidak punya teh di rumah ini."...

..."Itu rumah Pak Darto. Saya hanya tamu." Hendar berdiri dan merapikan lipatan celananya. "Sama seperti Nona."...

...Alessia melangkah masuk. Sepatunya meninggalkan jejak basah di semen. Ia berhenti di sisi meja yang berseberangan dengan Hendar, tidak menyentuh kertas, hanya menunduk sedikit untuk membaca kotak kosong itu dari atas....

..."Siapa yang mengisi bagian ini?" Ia mengetuk kolom pemberi kuasa dengan satu kuku....

..."Notaris."...

..."Notaris mana?"...

..."Yang punya cap di sudut itu."...

..."Cap itu terlalu baru untuk tanggal dua belas tahun lalu." Alessia mengangkat kertas itu ke arah lampu. "Tinta capnya belum menguning. Kertasnya juga bukan kertas yang dipakai waktu itu."...

...Hendar diam sebentar. "Dokumen bisa dicetak ulang."...

..."Bisa. Kalau yang punya dokumen asli sudah tidak ada." Alessia menurunkan kertas itu pelan. "Atau kalau yang asli dicari, dan belum ketemu."...

...Ruangan itu sunyi. Kipas angin berderit satu kali. Dari kamar belakang terdengar suara papan lantai, pelan, dan Bima tahu itu Dimas yang sedang menguping dengan telinga menempel di pintu....

... ...

..."Kamu bohong ke saya," kata Bima....

...Ia tidak tahu kepada siapa ia mengatakannya. Alessia menoleh, dan Hendar juga....

..."Dua-duanya," lanjut Bima. Ia meletakkan pena di samping kertas, hati-hati, seperti meletakkan sendok yang masih panas. "Bapak bilang cuma dokumen untuk dibaca. Terus bilang tinggal tanda tangan. Mbak bilang nggak tahu kenapa tanggalnya sama, terus Nenek Mbak bilang saya sudah bayar harganya sejak tanggal empat belas. Kalian semua ngomong seolah saya ini kunci. Tapi nggak ada yang bilang kunci buat apa."...

..."Bima," kata Alessia....

..."Saya belum selesai." Ia mengeluarkan map cokelat dari balik jaket, yang tadi diberikan Ilaria, dan membukanya di atas meja di samping map biru. Dua dokumen itu berdampingan. Yang satu tanda tangan ayahnya, miring dan naik ke kanan. Yang satu kotak kosong. "Yang ini punya Bapak. Tanda tangan Ayah saya, dan saksinya Pak Darto sama Nenek Mbak. Jadi dua belas tahun lalu, ayah saya sudah tanda tangan pengalihan hak. Hak apa, ke siapa, saya belum tahu. Tapi dia tanda tangan."...

...Hendar melihat map cokelat itu, dan untuk pertama kalinya senyumnya lenyap total....

..."Dari mana itu?"...

..."Dari orang yang masih mau duduk di warung dengan tangan bersih," kata Bima, lalu melirik Alessia sekilas....

...Alessia tidak tersenyum, tapi sesuatu di sudut matanya melunak sepersekian detik....

..."Kalau ayah saya sudah tanda tangan," kata Bima, "kenapa Bapak butuh tanda tangan saya?"...

...Tidak ada yang menjawab. Wartini menarik napas pelan di belakangnya. Bima menoleh dan melihat ibunya sedang menatap dokumen cokelat itu dengan wajah yang aneh, bukan terkejut, tapi seperti orang yang akhirnya melihat benda yang selama ini hanya ia dengar suaranya di balik tembok....

..."Bu?"...

..."Itu tanda tangan bapakmu," bisik Wartini. "Tapi tintanya... Mas, tintanya hitam."...

..."Terus?"...

..."Bapakmu nggak pernah pakai pulpen hitam. Dia cuma punya satu pulpen, biru, dari kantor pelabuhan dulu. Dia nggak mau pakai yang lain. Katanya biar orang tahu mana tulisannya."...

...Bima menunduk. Ia melihat tanda tangan itu sekali lagi. Hitam. Ia tidak pernah memperhatikan. Di buku resep, di kalender, di papan kapur, semuanya biru atau kapur. Di dokumen ini, miring dan naik ke kanan, tapi hitam....

...Ia mengangkat wajah, dan melihat Alessia sudah menatap Wartini dengan sorot yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan menghitung. Lebih seperti orang yang baru menemukan satu kepingan yang cocok di tempat yang tidak ia duga....

..."Bu Wartini," katanya pelan. "Kapan terakhir Ibu lihat bapaknya Bima menulis dengan tinta biru?"...

..."Waktu... waktu dia pamit malam itu." Wartini menelan ludah. "Dia nulis sesuatu di buku resep. Di halaman belakang. Ibu pikir catatan belanja."...

...Bima merasa punggungnya dingin. Ia teringat buku itu, tersimpan di kain batik di dalam ransel, yang kini entah di mana. Halaman belakang. Ia belum pernah membuka sampai ke sana. Ia selalu berhenti di halaman tiga belas....

..."Buku itu di mana?" tanya Alessia....

...Bima membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ransel hitam ayahnya ia tinggalkan di mobil Rico, tadi malam, sebelum ke rumah putih. Ia menoleh ke pintu....

...Rico sudah berdiri di sana, wajahnya pucat. Ia tidak membawa ransel itu....

..."Mbak," katanya. "Mobilnya... tadi kacanya saya tutup. Tapi pas saya balik dari kebun, pintu belakangnya sudah terbuka."...

...Hendar mengambil pena biru dari meja, menutup tutupnya dengan bunyi klik kecil, dan memasukkannya ke saku dada....

..."Kalau begitu," katanya ramah, "saya rasa urusan tanda tangan bisa ditunda."...

...Ia melangkah ke pintu. Rico bergeser setengah langkah, tapi Alessia menggerakkan dua jarinya sekali, dan Rico berhenti. Hendar lewat di antara mereka tanpa tergesa, lalu berhenti di ambang pintu dan menoleh ke Bima....

..."Halaman belakang, Bima," katanya. "Ayahmu menulisnya dengan tinta biru. Saya cuma ingin kamu tahu, kami sudah membacanya sejak semalam."...

...Ia keluar. Pagar berderit, lalu bunyi motor, lalu sunyi....

...Bima berdiri kaku. Di sampingnya, tanpa menoleh, Alessia berbicara dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar di bawah derit kipas angin....

..."Kalau mereka sudah membacanya, kenapa mereka masih butuh tanda tanganmu?"...

...Bima tidak menjawab. Ia baru sadar tangan kanannya masih berlumur tinta biru, dan di telapaknya, tanpa ia sengaja, tinta itu membentuk huruf yang terbalik dari bekas menggenggam pena....

...Huruf A....

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!