Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19 — Katanya Tidak Bertemu

Senin pagi, Maya menunggu sampai Adrian masuk kamar mandi sebelum melihat jadwal makan malam di ponselnya sendiri.

Ia hendak mengajak beberapa orang dari kantor suaminya makan sebagai ucapan terima kasih atas bantuan mereka pada acara galeri. Nomor staf senior Adrian sudah tersimpan sejak urusan undangan.

Jarinya berhenti sebelum menekan panggil.

Adrian pulang Minggu pagi terlalu lelah untuk mendengar ceritanya, tetapi tidak membawa laptop masuk ke rumah. Tasnya ringan ketika Maya memindahkannya dari kursi. Bukan bukti apa-apa. Ia bisa bekerja dengan komputer kantor.

Namun ia terus teringat cara suaminya menatap sarapan, seolah makanan itu mengingatkannya pada sesuatu yang tidak menyenangkan.

Maya menelepon.

Ia bertanya jadwal makan, jumlah orang, lalu menyisipkan pertanyaan yang sejak tadi membuat perutnya tegang.

“Kalian Sabtu lembur sampai pagi, ya? Adrian pulang capek sekali.”

Di seberang sana, staf itu berhenti bicara.

“Sabtu, Bu?”

“Iya. Laporan klien.”

“Rapatnya sudah dimajukan ke Jumat siang. Sabtu gedung ditutup jam enam, ada pemeriksaan listrik.”

Maya berdiri perlahan dari sofa.

“Oh. Mungkin aku salah dengar. Mereka lanjut di tempat lain?”

“Saya kurang tahu, Bu. Tim saya sudah selesai Jumat. Kalau Pak Adrian ada pekerjaan lain, mungkin dengan tim yang lain.”

Maya berterima kasih, menutup percakapan soal makan malam, lalu mengakhiri telepon.

Ia membuka pesan suaminya dari Sabtu.

Kalau kemalaman, aku tidur di kantor.

Ia membaca kalimat itu sampai bunyi air dari lantai atas berhenti.

Gedung kosong. Listrik dimatikan. Tim selesai Jumat.

Maya belum tahu di mana Adrian berada malam itu.

Kali ini ia tidak sekadar curiga karena Adrian lambat menjawab. Suaminya mengatakan akan tidur di kantor, padahal kantor itu tutup.

* * *

Nara datang ke kedai dekat galeri setelah menerima pesan Maya.

Sahabatnya mengaku ingin melihat contoh warna bingkai. Nara membawa tiga potongan kecil dari pemasok, meletakkannya di meja satu per satu.

Maya memilih warna kayu paling muda.

“Yang ini seperti yang kemarin?”

“Iya. Foto kadang lebih kuning.”

“Bagus.”

Maya tidak segera mengembalikan potongan kayu itu. Ia mengusap permukaannya dengan ibu jari.

Nara memesan minum. Ia merasa cukup lega bisa membicarakan sesuatu yang bisa diukur, dipilih, dan diselesaikan.

“Lo belakangan ketemu Adrian?”

Pertanyaan itu datang ketika pelayan baru meninggalkan meja.

Nara menegang. Ia belum siap mendengar nama Adrian dari mulut Maya.

“Di pameran,” jawabnya.

“Sesudah itu?”

Ia melihat mata Maya.

Di dalam kepalanya, Adrian berdiri di pintu studio membawa makanan. Dua cincin di meja. Suara istri laki-laki itu pada pagi hari.

“Nggak.”

Maya mengangguk kecil.

“Masih ngobrol?”

“Sudah nggak pribadi.”

Kalimat kedua lebih mudah keluar daripada yang pertama. Kemudahan itu membuat Nara ingin muntah.

“Sejak kita bicara di kedai itu?”

“Iya. Kalau ketemu di acara, ya sapa biasa. Lo juga ada.”

Maya menaruh potongan bingkai.

“Sabtu malam lo di mana?”

Nara meneguk minuman meskipun tenggorokannya terasa tertutup.

“Studio.”

“Sampai malam?”

“Gue sekarang tinggal di sana, May.”

“Oh, iya.”

Maya tertawa kecil, meminta maaf karena lupa. Nara hampir memercayai bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sudah berakhir.

Lalu Maya berkata, “Adrian bilang lembur.”

Nara melihat meja.

“Gue nggak tahu.”

“Gue juga.”

Nara mengangkat wajah.

Maya sedang menatap gelasnya sendiri. Ia tidak menjelaskan kalimat itu.

* * *

Maya ingin memercayai Nara.

Perempuan itu pernah menyerahkan ponsel dengan tangan terbuka. Ia baru keluar dari rumah yang membuatnya terus merasa dicurigai. Maya merasa kejam karena kini menanyainya juga.

Tetapi kali ini Nara tidak menyodorkan ponsel.

Itu pun bukan bukti. Maya mengingatkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa terus meminta Nara menunjukkan ponsel hanya karena dirinya curiga.

Ia bertanya tentang ruang kerja, tentang suara percetakan, tentang apakah Nara sudah membeli tempat tidur yang lebih baik.

Nara menjawab. Beberapa jawabannya datang terlalu cepat, yang lain harus ditunggu.

Maya mengingat jawaban Nara: sejak pembicaraan mereka di kedai sebelum pameran, ia tidak lagi menemui Adrian secara pribadi. Sahabatnya tadi mengatakan itu dengan tegas.

Ia tidak menuduh.

Kalau ia keliru, ia akan menjadi orang yang menghancurkan sisa rasa aman sahabatnya.

Kalau ia benar, ia belum sanggup membayangkan wajah mana yang harus dilihat lebih dulu.

* * *

Setelah Maya pergi, Nara tetap duduk di kedai.

Potongan bingkai masih di meja. Ia memasukkannya ke tas satu per satu, lalu mengeluarkannya lagi karena ukuran terpanjang tidak muat pada posisi tadi.

Tangannya terus bekerja supaya ia tidak perlu memikirkan kalimat yang baru diucapkan.

Dulu ia bisa menunjukkan percakapan dan mengatakan mereka belum pernah berciuman. Ia tetap menyembunyikan sesuatu, tetapi masih ada bagian dari jawabannya yang benar-benar bisa ia pegang.

Sekarang ia sudah menatap mata Maya dan berbohong.

Ponselnya bergetar.

Adrian: Aku ingin bicara soal kemarin pagi. Kalau kamu bersedia.

Nara menatap pesan itu.

Ia hendak menulis bahwa Maya baru saja menanyainya. Jempolnya berhenti sebelum membentuk huruf pertama.

Memberi tahu Adrian sekarang terasa seperti mengajari mereka berdua menyusun jawaban yang sama.

Ia menjauhkan ibu jari dari layar, lalu mengunci ponsel tanpa membalas.

Di meja seberang, dua perempuan tertawa sambil saling menunjukkan foto. Nara teringat dirinya dan Maya sebelum semua ini terjadi. Ia menunduk, mengambil tas, dan pergi; ia sudah tidak tahan duduk di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!