Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: SILUET DI ATAS TEBING

​Angin dingin berembun es bertiup kencang, menyapu sisa-sisa jejak pembantaian di lembah salju yang kini menyisakan kesunyi murni yang mencekam.

​Di atas tebing es purba yang menjulang tinggi—tersembunyi rapat di balik bayang-bayang pilar kristal yang membeku abadi—Lu Cang dan Feng Yue rupanya belum sepenuhnya pergi meninggalkan wilayah selatan. Dari ketinggian itu, berdiri dua praktisi dari ranah Awakened puncak tersebut, mengamati siluet Mo Xie dan Xue Qingyue yang melangkah perlahan menjauh, tampak kian mengecil bagai dua titik hitam di atas hamparan putih Benua Tianlan.

​Lu Cang menyeringai lebar, menumpukan gada besi raksasanya di atas pundak kekarnya sembari menatap tajam ke arah langit utara tempat Benteng Es Abadi berdiri.

​"Sampai kapan orang tua itu sanggup bertahan melindungi sektenya, hehe..." kekeh Lu Cang dengan suara berat yang teredam desau badai.

​Ukiran segel di lengan kanannya berpendar keemasan redup, kontras dengan hawa dingin yang mencoba membekukan kulitnya.

​"Han Wuyan mungkin seorang Ascendant yang tak tertandingi saat ini. Tapi waktu terus berjalan, dan es abadi sekalipun pasti akan retak pada akhirnya."

​Feng Yue berdiri dengan anggun di sampingnya, jubah gaun sutra hitamnya berkibar malas seolah tidak terpengaruh oleh suhu ekstrem yang sanggup membekukan sirkulasi Qi praktisi biasa di wilayah ini.

​Matanya yang hitam legam memancarkan kilat dingin saat ia melipat tangan di depan dada, memunggungi pemandangan lembah dan bersiap melompat ke arah kegelapan utara.

​"Simpan bualan konyolmu, Lu Cang. Kita tidak boleh meremehkan lelaki tua itu selama jiwanya belum benar-benar padam," sahut Feng Yue dingin.

​Ia berbalik sepenuhnya, menyelimuti tubuhnya dengan aura Qi ungu gelap yang amat pekat.

​"Kita harus segera kembali dan melapor kepada Ketua Sekte. Keberadaan bocah fana pembawa Qi Kegelapan itu... ini adalah informasi yang sangat berharga untuk Sekte Angin Surgawi."

​"Tentu saja, tentu saja," sahut Lu Cang dengan malas, meski matanya masih menyipit menatap siluet Mo Xie untuk terakhir kalinya. "Jalan menuju kehancuran dunia ini baru saja dimulai."

​Dengan satu hentakan kuat, tubuh kekar Lu Cang melesat tinggi ke udara, disusul oleh Feng Yue yang meluncur anggun bagai bayangan malam yang membelah badai salju.

​Keduanya menghilang dengan cepat menuju wilayah luar, membawa rahasia besar tentang kegelapan yang kini bersemayam di dalam tubuh Mo Xie.

​Sementara itu, jauh di bawah dasar lembah, Mo Xie melangkah dengan menyeret kakinya di samping Xue Qingyue.

​Rasa dingin dari Inti Es Abadi di dadanya perlahan merambat naik, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang akibat dampak korosi Qi Kegelapan dari Pedang Kehampaan.

​"Mo Xie, jalan di depan kita masih sangat panjang," ujar Xue Qingyue pelan tanpa menoleh, matanya tetap waspada memandangi rute bersalju di hadapan mereka. "Tapi kau harus bertahan."

​"Aku jauh lebih baik," ucap Mo Xie pelan, menyela keheningan di antara deru angin malam yang menusuk.

​Ia mengangkat lengan kanannya ke depan wajah. Di bawah temaram pendar biru gletser dari mata kirinya, ia memperhatikan bagaimana sisa-sisa garis hitam korosif yang tadi merayap mengerikan di bawah kulitnya kini perlahan-lahan menyusut, memudar, dan terserap kembali.

​Rasa panas terbakar yang sempat menyiksa sarafnya kini berganti dengan sensasi dingin yang menenangkan—efek dari Inti Es Abadi yang secara pasif terus melumat kegelapan itu di dalam dadanya tanpa ia sadari sepenuhnya.

​Mo Xie mengepalkan dan membuka jemarinya beberapa kali. Rasa kaku dan nyeri hebat itu telah sirna, menyisakan kekuatan fisiknya yang perlahan pulih ke kondisi semula.

​Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling hamparan salju yang tandus dan hancur, mencari-cari sesuatu yang seharusnya ada di sana sejak tadi. Dahinya berkerut rapat.

​"Ke mana perginya serigala itu?" tanya Mo Xie dengan nada kesal, merujuk pada Serigala Es raksasa yang sebelumnya mereka kendarai untuk mencapai wilayah selatan ini.

​Xue Qingyue melirik sekilas ke arah area kosong di belakang mereka, tempat mereka menambatkan hewan tunggangan tersebut sebelum pertempuran pecah. Wajah praktisi wanita itu tetap tenang tanpa riak emosi yang berarti.

​"Binatang Roh memiliki insting bertahan hidup yang sangat kuat, Mo Xie. Ketika celah dimensi terbuka dan entitas Void keluar, ketakutan hewani mereka akan mengalahkan kepatuhan. Mungkin hewan itu sudah melarikan diri kembali ke batas hutan es."

​"Cih, tidak berguna," dengus Mo Xie kasar.

​Ia merapatkan jubah hitamnya yang koyak agar tidak terbang ditiup badai es yang semakin kencang. Tangannya yang terbalut kain hitam mengusap sisa salju di lehernya.

​Ia menatap ke arah utara, di mana pegunungan es abadi menjulang megah di kejauhan, terpisah oleh jarak yang teramat sangat jauh.

​"Itu berarti kita harus menempuh puluhan mil dengan berjalan kaki?"

​Tembok es dan Kawah Refleksi Es yang menjadi gerbang Benteng Es Abadi masih membentang sangat jauh di ujung cakrawala.

​Tanpa tunggangan, perjalanan kembali di bawah ancaman badai belerang dan sisa-sisa energi kehampaan akan menjadi ujian fisik yang amat berat bagi seorang praktisi di ranah Mortal seperti dirinya.

​Xue Qingyue kembali melangkah maju, membiarkan jubah perak-biru di bahunya bergoyang ditiup angin.

​"Berjalan kaki dalam kondisi ekstrem ini juga merupakan bagian dari latihan untuk memperkuat sirkulasi Qi milikmu, Mo Xie. Jika kau tidak bisa bertahan dalam perjalanan ini." Ujar Xue Wingyu

​Mo Xie menatap punggung anggun Xue Qingyue yang melangkah konstan di atas salju tebal.

​Menghamburkan sisa-sisa Qi Kegelapan hanya demi menghemat waktu adalah tindakan konyol—terutama di tanah liar yang bisa saja memuntahkan bahaya baru kapan saja. Lagipula, gejolak bisikan dari entitas pemburu dimensi tadi masih menyisakan kewaspadaan di dalam pikirannya.

​"Latihan, katamu?" desis Mo Xie pendek, menyunggingkan senyum tipis yang getir.

​Ia mengambil langkah lebar, mempercepat jalannya hingga posisinya kembali sejajar di samping Xue Qingyue.

​Setiap kali telapak sepatu kainnya menapak pada salju tebal, Mo Xie bisa merasakan bagaimana Inti Es Abadi di rongga dadanya berdenyut halus secara berulang.

​Irama denyut itu seolah menyesuaikan diri dengan irama langkah kaki dan helaan napasnya.

​Setiap denyutan memancarkan benang-benang hawa dingin yang tidak lagi menyiksa, melainkan menyebar ke sirkulasi darahnya, memadatkan sisa-sisa energi fana di dalam tubuhnya.

​Mata kirinya yang berwarna biru gletser menatap lurus ke arah bukit es di hadapan mereka.

​"Tapi jika kita bertemu dengan binatang iblis atau entitas Void lain di jalan... kau yang harus bertanggung jawab karena membiarkan serigala itu kabur."

​Xue Qingyue tidak membalas gurauan ketus itu dengan tawa.

​Namun, dari sudut matanya, praktisi wanita itu memperhatikan perubahan pada cara Mo Xie melangkah. Postur tubuh Mo Xie tidak lagi sekaku saat mereka baru saja keluar dari kawah.

​Meskipun masih terbelenggu di ranah Mortal, ada ketahanan fisik yang luar biasa yang perlahan-lahan terbentuk di dalam diri pemuda itu—sebuah adaptasi dari gabungan dua kekuatan ekstrem yang saling bertabrakan di dalam raga fananya.

​Keduanya terus berjalan menembus keheningan malam utara.

​Di bawah naungan langit malam Benua Tianlan yang retak dan memancarkan pendar keemasan redup, bayangan Mo Xie dan Xue Qingyue membentang panjang di atas hamparan salju abadi, melangkah menuju takdir yang kian kelam dan penuh misteri.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!