Aku adalah pria berusia 32 tahun, namaku Rahardian Wijaya, seorang pengusaha sukses, tampan, dan kaya. Awalnya hidupku terasa lurus-lurus saja, namun kehadiran gadis 16 tahun bernama Kina membuat hari-hariku menjadi berwarna. Kina adalah gadis yang aku kenal di sebuah tempat hiburan malam, gadis ini bekerja sebagai waiters dan pemandu lagu di sebuah rumah karaoke. Jujur pesona gadis belia ini sangat memukau hatiku, aku sangat mengagumi kecantikan dan kepribadiannya yang ramah. Namun pada akhirnya kekaguman itu berubah menjadi rasa penasaran yang teramat dalam, ketika aku melakukan kegiatan sosial di Sekolah Menengah Atas, Kina, ternyata gadis ini adalah, seorang siswa kelas 2 SMA yang berprestasi di sekolahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anis mubsiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Melihat air mata Kina yang tidak berhenti terjatuh, hatiku turut menjadi pilu, rasa simpati berubah menjadi empati.
"Jika pundakku bisa menjadi tempatmu bersandar, bersandarkan!" kataku.
"Terima kasih Om!" sahutnya dengan menoleh ke arahku sembari mengusap air matanya.
Aku tahu gadis ini adalah gadis yang mandiri, tidak mudah mengeluh atau pun menggantungkan diri pada orang lain, jadi aku cukup memahami ketika dia menolak tawaranku untuk membantunya.
"Aku keluar dulu," kataku kemudian. "Ada telepon dari kantor," lanjutku sembari keluar dari mobil dengan membawa handphone yang ada di tanganku.
Aku bersandar di bumper mobil bagian depan, kulihat dari dalam mobil Kina memperhatikanku, sekitar lima belas menit aku menelepon, dan kemudian masuk kembali ke dalam mobil setelah kepentinganku selesai.
"Jika Om sibuk, aku bisa pulang sendiri," kata Kina saat aku membuka pintu mobil.
"Mmmm..." aku tersenyum. "Aku ingin hari ini menghabiskan waktu bersamamu," kataku. "Sebentar lagi kamu akan pergi ke luar negeri kan, menjadi TKW?"
Aku mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya.
Kina menoleh ke arahku sembari tersenyum, senyum kecil yang dia ukir bersama sorot mata kesedihan.
"Kalau boleh tau, apa cita-citamu?" tanyaku.
Kina menunduk dan tidak segera menjawab.
"Mmmm... cita-citaku tidak muluk-muluk Om. Bisa makan setiap hari dengan keluargaku itu sudah cukup," sahutnya.
"Hanya itu?"
"Iya." Kina mengangguk.
"Jika kamu meninggalkan mereka, apa kamu yakin bisa memberi makan untuk mereka semua?" tanyaku.
"Maksud Om?"
"Dengarkan aku baik-baik! Di negara kita ini sudah diatur batas minimal usia seseorang bisa menjadi TKW, kamu tahu berapa batas usianya?... Delapan belas tahun." Jelasku. "Kamu masih enam belas tahun, jadi kamu masih belum bisa menjadi seorang TKI atau pun TKW, kamu tahu kenapa?... Karena kamu masih di bawah umur."
"Tapi aku sudah bikin paspor dan visa kok Om," sahut Kina dengan mengeluarkan buku paspor yang baru dia dapatkan dari kantor imigrasi.
"Om tau. Sekarang pikir pakai akal sehatmu!" aku menunjuk kepalaku dengan jari telunjuk. "Juragan besi tua itu seorang renterin jahat, bahkan selama ini dia sudah memerasmu, hampir menjualmu, dan sudah memukuliku hingga babak belur. Jadi, apa mungkin dia tiba-tiba baik padamu tanpa sebuah tujuan?" aku mencoba menasehati Kina.
"Mau membebaskan hutangmu, memberikan uang saku kepada keluargamu, jelas itu karena dia punya tujuan," tambahku. "Kamu tahu apa tujuannya?... Dia akan menjualmu ke luar negeri dengan harga yang cukup mahal, tentunya melebihi hutang yang harus kamu bayarkan."
Aku menoleh ke arah gadis yang menunduk mendengarkan penjelasanku itu.
"Kamu masih muda, cantik, segar, masih perawan juga, kan?"
Aku mulai meninggikan suaraku.
"Bayangkan saja berapa uang yang akan mereka dapatkan dari hasil menjualmu pada mucikari yang ada di Hongkong," kataku sedikit emosi.
"Setelah sampai di sana, kamu tidak akan pernah bisa pulang, dan bertemu keluargamu lagi."
"Maksud Om?" gadis lugu itu menoleh ke arahku dengan mata berkaca-kaca.
"Pikirkan dengan otak jernih! Jangan bodoh! Jangan tolol! Jangan asal menerima tawaran untuk menjadi TKI," sahutku. "Kamu gadis pintar, kan? Jadi, kamu pasti bisa memahami semua kata-kata yang telah Om jelaskan."
Gadis itu kembali menunduk, entah apa yang dia pikirkan, namun aku rasa dia mulai memikirkan apa yang aku sampaikan.
Aku terus melajukan mobilku, aku biarkan gadis yang menunduk di sebelahku itu dengan mulut terkunci, mungkin saat ini dia sedang berpikir, atau juga bingung memikirkan jalan keluar apa yang harus dia lakukan dengan permasalahan hidupnya ini.
Hingga empat puluh lima menit kemudian handphone di kantong jas sebelah kiriku berbunyi, aku coba meraih benda itu dengan tangan kiriku dan mengangkatnya.
"Iya, aku akan segera ke sana," kataku saat menerima telpon itu.
Aku kembali berkonsentrasi mengemudikan mobil setelah menerima telepon. Aku melajukan mobilku menuju sebuah restoran yang jarak tempuhnya kurang lebih dua puluh menit dari tempatku menerima telepon.
"Ayo turun!" kataku pada Kina saat telah sampai.
"Aku pulang saja ya Om, aku tidak bisa temani Om makan saat ini!" katanya sembari keluar dari mobilku dan beranjak meninggalkanku pergi.
"Kina!" seruku. "Hanya untuk hari ini saja, tolong temani aku!" pintaku pada gadis yang seolah menyimpan sejuta beban pikiran itu.
Kulihat dia menghentikan langkahnya sembari berlahan menoleh ke arahku.
"Iya." Dia mengangguk dan kemudian menghampiriku.
Kugenggam pergelangan tangannya seraya mengajaknya masuk ke dalam restoran. Dan setelah sampai di dalam, kulihat lima orang asisten dan bodyguard sudah menungguku, tampak juga seorang pengacara pribadiku bersama mereka.
"Semua sudah kami laksanakan dengan baik Pak," kata salah-satu diantara mereka menyambut kedatanganku, seraya menarik kursi mempersilahkan aku dan Kina untuk duduk.
Aku tersenyum, sembari duduk di antara mereka semua.
"Ini surat-suratnya Pak, pembayaran hutang sudah kami selesaikan." Pengacaraku mulai menjelaskan pelunasan hutang-hutang Kina kepada juragan besi tua itu.
"Saat ini orang itu memang jadi target polisi dengan kasus trafficking Pak," jelas salah satu asistenku.
Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan mereka.
"Terima kasih, kerja kalian sudah sangat bagus!" kataku. "Kalian semua boleh pergi!"
"Baik Pak!" sahut mereka.
Sesaat setelah itu, mereka semua meninggalkan aku dan Kina.
"Aku sudah melunasi semua hutangmu," kataku pada Kina setelah mereka semua pergi, dengan menyerahkan sebuah map yang berisi surat pelunasan hutangnya pada Bos Joni juragan besi tua.
"Surat ini berkekuatan hukum, jadi orang itu tidak mungkin mengganggu kamu lagi," tambahku. "Aku juga sudah menyuruh bodyguardku untuk mengawasi mereka semua agar tidak mengganggumu."
Kina menatapku tanpa sebuah kata, gadis itu bergeming, entah apa yang dia pikirkan, kulihat berlahan dia membuka map itu, dia memperhatikan isi surat, foto-foto juragan besi tua ketika menerima uang dan menandatangani surat pelunasan hutang.
"Makanlah!" kataku setelah melihat gadis itu selesai membaca surat tersebut.
"Setelah selesai makan aku antar kamu pulang!" lanjutku.
Gadis itu pun segera menutup map yang ada di tangannya sembari memasukkannya ke dalam tas.
"Terima kasih, Om!" katanya.
Aku mengangguk seraya menuangkan nasi, sayuran dan lauk ke dalam piring yang ada di hadapannya.
"Ayo makan!" kataku lagi.
*****
Tiga puluh menit kemudian kami pun selesai menyantap hidangan. Kini aku dan Kina sudah berada di dalam mobil.
Aku periksa handphoneku yang terasa bergetar di saku, ternyata Amoora mengirim pesan padaku. Setelah membaca dan membalasnya aku kembali memasukkan handphone itu ke dalam saku.
"Aku tidak bisa mengantarmu sampai depan gang rumahmu, tidak apa-apa kan?" tanyaku padanya sebelum melajukan mobil.
"Iya Om, tidak apa-apa," jawabnya.
Segera aku lajukan mobil keluar dari area restoran itu.
"O iya, Om. Nanti aku akan mencicil hutang-hutangku ini," kata gadis itu di tengah perjalanan kami.
"Tidak usah memikirkan hal itu!" jawabku. "Setelah ini carilah pekerjaan yang lebih baik, dan kembalilah sekolah!" pesanku.
"Iya Om," jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum padaku.
"Jika kamu kesulitan mendapatkan pekerjaan, pergilah ke tempat ini, minta pekerjaan padanya, bilang aku yang menyuruhmu!" aku mengambil kartu nama di laci mobilku dan memberikan pada gadis itu.
"Terima kasih Om," sahutnya dengan menerima kartu nama itu.
Bersambung
aku kasih kado buat mereka 🌷
apa susah nya sih bicara jujur
kan kamu para pembaca jadi seneng dengar nya 😊
semoga om itu tidak menyakiti hati kiran