Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan 19
Suasana di dalam kabin belakang Alphard hitam yang melaju menembus pekatnya malam Jakarta terasa sangat menyesakkan. Kaca privacy glass yang tebal dan sekat depan tak mampu menahan hawa dingin yang menguar bukan dari hembusan air conditioner, melainkan dari keheningan yang membeku di antara aku dan Gibran. Pak Budi, sopir pribadi kami, hanya fokus menatap jalanan di depan tanpa berani melirik sedikit pun ke kaca spion tengah.
Aku dan Gibran duduk bersisian di captain seat yang empuk. Namun, jarak beberapa puluh sentimeter di antara kami terasa bagaikan jurang pemisah yang tak bertepi. Gibran menyandarkan punggungnya kaku, membuang muka menatap keluar jendela dengan raut wajah tegas yang menyimpan amarah dan malu berlipat ganda sejak kejadian di lorong hotel tadi. Sementara aku duduk tenang, membetulkan letak gaun sutraku dengan gerakan jemari yang sangat anggun.
"Kamu puas, Kirana?" suara Gibran akhirnya memecah hening, terdengar rendah dan sarat akan penekanan agar tidak terdengar terlalu keras oleh Pak Budi di depan. "Kamu puas mempermalukan aku dan Melani di depan orang-orang tadi?."
Aku tidak meliriknya sedikit pun. Mataku tetap menatap lurus ke depan dengan pendar mata yang sangat tenang.
"Mempermalukan?" tanyaku datar. "Siapa yang mempermalukan siapa, Mas? Kamu yang berdiri menyudut bersama rekan bisnis wanitamu di lorong sepi saat acara resmi, atau aku yang datang menyelamatkan wibawamu sebelum media mencium bau busuk permainan kalian?."
"Sudah kubilang, Melani itu cuma rekan bisnis!" sentak Gibran dengan nada berbisik yang tajam, tubuhnya mendadak berputar menghadapku. "Kami cuma membahas masalah pekerjaan! Tapi kamu datang dengan tuduhan pelakor, lalu bertingkah manja yang kekanak-kanakan di depan dia. Mau kamu apa sebenarnya, hah?"
Tawaku menyembur pelan sebuah tawa sinis yang mengalun halus di tengah derum mesin Alphard yang senyap.
"Kalau cuma rekan bisnis, kenapa reaksi kamu sepanik itu saat aku mendekat?" tembakku tepat di jantung pertahanannya. "Sejak kapan seorang CEO besar seperti Gibran Raditya membiarkan seorang rekan bisnis memarahinya dengan wajah merah padam seperti orang yang sedang cemburu buta? Jangan bodohi aku, Mas."
Gibran menelan ludah. Guratan panik melintas sekejap di matanya sebelum ia melemparkan pandangannya kembali ke arah jendela luar.
"Aku cuma menjaga perasaan mitra kerja agar kerja sama perusahaan tidak batal," elaknya cepat, nada suaranya terdengar makin defensif. "Kamu tidak tahu apa-apa soal urusan bisnis, Kirana. Jangan menyimpulkan hal yang tidak-tidak hanya karena rasa cemburumu yang berlebihan."
Aku memiringkan kepala, menyunggingkan senyuman paling tipis yang amat mengintimidasi dari sudut kursi penumpangku.
"Cemburu?" bisikku pelan, menatapnya penuh rasa kasihan. "Mas... rasa cemburuku padamu sudah mati sejak lama. Yang tersisa sekarang cuma rasa curiga yang makin terbukti kebenarannya. Semakin kamu mengelak dan membela Melani, semakin terlihat jelas seberapa dalam hubungan rahasia yang kalian sembunyikan di belakangku."
"Cukup, Kirana!" potong Gibran keras, menepuk sandaran tangan kursi penumpangnya hingga menimbulkan bunyi gema ketus. "Aku malas berdebat hal konyol yang cuma ada di dalam imajinasimu."
Mobil Alphard kemudian berbelok mulus memasuki gerbang kediaman mewah kami dan berhenti tepat di bawah pendar lampu portico rumah. Pak Budi dengan sigap turun dan membukakan pintu sliding samping.
Gibran langsung melangkah keluar dengan raut wajah keruh, menyambar map dokumen tebal yang tersimpan di tas kerjanya. Aku mengikuti langkahnya tanpa terburu-buru, melangkah anggun menaiki anak tangga porselen menuju ruang tamu utama.
Begitu memasuki ruang dalam yang sunyi, Gibran melemparkan map cokelat itu ke atas meja kaca di tengah ruangan. Dentingan map yang menghantam kaca bergema nyaring.
"Karena surat gugatan perceraian pertama dari pengacara kemarin tidak kamu tanda tangani dan kamu anggap cacat hukum," ucap Gibran dengan napas memburu, berdiri menatapku dengan kedua tangan berkacak pinggang. " Minggu depan pengacaraku akan melayangkan surat gugatan baru ke pengadilan agama."
Aku berhenti melangkah, berdiri tegap beberapa meter di hadapannya. Wajahku tetap tenang, tak ada sedikit pun riak terkejut atau ketakutan di mataku.
"Oh ya?" tanyaku santai, melipat kedua tangan di depan dada.
"Ya!" gertak Gibran, mencoba menggunakan wibawa lamanya untuk menekan mentalitasku. "Aku tidak akan membiarkan kamu terus-terusan mengulur waktu dan menggantung status ini. Kalau kamu masih menolak tanda tangan secara baik-baik, aku yang akan menyeret proses ini ke persidangan. Kita lihat saja nanti, apa kamu masih bisa bertingkah sombong seperti ini di depan hakim."
Ia mengira gertakan gugatan hukum kedua ini akan membuatku panik, menangis, atau setidaknya memohon agar ia mempertimbangkannya kembali demi anak-anak. Namun, Gibran lupa bahwa Kirana yang berdiri di hadapannya saat ini bukan lagi wanita polos yang bisa digertak dengan kertas dan stempel pengacara.
Aku menyunggingkan senyuman anggun yang sangat memesona namun mematikan. Aku melangkah mendekati meja, memandangi map cokelat itu sejenak sebelum menatap lurus ke dalam manik mata Gibran.
"Silakan, Mas," jawabku dengan intonasi suara yang mengayun amat halus. "Gugat aku. Layangkan surat gugatan itu sebanyak yang kamu mau ke pengadilan."
Gibran membelalak kaget. Ketenangan dan kesiapanku justru membuatnya linglung. "Kamu... kamu tidak takut?"
"Takut untuk apa?" potongku mantap, menaikkan satu alisku. "Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu selama dua tahun ini? Mengurus perceraian agar kamu bisa bebas memfasilitasi wanita simpananmu itu?"
"Kirana! Sudah kubilang Melani bukan"
"Terserah kamu mau menyebut dia apa, Mas," selakku cepat, menatapnya tajam bagaikan mata pisau. "Rekan bisnis, teman tapi mesra atau apa pun label manis yang kamu buat untuk menutupi kebusukan kalian. Tapi ingat satu hal... begitu berkas gugatan itu masuk ke pengadilan, sidang itu akan terbuka untuk umum."
Aku maju satu langkah lagi, membuat Gibran refleks mundur setengah langkah.
"Aku akan memastikan seluruh publik, media dan rekan-rekan bisnismu tahu alasan sebenarnya di balik perceraian ini," lanjutku dengan suara berbisik yang sangat dingin. "Aku akan membeberkan bagaimana seorang CEO terhormat tega menelantarkan istrinya dan diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain di belakang panggung. Masih yakin mau melanjutkan gugatan itu?"
Wajah Gibran seketika berubah pucat pasi. Bibirnya gemetar, disergap rasa ketakutan yang teramat sangat akan kehancuran nama baiknya. Ancaman halus yang kulontarkan dengan gaya 'main cantik' ini meremukkan seluruh skenario kemenangan yang sudah ia rancang di dalam kepalanya.
"Kamu... kamu tega mau menghancurkan karirku, Kirana?" cicit Gibran dengan suara yang mendadak kehilangan taji.
"Bukan aku yang menghancurkan karirmu, Mas," balasku tenang seraya menyambar tas tanganku kembali. "Kamu sendiri yang menenun kehancuran itu sejak kamu mulai bermain api di belakangku."
Aku memutar tubuhku dengan gerakan yang sangat anggun, meninggalkan Gibran yang berdiri terpaku sendirian di tengah ruang tamu yang megah. Langkah kakiku berketuk mantap di atas marmer, menuju lantai atas tempat anak-anakku berada.
Di balik punggungku, aku bisa merasakan tatapan frustrasi dan kebingungan yang membakar dada Gibran. Pria itu mengira bahwa dengan melayangkan gugatan hukum ia memegang kendali penuh, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil justru makin menyeret dirinya dan Melani masuk ke dalam jerat hukum dan sosial yang sudah kusiapkan dengan amat rapi.
Malam itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, aku tersenyum tipis. Biarkan dia melayangkan gugatan keduanya. Karena semakin keras ia mencoba menendangku keluar dari kehidupannya, semakin lebar pula pintu kehancuran yang ia bukakan untuk dirinya sendiri.
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....