Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Lem dan Piring Pecah
Sinar matahari siang menembus celah-celah daun pohon mangga di pinggir lapangan SMA Nusantara Jaya, memantulkan bayangan berpendar di sepanjang koridor lantai dua. Hawa gerah seusai pelajaran Biologi yang menguras otak membuat sebagian besar murid 12 MIPA 1 enggan langsung beranjak pulang atau pergi terlalu jauh. Koridor di depan kelas menjadi tempat favorit untuk sekadar meluruskan kaki, melepaskan penat dari tumpukan rumus dan hafalan.
Alee duduk santai di atas bangku kayu panjang. Kedua kakinya dibiarkan terayun-ayun santai, mengabaikan rok seragamnya yang sedikit terangkat di bagian bawah gaya petantang-petentengnya yang khas telah sepenuhnya kembali. Di sekelilingnya, suasana mendadak ramai. Ada Nara yang duduk merapat sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan buku serba guna, Hanafi yang menyender santai di pilar koridor, Zikri yang duduk agak menyendiri di ujung bangku, serta Rama yang baru saja keluar dari kelas membawa map presensi.
"Asli ya, Pak Budi kalau menerangkan soal genetika udah kayak membacakan mantra sihir! Otak gue serasa berasap!" seru Hanafi sambil menepuk jidatnya heboh, membuka obrolan siang itu.
Alee langsung tertawa renyah, tawa nyaring yang mengudara bebas tanpa beban. "Makanya, Fii! Jangan cuma mandangin akuarium di belakang! Otak lu tuh dipasang charger dulu sebelum masuk kelas!" sahut Alee ceplas-ceplos, memicu derai tawa dari Nara dan teman-teman sekelas lainnya.
Rama yang baru saja menyandarkan badannya di dekat pilar, tepat di sebelah Hanafi, ikut menyunggingkan senyum tipis. Garis-garis ketegangan di wajah sang Ketua Kelas tampak jauh lebih rileks dibanding dua bulan lalu. Melihat Alee bisa tertawa lepas dan meluncurkan lelucon-lelucon konyol seperti ini adalah sebuah pemandangan yang selalu diusahakannya untuk dijaga.
Belakangan ini, Rama memang lebih sering bergabung dengan rombongan Alee. Tidak ada lagi aksi saling jalin tatap tersembunyi atau kecemburuan yang meletup-letup. Mereka mengobrol santai, saling melempar candaan ringan, dan berdiskusi soal tugas kelas layaknya teman sejawat yang akrab. Rama sudah belajar menata hatinya: selama Alee bahagia dan tidak lagi terbebani rasa bersalah, ia rela menempati posisi mana pun di hidup gadis itu—bahkan jika itu hanya sebagai teman sekelas biasa.
Di mata murid-murid lain, hubungan antara sang Ketua Kelas dan Alee sudah sepenuhnya "pulih". Ketegangan yang dulu sempat membekukan 12 MIPA 1 seolah menguap begitu saja ditelan waktu.
Namun, tidak demikian bagi Zikri.
Dari sudut bangku kayu, Zikri memperhatikan tawa Alee dan senyum tenang Rama dengan dada yang serasa dihimpit batu besar. Rasa bersalah di dalam diri Zikri tidak pernah benar-benar menguap. Ia tahu betul bahwa senyum ramah Alee pada Rama hari ini bukanlah tanda bahwa segalanya telah kembali seperti semula, melainkan tanda bahwa gadis itu telah membangun benteng transparansi yang tak tertembus. Alee memperlakukan Rama persis seperti ia memperlakukan Hanafi atau anak-anak cowok lainnya tanpa sedikit pun sisa keistimewaan.
“Ini semua gara-gara mulut gue semalam,” batin Zikri pahit. Penyesalan itu terus menggerogoti nuraninya. Zikri merasa bertanggung jawab atas hancurnya rasa yang pernah ada di antara dua sahabatnya itu. Dan siang ini, melihat mereka duduk berdekatan dalam rombongan yang sama, sebuah dorongan impulsif muncul di kepala Zikri. Ia ingin menjadi juru selamat. Ia berniat memicu kembali percikan yang padam, memancing keduanya untuk meruntuhkan dinding tebal itu dan menyatukan kembali apa yang telah retak.
Peluang itu datang tanpa disengaja. Hanafi, yang sedang merapikan beberapa peralatan prakarya Biologi dari dalam kelas, tak sengaja menyenggol wadah keramik tempat menyimpan preparat hingga jatuh ke ubin dan terbelah menjadi beberapa pecahan.
PRANG!
"Duh! Mampus gue!" seru Hanafi panik, mengusap lehernya sambil menatap pecahan wadah keramik di dekat kakinya. "Lagian nih wadah licin banget! Pecah kan tuh piring tempat sampel!"
Nara menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Lagian lu sih, Fik! Gerak dikit heboh banget kayak menari kecak! Ya udah lah, tinggal dibuang terus ganti baru aja ke lab."
"Iya sih, udah terlanjur pecah ini. Nggak bisa dipasang lagi," gumam Hanafi pasrah sambil berlutut hendak memungut serpihan keramik tersebut.
Saat itulah Zikri membetulkan posisi duduknya. Ia memajukan badannya sedikit, melemparkan pandangan berartinya bergantian ke arah Alee dan Rama yang berada di seberangnya. Suasana santai di koridor itu mendadak terinterupsi saat Zikri menyela pembicaraan dengan nada suara yang sengaja dibuat agak dalam dan penuh makna tersirat.
"Sebenarnya nggak harus dibuang kok, Fik," potong Zikri jernih, membuat gerakan Hanafi terhenti. Zikri menatap lurus ke arah Alee. "Piring pecah itu... sebenarnya masih bisa disatukan kembali kalau ditaruh lem yang kuat. Benda atau hubungan apa pun yang pernah rusak... sebenarnya masih sangat bisa diperbaiki sampai utuh lagi, asalkan orang-orang di dalamnya sama-sama mau berusaha menyatukannya."
Kalimat Zikri terlontar begitu tajam dan transparan. Tidak ada yang bodoh di tempat itu untuk tidak menyadari ke mana arah kiasan tersebut ditujukan.
Nara langsung menoleh cepat ke arah Zikri dengan alis yang bertaut tajam, memancarkan gestur peringatan keras agar cowok itu tidak ikut campur. Hanafi yang polos sempat terpaku, memegang serpihan keramik di tangannya sambil menatap canggung ke sekeliling. Tawa riuh yang tadinya memenuhi koridor mendadak lenyap tanpa sisa, digantikan oleh keheningan kaku yang mencekam.
Alee menghentikan gerak jemarinya yang sejak tadi sedang memutar-mutar bolpoin. Senyum petantang-petenteng di wajahnya perlahan menyurut, berganti dengan sebuah raut ketenangan yang teramat dingin dan dewasa. Tidak ada amarah di matanya, tidak ada pula gurat luka yang menyengat. Yang ada hanyalah sebuah kejelasan yang tak tergoyahkan.
Alee menengadah pelan. Matanya melintasi Zikri tanpa emosi, lalu mengunci tatapannya tepat pada mata Rama yang berdiri mematung di dekat pilar.
Alee menyunggingkan senyum tipis—senyum jernih yang memotong seluruh ilusi di udara.
"Iya, emang bisa disatukan pakai lem, Zik," ucap Alee dengan nada suara datar namun begitu lantang memecah kesunyian. "Tapi fungsinya udah nggak bisa berjalan kayak semula lagi, kan?"
Jleb.
Kalimat singkat itu bagaikan garis tegas yang digambar di atas tanah. Nara meremas pinggiran rok seragamnya, sementara Zikri seketika membeku. Kata-kata Alee menyengat dada Zikri, mematahkan seluruh niat sok pahlawannya dalam satu tebasan telak. Alee tidak sedang mendendam; Alee hanya menyuarakan realita bahwa sebuah piring retak yang dilem tidak akan pernah bisa lagi menampung air panas tanpa rasa takut akan bocor kembali.
Rama tidak memalingkan pandangannya. Di balik kacamata beningnya, mata sang Ketua Kelas menatap lurus ke dalam iris mata Alee. Ada kilatan kepedihan tipis yang melintas di dada Rama—sesehat apa pun ia berusaha mengikhlaskan, mendengar penegasan itu secara langsung tetap saja meninggalkan rasa denyut yang nyata.
Namun, Rama adalah pribadi yang dewasa. Ia paham betul pesan mendalam yang baru saja disampaikan Alee. Memaksa mengembalikan masa lalu hanya akan merusak hubungan baik yang sudah susah payah mereka bangun hari ini.
Rama menghela napas panjang, lalu menyunggingkan senyum paling tulus dan penuh penerimaan yang bisa ia berikan. Ia mengangguk pelan pada Alee.
"Benar," jawab Rama halus, suaranya terdengar begitu tenang dan mantap di tengah keheningan. "Hal-hal yang sudah terpecah... kalau dipaksakan untuk disatukan kembali, memang tidak akan pernah sesuai lagi dengan jalurnya."
Pernyataan Rama yang secara terbuka membenarkan perkataan Alee seketika mengunci seluruh perdebatan tersembunyi yang ada di antara mereka. Rama baru saja secara resmi menyetujui batas tersebut, menutup rapat segala spekulasi dan usaha dari pihak luar untuk merubah dinamika mereka saat ini.
Kecanggungan tebal langsung menyelimuti rombongan itu. Hanafi berdehem canggung sambil pura-pura sibuk memasukkan keramik ke tempat sampah, sementara Zikri menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari betapa bodohnya tindakan yang baru saja ia lakukan.
Melihat kawan-kawannya mendadak membisu dengan raut wajah serba salah, Alee langsung menepuk kedua paha seragamnya heboh, memecah kesunyian dengan gaya petantang-petentengnya yang penuh energi.
"Oke! Kalau gitu aku mau ke kantin dulu ah, lapar!" seru Alee renyah sambil berdiri tegak dari bangku kayu, memamerkan senyum lebarnya yang seolah tidak baru saja melempar bom suasana. "Nara, ayo ikut! Gue mau beli bakso dua mangkok nih!"
"Eh? Iya, ayo!" sahut Nara cepat, berdiri dan langsung mengaitkan tangannya di lengan Alee.
Alee melambaikan tangannya santai pada teman-temannya yang masih terpaku. "Gue duluan ya guys! Dadah Hanafi, dadah Zik, dadah Pak Ketua!"
Tanpa sedikit pun beban atau langkah yang ragu, Alee berjalan riang menyusuri koridor menuju tangga kantin, meninggalkan rombongan di belakangnya dalam sisa-sisa kecanggungan yang perlahan meluruh ditelan angin siang.