Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap Berburu
Sore harinya, suasana di ruang santai mansion terasa begitu tenang. Serena tengah duduk bersandar nyaman di sofa empuk sambil menonton televisi, menikmati waktu senggangnya setelah seharian dipaksa mengikuti latihan fisik yang melelahkan.
Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika suara langkah kaki tegas terdengar mendekat. Serena menoleh ke arah pintu utama, dan matanya langsung mengerjap kaget. Di sana, Sergio berdiri dengan penampilan yang sangat rapi mengenakan setelan jas hitam formal berpotongan mewah, lengkap dengan dasi rapi.
Serena mengernyitkan dahi, memperhatikan suaminya dari atas sampai bawah dengan penuh keheranan.
"Eh? Kamu mau ke mana rapi banget pakai jas hitam gitu, Max? Bukannya tadi pagi waktu pergi ke markas latihan kamu cuma pakai kemeja hitam ketat?" tanya Serena penasaran, lalu mengubah posisinya menjadi duduk tegak di sofa.
Sergio melangkah mendekati sofa tempat Serena duduk, merapikan manset jasnya sekilas. "Aku pergi," ucap Sergio tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan awal istrinya.
Serena mengerjap, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat. "Pergi? Ke mana?" tanyanya menyelidik.
"Ke perbatasan utara. Ada sedikit masalah di sana yang harus diselesaikan," jawab Sergio tenang, berhenti tepat di hadapan Serena.
Mendengar kata masalah dan perbatasan utara, mata Serena seketika berbinar terang. Rasa penasarannya langsung melonjak ke tingkat maksimal.
"Wah, perbatasan utara? Apakah di sana sedang terjadi perang antar klan?!" tanyanya antusias, lalu bangkit berdiri dan menatap Sergio penuh harap.
"Kalau iya, apa aku boleh ikut? Please, aku mau lihat aksi laga aslinya secara langsung!"
Sergio langsung menggeleng tegas tanpa ragu sedetik pun. "Tidak!" jawabnya penuh penekanan.
Wajah Serena langsung berubah menjadi murung, bibirnya mengerucut sedih. "Kenapa sih nggak boleh? Kan seru kalau aku ikut!" protesnya.
"Kamu hanya akan membuat masalah di sana, Serena," ucap Sergio datar tanpa filter sedikit pun.
"Aku tidak ingin ada beban pikiran atau gangguan saat sedang mengurus masalah di medan pertempuran."
Mendengar kata beban, mata Serena membelalak lebar. Hatinya langsung tersayat seketika.
"Apaan sih, Max?! Kok kamu tega banget ngomong langsung kalau aku ini cuma jadi beban?!" protes Serena kesal setengah mati, kedua tangannya terlipat di dada dengan wajah cemberut.
Sergio menatap istrinya sekilas, tidak berniat meralat ucapannya karena memang itulah kenyataannya di dunia mafia.
"Diamlah di mansion ini, Serena, dan jangan membuat masalah," instruksi Sergio dingin.
"Nanti di bawah sudah ada Calum. Dia akan mengajarimu latihan menembak di hutan belantara belakang mansion."
Serena terperanjat mendengar kata-kata selanjutnya. "What? Menembak di hutan?! Maksudmu... berburu hewan gitu?!" tanya Serena dengan wajah pucat pasi, membayangkan ia harus masuk ke dalam hutan gelap.
"Benar, itu bentuk ujian dan pelatihan lanjutan untukmu di alam bebas. Bersiaplah dalam waktu lima menit," balas Sergio mutlak, tidak memberi ruang untuk protes.
Serena menggeleng kuat-kuat, rasa takutnya mendadak merayap naik ke permukaan. Ia mencengkeram lengan jas Sergio dengan panik.
"Aku tidak mau, Max! Bagaimana kalau Calum tidak sengaja menembak ku di hutan sana, atau justru aku yang panik lalu menembak kepalanya?! Aku takut, aku tidak mau jadi pembunuh, Max!" mohon Serena frustrasi, air mukanya benar-benar ketakutan.
Sergio menepis lembut tangan Serena dari jasnya, lalu menatap lurus ke dalam mata cokelat istrinya.
"Jangan membuat drama yang tidak perlu, Serena. Segera bersiap dan ganti pakaianmu!" balas Sergio tegas, menunjukkan gestur bahwa keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
Hampir sebulan tinggal bersama pria berdarah dingin ini membuat Serena mulai paham satu hal mutlak, Sergio adalah tipe pria yang paling pantang dibantah. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan keputusasaan, Serena akhirnya berbalik dan melangkah gontai menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.
Ia tahu persis aturan di mansion ini. Karena akan memasuki area hutan liar di belakang, Serena memilih mengenakan celana panjang gelap yang lebih ketat, jaket tebal tahan angin, serta sepatu bot lapangan. Selama ini, yang ia tahu tentang hutan belakang mansion hanyalah sebatas area properti pribadi milik Sergio yang digunakan untuk kamuflase dan menutupi bangunan bawah tanah. Hanya sebatas itu pengetahuannya.
Serena sama sekali tidak tahu dan tidak pernah membayangkan bahwa hutan di balik tembok pembatas itu sebenarnya adalah sebuah hutan neraka yang menyimpan banyak rahasia gelap, mayat-mayat musuh, dan bahaya mematikan di dalam lebatnya pepohonan.
Begitu Serena keluar kembali ke teras belakang dengan langkah berat, Sergio sudah menunggunya. Pria itu menarik lengan Serena pelan untuk membawanya mendekat ke arah halaman luar. Dan benar saja, di dekat pintu perbatasan hutan, Calum sudah berdiri tegak dengan aura dinginnya yang khas.
Namun, ada satu hal yang membuat Serena menghentikan langkahnya mendadak dan mematung ngeri. Di tangan Calum bukan hanya tersandang senapan laras panjang, melainkan ada sebuah busur panah tradisional modern dengan anak panah tajam yang tersimpan di tabungnya.
"Tunggu... Panah?!" batin Serena histeris.
"Jadi maksudnya hari ini aku belajar memanah di tengah hutan, bukan belajar menembak pakai pistol?! Aku kan belum pernah belajar memanah seumur hidupku!"
Napas Serena mendadak tercekat. Ketakutannya berkali-kali lipat lebih besar.
"Aku tidak mau pergi ke hutan itu, Max... Tolong batalkan, ya?" bujuk Serena dengan suara memelas, menatap suaminya penuh harap agar dimaafkan.
Sergio mengabaikan tatapan memelas itu. Pria bertubuh tegap tersebut menoleh sekilas ke arah anak buah kepercayaannya.
"Bawa dia, Calum," perintah Sergio dingin.
"Baik, Tuan," patuh Calum dengan suara datarnya yang tanpa ekspresi.
Tanpa membuang waktu, Calum melangkah maju dan menarik lengan Serena untuk membawanya masuk ke jalur setapak hutan. Meski tarikannya kali ini tidak sekasar insiden di hari penembakan dulu, tetap saja cengkeraman tangan Calum membuat Serena meronta-ronta panik.
"Ih, lepasin! Jangan ditarik-tarik terus, kutub es! Aku bisa jalan sendiri!" protes Serena histeris, menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan ke arah Sergio.
"Max! Tega banget kamu ninggalin aku sama algojo putih ini! Tolong akuuu!" teriaknya sebelum akhirnya sosok Serena benar-benar tertelan oleh lebatnya pepohonan gelap di dalam hutan belantara tersebut.
Sergio berdiri menatap punggung istrinya yang menghilang di balik rimbunnya dedaunan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sekilas, sebelum akhirnya pria itu berbalik menuju mobil hitamnya untuk berangkat ke perbatasan utara.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔