Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Hujan mulai turun dalam bisikan yang tak putus, lembut pada awalnya, seolah langit menangis tanpa berani bersuara lantang. Titik-titik air meluncur di kaca jendela rumah kecil Zaira, menggores jejak-jejak basah pada permukaan yang berembun oleh kehangatan ruangan. Di luar, dunia seakan terhenti, menggantung di antara kabut dan detak lambat musim dingin.

Zaira duduk di lantai, kaki bersila, ponsel baru tergeletak di atas karpet dan kotaknya masih terbuka di hadapannya, bagai pertanyaan tanpa jawaban. Uang itu masih di sana, utuh, tertata rapi, seolah tidak nyata, seakan akan lenyap begitu disentuh. Udara sarat aroma tanah basah yang menyusup lewat celah jendela, bercampur bau apak kopi yang lupa ia angkat dari meja.

Di sisinya, cahaya redup lampu meja melemparkan bayangan panjang yang bergetar pada dinding yang usang. Selimut tua, rajutan tangan ibunya bertahun-tahun lalu, menutupi bahunya, kasar di kulit namun hangat. Setiap helainya seakan memeluknya, mengingatkannya akan siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan segala yang telah ia tanggung untuk sampai di titik ini.

Ia menyandarkan kening ke lutut, memejamkan mata. Jantungnya berdetak keras, tapi bukan karena takut. Karena kebimbangan.

Ia memikirkan lelaki itu.

Ciumannya. Tatapannya. Cara ia berbicara seolah Zaira sudah menjadi miliknya. Ketenangan berbahaya dalam suaranya, kehangatan tangannya, cara kehadirannya membungkam semua badai di dalam dirinya.

Ia juga memikirkan risikonya. Betapa mudah untuk menyerah. Betapa sulit untuk percaya.

"Apa yang sedang kulakukan...?" bisiknya nyaris tak terdengar, seakan takut mendengar suaranya sendiri.

Saat itulah terdengar ketukan tumpul dan kikuk di pintu, bunyi yang mengejutkan keheningan.

Ia bangkit perlahan, merasakan kekosongan di perut dan getar kecil di tangannya.

"Zaira?" Suara di seberang pintu bergetar, basah, patah. "Kamu di dalam...? Kumohon, aku perlu bicara denganmu."

Tatiana.

Nama itu jatuh seperti batu ke dasar sumur di dadanya. Sesaat, ia berpikir untuk tidak menjawab. Untuk tetap di sana, diam, membiarkan hujan membawa pergi kata-kata itu.

Tapi ia tidak melakukannya.

Ia menarik napas dalam, menelan ludah, dan bangkit dengan tubuh yang terasa berat. Setiap langkah menuju pintu terasa seperti pengkhianatan pada harga dirinya.

Begitu pintu terbuka, dingin malam menyeruak seperti tamparan. Tatiana berdiri di sana, basah kuyup sampai ke tulang, rambut lurusnya melekat di wajah, pakaian gelapnya basah, dan matanya... matanya sembap karena terlalu banyak menangis. Ia menjinjing kantong kertas yang lumer terkena air.

"Aku... aku cuma ingin menemuimu," ucapnya dengan suara kecil dan gemetar, tenggorokannya tercekat oleh rasa bersalah. "Boleh aku masuk?"

Zaira tak berkata apa pun. Ia hanya menatapnya dalam diam selama sesaat yang terasa abadi. Lalu ia menyingkir memberi jalan.

Tatiana melangkah masuk pelan-pelan, seakan menyeberangi ambang yang keramat. Langkahnya berderit dalam sepatu bot yang basah, dan lantai dipenuhi genangan-genangan kecil. Ia berhenti di tengah ruangan, menggosok-gosok lengannya untuk mengusir dingin yang bukan hanya berasal dari cuaca.

"Aku bawa kue cokelat..." bisiknya, mengangkat kantong itu dengan senyum yang layu. "Kesukaanmu. Aku tahu kamu suka kue ini saat hujan."

Zaira menutup pintu dengan lambat. Bunyi kunci yang terkatup terdengar lebih keras dari seharusnya. Ia berjalan ke sofa dan menjatuhkan diri tanpa sepatah kata, membiarkan keheningan bicara mewakilinya.

Tatiana duduk di lantai, di hadapannya, kaki bersila seperti masa-masa dulu. Tapi tak lagi sama. Tak ada yang sama.

"Aku tahu kamu membenciku," gumamnya setelah hening sejenak. "Aku mengerti. Tapi kamu... kamu satu-satunya sahabat sejatiku. Semua orang mendekatiku karena apa yang kupunya, karena merek yang kupakai, karena apa yang kuwakili. Tapi kamu tidak. Kamu menyayangiku apa adanya."

Zaira mengatupkan bibirnya rapat, pandangannya terpaku pada kayu lantai.

"Dan meski begitu, kamu yang pertama menyerahkanku seolah aku... sebuah hadiah. Seakan aku tak lebih berharga dari satu malam yang eksotis bagi seorang jutawan. Kamu tahu apa yang bisa terjadi malam itu?"

Suaranya keluar patah, dengan ketajaman menyayat yang hanya bisa dibentuk oleh luka yang paling dalam.

Tatiana menunduk, seperti anak kecil yang kena marah.

"Aku tahu. Aku tak punya alasan. Kukira kamu aman... kukira itu kesempatan buatmu. Aku terbawa oleh dunia itu, oleh namanya, oleh kuasanya. Karena melihatmu begitu terpuruk."

Zaira memandangnya dengan amarah, dengan dendam yang mendidih dalam darahnya.

"Memangnya siapa dia jadi soal? Bisa saja itu orang lain lalu memperkosaku! Bisa saja aku disakiti! Tak seorang pun akan berbuat apa-apa, Tatiana. Karena di dunia itu, uang menutupi segalanya... bahkan jeritan."

Tatiana bergidik, menggigit bibir sampai berdarah.

"Kamu benar," katanya nyaris tak terdengar. "Aku salah. Dan aku tak pantas kamu dengarkan, tapi aku perlu datang. Karena... aku merindukanmu."

Zaira menarik napas dalam. Dadanya terasa perih.

"Aku tak akan memaafkanmu semudah itu. Apalagi mempercayaimu lagi."

Tatiana mengangguk pelan. Ia tak membela diri. Ia hanya meringkuk, seakan beban dari keputusan-keputusannya menghimpit bahunya.

"Aku terima kalau kamu membenciku. Aku datang bukan untuk membersihkan namaku. Aku cuma... perlu menemuimu. Ingin tahu apakah kamu akan bersamanya."

Zaira terdiam sejenak. Lalu suaranya keluar lebih lembut, diwarnai kepiluan.

"Aku sudah bersamanya, ya. Karena... saat bersamanya, aku merasa jadi orang lain. Aku merasa terlindungi. Seolah, untuk sesaat, semua yang buruk lenyap. Aku tak kelaparan, tak kedinginan. Aku tak takut. Ia membuatku merasa hidup."

"Dan uangnya?"

Zaira mengalihkan pandangan ke arah kotak itu.

"Aku menolaknya. Kubilang aku tak mau ia membeliku. Ia memberiku ponsel ini dan... ada uang di dalamnya. Aku bahkan tak tahu berapa. Aku tak tahu harus menerimanya atau tidak. Aku tak mau berutang apa pun padanya."

Tatiana mendekat perlahan, bicara dari lubuk hatinya.

"Zaira... terimalah. Bukan karena itu dari dia. Tapi demi dirimu. Demi ibumu. Demi masa depanmu. Kamu berjuang melawan dunia yang tak bermain jujur. Pakai senjata yang kamu punya, walau datang dari orang seperti dia. Kalau ia melakukannya dengan tulus... maka itu bukan sedekah. Itu penyelamat nyawa."

Zaira menunduk. Air mata menggenang tanpa izin, membakar matanya. Tatiana melihatnya remuk sedikit demi sedikit di setiap kata, di setiap keraguan.

"Aku tak mau bergantung pada siapa pun," bisik Zaira dengan suara yang telah hancur berkeping.

"Itu bukan bergantung kalau kamu yang memilih," jawab Tatiana. "Itu bertahan hidup."

Setetes air mata meluncur di pipi Zaira. Tatiana mengulurkan tangan yang gemetar, dan dengan punggung jarinya menyeka wajah sahabatnya.

"Aku tak mau kehilangan kamu," ucapnya lirih.

Zaira tak menjawab. Ia menutup mata. Semua terasa perih. Segalanya perih.

"Akan kupikirkan," katanya akhirnya, nyaris berbisik.

Tatiana mengangguk, matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih sudah membiarkanku masuk, walau ini yang terakhir kalinya."

Ia bangkit dengan kikuk, meninggalkan kantong berisi kue di atas meja. Ia melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh untuk yang terakhir.

"Leonardo memang punya jutaan dolar, Zaira... tapi kamu punya sesuatu yang tak bisa dibeli siapa pun. Jangan lupakan itu."

Pintu tertutup dengan desah pelan, dan keheningan kembali berkuasa.

Zaira tetap di lantai, memeluk lututnya, mendengarkan hujan, merasakan sesuatu di dalam dirinya berubah bentuk. Ia menatap ponsel itu. Ia mengambilnya dengan kedua tangan.

Ia menggenggamnya, seakan benda itu lebih berat dari tampaknya.

Seolah, dengan menerimanya, ia juga menerima sesuatu yang lebih besar daripada uang: sebuah keputusan yang bisa mengubah hidupnya.

Hujan terus turun. Tapi kini, alih-alih melukai, ia seakan membasuh.

1
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!