Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tudingan di Depan Kamera
Lampu kilat kamera melipat udara pagi di lokasi Proyek Wibowo Park. Puluhan wartawan yang tadinya bersiap meliput seremonial peletakan batu pertama mendadak berbalik arah, mengarahkan lensa kamera dan mikrofon mereka lurus ke arah Surya Wijaya.
Suasana di bawah tenda putih megah itu seketika menjadi kacau. Bisik-bisik penasaran meledak di antara para pejabat daerah dan tamu undangan yang hadir.
Maya menghentikan langkahnya tepat di tangga panggung. Matanya menajam saat menatap Surya Wijaya dan Pak Gunawan yang berdiri tegak di tengah lapangan. Tangan Maya mengepal erat di samping tubuh, namun ia berusaha keras mempertahankan gestur bahagianya di depan kamera media.
Arka melangkah maju setengah titik, memosisikan tubuhnya di sebelah kiri Maya. Tatapannya menatap Surya Wijaya dengan kedalaman yang sangat dingin dan berbahaya.
"Tuan Surya!" seru salah seorang wartawan senior dari media berita nasional. "Apa maksud Anda menyebut pernikahan Nona Maya Wibowo sebagai penipuan hukum besar?!"
Surya Wijaya tersenyum sinis. Pria tua itu memutarkan tubuhnya ke arah kerumunan wartawan, mengangkat tinggi-tinggi selembar dokumen tebal berstempel khusus yang dipegangnya.
"Para hadirin dan rekan-rekan media sekalian!" teriak Surya dengan nada suara dramatis khas panggung sandiwara. "Kalian semua dibodohi oleh wanita ini! Berdasarkan klausul wasiat almarhum Tuan Wibowo, syarat mutlak untuk memegang wewenang penuh atas Wibowo Group adalah memiliki pernikahan yang sah dan didasari oleh ikatan keluarga yang murni!"
Surya menunjuk Arka dengan tongkat naga emasnya.
"Tapi pria yang dinikahinya minggu lalu ini hanyalah seorang buruh lepas tanpa latar belakang keluarga yang jelas! Saya baru saja menerima hasil investigasi resmi bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan kontrak palsu seharga warisan yang dirancang untuk mengelabui hukum waris dan dewan komisaris!"
Pak Gunawan melangkah maju menyambar mikrofon dari tangan Surya, menambahkan bensin ke dalam kobaran api.
"Benar sekali!" jerit Pak Gunawan dengan suara serak menahan amarah. "Sebagai adik kandung almarhum dan wakil dewan komisaris, saya menyatakan bahwa dokumen pernikahan ini tidak sah secara moral dan hukum! Maya Wibowo memanfaatkan pria miskin ini hanya untuk menguasai aset perusahaan!"
Sisca yang berdiri di belakang ayahnya tertawa puas. Matanya menatap Maya dengan tatapan mengejek yang sangat kencang. Ia ingin melihat Maya runtuh dan dipermalukan di depan seluruh kamera berita nasional.
Para wartawan mulai berdesakan mendekati panggung utama.
"Nona Maya! Apakah benar pernikahan Anda hanya kontrak palsu?!"
"Tolong berikan klarifikasi, Nona Maya! Apakah wewenang Anda atas Wibowo Park cacat hukum?!"
"Bagaimana tanggapan pria di samping Anda mengenai tuduhan ini?!"
Maya menahan napasnya. Berondongan pertanyaan tajam dari para wartawan menghantamnya bagaikan gelombang pasang. Jika ia salah mengucapkan satu kalimat saja saat ini, reputasi Wibowo Group akan hancur lebur di media massa sebelum batu pertama sempat diletakkan.
Sebelum Maya sempat membuka suara, Arka meraih lembut mikrofon berdiri di samping panggung.
Pria bertuxedo hitam itu melangkah maju satu titik, berdiri tepat di garis paling depan panggung utama. Aura ketenangan yang luar biasa pekat memancar dari sosoknya, membungkam riuh rendah kerumunan media dalam hitungan detik.
Arka menatap Surya Wijaya dengan pandangan penuh kedataran yang menekan.
"Tuan Surya Wijaya," panggil Arka dengan suara yang menggema tenang melalui sistem pengeras suara. "Kamu bicara soal tuduhan hukum dan keabsahan pernikahan di hadapan media massa. Tapi apakah kamu membawa dokumen hukum resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Agama dan Pengadilan Agama negeri ini?"
Surya mengangkat dokumen di tangannya dengan keangkuhan yang meluap. "Ini adalah dokumen hasil analisis intelijen independen milik Megah Pratama Group! Bukti ini sudah cukup untuk menyeret kalian berdua ke ranah pidana!"
Arka menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin di sudut bibirnya.
"Dokumen intelijen swasta milik perusahaanmu?" tanya Arka santai. "Artinya, kamu baru saja mengakui di depan puluhan kamera berita nasional bahwa kamu melakukan tindakan ilegal berupa pencurian data pribadi dan peretasan sistem kependudukan warga negara."
Kasak-kusuk!
Para wartawan seketika saling pandang. Kamera-kamera berita mulai berganti arah, menembakkan lampu kilat lurus ke wajah Surya Wijaya.
Wajah tua Surya mendadak menegang. Ia tidak menyangka Arka akan membalikkan logika hukumnya dengan begitu cepat di hadapan publik.
"Jangan mencoba mengalihkan isu, montir gembel!" bentak Pak Gunawan panik. "Yang kami pertanyakan adalah bukti keabsahan ikatan kalian berdua!"
Arka tidak merespons bentakan Pak Gunawan. Pria itu menoleh pelan ke arah Maya, memberikan sebuah tatapan lembut yang menyalurkan rasa percaya diri tanpa batas.
Arka meraih jemari kanan Maya di hadapan seluruh kamera media, menggenggamnya dengan erat dan hangat.
"Maya adalah istri sah saya secara hukum negara dan hukum agama," kata Arka tegas, nadanya berwibawa dan tidak bisa dibantah oleh siapa pun di lapangan tersebut. "Tidak ada satu pun klausul kontrak yang melanggar hukum, dan tidak ada satu orang pun di kota ini termasuk Megah Pratama Group yang memiliki wewenang untuk mempertanyakan ikatan pernikahan kami."
Tiba-tiba, suara sirine dua mobil sedan hitam berpelat nomor khusus kementerian menggelegar dari gerbang utama lokasi proyek.
Mobil tersebut berhenti tepat di samping panggung. Seorang pria paruh baya bersetelan jas resmi dengan pin emas Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia melangkah keluar dari mobil, didampingi oleh dua orang pejabat Pengadilan Tinggi.
Pria pejabat kementerian itu melangkah cepat menuju panggung, menyodorkan sebuah dokumen berstempel garuda emas ke hadapan para wartawan.
"Selamat pagi rekan-rekan media!" seru pejabat kementerian tersebut dengan tegas. "Kami dari Kementerian Hukum menyampaikan pernyataan resmi bahwa Berkas Pernikahan Tuan Arka dan Nona Maya Wibowo telah terverifikasi secara sah, mutlak, dan terlindungi di dalam database hukum tertinggi negara. Segala bentuk tuduhan palsu atau upaya pembatalan sepihak tanpa putusan pengadilan adalah tindakan melawan hukum yang akan ditindak tegas!"
Brak!
Pernyataan resmi kementerian itu bagaikan hantaman petir di siang bolong bagi Surya Wijaya dan Pak Gunawan.
Sisca membelalakkan matanya dengan bibir gemetar. "Kementerian... Kementerian Hukum turun tangan langsung?!"
Pak Gunawan mundur dua langkah hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Wajahnya yang tadi memerah kini berubah menjadi sangat pucat bagaikan mayat.
Surya Wijaya meremas gagang tongkat naga emasnya hingga berderik keras. Napasnya memburu kencang oleh kemarahan dan keheranan yang tak terbatas. Bagaimana bisa seorang pria yang dikiranya buruh jalanan sanggup menggerakkan pejabat kementerian pusat hanya untuk memvalidasi pernikahan dalam hitungan jam?!
Arka menatap Surya Wijaya dari atas panggung, lalu berbicara pelan ke arah mikrofon.
"Tuan Surya," kata Arka dengan nada suara yang sangat dingin. "Tuduhan palsumu di depan publik hari ini telah mencemarkan nama baik istriku dan Wibowo Group. Tim kuasa hukum kami akan memastikan surat gugatan pidana atas pencemaran nama baik dan peretasan data tiba di kantormu sebelum matahari tenggelam."
Para wartawan langsung mengerumuni Surya Wijaya dan Pak Gunawan dengan cecar pertanyaan yang mencekik.
"Tuan Surya! Bagaimana tanggapan Anda mengenai validasi Kementerian Hukum?!"
"Apakah ini bentuk sabotase persaingan bisnis dari Megah Pratama Group?!"
"Pak Gunawan! Apakah Anda siap menghadapi gugatan pidana dari keponakan Anda sendiri?!"
Surya Wijaya tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan wajah penuh amarah dan rasa malu yang tak terhingga, pria tua itu memutar tubuhnya dan berburu-buru masuk kembali ke dalam mobil SUV hitamnya, meninggalkan Pak Gunawan dan Sisca yang kebingungan di tengah kerumunan wartawan.
Pintu SUV tertutup keras, lalu mobil itu melaju kencang meninggalkan lokasi proyek.
Maya berdiri di atas panggung, menatap pemandangan tersebut dengan dada yang bergemuruh kencang. Ia menoleh menatap suaminya yang masih menggenggam jemarinya dengan erat.
Arka mengulas senyum tipisnya yang hangat. "Panggung ini milikmu sekarang, Maya. Silakan lanjutkan peletakan batu pertamanya."
itu.