Indonesia
NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Yang Berulang

Di rumah Kasandra, wanita itu sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya. Sejak pesta beberapa hari lalu, pikirannya selalu dipenuhi oleh Tina.

Ia mengambil ponselnya lalu membuka foto Tina yang diam-diam ia simpan.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Aku sangat merindukanmu, Tina. Tunggu ya, Nak. Mama akan datang menemuimu," gumam Kasandra sambil mengusap layar ponselnya.

Tatapannya kemudian berubah dingin.

"Kalau bukan karena harta keluarga Alexander yang begitu besar, Mama tidak akan pernah menukar kamu dengan anak Fisya."

Ia tersenyum tipis seolah tidak menyesali perbuatannya sedikit pun.

Tanpa disadari, Nisa yang hendak mengantarkan minuman berhenti di balik pintu kamar.

Ucapan Kasandra membuat tubuhnya membeku.

"Jadi... Non Tina adalah anak kandung Bu Kasandra?" bisiknya lirih.

Lalu pikirannya langsung tertuju kepada bayi yang selama ini ia rawat.

"Kalau begitu... Agnes..."

Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Air matanya hampir jatuh, ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri.

Dengan langkah pelan, ia mundur meninggalkan depan kamar agar tidak ketahuan.

"Aku tidak boleh sampai ketahuan kalau aku mendengar semua ini."

Ia menarik napas panjang.

"Kasihan sekali Agnes."

"Mulai sekarang aku akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin. Apa pun yang terjadi."

***

Sementara itu, Kasandra mengambil tasnya lalu keluar rumah tanpa memberi tahu Jason.

Ia langsung menuju rumah keluarga Alexander.

Beberapa puluh menit kemudian...

Mobil Kasandra berhenti di halaman rumah Fisya.

Bik Lili yang sedang menyapu halaman langsung terkejut melihat tamu yang datang.

"Bu Kasandra?"

Kasandra tersenyum.

"Fisya ada?"

"Maaf, Bu Fisya masih di kantor." Jawab Bik Lili

"Tidak apa-apa. Aku mau melihat Tina." Ucap Kasandra dengan senyuman

Tanpa menunggu izin, Kasandra langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

"B... Bu Kasandra!" panggil Bik Lili.

"Tina baru saja tidur." Teriak bik Lili untuk menghentikan

Kasandra tidak menggubris, ia tetap berjalan menuju lantai atas.

Bik Lili hanya bisa mengikuti dari belakang.

"Bu Kasandra, sebaiknya nanti saja. Non Tina benar-benar baru tertidur."

"Aku hanya ingin melihatnya sebentar," jawab Kasandra singkat.

Beberapa saat kemudian...

Kasandra sudah berada di kamar Tina, ia memandangi bayi yang sedang tertidur dengan mata berkaca-kaca.

"Tina..." panggilnya

Kasandra tersenyum haru.

"Aku benar-benar merindukanmu sayang"

Ia duduk di samping tempat tidur bayi sambil terus menatap wajah Tina.

Tidak lama kemudian... Suara mobil memasuki halaman rumah, Jason baru saja pulang.

Bik Lili yang melihatnya semakin heran.

"Ibu belum pulang dari kantor... tapi Pak Jason sudah pulang. Sedangkan ada Bu Kasandra di atas."

"Apa mungkin mereka memang sudah janjian?" batinnya.

Jason masuk ke dalam rumah.

"Fisya belum pulang?"

"B... belum, Pak." Jawab bik Lili gugup

Jason mengangguk lalu langsung berjalan ke lantai atas.

Saat membuka pintu kamar Tina...

Ia langsung terkejut.

"Kasandra?"

Kasandra segera memberi isyarat agar Jason mengecilkan suara.

"Ssst...Tina sedang tidur."

Jason mendekat dengan wajah tegang.

"Kenapa kamu ke sini?"

"Bagaimana kalau Fisya melihatmu?"

"Kenapa kamu tidak memberitahuku dulu?"

Pertanyaan Jason bertubi-tubi.

Kasandra hanya tersenyum.

"Aku merindukan Tina."

Kemudian ia menatap Jason.

"...Dan aku juga merindukanmu."

Jason menghela napas panjang.

"Kamu ini benar-benar nekat."

Kasandra melangkah mendekat dan ia menggenggam tangan Jason.

"Aku hanya ingin bertemu sebentar."

Jason sempat ragu namun akhirnya ia membalas genggaman tangan Kasandra.

Keduanya saling menatap tanpa menyadari keadaan sekitar.

Saat itulah...

Pintu kamar terbuka perlahan.

Fisya yang baru pulang dari kantor berdiri di ambang pintu dan langkahnya langsung terhenti.

Tatapannya tertuju pada Jason dan Kasandra yang sedang bercumbu di kamar putrinya.

Wajah Fisya tetap tenang namun sorot matanya berubah dingin.

Tanpa mengeluarkan suara, ia perlahan mengeluarkan ponselnya lalu ia merekam semua yang dilihatnya sebagai bukti.

Setelah merasa cukup, Fisya kembali menutup pintu secara perlahan.

Ia turun ke lantai bawah seolah tidak pernah datang.

Bik Lili yang melihat wajah majikannya langsung khawatir.

"Bu... Ibu baik-baik saja?"

Fisya mengangguk pelan.

"Iya, Bik."

Jawabannya singkat, tetapi terdengar sangat tenang.

Sebelum keluar rumah lagi, Fisya berhenti di depan Bik Lili.

"Bik." Panggilnya

"Iya, Bu." Jawab bik Lili

"Jangan bilang kepada mereka kalau aku sudah pulang." Ucap Fisya dengan tegas

Bik Lili mengangguk.

"Baik, Bu."

"Setelah mereka pergi, tolong bersihkan seluruh kamar Tina"

Bik Lili terlihat bingung.

Fisya tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Aku tidak ingin kamar putriku dinodai oleh pengkhianatan mereka dan tolong rapikan semua barang-barang milik Tina juga, kemas dalam satu koper" Ucap Fisya

Bik Lili terdiam, ia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh majikannya itu

"Barang-barang milik Non Tina juga, Bu?" tanya Bik Lili dengan wajah bingung.

Fisya menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Bik Lili dengan tatapan tenang.

"Iya, Bik."

"Bibik lakukan saja apa yang saya perintahkan. Nanti akan saya jelaskan semuanya."

Fisya kembali melangkah, tetapi sebelum benar-benar keluar rumah, ia berhenti lagi.

"Oh ya bik satu hal lagi."

"Iya, Bu. Apa itu" jawab bik Lili

"Bibik juga siapkan semua barang milik Bibik. Kalau perlu, mulai malam ini semuanya sudah dipacking."

Bik Lili semakin tidak mengerti.

"Barang saya juga, Bu?"

Fisya mengangguk pelan.

"Iya, percayalah sama saya, semua ini demi keselamatan kita terutama Tina"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Fisya langsung keluar rumah.

Mobilnya perlahan meninggalkan halaman.

Bik Lili hanya memandangi mobil majikannya hingga menghilang dari pandangan.

"Ada apa sebenarnya?" batinnya.

"Kenapa Ibu menyuruh saya mengemas semua barang?"

"Apakah Ibu akan pindah rumah?"

Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya namun ia memilih menuruti perintah majikannya.

***

Sekitar tiga puluh menit kemudian...

Jason dan Kasandra turun dari lantai atas sambil tersenyum puas.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa semua tingkah mereka telah direkam oleh Fisya.

Jason melihat ke arah ruang tamu.

"Fisya sudah pulang bik?"

Bik Lili menggeleng.

"Belum, Pak."

Jason menghela napas kesal.

"Sudah sore begini masih belum pulang."

"Dasar Fisya."

"Tidak becus mengurus anak." Caci Jason

Kasandra langsung merangkul lengan Jason.

"Sudahlah..! Kan ada aku."

"Nanti aku yang bantu mengurus Tina. Aku bisa datang setiap hari kalau Fisya sibuk bekerja." Ucapnya dengan penuh semangat

Jason tersenyum tipis.

"Kamu memang lebih pantas menjadi ibu Tina."

Ucapan itu membuat Bik Lili mengepalkan tangannya.

Namun ia memilih diam dalam hati ia bergumam,

"Kalau Bu Fisya mendengar ucapan itu..."

Belum sempat pikirannya selesai...

Terdengar suara tangisan Tina dari lantai atas.

"Waa... waa..."

Kasandra langsung panik.

"Itu Tina!"

Tanpa berpikir panjang, ia berlari menaiki tangga begitu juga dengan Jason mengikuti dari belakang.

Bik Lili juga segera menyusul.

Sesampainya di kamar...

Tina menangis cukup keras.

Bik Lili langsung hendak menggendong bayi itu.

"Biarkan saya saja, Bu." Ucap bik Lili

Namun Kasandra lebih dulu menghalangi.

"Tidak usah! Aku saja."

Kasandra mengangkat Tina dengan penuh semangat.

"Ayo Sayang... Jangan menangis cantik, ada Mama di sini."

Bik Lili langsung terkejut mendengar ucapan itu.

Kasandra buru-buru mengoreksi.

"Maksudnya...Tante di sini."

Kasandra mulai mengayun-ayunkan tubuh Tina.

Namun...

Tangisan Tina justru semakin keras.

"Waa... waa... waa..."

Jason ikut panik.

"Kenapa dia?"

Kasandra mencoba menenangkan lagi.

"Tina..."

"Sayang..."

"Ayo diam."

Namun Tina sama sekali tidak berhenti menangis.

Kasandra mulai gugup.

"Kok tidak mau diam?"

Jason ikut mencoba menghibur Tina hasilnya tetap sama tangisan bayi itu justru semakin keras.

Kasandra mulai kehilangan kesabaran.

"Kenapa sih? Tadi kan tidur nyenyak."

Bik Lili kembali mendekat.

"Bu Kasandra... Mungkin biar saya saja."

Kasandra kembali menolak.

"Tidak, Aku yang akan mengurus Tina."

"Lagipula nanti aku juga akan menjadi ibu angkatnya."

"Selagi Fisya sibuk bekerja..."

"Aku yang akan datang setiap hari ke rumah ini untuk merawat Tina."

Bik Lili hanya bisa menggigit bibir.

Saat itulah...

Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.

Tok...

Tok...

Tok...

Semua orang menoleh.

Fisya berdiri di ambang pintu, tatapannya langsung tertuju kepada Kasandra yang sedang menggendong Tina.

Tanpa mengatakan apa pun... Fisya berjalan mendekat lalu dengan lembut mengambil Tina dari pelukan Kasandra.

Anehnya...

Baru beberapa detik berada di pelukan Fisya...Tangisan Tina langsung berhenti.

Bayi kecil itu memandang wajah Fisya, lalu perlahan kembali tenang.

Ruangan mendadak sunyi.

Fisya mengusap kepala putrinya pelan kemudian ia mengangkat wajah menatap Kasandra.

Tatapannya datar namun justru itu yang membuat suasana semakin menegangkan.

"Kasandra." Panggil Fisya

"Iya?" Jawab Kasandra

"Aneh ya." Ucap Fisya

Kasandra memaksakan senyum.

"A... aneh kenapa?"

Fisya tersenyum tipis.

"Baru pertama kali dan bertemu beberapa kali dengan putriku tapi kamu terlihat sangat hafal cara menggendong Tina."

Kasandra langsung membeku.

Fisya melanjutkan dengan suara tenang.

"Kamu juga sangat sering ingin menggendongnya bahkan lebih sering daripada menggendong anakmu sendiri Agnes"

Wajah Kasandra mulai berubah.

"Itu..."

Fisya memotong.

"Kalau boleh tahu... Kenapa kamu begitu menyayangi Tina?"

Kasandra tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.

"Karena aku ingin menjadi ibu angkatnya."

Fisya mengangguk pelan.

"Hanya itu?"

"I... iya." Jawab Kasandra gugup

Fisya kembali tersenyum.

"Lalu kenapa setiap datang ke rumah ini yang pertama kali kamu cari selalu Tina? Bukan aku sebagai sahabatmu."

"Apakah kamu melakukan hal sama seperti ini dengan putrimu Agnes?" Tanta Fisya

Ruangan kembali sunyi.

Jason mulai merasa tidak nyaman, ia segera menyela.

"Sayang... Mungkin Kasandra memang suka anak kecil."

Fisya langsung menoleh ke arah Jason.

"Oh ya? Kalau memang begitu..."

"Kenapa selama ini aku tidak pernah melihat Kasandra menggendong Agnes sama sekali"

Jason terdiam.

Kasandra semakin panik dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Fisya kembali menatap Kasandra dan tatapannya tajam.

"Kasandra... Apa sebenarnya alasanmu begitu terobsesi dengan Tina?"

Pertanyaan itu membuat jantung Kasandra berdegup kencang.

Napasnya tercekat, sementara telapak tangannya mulai berkeringat dingin.

"Apa jangan-jangan Fisya sudah mengetahui semuanya?" batinnya dengan cemas.

Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran buruk yang terus menghantuinya.

"Ah... tidak. Tidak mungkin," gumam Kasandra lirih

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Fisya tidak mungkin tahu."

Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat rasa gelisah yang menggerogoti hatinya.

Tatapan Fisya barusan terasa begitu tajam, seolah mampu menembus kebohongan yang ia dan Jason sembunyikan.

1
Zeannisa Qolbiyah
tamat ceritanya hapus dari dftr baca😄
sunaryati jarum
Masa rumah sakit ada kekacauan dan keributan tidak petugas medis dan keamanan tidak ada yang masuk.Tidak masuk akal. Orang baik kok kalah sama penjahat, sudah delapan tahun merasa diatas angin ternyata masih menang.Semoga Sebastian hanya mati suri dan langsung siuman.
Queen_Fisya08: tenang Mak pemeran utama gak akan pernah kalah 🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
masa orang baik kalah yg jahat malah menang .
Queen_Fisya08: tenang kak tenang... peran utama pasti yang menang 🤭...
total 1 replies
Dokkan Battle
anying mati??! MUTER AMAT NIH CERITA FIS DROP
Ma Em
Untung Tina datang jadi ada yg bantu pak Anton kalau tdk ada yg bantu pasti Angel sdh dibawa sama Bayu dan nikah dgn juragan Arif , Jason kira Tina sdh nurut dan patuh padanya tdk taunya Tina sengaja mau menggagalkan Jason dan Kasandra untuk menguasai perusahaan Fisya .
Ma Em
Angel jgn jadi orang jahat saja nanti takutnya Angel malah suka pada Sebastian .
Queen_Fisya08: tenang kak, sudah ada alurnya 🤭
total 1 replies
falea sezi
goblokkk🤣 demi bales dendam anak di jadiin pembokat 🤣🤣 goblokkkk
Queen_Fisya08: sabar sabar
total 1 replies
falea sezi
laki kurang ajar😒
sunaryati jarum
Syukurlah jika Sebastian sudah baik- baik dan Angel juga sudah siuman.Semoga Tina segera ke rumah sakit membuat jebakan untuk menangkap orang suruhan Jason yang ingin membunuh Sebastian
Ma Em
Tina kamu sdh tau rencana busuk Jason dan Kasandra , semoga Tina bisa mencegah kejahatan Jason dan Kasandra dan sdh punya bukti rekaman kejahatan Jason untuk bukti membuat laporan pada polisi , Semoga Fisya cepat pulang dari luar kota .
sunaryati jarum
Ternyata kecerdasan, kecerdikan , cepat tanggap dan sikap bertindak yang dimiliki Tina berasal dari darah Bastian dan Fisya.Sayang Sebastian masuk jebakan karena musuh tahu kelemahannya.Namun Tiina memiliki bukti kejahatan Jason dan Kassa d
Kasandra
sunaryati jarum
Lenyapkan Agnes nggak masalah toh itu putrimu dengan Jason, Kasandra
Dokkan Battle
Kasandra membunuh anaknya sendiri.. tapi terlalu banyak drama jadi BOSENIN
Datu Zahra
dari motor mogok sampe bisa kekamar VIP narasinya kurang Thor, jadi aneh. bisa²y lompat jauh begitu, terlebih ini RS loh. ya kali gampang banget maen selonong sampe masuk ruang perawatan VIP yang tata letak ruangnya bukan diemperan gedung RS
Queen_Fisya08: Ok terima kasih kak atas masukannya 🙏
total 1 replies
Ma Em
Kasandra kamu pasti akan menyesal karena anak yg selalu kamu siksa dan mau kamu lenyapkan itu anak kandungmu sendiri Kasandra , pasti Kasandra akan gila setelah mengetahui kebenaran nya karena Agnes anak Kasandra dan Jason sedangkan Tina anaknya Fisya dan Sebastian .
Ma Em
Sebastian cepat sadarlah jgn terlalu lama kamu tidur karena Sebastian dlm bahaya lawan mereka semua jgn biarkan Jason dan antek anteknya senang melihat hdp Sebastian menderita balas perbuatan Jason .
Ma Em
Arman awas jgn lalai jaga Sebastian ada orang datang untuk mencelakai Sebastian lagi , Arman hrs waspada .
Ma Em
Semua ga Sebastian cepat sadar jgn sampai Baron bisa celaka lagi untuk kedua kalinya , Jason kamu terlalu ambisi untuk menguasai harta orang sehingga Jason melalukan segala cara agar TDK ada orang yg menghalangi niat busuknya , semoga kejahatan Jason dan Kasandra segera terungkap dan membusuk dipenjara .
Ma Em
Semoga Sebastian selamat dan cepat sehat kembali , dan Baron cs segera tertangkap agar terbongkar siapa yg membayar Baron untuk membunuh Sebastian .
Yeni Astriani: udah jelas yg Jason yg menyuruh Baron untuk mencelakai Sebastian, semoga orang kepercayaan Sebastian bertindak.
nanti pas ultah Tina seret Jason dan Kasandra ke dalam penjara apalagi hukuman Jason berlapis.
total 1 replies
sunaryati jarum
Jangan.lupa dikunci , ruangan Fisya dan pengawasan terhadap Jason dan Kasandra.Kamu.telpon dulu Tina , jangan buru-buru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!