Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 19

Pintu kamar itu masih bergetar hebat setelah dibanting oleh Zivana. Aidil, dengan napas yang memburu tak beraturan, menyambar gagang pintu, hendak mengejar istrinya yang sudah membawa pergi dunianya.

"Minggir, Stela!" teriak Aidil, suaranya parau dan penuh murka. "Ini semua gara-gara kamu! Jangan halangi aku!"

Namun, Stela bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram lengan Aidil dengan kuku-kukunya yang tajam, menahan pria itu sekuat tenaga. Tubuh Stela menghalangi jalan, matanya berkilat penuh amarah sekaligus ketakutan akan kehilangan kendali.

"Mau ke mana, Dil?!" sentak Stela.

"Kamu mau mengejar dia? Lihat sendiri! Dia sudah tidak sudi melihat wajahmu! Dia sudah membencimu sampai ke tulang-tulangnya!"

"Lepaskan aku!" Aidil mencoba menghempaskan lengan Stela, namun wanita itu justru memeluk pinggangnya dari belakang, menguncinya rapat-rapat.

"Sudah terlambat, Aidil! Dia sudah pergi! Kamu cuma akan membuatnya semakin jijik kalau kamu mengejarnya sekarang!" Stela berbisik di punggung Aidil, suaranya kini melunak, berubah menjadi racun yang membius.

"Lihat aku. Hanya aku yang bertahan di sini saat duniamu runtuh. Hanya aku yang masih menginginkanmu meski kamu sudah hancur lebur seperti ini."

"Anak-anak! Apa kamu tidak memikirkan Khaisar dan Amora? Setidaknya pikirkan mereka!" Aidil frustasi.

"Bisa apa dia dengan anak-anak? Dia itu bukan ibu kandungnya! Dia tak punya hak apapun atas Khaisar dan Amora! Kita adalah kedua orang tuanya! Kalau dia membawa bukti-bukti kita berdua yang sedang berciuman ke pengadilan. Itu tak masalah! Justru hal itu jauh lebih baik agar perceraian kalian segera selesai!"

"Tisak, Stela! Aku... Aku mulai mencintai Zivana! Aku juga mencintai dia! Bukan hanya kamu yang kini ada dalam hatiku, Stela..."

"Tidak! Wanita yang kamu cintai dari dulu sampai saat ini adalah aku..."

Aidil berhenti memberontak. Bahunya merosot. Rasa frustrasi, penyesalan, amarah pada diri sendiri, dan kebencian pada keadaan menumpuk di dadanya hingga terasa menyesakkan. Dengan satu gerakan kasar, Aidil membalikkan tubuh dan meninju dinding kamar dengan sangat keras.

Bugh!

Tangan Aidil memerah, tapi rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan kekosongan yang menganga di hatinya. Ia merosot jatuh ke lantai, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan mata terpejam rapat.

"Aku kehilangan segalanya..." bisik Aidil lemah, air mata jantan yang panas menetes di pipinya.

"Ziva... anak-anak... mereka membenciku, Stela. Mereka membenciku!"

Stela tidak menyia-nyiakan momen kelemahan ini. Ia berlutut di hadapan Aidil, mengusap wajah pria itu dengan kelembutan yang palsu namun memikat. Ia tahu persis bagaimana cara menjinakkan binatang buas yang sedang terluka.

"Kamu tidak kehilangan segalanya, Dil," bisik Stela, tangannya turun ke dada Aidil, merasakan degup jantung pria itu yang tak beraturan.

"Kamu masih punya aku. Aku adalah orang yang memahamimu lebih dari siapa pun. Zivana tidak akan pernah bisa memberimu gairah dan pemahaman yang aku miliki. Sedangkan Zivana tak pernah bisa membrikannya padamu. Bahkan aku juga tahu, kalau kamu sampai saat ini belum pernah menyentuh Zivana sebagai seorang istri. Hal itu sudah membuktikan, kalau kamu hanyalah milikku, dan hanya mencintaiku, Aidil..."

"Bukan begitu, Stela..."

Stela perlahan menuntun Aidil untuk berdiri. Aidil, yang jiwanya sedang hancur dan pikirannya berkabut oleh rasa sakit hati, membiarkan dirinya ditarik. Hasrat yang tertahan, amarah yang meluap, dan rasa putus asa yang ekstrem membuat pertahanan dirinya runtuh.

Di dalam kamar utama, kamar yang selama ini menjadi saksi kesetiaan Zivana suasana berubah menjadi panas dan kelam.

"Lupakan dia, Dil," bisik Stela saat mereka sampai di tepi ranjang.

"Malam ini, biarkan aku menghapus semua jejaknya dari pikiranmu."

Aidil menatap Stela. Tatapannya kosong, namun ada gejolak destruktif yang membakar di matanya. Ia tidak lagi mencari Zivana. Ia sedang mencari pelarian dari rasa bersalahnya sendiri. Dengan kasar, Aidil menarik Stela ke dalam dekapannya, sebuah ciuman penuh kemarahan dan keputusasaan mendarat di bibir Stela.

Tidak ada cinta di sana. Yang ada hanyalah penghancuran diri.

Setiap sentuhan, setiap napas yang terengah, dan setiap gerakan di atas ranjang itu adalah bentuk pemberontakan Aidil terhadap realitas yang menyakitkan. Ia menumpahkan seluruh frustrasinya, seluruh rasa bencinya pada keadaan, dan seluruh rasa kesepiannya ke dalam tubuh Stela.

Stela merespons dengan penuh ambisi, membalas setiap sentuhan dengan keyakinan bahwa ia telah menang. Di tengah redup lampu kamar, di bawah langit-langit yang sama tempat Zivana pernah berdoa untuk kebahagiaan keluarga mereka, Aidil membiarkan dirinya terjerumus lebih dalam ke dalam lubang hitam yang ia gali sendiri.

Mereka berdua terperangkap dalam tindakan terlarang itu, sebuah persetubuhan yang lahir dari kebencian, penyesalan, dan rasa haus akan pelarian. Saat napas mereka menderu di kamar yang kini terasa sangat mencekam, Aidil menyadari satu hal dengan sangat pahit: dia baru saja membakar jembatan terakhir yang menghubungkannya dengan kehidupan yang bermartabat.

"Pelan-pelan sayang... Kamu terlihat seperti singa yang kelaparan, Aidil. Tenang saja aku akan selalu ada untukmu seperti dahuku. Aku seutuhnya milikmu, Aidil..."

"Ahhh ya di situ sayang... Kamu masih sama seperti dulu sayang... Kamu selalu tahu apa yang kita inginkan..."

"Sekarang kamu tahu kan? Kalau kamu tak pernah mencitai Zivana. Karena kamu tak pernah bisa melakukan hal ini padanya. Hanya aku, hanya aku yang kamu cintai, Aidil... Terus sayng... Jangan pernah berhenti..."

Ia tidak hanya kehilangan Zivana secara fisik, malam itu, ia secara sadar menghancurkan jiwa dan kesucian rumah tangganya di atas ranjang yang pernah ia bagi dengan wanita paling tulus dalam hidupnya. Dan saat semuanya selesai, hanya tersisa kesunyian yang lebih mengerikan, dan bau parfum Stela yang kini melekat di setiap sudut kamar, menyingkirkan wangi sisa Zivana selamanya.

Rumah itu kembali hening saat Zivana melangkah masuk, hanya menyisakan suara deru angin malam yang menabrak kaca jendela. Ia kembali bukan tanpa alasan. Ia lupa mengambil dokumen penting, surat nikah yang ia perlukan untuk proses perceraian mutlak. Ia berpikir rumah akan kosong karena Aidil dan Stela pasti sudah pergi keluar untuk makan malam.

Namun, langkah kakinya terhenti tepat di ambang pintu kamar utama yang terbuka sedikit.

Suara napas yang beradu, desahan yang memuakkan, dan suara pergesekan kulit di atas ranjang memenuhi udara. Jantung Zivana seakan berhenti berdetak. Ia berdiri mematung di sana, di kegelapan koridor, matanya membelalak tak percaya. Di depan matanya sendiri, di atas ranjang yang pernah ia sucikan dengan doa dan kasih sayang, Aidil sedang merenggut Stela dengan cara yang sangat kasar dan liar.

Dunia Zivana hancur untuk kedua kalinya dalam satu hari. Namun, alih-alih berteriak atau histeris, sebuah mekanisme pertahanan diri yang dingin mengambil alih pikirannya. Dengan jemari yang gemetar hebat, Zivana merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi kamera, menekan tombol rekam, dan mengarahkan lensanya pada pemandangan paling menjijikkan yang pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras tanpa suara. Setiap detik rekaman itu adalah bukti matinya sisa cinta terakhir yang ia miliki untuk Aidil.

1
nely_48
pst curiga lah semua org jg,, OG tiba-tiba jd staf khusus pemasaran,, coba dr awal ngelamar bkn d posisi OG mh ga akan rameh
Ma Em
Zivana kamu hrs berani melawan orang2 yg iri pada Zivana jgn takut karena kalau Zivana diam dan takut mereka akan semakin berani untuk merendahkan Zivana .
nely_48
astagfirullah Thor,, jgn libatkan anak² dong kak, please 🙏🙏🙏
ga tega ak sm khaisar terutama Amora 😭😭😭😭
kpn s strla kena azab jatuh tisoledat nya, biar dia keguguran n lumpuh, bayi itu lahir jg kan bkn anak aidil ini,, dr pd stela hidup hanya menyiksa khaisar n Amora lbh baik buat lumpuh az sih
Elina thea
pembelaan Melvin terhadap ziva masih kurang...harusnya jelaskan juga riwayat pendidikannya dan awal gimana ziva naik pangkat.
sunaryati jarum
Dimanapun orang iri dengki tidak mau menerimanya.kekalahan,dan tidak suka akan keberhasilan orang lain itu banyak.Zivana kamu sudah mengalami banyak hal,pasti bisa melampaui
Elina thea
si Aidil ini gak guna jadi laki ...kurang tegas dan plin plan,pdhl dia bisa kok laporin istri sirinya ke polisi atas penelantaran dan penyekapan anak,tapi dia malah nangis gak guna...kamu tuh dah gagal jadi suami, setidaknya jangan sampai gagal jadi ayah.
Oma Gavin
kirim anakmu ke ortu mu aidil sebelum mereka berdua mati ditangan stela laporkan perbuatan stela ke polisi biar dia mendekatkan dipenjara, sekarang kamu baru nyesel setelah kere dan ditinggal siva, mantan istri tercinta mu ternyata iblis
Lee Mba Young
akhir nya miskin juga aidil.
mama
biadap emang ini org,setan macam itu dibawa pulang..
sunaryati jarum
Itu ibu atau iblis kok bunting lagi,itu benar anak Aidil atau hasil dari pria lain lalu njebak Aidil yang imannya dan kesetiaannya setipis tisu
Inarrr Ulfah
aidil nunggu sampe kaisar sama amora mampus dulu di tangan ibu kandung nya baru sadar
Talnis Marsy
masak pembantu nya gak punya hp apa ya,kan bisa tlpn Aidil
nely_48
semoga allah kasih azab buat stela jatuh tisoledat trs keguguran n lumpuh,,, mitamit jabang kebo ih pd stela
sutiasih kasih
aidil... km mndinh pke rok deh...
jdi laki kok banci amat😅😅😅
nely_48
bersinarlah zivana,,, awali hidup dgn status br mu,jgn lupa bahagia lah trs
Lee Mba Young
Berarti ortu aidil gk punya kuasa, buktinya gk bisa memiskin kn aidil kan. stela yg berkuasa.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
Lee Mba Young
khaisar sdh besar kn, hrse kabur lah bawa adikmu ke rumah nenek.
Oma Gavin
memang rumah orang kaya ngga ada cctv nya ? tinggal cek cctv aja keburu mati mereka berdua, stela itu sakit jiwa psikopat gendeng
Oma Gavin: ketutup selangkangannya stela 🙈
total 2 replies
Elina thea
ada yah ibu kayak Stela,gak punya hati...
sunaryati jarum
Bicaramu kasar amat ,sama pegawai yang lebih tua,Tuan Melvin.Isi perkataan anda tidak salah ,cuma penyampaian yang kurang menghormati orang yang lebih tua walaupun bawahan.Tapi ternyata pak Roni juga gitu meremehkan orang dari status pekerjaan.Semoga analisis yang dipaparkan nanti benar-benar benar membuat perubahan terhadap peningkatan konsumen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!