Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Hari-hari berikutnya di Bandung berjalan dengan ritme yang begitu cepat namun terstruktur rapi. Bagi Mahika, merintis sebuah brand fesyen dari titik nol bukanlah hal yang mudah, tetapi di bawah bimbingan dan perlindungan penuh dari jaringan bisnis Baskara Group, setiap langkah terasa memiliki fondasi yang kokoh.

​Studio privat di kawasan Dago Atas kini telah resmi bertransformasi menjadi markas operasional Mahika Atelier. Lantai bawah yang semula berupa ruangan kosong kini disulap menjadi ruang pajang minimalis berkonsep modern-industrial, lengkap dengan rak-rak pajangan besi hitam dan pencahayaan hangat yang menonjolkan kesan elegan. Sementara itu, lantai atas dipertahankan sebagai ruang kreatif pribadi Mahika tempat di mana goresan sketsa pertamanya mulai dituangkan di atas kain-kain pilihan terbaik.

​Pagi itu, matahari menyorot lembut menembus jendela kaca besar studio. Mahika berdiri di depan meja kerjanya, memegang pensil sketsa dengan jemari yang menari lincah di atas kertas gambar. Di hadapannya terpampang deretan gulungan kain satin sutra, organza, dan brokat premium yang dikirimkan langsung dari mitra eksklusif pilihan Reagan.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan pintu menghentikan kesibukan Mahika. Pintu ruang kerja terbuka, dan muncullah Ricky dengan senyum lebarnya sambil membawa sebuah tablet dan segelas teh hijau hangat.

​"Pagi, Mbak Mahika!" sapa Ricky riang, meletakkan teh hangat di sudut meja kerja Mahika. "Wih, baunya udah harum karya seni nih. Gimana progres sketsa buat koleksi kapsul perdana Mahika Atelier?"

​Mahika meletakkan pensilnya, lalu tersenyum tipis menyambut kedatangan sang asisten. "Pagi, Mas Ricky. Alhamdulillah, sketsa untuk tiga gaun pengantin utama dan dua busana malam sudah hampir rampung. Tinggal finalisasi detail payet dan pemilihan tekstur kainnya saja."

​"Mantap banget! Kalau soal kualitas desain, saya yakin seratus persen nggak ada tandingannya, Mbak," puji Ricky antusias. "Oh iya, tadi pagi Pak Reagan nitip pesan lewat email. Beliau minta laporan mingguan soal kesiapan rantai pasok kain dan jadwal kunjungan ke pabrik konveksi mitra minggu depan."

​Mahika mengangguk paham. "Katakan pada Pak Reagan, semuanya sesuai jadwal. Pabrik konveksi mitra yang direkomendasikan beliau sangat kooperatif. Standar jahitannya rapi dan steril dari campur tangan luar."

​"Siap, Mbak! Nanti saya sampaikan ke Pak Reagan begitu beliau selesai rapat koordinasi investasi pagi ini," jawab Ricky, lalu menyerahkan tabletnya. "Satu lagi, Mbak... tadi malam Bu Aura video call saya agak lama. Beliau heboh banget nanyain perkembangan Mahika Atelier dari Jakarta."

​Mendengar nama Bu Aura, binar hangat terpancar di mata Mahika. "Oh ya? Apa kata Ibu Aura?"

​"Beliau bilang bangga banget sama pencapaian awal Mbak Mahika di sini," cerita Ricky dengan nada kagum. "Bu Aura itu tipikal mentor yang selalu memantau perkembangan anak didiknya secara total, meskipun dari jarak jauh. Beliau wanti-wanti ke saya dan Pak Reagan buat pastikan Mbak Mahika nggak kecapekan kerja seharian."

​Mahika tersenyum haru. Hubungannya dengan Bu Aura memang sudah melampaui batas profesional antara atasan dan bawahan. Wanita paruh baya itu telah menjadi sosok ibu kedua baginyammelindungi, mendukung, dan memberikan tempat berteduh saat dunia Mahika hampir runtuh di Jakarta.

​"Ibu Aura memang selalu sebaik itu," bisik Mahika pelan. "Sampaikan salam hormat saya ke beliau nanti ya, Mas."

​Di tempat terpisah, di ruang kerja utama lantai atas gedung investasi Baskara Group di pusat kota Bandung, Reagan Baskara sedang memandangi laporan keuangan dan kurva proyeksi bisnis Mahika Atelier di layar monitor komputernya.

​Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan bagian lengan digulung sampai siku, menampilkan otot lengannya yang kokoh. Wajahnya tampak serius, tanpa ekspresi, mencerminkan ketegasan khas sang pengusaha muda bertangan dingin.

​Klek.

​Pintu ruangannya terbuka, dan Ricky melangkah masuk dengan membawa berkas tambahan.

​"Laporan perkembangan mingguan Mahika Atelier sudah masuk, Pak," lapor Ricky sigap, meletakkan map tebal di atas meja kerja bosnya.

​Reagan mengalihkan pandangannya dari layar monitor, lalu menerima map tersebut. Jemarinya yang panjang membuka lembar demi lembar berkas dengan teliti. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya selama beberapa menit, membuat ruangan itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan embusan AC yang senyap.

​"Bagaimana kondisi di studio Dago Atas?" tanya Reagan akhirnya, suaranya yang berat memecah keheningan.

​"Semuanya sangat kondusif, Pak," jawab Ricky cepat. "Mbak Mahika bekerja dengan disiplin tinggi. Sketsa koleksi perdana bahkan sudah hampir selesai. Beliau juga puas dengan kualitas pabrik konveksi mitra kita."

​Reagan terdiam sejenak. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam berukuran besar, lalu merenung. Sebagai orang yang diminta oleh Bu Aura untuk mengawasi Mahika secara langsung, Reagan tahu persis beban emosional yang sedang dipikul oleh desainer muda tersebut. Ia tahu bahwa di balik senyum tenang dan produktivitas tinggi yang ditunjukkan Mahika setiap hari, ada sisa-sisa luka pengkhianatan yang sangat dalam dari masa lalunya di Jakarta.

​Namun, alih-alih meratap atau terpuruk dalam kesedihan, Mahika memilih untuk menyalurkan seluruh rasa sakit itu menjadi energi kreatif yang luar biasa tajam. Dan hal itulah yang paling dikagumi oleh Reagan ketangguhan mental yang dibalut dengan keanggunan seorang perempuan berprinsip.

​"Bagus," komentar Reagan singkat. "Pastikan semua fasilitas logistik, keamanan area studio, dan suplai bahan baku kain premium tidak ada yang terlambat satu hari pun."

​"Siap, laksanakan, Pak!" seru Ricky sigap. "Oh iya, Bu Aura tadi pagi juga sempat telepon saya khusus untuk menanyakan perkembangan Mahika Atelier. Beliau bilang beliau akan menjadwalkan kunjungan mendadak ke Bandung bulan depan buat mengecek langsung butik Mahika."

​Reagan mengangguk pelan. "Bibi saya memang tidak pernah setengah-setengah kalau sudah mendukung seseorang. Beritahu saya kalau jadwal kedatangan beliau sudah pasti, biar saya siapkan penyambutannya."

​"Baik, Pak." Ricky bergeser sedikit, lalu menatap bosnya dengan senyum penuh selidik. "Um... Pak, boleh saya tanya satu hal?"

​Reagan melirik sekilas ke arah asistennya dengan tatapan tajam. "Bicara seperlunya, Ricky."

​"Hehe, cuma penasaran aja, Pak," kekeh Ricky pelan. "Biasanya kalau ada klien atau desainer baru yang gabung di bawah portofolio Baskara Group, Pak Reagan cuma lempar urusannya ke tim manajemen bawah. Tapi khusus buat Mahika Atelier dan Mbak Mahika... Bapak turun tangan langsung secara privat. Bahkan rumah dinas di Dago Atas langsung dikasih ke beliau. Ada udang di balik batu apa nih, Pak?"

​Mendengar pertanyaan itu, Reagan menatap Ricky dengan tatapan dingin nan menusuk yang seketika membuat sang asisten menelan ludah rapat-rapat.

​"Ricky," panggil Reagan dengan nada suara datar yang amat intimidatif.

​"Ya, Pak?" jawab Ricky ciut.

​"Kerja dan gaji kamu di sini dibayar untuk mengurus operasional investasi, bukan untuk menjadi pengamat gosip kantor," tegur Reagan tajam tanpa ampun. "Bibi saya menitipkan Mahika kepada keluarga kita untuk memastikan bakatnya tidak diinjak-injak oleh orang yang salah. Tidak ada motif lain."

​Ricky buru-buru mengangguk cepat. "Siap, Pak! Ampun, saya cuma bercanda! Saya langsung balik ke kantor cabang Dago sekarang."

​Setelah Ricky berlalu dengan langkah seribu, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, Reagan kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap kota Bandung dari ketinggian.

​Pria itu menyesap kopi hitam di cangkirnya yang sudah mulai mendingin. Di dalam benaknya, bayangan wajah tenang namun penuh determinasi milik Kalea Mahika kembali terlintas.

​Jaga karya-karya itu baik-baik, Mahika, batin Reagan dingin. Di bawah perlindungan saya, tidak ada satu pun orang dari masa lalumu yang akan bisa merusak apa pun lagi.

​Kembali ke studio Mahika Atelier di Dago Atas, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Mahika baru saja selesai merapikan meja kerjanya ketika ia duduk sejenak menikmati kesunyian ruang kerjanya.

​Tidak ada dering telepon dari Jakarta. Tidak ada teror pesan WhatsApp dari nomor-nomor asing atau keluarganya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di Bandung dan mengganti kartu ponselnya dengan nomor baru, hidupnya benar-benar steril dari segala kekacauan masa lalu. Keluarga Pak Bambang dan Reno tidak tahu bagaimana cara menghubunginya, dan Mahika memang sengaja memastikan dirinya lenyap tanpa jejak dari radar mereka.

​Bagi Mahika, pemutusan total komunikasi ini adalah bentuk pertahanan terbaik. Ia tidak ingin emosinya terkuras oleh drama murahan atau permohonan maaf palsu yang nantinya pasti akan datang ketika segalanya mulai runtuh di hadapan mereka.

​Ia memilih fokus sepenuhnya pada masa depannya. Di studio yang tenang ini, di bawah naungan dukungan penuh Bu Aura dan pengawasan profesional dari Reagan Baskara, Mahika merajut kembali harga dirinya helai demi helai.

​Mahika mengangkat wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin besar studio. Tidak ada keraguan di matanya. Yang ada di dalam sorot matanya kini hanyalah nyala api keyakinan yang kian membara.

​Hitung mundur menuju hari pernikahan itu tinggal menghitung hari. Di Jakarta, keluarga toxic itu mungkin sedang sibuk menenun jaring kebohongan mereka sendiri, merasa aman karena mengira Mahika telah menyerah. Dan di Bandung ini, di balik dinding kokoh Mahika Atelier, Mahika sedang menajamkan bilah pedang pembalasan yang siap menebas habis seluruh kepalsuan mereka tanpa ampun pada hari yang telah ditentukan.

1
sutiasih kasih
gmn rasanya... klean jdi gembel😅😅
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
Ernaaaaa
makasih Thor
merry
jdi gelandangan dech klian
merry
bisa gk hdp tnp mahika dan kluarga mu reno dan untuk cari krj susah nama mu dh terkenal 🤭🤭🤭🤭
sutiasih kasih
smpe sana.... rumah udh di jual😂😂😂😂😂😂
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
Lee Mba Young
selamat menikmati jd gembel
Mundri Astuti
mang dah bener ma pas ya, si Reno ma keluarga si sel ..sel..
Mundri Astuti
owh ortunya Reno org ada toh, tapi ko anaknya dompleng mahika yak🤔
sutiasih kasih: knaoa mndompleng mahika yg dri kalangan biasa....
mmbingungkn🤔🤔🤔
total 2 replies
Lee Mba Young
tanpa harta selamat mnikmati
Mundri Astuti
mang bisa tuh anak kesayangannya bangun atap aja, jangan bangun rumah dah
sutiasih kasih
di bangun lgi dunk rumah yg sdh runtuh.....
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
Tining Revi
bukanya mahika berhijab thor. kok "puji Tuhan"
merry
pdhl tdi mau bongkar ditmpt mrk resepsi dihotel tau ya mrk cm resepsi di tanah kosong dan mahika lewat live ig buat mrk maluu 🤭🤭🤭🤭se kanoha pd tau lhh
Mundri Astuti
sekali tepok ....jatuh semua .... gayanya mahika kereeennnn....Badas....😂😂😂
sutiasih kasih
tamatlah sudah riwayat para pmbohong & penghianat......
😂😂😂😂😂😂
Heni Setiyaningsih
Mahika,,,,,,, KEREN!! gk perlu teriak teriak cuma tunjukkan hasil dari kerja kamu, siapa itu Reno dan klrg toxic, hempaskan😂😂
Agunk Setyawan
bacanya deg"an banget🤣
Humay Uum
dtunggu bomy KK Thor 💪💪💪💪
falea sezi
kelamaan bertele tele 🤣
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!