Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 19
Dilara berdiri membeku di samping meja makan, memandangi pintu depan yang baru saja tertutup rapat di balik punggung Elian. Bisikan pria itu masih terngiang jelas di telinganya: 'Kalau ada orang tidak dikenal yang mencarimu di luar... jangan pernah temui. Hubungi saya langsung.'
Kepanikan kecil merayap di dada Dilara. Bagaimana Pak Elian bisa tahu? Apakah semalam dia mendengar percakapanku dengan Ibu di taman belakang?
"Dilara?" panggil Bu Melani, memecah kecemasan yang mulai berakar di pikiran wanita muda itu.
Dilara tersentak pelan, menguasai dirinya dengan cepat lalu memutar badan dan menyunggingkan senyum santun.
"Iya, Bu Melani?"
"Jangan dimasukkan ke hati ya ucapan Elian tadi. Dia memang begitu kalau memberi perhatian, bahasanya suka agak kaku dan terkesan memerintah," kekeh Bu Melani seraya menyerahkan secangkir teh manis hangat pada Dilara.
"Tapi jujur saja, Ibu kaget. Elian itu paling anti meminjamkan kartu pribadinya pada orang lain, apalagi pengasuh baru. Dia sangat menghargai cara kerjamu untuk Elang."
Pak Adrian melipat korannya, lalu mengangguk setuju. "Benar kata Ibu. Elian itu sebenarnya penyayang, hanya saja gengsinya setinggi langit. Kalau dia sampai minta kamu beli kebutuhan pribadi pakai kartunya, artinya dia sudah menganggapmu bagian dari rumah ini. Pakai saja, Dilara. Jangan sungkan."
"Terima kasih banyak atas kebaikan Pak Adrian dan Bu Melani," tutur Dilara tulus, menunduk sopan.
"Tapi untuk kebutuhan pribadi, saya masih ada tabungan sendiri. Kartu ini hanya akan saya gunakan khusus untuk perlengkapan dan mainan edukatif Elang."
"Terserah kamu saja, Nak. Yang penting kamu nyaman di sini," jawab Bu Melani lembut seraya tersenyum hangat.
"LAA LAA!"
Suara celoteh serak khas bangun tidur melengking dari arah koridor kamar. Elang berjalan menyeret langkah kecilnya sambil memeluk boneka beruang cokelat kesayangannya. Matanya masih sembab, rambutnya yang agak keriting mencuat ke segala arah.
Dilara seketika melupakan beban kecemasannya. Senyum tulus mengembang sempurna di wajahnya saat ia berlutut menyambut balita itu.
"Selamat pagi, Jagoan Mbak Dilara," sapa Dilara lembut, merentangkan kedua tangannya.
Elang langsung menghambur ke pelukan Dilara, menyandarkan kepalanya yang masih mengantuk di bahu Dilara.
"Mbak Laa... Elang baru bangun..."
"Iya, Mbak tahu," bisik Dilara seraya mengusap lembut punggung Elang dan merapikan rambut acak-acakannya.
"Elang pinter banget bangunnya tidak pakai menangis. Mau minum air putih dulu?"
Elang mengangguk kecil di dalam dekapan Dilara.
Bu Melani dan Pak Adrian yang menyaksikan pemandangan itu dari meja makan saling melempar senyum haru. Sudah lama sekali mereka tidak melihat Elang bangun tidur dengan tenang tanpa jeritan mencari almarhum orang tuanya.
"Lihat itu, Pa," bisik Bu Melani pada suaminya.
"Elang benar-benar sudah melekat sekali sama Dilara."
"Iya, Mama tidak salah pilih orang," sahut Pak Adrian penuh kepuasan.
Dilara kemudian mengambilkan segelas air hangat dari meja prasaji dan membimbing tangan kecil Elang untuk memegangnya.
"Duduk di sini dulu ya, kita minum pelan-pelan. Habis ini Mbak Dilara mandikan, lalu kita sarapan sup ayam hangat, mau?"
"Mau!" jawab Elang antusias setelah meneguk airnya, matanya mulai berbinar gembira.
"Habis itu kita main balok lagi ya, Mbak?"
"Tentu saja," jawab Dilara penuh kehangatan. Ia mengusap pipi Elang yang menggemaskan, merasa bersyukur di tengah badai masa lalunya yang rumit, ia diberikan ruang yang begitu damai di rumah ini.
Di tempat terpisah, suasana di kediaman keluarga Asha justru jauh dari kata damai.
Asha terbaring di atas ranjang kamarnya dengan wajah sepucat kertas. Selang infus terpasang di punggung tangan kirinya, sementara botol cairan tergantung di tiang besi samping tempat tidur. Di sudut ruangan, ibunya duduk dengan wajah cemas setengah mati, sesekali mengusap kening putrinya dengan handuk basah.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari luar kamar. Pintu terbuka lebar, memperlihatkan Kevin yang datang dengan napas memburu dan pakaian yang masih agak kusut bekas semalam.
"Asha! Tante! Bagaimana keadaan Asha?" tanya Kevin panik, melangkah cepat mendekati ranjang.
Ibu Asha langsung bangkit dari kursinya, menatap Kevin dengan raut wajah penuh kekecewaan dan amarah yang ditahan.
"Kamu baru sampai sekarang, Kevin? Asha dari tadi pagi muntah-muntah dan badannya lemas sekali! Dokter keluarga baru saja selesai menyuntikkan vitamin dan memasang infus."
"Maafkan saya, Tante... Tadi ada urusan mendadak," cicit Kevin merasa bersalah. Ia lalu menatap Asha yang perlahan membuka matanya dengan tatapan sayu.
"Kev... kamu dari mana?" suara Asha terdengar begitu lemah, hampir berbisik. Jemari tangannya yang bebas bergerak pelan di atas selimut, mencoba menggapai tangan Kevin.
Kevin menyambut jemari itu dan menggenggamnya rapat. "Aku di sini, Sha. Maafkan aku. Apa yang terasa sakit?"
Asha memalingkan wajahnya ke samping, membiarkan sebutir air mata menetes membasahi bantalnya.
"Hati aku yang sakit, Kevin... Aku bela-belain lepas karier di luar negeri, aku abaikan cibiran orang demi kembali ke kamu. Tapi apa? Sampai hari ini kamu bahkan belum memasukkan berkas gugatan cerai ke Pengadilan Agama... Aku di sana juga berjuang sembuh agar bisa menjadi pendamping yang sempurna untukmu... Tapi... Hiks... Hikss..."
Kevin mendadak bungkam. Pegangannya di jemari Asha sedikit melonggar.
"Kevin!" sela ibu Asha tegas, mengambil alih pembicaraan.
"Tante tidak bisa lihat anak Tante menderita begini terus! Kamu janji akan menyelesaikan hubunganmu dengan Dilara secepatnya setelah dia pergi. Kenapa berkasnya belum masuk juga ke pengadilan? Kamu sengaja mengulur waktu karena masih berharap Dilara kembali?"
"Bukan begitu, Tante..." potong Kevin cepat, mencoba membela diri.
"Prosesnya butuh dokumen yang lengkap, dan... dan Dilara sampai sekarang belum bisa dihubungi untuk tanda tangan surat permohonan cerai. Saya cuma mau menyelesaikan ini dengan baik-baik."
"Baik-baik atau kamu memang ragu?!" bentak Asha tiba-tiba. Wajahnya yang semula lemah mendadak menyala oleh emosi, walau ia cepat-cepat memegangi kepalanya seolah meringis kesakitan.
"Aww... kepalaku sakit sekali..."
"Sha, Sha, jangan emosi dulu! Tenang..." panggil Kevin panik, merengkuh bahu Asha dengan cemas.
Di balik ringisannya yang terlihat begitu meyakinkan, sudut mata Asha melirik tajam ke arah Kevin. Ia sebenarnya sengaja meminta dokter langganan ibunya untuk memasangkan infus nutrisi biasa agar terlihat sangat lemah dan drop. Asha tahu betul bahwa Kevin adalah pria yang lemah terhadap rasa bersalah, dan pura-pura sakit adalah satu-satunya cara paling ampuh untuk menekan Kevin agar tidak punya waktu mencari Dilara lagi.
"Kevin... kalau kamu memang masih peduli sama Dilara dan mau kembali sama dia, katakan sekarang," bisik Asha dengan suara bergetar dipenuhi drama.
"Biar aku yang mengalah... biar aku yang pergi, walau aku harus menanggung malu di depan semua orang... Aku akan pergi dari kamu dan dunia ini selamanya agar tak melihat kamu dan dia bahagia..."
"Tidak, Sha! Jangan bicara begitu!" panggil Kevin panik. Rasa bersalahnya menggelembung hebat, mengubur pikiran rasionalnya.
"Aku akan urus berkasnya hari ini juga! Lewat pengacara aku, tanpa perlu menunggu Dilara. Aku janji!"
Mendengar kata-kata itu, di balik wajah lemasnya yang bersandar di dada Kevin, Asha menyunggingkan senyum tipis kemenangan. Tekanan dramatisnya berhasil menyingkirkan Dilara dari langkah Kevin.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛