Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:645
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Cahaya Rembulan di Pelukan Kita

Sinar rembulan yang putih bersih masih menyinari ruangan itu dengan lembut, seakan ikut menyambut kehadiran kehidupan kecil yang baru saja lahir ke dunia. Di atas tempat tidur yang empuk dan hangat itu, Su Yi berbaring dengan napas yang perlahan mulai teratur kembali. Wajahnya tampak pucat dan lelah luar biasa, namun di balik kelelahan itu terpancar cahaya kebahagiaan yang begitu terang benderang dari sepasang matanya yang kini tak pernah beralih dari wajah mungil putri kecilnya. Di sampingnya, Mo Han duduk dengan penuh kehati-hatian, membiarkan tubuh mungil itu berbaring nyaman di atas lengan kirinya yang kokoh namun hangat. Tangannya yang kanan perlahan turun menyentuh selimut tipis yang membungkus putri kecil itu, memastikan bahwa tubuh mungilnya terjaga dari dingin dan kenyamanan yang sempurna.

Nama yang telah mereka pilih dengan penuh kasih sayang itu kini terucap lembut berulang kali dari bibir kedua orang tuanya. Mo Xi Yue. Cahaya rembulan yang bersinar lembut namun terang benderang. Dan benar saja, bayi mungil itu tampak persis seperti namanya. Kulitnya putih kemerahan halus bagaikan cahaya rembulan yang menyentuh permukaan bumi. Rambut hitam halusnya berkilau lembut terkena pantulan cahaya lampu kamar. Matanya terpejam rapat namun sesekali bergerak pelan di balik kelopak matanya yang mungil dan merah muda. Hidungnya mungil dan tegak, bibir kecilnya sesekali mengerucut pelan seakan sedang mencari kenyamanan dalam tidurnya yang baru dimulai. Setiap jari-jari tangannya yang mungil dan lentik tampak begitu sempurna bagaikan pahatan tangan Tuhan yang paling indah dan tak ternilai harganya.

"Dia begitu cantik..." Su Yi berbisik pelan dengan suara yang masih terdengar lemah namun penuh kelembutan dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Matanya menelusuri setiap jengkal wajah putri kecilnya dengan pandangan yang tak ingin melepaskannya walau sedetik pun. "Dia persis sepertimu... memiliki hidung yang tegap dan bibir yang tegas..."

Mo Han menatap wajah istrinya terlebih dahulu, lalu menunduk menatap wajah putri kecilnya yang berbaring damai di lengannya. Hatinya terasa penuh hingga seakan meluap-luap oleh rasa syukur dan kasih sayang yang mendalam. Ia mengangkat tangan kirinya yang bebas, menyentuh lembut ujung jari-jari mungil putrinya yang sesekali bergerak pelan menyentuh telapak tangannya yang besar dan hangat. Perlahan jari-jari mungil itu mencengkeram erat jari telunjuk ayahnya seakan tak ingin melepaskannya. Pandangan mata Mo Han seketika berkaca-kaca kembali. Air mata bahagia yang tak habis-habisnya perlahan menetes jatuh di pipinya yang tegas namun kini tampak begitu lembut dan rapuh karena kebahagiaan yang meluap-luap.

"Atau persis sepertimu..." Mo Han berucap pelan dengan suara yang sedikit tercekat namun penuh kelembutan dan kekaguman yang tulus. "Dia memiliki matamu yang jernih dan lembut... senyummu yang menenangkan hati siapa pun yang melihatnya... dan wajah yang begitu cantik dan bersinar terang bagaikan cahaya rembulan itu sendiri. Xi Yue... putri kecil kita... sungguh pantas dengan namanya."

Su Yi tersenyum mendengar itu. Senyum yang begitu lembut, damai, dan penuh kebahagiaan yang tak terlukiskan. Ia berusaha mengangkat tubuhnya sedikit lebih tinggi agar dapat melihat wajah putri kecilnya dengan lebih jelas. Melihat itu, Mo Han segera menurunkan tubuh putri kecilnya perlahan ke sisi lain tempat tidur, lalu bergerak mendekat dan menyangga punggung istrinya dengan bantal empuk agar ia dapat berbaring dengan nyaman dan aman. Tangannya yang hangat mengusap lembut rambut yang sedikit berantakan di dahi istrinya, lalu menatap wajah wanita yang telah berjuang sekuat tenaga demi melahirkan putri mereka itu dengan pandangan yang penuh rasa hormat, kekaguman, dan kasih sayang yang tak terhingga.

"Terima kasih..." Mo Han berbisik pelan tepat di depan wajah istrinya, matanya menatap mata jernih itu lekat-lekat dengan penuh rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih telah berjuang dengan begitu gagah berani. Terima kasih telah memberikan kehidupan baru ke dunia ini. Terima kasih telah melahirkan cahaya terindah ke dalam hidupku. Tanpamu... aku tak akan pernah memiliki kebahagiaan sebesar ini. Terima kasih... istriku... wanita terhebat yang pernah kukenal."

Su Yi menatap wajah suaminya lekat-lekat. Ia melihat ketulusan yang terpancar dari sepasang mata itu. Ia merasakan kehangatan yang selalu terpancar dari kehadiran pria itu di sisinya. Perlahan ia mengangkat tangannya yang masih terasa lemas dan menyentuh pipi yang tegas itu dengan penuh kasih sayang. Jari-jarinya yang lembut mengusap sisa air mata bahagia yang masih menempel di sudut mata suaminya.

"Terima kasih kepadamu..." Su Yi menjawab dengan suara yang lembut namun penuh ketulusan yang mendalam. "Tanpa dukungan dan kekuatan yang kau berikan padaku... aku tak akan sanggup melewati momen yang begitu berat itu. Kau selalu ada di sisiku... memegang tanganku... menyemangatiku... dan mendoakanku. Itulah kekuatan yang membuatku tetap berdiri dan berjuang hingga titik terakhir. Kau adalah pilar kekuatan kita berdua... dan kini... kau adalah pelindung bagi ketiga jiwa yang kau cintai."

Mo Han menangkup tangan istrinya yang menempel di pipinya dan mengecupnya berkali-kali dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. Lalu ia berbalik kembali menatap wajah putri kecilnya yang kini berbaring damai di samping ibunya. Perlahan ia menarik selimut lembut hingga menutupi bahu mungil putrinya dengan rapi. Ia melihat bagaimana kedua tangan mungil itu terangkat ke atas wajah kecilnya, bagaimana napasnya berhembus pelan dan teratur dari hidung mungilnya yang sesekali mengembang pelan. Pemandangan itu begitu indah dan menenangkan hati seakan seluruh kelelahan dan kegelisahan yang ia rasakan sepanjang malam itu seketika lenyap tak berbekas.

"Lihatlah dia..." Mo Han berucap pelan sambil menatap wajah putri kecilnya dengan pandangan yang penuh kasih sayang dan kelembutan yang tak terhingga. "Dia tidur begitu tenang... seakan ia tahu bahwa ayah dan ibunya selalu ada di sisinya menjaganya dari segala bahaya. Xi Yue... putri kesayangan kita... tidurlah dengan tenang... karena mulai saat ini... tidak ada lagi yang boleh menyakitimu. Tidak ada lagi yang boleh menyebabmu takut atau bersedih. Ayah akan menjagamu seumur hidup... dengan nyawa ayah sendiri jika perlu."

Su Yi mendengarkan janji tulus itu dengan penuh keharuan. Ia menatap wajah suaminya yang tampak begitu teguh dan tulus saat mengucapkannya, lalu menatap wajah putri kecilnya yang bersinar lembut di bawah cahaya lampu kamar. Hatinya terasa damai dan penuh kebahagiaan. Ia tahu bahwa putri kecilnya akan tumbuh dalam kasih sayang yang berlimpah ruah. Karena ia memiliki ayah yang rela berkorban apa pun demi keselamatan dan kebahagiaannya, serta ibu yang akan mencurahkan seluruh jiwa raganya demi membesarkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

"Kau sudah memikirkan masa depannya?" Su Yi bertanya pelan sambil menatap wajah suaminya yang tak pernah lelah menatap wajah putri kecil mereka. "Apa harapan terbesarmu untuknya?"

Mo Han terdiam sejenak, menatap jauh ke arah wajah mungil putrinya seakan melihat masa depan yang cerah terbentang di sana. Lalu perlahan ia menatap kembali ke arah istrinya dan menjawab dengan suara yang rendah namun penuh keyakinan dan ketulusan yang mendalam.

"Aku tidak mengharapkannya menjadi orang yang paling kaya atau paling berkuasa di dunia ini. Aku hanya berharap dia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan tulus hatinya. Aku berharap dia memiliki kelembutan hatimu dan keteguhan pendirianku. Aku berharap dia menjadi cahaya yang membawa kebaikan bagi siapa pun yang mengenalnya. Dan yang paling penting... aku berharap dia tumbuh dalam kasih sayang yang tulus... sehingga kelak saat ia dewasa... ia tahu betul bagaimana cara mencintai dan dicintai dengan tulus oleh orang-orang di sekitarnya."

Su Yi tersenyum mendengar jawaban itu. Ia mengangguk pelan setuju dengan setiap kata yang terucap dari bibir suaminya. Karena ia tahu bahwa harapan tulus seorang ayah untuk anaknya memang sesederhana itu — bukan kemewahan duniawi, melainkan kebaikan hati dan kebahagiaan yang abadi.

"Semoga Tuhan mengabulkan setiap doa dan harapan itu..." Su Yi berbisik pelan sambil menatap langit-langit kamar dengan penuh rasa syukur dan ketulusan doanya. "Semoga dia tumbuh menjadi anak yang berbakti... menjadi kebanggaan bagi ayah dan ibunya... dan menjadi berkat bagi siapa pun yang mengenalnya."

Malam semakin larut namun tak satu pun dari mereka berdua yang merasa ingin memejamkan mata. Mereka berdua sibuk menatap wajah putri kecil mereka bergantian. Setiap kali bayi mungil itu bergerak pelan atau mengeluarkan suara rengekan halus, seketika kedua orang tuanya akan berehat mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran sekaligus kasih sayang yang melimpah ruah. Mo Han akan segera meraih tangan mungil itu dan menahannya di dalam genggamannya yang besar dan hangat. Sementara Su Yi akan berusaha mendekatkan wajahnya dan berbicara pelan dengan suara lembut yang menenangkan hingga putri kecilnya kembali tenang dan terlelap damai.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur dan cahaya kemerahan lembut mulai menyelinap masuk menggantikan cahaya rembulan yang perlahan memudar, Mo Han beranjak perlahan dari tempat duduknya. Ia menutup jendela sedikit agar udara pagi yang sejuk tidak terlalu dingin bagi tubuh istrinya yang masih lemah dan putri kecilnya yang baru lahir. Lalu ia kembali duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah istrinya yang tampak mulai mengantuk namun tetap berusaha terjaga demi melihat putri kecilnya.

"Istirahatlah..." Mo Han berbisik pelan sambil mengusap lembut rambut istrinya yang jatuh terurai di atas bantal. "Kau telah berjuang dengan sangat hebat semalam. Sekarang biarkan tubuhmu beristirahat dan memulihkan tenaganya. Aku akan tetap di sini menjaga kalian berdua. Tidak akan pergi ke mana pun. Tidurlah dengan tenang... istriku..."

Su Yi menatap wajah suaminya lekat-lekat. Ia merasa matanya mulai terasa berat dan tubuhnya semakin lemas. Namun sebelum terpejam, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan suaminya erat seakan ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar tetap di sisinya seperti yang dijanjikannya.

"Jangan tinggalkan kami..." Su Yi berbisik pelan dengan suara yang mulai terdengar berat karena kantuk. "Tetaplah di sini... bersama kami..."

Mo Han tersenyum lembut mendengar permintaan itu. Ia mendekatkan bibirnya lalu mengecup lembut kening istrinya yang harum dan hangat.

"Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan tetap di sini. Menjagamu... menjaga putri kecil kita... dan menjaga kebahagiaan kita bertiga. Tidurlah... tenanglah... karena kau aman di sisiku. Selamanya."

Mendengar janji itu, genggaman tangan Su Yi perlahan melemah dan akhirnya terlepas jatuh ke atas selimut. Matanya perlahan terpejam rapat, napasnya berhembus pelan dan teratur menandakan bahwa ia akhirnya terlelap dalam tidur yang nyenyak dan damai. Mo Han berdiri perlahan, menarik selimut hingga menutupi bahu istrinya dengan rapi. Lalu ia beralih menatap wajah putri kecilnya yang juga masih terlelap damai di samping ibunya.

Dengan penuh kehati-hatian, Mo Han berlutut di tepi tempat tidur. Ia menatap wajah putri kecilnya lekat-lekat, lalu menatap wajah istrinya yang tampak tenang dan damai dalam tidurnya. Di dalam hatinya, ia kembali berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan penuh rasa syukur dan ketulusan yang mendalam. Ia berjanji akan menjaga kedua wanita yang paling dicintainya di dunia ini dengan segenap jiwa raganya. Ia akan melindungi mereka dari segala bahaya, menjaga mereka dari segala kesedihan, dan memberikan kebahagiaan yang utuh serta kedamaian yang abadi kepada mereka berdua seumur hidupnya.

Matahari pagi akhirnya terbit perlahan menyinari bumi dengan cahayanya yang lembut dan hangat. Cahaya emas itu menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menyinari wajah ketiga jiwa yang sedang beristirahat damai di dalam kamar itu. Di sana... di bawah naungan kasih sayang yang tulus dan abadi... cahaya rembulan kecil mereka lahir dan tumbuh. Dan di hati ayahnya... tertanamlah janji yang tak akan pernah diputuskan selamanya. Bahwa selama napasnya masih berhembus... ia akan selalu berdiri di sana. Menjaga cahaya kecil itu agar tetap bersinar terang. Menjaga wanita yang dicintainya agar tetap bahagia. Dan menjaga kebahagiaan keluarga kecil mereka agar tetap utuh dan abadi selamanya.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!