Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Beberapa hari terakhir, Ammar dan Davina disibukkan dengan upaya memperbaiki usaha mereka. Ammar mulai mencari pemasok baru yang mampu menyediakan bahan baku berkualitas, sedangkan Davina membantu mengawasi pesanan agar tidak kembali mengecewakan pelanggan. Mereka berusaha keras mempertahankan usaha yang menjadi sumber penghasilan keluarga itu, sampai-sampai waktu untuk Naima semakin berkurang.
Pagi itu, ketika Ammar sedang memeriksa barang yang akan dikirim dan Davina sibuk mencocokkan catatan pesanan, tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka berdering. Tampak di layar panggilan dari pihak sekolah taman kanak-kanak, membuat Davina segera mengangkat telepon tersebut.
“Selamat pagi, Bu Davina. Kami ingin memberitahukan bahwa Naima terjatuh dari perosotan saat bermain di halaman sekolah,” jelas guru yang menghubunginya. "Saat ini kami sudah membawanya ke ruang UKS.”
Davina langsung berdiri dari kursinya. “Jatuhnya bagaimana, Bu? Apa kepala Naima terbentur?”
“Sepertinya tidak, Bu. Namun, sebaiknya Naima dijemput untuk diperiksa lebih lanjut agar bisa memastikan kondisinya.”
“Baik, Bu. Saya segera ke sana.”
Setelah menutup telepon, Davina bergegas mengambil tasnya. Ammar yang melihat perubahan wajah istrinya langsung menghampiri.
“Ada apa, Vin?”
“Naima jatuh dari perosotan di sekolah. Aku harus menjemputnya sekarang.”
“Aku ikut,” putus Ammar tanpa berpikir panjang.
Mereka segera meninggalkan pekerjaan dan menuju sekolah. Setelah memastikan Naima hanya mengalami luka ringan, keduanya membawa gadis kecil itu pulang. Sepanjang perjalanan Naima tampak lebih banyak diam, hanya sesekali saja merengek. Davina sempat merasa bersalah karena belakangan ini mereka terlalu sibuk sehingga kurang memperhatikan putri mereka.
Malam harinya, ketika Davina menyuapi Naima makan, tetapi hanya beberapa suapan saja yang masuk. Ia merasa khawatir lantas menyentuh pipi putrinya. Namun, alangkah terkejutnya saat merasakan suhu tubuh Naima sangat panas.
“Mas, badan Naima panas sekali. Sejak tadi dia juga susah makan,” katanya cemas.
Ammar mendekat, lalu menyentuh dahi putrinya. “Kita bawa ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau sesuatu terjadi padanya."
Naima merengek saat Ammar menggendongnya. Wajah mungilnya tampak lesu, berbeda dari biasanya yang selalu bersemangat. Davina segera menyiapkan keperluan putrinya sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, Naima langsung diperiksa oleh dokter. "Kondisi putri Ibu membutuhkan penanganan lebih lanjut," katanya, setelah melakukan pemeriksaan
"Apakah ada sesuatu yang serius, Dok?" tanya Davina panik.
"Kami akan mengambil sampel darahnya untuk diperiksa agar mengetahui penyakitnya dengan pasti."
Davina yang mendengarnya hanya bisa pasrah sambil menggenggam tangan putrinya, berusaha menenangkan diri di tengah kecemasan yang semakin besar. Sementara itu, Ammar langsung mengurus keperluan administrasi dan kebutuhan Naima selama menjalani perawatan.
Namun, di tengah kecemasan itu, masalah lain justru muncul. Salah satu karyawannya menelpon memberitahukan kabar buruk. Truk pengantar barang yang akan dikirim ke pelanggan mengalami pecah ban. Akibatnya kendaraan itu kehilangan kendali hingga terguling di tepi jalan. Sebagian muatan rusak, sehingga pengiriman pun terpaksa tertunda.
Ammar mengusap wajahnya kasar, memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi.
"Ada apa, Mas?" tanya Davina begitu melihat wajah frustasi suaminya.
"Truk pengantar barang kita pecah ban dan terguling..."
Belum selesai Ammar bicara, Davina langsung memotong, "Astagaaa...! Kok, bisa?"
"Entahlah... Aku akan ke sana melihatnya. Kamu di sini jaga Naima," kata Ammar.
"Ya, Mas. Hati-hati."
Ammar mengangguk, segera bergegas menuju lokasi. Sejam kemudian dia sampai di sana. Beruntung, sopir dan kernetnya selamat, meski mengalami luka-luka. Namun, kondisi barang membuatnya harus menanggung kerugian besar sekaligus mencari pengganti pesanan pelanggan.
“Bagaimana bisa kejadian seperti ini terjadi?” protes seorang pelanggan melalui telepon saat Ammar mengkonfirmasi.
“Pesanan kami terlambat, barangnya pun rusak dan yang pasti produksi kami ikut terganggu. Apa kalian tidak memeriksa kondisi kendaraan sebelum berangkat?”
Ammar mengembuskan napas berat, berusaha menahan emosinya. “Saya memahami kekecewaan Bapak. Kami akan bertanggung jawab atas barang yang rusak dan berusaha mengirimkan penggantinya secepat mungkin.”
“Ini bukan pertama kalinya kami menghadapi masalah dengan usaha Anda. Kalau begini terus, bagaimana kami bisa percaya?”
Sambungan telepon berakhir dengan kekecewaan pelanggan yang teramat sangat.
Ammar memijat pelipisnya, usahanya yang belum sepenuhnya pulih dari persoalan kualitas barang, kini masalah pengiriman kembali mengancam kepercayaan pelanggan dan menuntut penyelesaian. Sementara di rumah sakit, Naima tergolek lemah juga sangat membutuhkan perhatian mereka.
*
*
*
Di proyek
Pagi itu, Alfa harus menghadapi persoalan pasokan material untuk proyek yang sedang dikerjakan CV Pradana Karya. Pasir yang dikirim pemasok ternyata tidak memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan. Jika tetap digunakan, hasil bangunan tidak bagus dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Alfa segera menghubungi pemasok untuk meminta penjelasan. Namun, pengiriman pengganti belum bisa dipastikan waktunya. Sementara itu, pekerjaan di lapangan tidak mungkin terus menunggu tanpa kepastian.
“Bagaimana, Pak. Apa kita akan tetap menggunakan pasir ini?" tanya salah seorang pekerja.
Alfa menggeleng. “Jangan digunakan dulu. Pisahkan yang masih layak, saya akan cari jalan keluarnya.”
Dia kemudian menghubungi Herman untuk membicarakan kendala tersebut. Setelah bertukar informasi, keduanya sepakat mencari alternatif pemasok agar pekerjaan tidak terlalu lama terhambat.
Sore harinya, ketika Alfa pulang dan melintasi sebuah jembatan di atas sungai besar, pandangannya tertuju pada hamparan pasir yang cukup luas di tepi aliran air. Rasa penasaran membuatnya menepikan kendaraannya. Dia turun dari mobil, lalu berjalan menuju tepi sungai untuk memeriksa lebih dekat. Setelah mengambil beberapa genggam pasir, dia mengamati butiran dan teksturnya dengan seksama.
Wajahnya seketika berbinar. Pasir tersebut tampak bersih dan memiliki karakteristik yang berpotensi memenuhi kebutuhan proyeknya.
“Sepertinya pasir ini kualitasnya bagus,” gumamnya.
Alfa mengambil beberapa sampel untuk diperiksa lebih lanjut, kemudian menghubungi Herman.
“Man, aku menemukan hamparan pasir di tepi sungai. Dari yang lihat sesuai dengan yang kita butuhkan saat ini.”
“Di daerah mana, Al?” tanya Herman dari seberang telepon.
Alfa menyebutkan lokasi tersebut, lalu menjelaskan kondisi pasir yang ditemukannya.
“Baiklah, kita bisa mempertimbangkannya sebagai sumber pasokan untuk proyek kita,” ujar Herman.
“Benar. Tapi aku harus memastikan siapa yang berwenang dan apakah pengambilan pasir di sini diperbolehkan.”
Alfa tidak ingin solusi yang ditemukan justru mendatangkan persoalan hukum. Karena itu, dia harus mencari informasi mengenai pihak yang berwenang mengelola kawasan tersebut dan prosedur perizinan.
Begitu sampai di rumah, Alfa bertanya pada Pak Ikhsan. “Yah, aku berencana mengurus izin penggalian pasir. Apa Ayah tahu bagaimana prosedurnya?” tanya Alfa.
Pak Ikhsan menggeleng. “Ayah kurang tahu soal itu. Coba saja kamu datangi kantor dinas yang menangani perizinan pertambangan di daerah ini. Mereka pasti bisa menjelaskan proses pengajuannya.”
“Baik, Yah. Besok aku akan ke sana.”
Keesokan harinya, Alfa mendatangi instansi terkait untuk mengajukan permohonan izin. Setelah melalui proses administrasi dan pemeriksaan yang diperlukan, izin penambangan pasir akhirnya diterbitkan.
Alfa kemudian mengoordinasikan para pekerja untuk memulai menambang pasir pada hari berikutnya. Dia mengawasi proses awal untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai yang diinginkan.
“Jangan asal menggali dan langsung mengangkutnya ke lokasi proyek,” tegas Alfa kepada para pekerja. “Kita tetap harus menjaga kualitas. Kalau yang tidak memenuhi standar, pisahkan.”
“Baik, Pak. Kami akan memeriksanya sebelum dimuat ke truk,” jawab salah seorang pekerja.
Kendala pasokan yang semula menghambat pekerjaan, akhirnya menemukan jalan keluar. Bagi Alfa keberhasilan usaha bukan hanya soal mendapatkan proyek besar, tetapi juga kecermatan mencari solusi ketika masalah datang. Dengan begitu, CV Pradana Karya bisa terus berkembang tanpa mengabaikan kualitas dan tanggung jawab.