Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Seleksi Sepuluh Nama

Seminggu setelah pengumuman Pertemuan Tiga Sekte ditempel, seluruh murid dalam Sekte Awan Putih berkumpul di Panggung Uji untuk mengikuti seleksi internal yang menentukan sepuluh nama yang akan mewakili sekte dalam ajang bergengsi lima tahunan itu.

Ratusan murid dalam dari berbagai angkatan memenuhi tribun dan area tunggu di sekitar panggung, semuanya mengenakan seragam latihan terbaik mereka, wajah-wajah tegang menghiasi barisan panjang peserta seleksi.

"Format seleksi tahun ini adalah turnamen gugur," seorang tetua penyelenggara mengumumkan dari atas mimbar sementara di tepi panggung. "Seratus dua puluh murid dalam terdaftar, bertanding dalam pertarungan satu lawan satu hingga tersisa sepuluh nama terbaik. Pertarungan berhenti begitu salah satu pihak menyerah, pingsan, atau juri menyatakan hasil sudah jelas. Tidak ada niat membunuh yang diizinkan—pelanggar akan didiskualifikasi seketika."

Lin Mu berdiri di antara kerumunan peserta bersama Han Zhengyu, yang kini memperlakukannya lebih sebagai rekan seperjuangan dibanding rival seperti minggu-minggu sebelumnya.

"Seratus dua puluh lawan sepuluh tempat," Han Zhengyu bergumam, meregangkan bahunya. "Persaingan ketat seperti biasa. Tapi dengan kemampuanmu sekarang, aku yakin kau tidak akan kesulitan."

"Jangan meremehkan peserta lain hanya karena mereka belum pernah kita lihat bertarung," Lin Mu menjawab tenang, matanya menyapu kerumunan dengan seksama. Ia bisa merasakan beberapa aura yang cukup kuat tersembunyi di antara peserta yang tampak biasa saja—tanda-tanda kultivator yang sengaja menyembunyikan kekuatan sesungguhnya hingga saat yang tepat.

Pertandingan demi pertandingan berlangsung sepanjang hari, sebagian besar berakhir cepat karena perbedaan level yang jelas, namun beberapa di antaranya menampilkan pertarungan yang cukup menarik untuk menyita perhatian seluruh tribun.

Salah satu yang paling mencolok adalah seorang gadis bernama Su Wan, murid dalam angkatan yang sama dengan Lin Mu, yang menggunakan jurus berbasis ilusi cahaya—teknik langka yang jarang dimiliki murid seusianya, mengalahkan tiga lawan berturut-turut hanya dengan memanfaatkan kebingungan visual sebelum lawannya sempat menyadari serangan sesungguhnya datang dari arah yang berbeda.

"Dia berbahaya," Han Zhengyu berkomentar sambil mengamati pertandingan itu dari tribun peserta. "Aku pernah berlatih bersamanya sekali, dan aku hampir tak bisa membedakan mana bayangannya yang asli."

Giliran Lin Mu tiba di putaran ketiga, berhadapan dengan seorang murid dalam bertubuh besar bernama Kuang Bo, yang mengandalkan kekuatan fisik murni dan jurus tinju yang sederhana namun brutal.

Pertarungan berakhir singkat—Lin Mu, kini jauh lebih terlatih setelah berminggu-minggu mempelajari Prinsip Pedang Tanpa Bentuk dari Xuan Bo, membaca setiap gerakan Kuang Bo dengan mudah dan mengakhiri pertandingan hanya dalam beberapa pertukaran, tanpa perlu mengeluarkan kekuatan berlebihan.

Ia terus melaju melalui putaran demi putaran sepanjang hari, mengalahkan lawan demi lawan dengan efisiensi yang semakin menarik perhatian seluruh sekte—termasuk, tanpa disadarinya, tatapan penuh minat dari Su Wan yang mengamatinya dari kejauhan setiap kali gilirannya tiba.

Menjelang senja, hanya tersisa enam belas peserta di babak semifinal, termasuk Lin Mu, Han Zhengyu, dan Su Wan. Pertandingan hari itu resmi dihentikan sementara—sisa babak akan dilanjutkan keesokan harinya untuk memberi waktu istirahat bagi para peserta yang tersisa.

Lin Mu duduk beristirahat di tepi kebun bambu dekat Aula Pedang, menikmati keheningan setelah hari yang panjang, ketika Su Wan mendekatinya dengan langkah ringan, jubahnya yang berkilau lembut berkibar tertiup angin sore.

"Pertarunganmu tadi cukup menarik untuk diamati," katanya, duduk di batu seberangnya tanpa diminta. "Kau tidak pernah menggunakan kekuatan penuh, bahkan saat lawanmu jelas kewalahan. Kenapa?"

"Tidak ada gunanya menghabiskan tenaga lebih dari yang dibutuhkan," Lin Mu menjawab. "Aku mungkin akan membutuhkan sisa kekuatanku untuk pertandingan yang lebih sulit besok."

Su Wan tersenyum tipis, tampak terkesan dengan jawaban itu. "Perhitungan yang matang. Kebanyakan murid seusia kita terlalu terbawa emosi untuk berpikir sejauh itu di tengah pertandingan." Ia menatapnya lebih lama, ekspresinya berubah sedikit lebih serius. "Aku dengar dari Han Zhengyu bahwa kau mendapat bimbingan langsung dari Tetua Xuan Bo. Jarang sekali ada murid baru yang mendapat kehormatan seperti itu secepat kau."

"Keberuntungan," Lin Mu menjawab singkat, jawaban standar yang mulai terasa seperti kalimat yang harus terus ia ulangi setiap kali topik itu muncul.

"Aku tidak sepenuhnya percaya pada keberuntungan semata," Su Wan berkata, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu, namun ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. "Tapi baiklah. Semoga besok kita tidak bertemu sebagai lawan di babak semifinal—aku lebih suka menyaksikan pertarunganmu dari tribun daripada harus menghadapinya sendiri."

Ia bangkit, membungkuk sopan, lalu berlalu meninggalkan kebun bambu itu, meninggalkan Lin Mu sendirian dengan pikirannya sendiri, menatap langit senja yang mulai berubah warna keunguan di atas Pegunungan Awan Putih.

Semakin banyak orang mulai memperhatikanku, pikirnya, mengingat kembali percakapan dengan Yun Zhi, Xuan Bo, dan kini Su Wan.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!