Hidup seorang gadis muda yang biasa di sapa Caca harus menjadi berantakan karena dia harus mendekam di dalam penjara untuk menanggung kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, dia menanggung semua itu hanya demi menyelamatkan kehidupan sang kekasih hati dan sebuah alasan
Tetapi apa yang dia dapatkan saat pertama kali keluar dari jeruji besi adalah sebuah pengkhianatan, dan sebuah kenyataan yang selama ini dia tak ketahui
Tiba-tiba saja Daniel Putra Perkasa seorang CEO muda yang sangat tampan mulai mendekati Caca dan memberikan Caca sebuah cahaya di dalam kehidupannya yang sudah berantakan, tetapi Caca tak mengetahui sama sekali bahwa semua yang Daniel lakukan hanya untuk menyakiti Caca
Apakah cinta bisa mengalahkan rasa benci? atau malah cinta mereka akan saling menyakitkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triana mutia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanjutkan Hidup Dengan Baik
Caca dan Adel pun menjemput Sindy lalu mereka makan siang bertiga, sikap Adel yang supel dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan Sindy. Dan Sindy pun bahagia karena Caca sudah bisa mempercayai orang lain
Selesai makan siang mereka pun kembali ke tempat mereka masing-masing dan tiba-tiba saja Caca mendapatkan sebuah buket bunga mawar yang sangat cantik di atas meja kerjanya
"Cie..."
Adel hanya tersenyum meledek ke arah Caca, dan tiba-tiba saja ponselnya pun berdering
"Udah terima bunga mawar nya?"
"Kamu yang kirim ini?"
"Kemarin kan aku udah bilang mulai hari ini untuk sementara aku ga bisa ketemu dan jagain kamu, jadi sebagai ganti nya aku akan kirimkan bunga mawar ke kamu setiap hari"
"Pokoknya mulai besok kamu ga boleh kirim bunga mawar lagi ke kantor"
"Kenapa?"
"Aku malu, semua orang jadi liatin aku terus." berbisik
"Oke, kalau gitu mulai besok aku kirim ke alamat rumah kamu aja langsung ya"
"Lagian buat apa sih? ini namanya pemborosan, aku ga suka"
"Tapi aku suka berikan sesuatu yang kamu suka, dan kamu ga bisa larang itu"
Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya Caca pun mengalah dan Rizal akan tetap mengirimkan buket bunga, tetapi dengan catatan hanya boleh mengirimkan bunga tersebut satu minggu sekali dan di kirimkan ke alamat rumah
Tetapi di tempat yang berbeda Daniel merasa sedikit jengkel mendengar Caca mendapatkan buket bunga mawar, dan sudah pasti dia pun mengetahui siapa orang yang mengirimkan bunga tersebut
"Apapun caranya hambat pekerjaan dia di sana, saya ga mau dia mengganggu rencana saya"
"Baik pak"
"Sekarang juga panggil perempuan itu ke sini, sudah saatnya saya mulai melangkah maju"
"Baik pak"
Abian pun keluar dari ruangan Daniel dengan perasaan yang tak menentu, sebagian hati kecilnya sangat tak mendukung apa yang akan Daniel lakukan. Tetapi hutang budi yang harus dia bawa memaksa dia tak bisa menolak apapun perintah yang Daniel berikan
Abian memanggil Caca ke ruang kerjanya dan Caca tanpa menunda waktu pun menghadap kepada Abian
"Apa kemarin kamu bertemu pak Daniel?"
"Iya pak"
"Apa kamu melakukan kesalahan?" menatap dengan serius
"Iya pak, saya tidak sengaja menumpahkan minuman yang pak Daniel bawa. Dan hal tersebut membuat pakaian pak Daniel menjadi kotor," menundukkan kepalanya
Abian pun membuang nafasnya dengan kasar, sedangkan Caca sudah ketakutan setengah mati karena dia fikir ini adalah akhir dari pekerjaan yang baru saja dia mulai
"Apa kamu sengaja melakukan hal kemarin?"
Dengan cepat Caca langsung menggelengkan kepalanya
"Pak Daniel bilang kamu kemarin bersama dengan putra dari pesaing perusahaan kita"
"Aku memang tau kalau Rizal bukan orang sembarangan dari mobil yang biasa dia pakai aja kelihatan, tapi aku ga sangka kalau dia anak dari pesaing perusahaan ini"
"Jadi apa kalian memang merencanakan untuk menghambat pekerjaan pak Daniel kemarin?"
"Saya minta maaf pak saya memang tidak sengaja, dan saya juga tidak mengetahui kalau teman saya itu anak dari pesaing perusahaan kita pak"
"Apa kamu yakin?" menatap dengan serius
"Iya pak," tanpa rasa ragu sama sekali
"Oke sekarang kamu hanya punya dua pilihan, pertama serahkan surat pengunduran diri kamu atau buktikan kepada kami kalau kamu bukan orang yang di kirimkan oleh perusahaan mereka"
"Saya akan buktikan kalau saya memang bekerja dengan sepenuh hati saya pak," dengan penuh keyakinan
"Berarti ga akan masalah dong kalau kami pindahkan kamu ke bagian apapun"
"Tidak masalah pak,"
"Kamu bisa menggunakan komputer?"
"Bisa pak"
"Oke, rapi kan barang-barang kamu. Mulai sekarang kamu akan jadi salah satu asisten pak Daniel"
Caca pun terlihat terdiam dengan ekspresi wajah bingung
"Kalau dia curiga sama aku harusnya dia jauhkan aku dari sesuatu yang berbahaya, kenapa dia malah bikin aku semakin dekat?"
"Kenapa?"
"Maaf pak sebelumnya, kalau saya di curigai merencanakan sesuatu bukan seharusnya saya di jauhkan dari segala sesuatu yang bisa membahayakan perusahaan ini pak." menatap dengan serius
"Anak pintar, semoga saja rencana pak Daniel ga akan membuat kamu hancur"
"Pak Daniel mau membuktikan secepatnya kamu pengkhianat atau bukan bagi perusahaan ini," dengan tegas
"Apa sebaiknya aku mengundurkan diri aja dari sini ya? aku rasa ini semua terlalu aneh"
"Kalau kamu memilih untuk mengundurkan diri ya tidak masalah bagi perusahaan kami, tapi saya dengar saudara kamu juga ada yang bekerja di sini." tersenyum penuh arti
"Apa ini artinya kalau aku sampai mengundurkan diri pekerjaan mbak Sindy juga akan terancam?"
"Pekerjaan saya banyak, jadi saya harap kamu bisa berikan keputusan kamu sekarang juga." penuh penekanan
"Baik pak, saya setuju di pindahkan"
"Oke, kembali ke ruangan kamu dan mulai rapi kan barang-barang kamu. Nanti ada orang yang akan antar kamu ke tempat kamu yang baru"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu pak"
Sesampainya Caca di ruangan nya dia pun langsung mulai merapikan barang-barang miliknya, dan Adel pun langsung menghampiri Caca untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Caca pun menceritakan semua kejadian yang telah dia alami
"Apa kamu ga ngerasa aneh Ca?"
"Ya mau gimana lagi Del? aku ga mungkin biarin mbak Sindy kena imbas masalah yang aku buat"
"Memang siapa nama teman kamu itu?"
"Rizal"
"Rizal Atmadja?" menatap dengan serius
"Kalau ga salah sih itu nama panjang dia, kenapa Del?"
Adel pun menggaruk kepalanya yang terasa gatal sama sekali
"Kenapa dunia ini sempit sih? tapi bukannya kak Rizal ga pernah mau dekat sama perempuan?"
"Kamu kenal sama dia Del?"
Adel pun menganggukkan kepalanya
"Apa benar dia anak dari pesaing perusahaan ini?"
Adel pun menganggukkan kembali kepalanya
"Aku beneran ga tau Del, aku juga kenal dia sebelum aku masuk sini"
"Ya udah kamu ga usah pikirin, kalau kamu memang merasa keberatan kamu bisa mengundurkan diri. Aku bisa bantu kamu dan kakak kamu untuk dapat pekerjaan baru," bersungguh-sungguh
"Ga usah lah Del, aku ga mau merepotkan teman aku."
"Ya udah pokoknya kalau kamu merasa ga nyaman kamu langsung bilang sama aku, masalah kerjaan untuk kamu dan kakak kamu ga usah kamu pikirin." bersungguh-sungguh
Caca pun tersenyum bahagia karena entah mengapa orang yang baru saja dia kenal bisa sebaik itu kepada dirinya, berbeda jauh dengan Siska yang selama ini dia anggap sebagai seorang sahabat
Tak selang berapa lama kemudian seseorang pun datang untuk menjemput Caca dan dia pun di antarkan ke lantai paling atas di gedung tersebut, dia juga mendapatkan meja sendiri di sebelah meja seseorang yang selama ini menjadi asisten dari penguasa gedung tersebut
"Aku harus buktikan kalau aku ga ada rencana apapun kerja di sini, aku juga ga mau sampai melibatkan mbak Sindy. Dan yang terpenting adalah aku harus bisa melanjutkan hidup aku dengan baik"
"Rasa Yang Terpendam"