Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
JUDUL: TERBAKAR DI NERAKA.
Fiorella
Aku gemetar ketakutan. Kedua gadis itu melepas jas yang menutupi tubuhku, lalu membelaiku.
Mijail menonton kami dengan puas sembari menanggalkan pakaiannya, tapi aku setengah mati ketakutan.
Sampai sejauh mana aku sanggup melangkah demi menebus nyawa bayiku?
Tak pernah kubayangkan berada dalam situasi seperti ini. Tak pernah kukira harus tidur dengan orang-orang yang bahkan tak kukenal. Ini memalukan, aku merasa kotor, tak bisa kupercaya ada yang lebih hina dari ini.
"Aku butuh minum," kataku.
"Kau gugup?" tanya Mijail. "Nona-nona, beri dia sesuatu supaya rileks."
Begitu ia berkata, kedua gadis itu pergi lalu kembali membawa sebotol wiski dan sebuah nampan berisi kokain.
Kuambil wiski itu dan kuteguk langsung dari botolnya. Cairan keras itu membakar tenggorokanku, tapi kuhabiskan seperempat botol minuman kuat itu. Kulepas botolnya, lalu kuhirup beberapa garis serbuk putih yang dalam hitungan detik sampai ke otakku dan mematikan segala akal sehatku.
Dengan kepala kosong dan tubuh mati rasa, aku mendekati Mijail. Kususuri punggung telanjangnya dengan tanganku, sementara kedua gadis itu berdiri di belakangku, menjelajahi tiap bagian tubuhku.
Aku mengerang pelan saat merasakan sepasang bibir hangat mencium pahaku, sementara jemari menyusup ke dalam diriku.
"Tenang, rileks saja dan nikmati," ujar Mijail.
Setelah berkata begitu, ia menarik lenganku dan membuatku membelakanginya. Kulemaskan tubuhku yang kaku dan kutumpukan kedua tangan pada sofa saat ia mulai menghentak masukku. Erangan tertahan keluar dari mulutku. Entah itu efek alkohol dan narkoba, atau aku memang mulai menikmati seks yang kuterima ini.
Hentakannya dalam. Aku merasakan bagaimana diriku dipenuhi oleh lelaki itu.
Kedua gadis itu menciumi tubuhnya, dan sesekali menjilati dadaku, meski posisi kami saat itu agak canggung.
Setiap kali ia menghentak, tubuhku bergerak, merasakan kenikmatan yang makin menjadi.
Mijail bergerak cepat dan keras, mengeram di telingaku sampai ke titik meledak oleh ekstase yang kami rasakan.
"Ah, ah, ah." Napasku berat, dadaku naik-turun terengah-engah.
"Ya, cantik, begitu yang kusuka," geramnya keras, memanaskan suasana.
Tapi di tengah persetubuhan kami, pintu terlempar dari tempatnya, terbelah dua. Sebuah suara melesat di sisiku, sesuatu menyerempet pipiku, dan cairan panas menyembur dari sana. Mijail melepaskan tubuhku. Meja kaca di belakang kami berderak pecah, berbaur dengan jeritan kedua gadis yang panik seperti kesetanan.
Aku berbalik dan mencoba melihat apa yang terjadi, tapi pandanganku kabur, kakiku terhuyung. Kurasa aku mengonsumsi lebih dari takaran.
Lalu kurasakan sepasang tangan menjambak rambutku. Kupandang dengan pening, tubuhku menggigil.
"Kau nyata atau cuma khayalanku?" ucapku, mengabaikan sakit dari cengkeraman kuat di rambutku.
Ketika kulihat jelas wajah Burian, kulingkarkan kedua lenganku ke lehernya dan kucium bibirnya dengan susah payah. Tapi begitu kulakukan, telapak tangannya menampar wajahku.
Aku terjatuh ke lantai, membentur dinding. Semuanya kacau. Sekujur tubuhku mulai kejang, dan dari mulutku keluar busa putih.
"Apa-apaan ini?" seru Burian.
"Bos, dia overdosis narkoba," kata Marcos. "Dia harus segera dibawa ke rumah sakit."