Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tingkah Luna
Satu minggu setelah kejadian Leon berantem dengan Bruno si gendut karena jambak rambut Luna di hari pertama TK, mansion De Luca sudah kembali damai.
Leon dan Luna sekarang sudah jadi anak paling terkenal di TK Mafia Elite. Semua anak takut sama Leon karena Leon pernah pukul Bruno, dan semua anak cowok suka sama Luna karena Luna cantik rambut pirang seperti boneka.
Pagi ini, jam 6.30 pagi, drama baru terjadi di kamar Luna.
Luna De Luca umur 5 tahun, dengan dress pink princess dan mahkota pink, sedang berdiri di depan cermin besar sambil memegang surat kecil warna pink dengan gambar hati.
Wajah cantiknya yang biasanya ceria, sekarang merah padam karena malu.
Di sebelahnya, Leon dengan jas kecil hitam dan dasi kecil, sedang menyilangkan tangan dengan wajah dingin seperti detektif Mafia cilik.
"Luna, surat apa itu? Dari siapa? Kenapa ada gambar hati?" tanya Leon dengan nada curiga, sangat mirip Papa Lorenzo kalau lagi interogasi musuh.
Luna menyembunyikan surat itu di belakang punggungnya.
"Bukan apa-apa! Ini... ini surat tugas dari Bu Guru! Tugas menggambar hati!"
Leon tidak percaya. Dia adalah kakak kembar yang sangat posesif.
"Luna bohong! Leon lihat tadi ada tulisan 'Untuk Luna Cantik'! Siapa yang kasih? Apakah Bruno gendut itu lagi? Leon sudah bilang jangan dekati Luna!"
Luna cemberut. "Bukan Bruno! Bruno sudah takut sama Leon! Ini dari... dari Romeo!"
Mendengar nama Romeo, Leon langsung berdiri tegak.
"Romeo? Siapa Romeo? Anak baru di TK?"
Luna mengangguk malu-malu. "Iya... Romeo itu anak baru di kelas Mawar... rambutnya coklat, matanya biru, ganteng... dia pindahan dari TK Italia... dia kasih Luna surat cinta..."
Leon langsung meledak. Wajah dinginnya berubah merah karena marah.
"APA? SURAT CINTA? UNTUK LUNA? LUNA UMUR 5 TAHUN! TIDAK BOLEH PUNYA PACAR! PACAR LUNA HANYA PAPA!"
Luna juga meledak. "Leon jahat! Leon posesif seperti Papa! Luna boleh punya pacar! Luna sudah besar! Umur 5 tahun!"
Dua anak kembar itu bertengkar di kamar dengan suara keras.
Di bawah, di dapur, Lorenzo yang lagi pakai celemek biru PAPA SIAGA TK lagi bikin bekal, dan Elena yang lagi siapin susu, mendengar anak-anak bertengkar.
"Leon, Luna, kenapa bertengkar lagi pagi-pagi?" teriak Elena dari bawah.
Leon dan Luna berlari turun dari tangga dengan surat cinta pink di tangan Luna.
"Mama! Papa! Luna punya pacar! Namanya Romeo!" kata Luna dengan bangga sambil menunjukkan surat pink itu.
Elena dan Lorenzo langsung saling tatap dengan kaget.
"Pacar? Luna umur 5 tahun punya pacar?" kata Elena.
Lorenzo yang lagi pegang wajan langsung taruh wajannya dan mengambil surat pink itu dengan wajah super serius seperti lagi baca kontrak bisnis triliunan dollar.
Surat itu tulisannya masih belepotan anak TK:
_Untuk Luna Cantik Rambut Pirang,_
_Aku Romeo, aku suka kamu, kamu cantik seperti princess, mau jadi pacar aku? Aku kasih kamu permen dan mobil-mobilan._
_Dari Romeo Ganteng_
Lorenzo membaca surat itu dan alisnya naik. Tato naga di lehernya menegang.
"Romeo? Anak siapa Romeo ini? Berani-beraninya kasih surat cinta ke putri saya Luna De Luca umur 5 tahun? Saya harus temui orang tuanya!" kata Lorenzo dengan nada Mafia.
Elena mengambil surat itu dari tangan Lorenzo dan tertawa ngakak.
"Lorenzo! Ya ampun! Anak 5 tahun kasih surat cinta belepotan! Lucu banget! Kamu jangan jadi Papa galak dong! Ingat dulu kamu juga kasih saya roti becek pas umur 7 tahun di panti asuhan?"
Lorenzo terdiam. Iya juga, dulu dia kasih Elena roti becek sebagai surat cinta pertamanya.
Leon yang ada di samping, menarik jas Papa-nya.
"Papa! Jangan kasih Luna punya pacar! Luna kan adik Leon! Leon harus jaga Luna! Kalau Luna punya pacar Romeo, nanti Luna tidak sayang Leon lagi!"
Luna langsung memeluk Leon.
"Leon, Luna tetap sayang Leon! Leon kan kakak kembar Luna! Tapi Luna juga mau punya pacar seperti Mama punya Papa!"
Perdebatan keluarga De Luca pagi itu sangat heboh, lebih heboh dari rapat Mafia.
Akhirnya, Elena sebagai Mama bijak memberikan solusi.
"Gini ya, Leon, Luna... Luna boleh temenan sama Romeo, tapi belum boleh pacaran, karena masih 5 tahun. Pacaran nanti kalau sudah besar, umur 17 tahun ya? Sekarang temenan aja dulu. Dan Leon, kamu tidak boleh galak sama teman Luna, harus jadi kakak yang baik, mengerti?"
Leon mengangguk meskipun masih cemberut. "Mengerti, Mama... tapi Leon tetap akan awasi Romeo itu!"
Luna senang. "Hore! Luna boleh temenan sama Romeo!"
Jam 8 pagi, di TK Mafia Elite, Lorenzo dan Elena antar Leon dan Luna seperti biasa.
Di depan kelas Mawar, sudah ada seorang bocah laki-laki ganteng rambut coklat mata biru, pakai jas kecil biru, membawa buket bunga mawar kecil untuk Luna.
Itu Romeo!
Romeo melihat Luna datang langsung berlari dengan bunga.
"Luna! Ini bunga untuk kamu! Kamu cantik hari ini!"
Luna malu-malu menerima bunga itu. "Terima kasih, Romeo..."
Leon yang melihat itu langsung maju di depan Luna dengan wajah dingin.
"Hei, Romeo! Saya Leon! Kakak kembar Luna! Kamu tidak boleh kasih bunga ke Luna sembarangan! Kamu harus izin dulu sama saya dan Papa!"
Romeo yang anak baru itu kaget melihat Leon yang galak.
"Maaf, Leon... saya cuma mau temenan sama Luna..."
Lorenzo yang melihat dari jendela kelas, tersenyum melihat Leon yang posesif itu sangat mirip dirinya dulu menjaga Elena di panti asuhan.
Elena berbisik ke Lorenzo. "Lihat, Leon mirip kamu banget, posesif!"
Lorenzo mengangguk bangga. "Ya, itu anak saya!"
Bu Guru Sarah datang dan melerai.
"Anak-anak, sudah, sudah, jangan bertengkar. Romeo, Leon, Luna, kalian semua teman ya? Sekarang masuk kelas, kita belajar menggambar keluarga!"
Di dalam kelas, saat pelajaran menggambar keluarga, Luna menggambar keluarga De Luca: ada Papa Lorenzo dengan tato naga dan celemek biru, Mama Elena dengan rambut pirang, Leon dengan jas hitam, dan Luna sendiri dengan dress pink dan mahkota. Di sebelah gambar Luna, Luna menggambar hati kecil dan tulisan "Romeo" dengan malu-malu.
Leon yang melihat gambar Luna ada nama Romeo, langsung menggambar dirinya dengan pistol mainan menjaga Luna.
Saat jam istirahat, Romeo mendekati Luna lagi dan memberikan permen.
"Luna, mau main perosotan sama aku?"
Luna mau mengangguk, tapi Leon langsung menarik tangan Luna.
"Tidak! Luna main sama Leon saja! Leon yang jaga Luna di perosotan!"
Luna cemberut lagi. "Leon! Lepasin! Luna mau main sama Romeo juga!"
Lagi-lagi dua kembar itu bertengkar di taman TK.
Sampai akhirnya, Romeo yang tidak tahan melihat Leon dan Luna bertengkar karena dia, berkata dengan bijak untuk anak 5 tahun.
"Leon, Luna, jangan bertengkar karena aku... kita main bertiga saja ya? Aku, Leon, Luna main perosotan bertiga, jadi tidak ada yang cemburu!"
Leon dan Luna saling tatap, lalu mengangguk.
"Oke, main bertiga!"
Akhirnya, Leon, Luna, dan Romeo main perosotan bertiga dengan tertawa bahagia. Leon di depan jaga Luna, Luna di tengah, Romeo di belakang jaga Luna juga.
Dari jendela, Lorenzo dan Elena melihat anak-anak mereka main bertiga dengan bahagia dan tertawa.
"Lorenzo, lihat, akhirnya mereka akur bertiga..." kata Elena.
Lorenzo mengangguk sambil memegang tangan Elena. "Ya, seperti kita dulu bertiga sama Bi Inem di panti asuhan..."
Jam 12 siang, TK pulang. Luna pulang dengan membawa bunga mawar kecil dari Romeo, Leon pulang dengan wajah masih cemberut tapi sudah tidak marah.
Di mobil Rolls Royce, Luna dengan polos bertanya.
"Mama, Papa, kalau Luna temenan sama Romeo, apakah Romeo boleh main ke mansion kita?"
Lorenzo dan Elena saling tatap.
Lorenzo dengan gaya Papa Mafia yang posesif tapi sayang anak, berkata.
"Boleh, Luna... tapi Romeo harus lewat tes Papa dulu... Papa harus cek apakah Romeo anak baik, apakah dia bisa jaga Luna, apakah dia tidak jambak rambut Luna seperti Bruno..."
Leon langsung setuju. "Iya! Tes Papa! Leon juga mau tes Romeo!"
Luna tertawa. "Oke, Papa! Besok Luna bilang Romeo untuk tes Papa!"
Keluarga De Luca pulang dengan cerita baru: Luna punya teman dekat bernama Romeo, dan Leon jadi bodyguard cilik yang posesif.