Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
JUDUL: MEMBUATNYA MENDERITA ATAS PENGKHIANATANNYA.
Fiorella
Aku terbangun di sebuah kamar yang serba putih. Kepalaku pusing dan perutku terasa mual.
Aku tak ingat apa yang terjadi, tak ingat bagaimana aku bisa sampai di sini.
"Sudah bangun rupanya?" suara Burian membelah keheningan.
"Sedang apa kau di sini?"
"Aku pemilikmu, keparat. Aku bisa berada di mana saja yang kumau. Aku tak butuh izinmu."
"Kenapa kau bicara padaku seperti itu? Apa masalahmu denganku?"
Pertanyaanku terdengar lemah. Aku nyaris tak sanggup bicara dan wajahku terasa panas terbakar.
"Kau masih punya nyali untuk bertanya?" Ia menyeringai dingin. "Kau memang pelacur yang tak tahu malu."
"Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Apa yang sudah kulakukan?"
Aku masih bingung. Aku tak mengerti kedinginan dan tatapan gelap yang menguar dari mata Burian.
Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arahku dengan tinju terkepal. Wajahnya penuh amarah.
Ia merenggut lepas jubah rumah sakit yang kukenakan, lalu menyeretku turun dari ranjang periksa dengan menjambak rambutku. Aku jatuh ke lantai, lututku membentur keras hingga rasa sakit menjalar ke seluruh tulangku.
Aku mendongak. Burian berdiri tegak sementara aku berlutut di kakinya. Ia membuka gesper sabuknya, menurunkan celana dan celana dalamnya hingga ke lutut, membiarkan kejantanannya terpampang di udara, tepat setinggi wajahku.
Ia mencengkeram belakang kepalaku dan menariknya ke arah kejantanannya.
"Bersikaplah seperti pelacur yang baik. Isap."
"Tidak. Kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Masuk," katanya lantang.
Pintu terbuka dan Sonya masuk. Tangannya terikat dan wajahnya lebam membiru.
"Apa maksud semua ini?"
"Maksudnya, kalau kau tak melakukan perintahku, akan kubunuh dia," ancam Burian. "Sonya, pergi dari sini."
Aku hanya bisa menatapnya dengan mata penuh air mata. Kudekatkan mulutku ke kejantanannya dan kumasukkan ke dalam, tapi tindakan itu membuatku mual.
"Aku tak bisa."
Suaraku terdengar penuh luka. Aku ingin mati saat itu juga, tapi ia tampak tak peduli. Ia kembali menjambak rambutku dan memaksaku menelannya. Begitu kejantanannya berada di mulutku, ia mulai menggerakkan pinggulnya sampai membuatku tercekik, namun ia tak melepaskan cengkeramannya di rambutku. Beberapa saat berlalu. Sudut-sudut bibirku perih akibat sodokannya. Lalu tubuhnya mengejang dan tenggorokanku merasakan cairan hangat yang membuatku tersedak.
"Telan semuanya, betina sialan."
Setelah selesai menghinaku, ia menarik keluar dari mulutku. Cairannya menetes jatuh ke leherku. Dan ketika kupikir semuanya sudah berakhir, ia mengangkatku dari lengan dan membantingku ke ranjang periksa, membuat bagian belakang tubuhku terekspos. Kurasakan sodokan kerasnya dari belakang.
"Ah, ah, ah, sakit!"
Aku menjerit kesakitan. Ia menggigit punggungku dan terus menyodok tanpa henti. Tubuhku menegang, pahaku serasa robek, dan seluruh tubuhku sakit.
Ia menahan kepalaku menempel ke ranjang dan terus bergerak seolah tak terjadi apa-apa. Beberapa saat kembali berlalu sampai ia menuntaskan diri di dalamku. Lalu ia melepaskan tubuhku, hanya untuk membalikkanku. Aku terbaring di ranjang, kali ini menghadap ke arahnya.
"Sudah selesai?" tanyaku sambil menyeka air mataku.
"Belum. Kau diam saja."
Yang kurasakan berikutnya adalah kedua kakiku diangkat ke atas bahunya, lalu sodokan-sodokan buasnya.
Ia keluar-masuk, mencengkeram tubuhku dengan kasar. Bagian bawahku panas terbakar oleh nyeri, pahaku terus terasa robek sementara pinggulnya bergerak, menghantamkan kejantanannya ke kewanitaanku. Geramannya keras, ia seperti singa yang melahap mangsanya. Aku sudah kehabisan tenaga. Aku bahkan tak tahu sudah berapa lama berlalu sampai cairannya kembali tumpah ke dalam tubuhku.
"Apa aku lebih hebat darinya?" tanyanya. "Bajingan tolol itu tak akan pernah bisa melakukannya seperti yang kulakukan."
Mendengar kata-kata dingin itu, aku teringat semua yang terjadi dan menjawab dengan geram.
"Kau, bajingan keparat, kau meninggalkanku begitu saja. Kau tak membayar tebusanku. Aku sedang mengandung anakmu, dan para keparat itu membunuh bayiku. Apa yang kulakukan, kulakukan demi membalas dendam pada Vladimir dan Miya. Merekalah yang membunuh anakmu!"
Jeritanku keras. Bagaimana bisa ia memperlakukanku seperti ini setelah membiarkan kami terbuang begitu saja?
"Dan kau kira aku harus percaya begitu saja pada kata-katamu?" balasnya. "Berhenti berbohong. Anak keparat itu masih ada di dalam perutmu. Dokter sudah memastikannya. Kau ini pelacur kotor dan murahan. Seharusnya kubunuh kau sekarang juga."
Aku hanya bisa menangkap satu informasi soal anakku.
"Bayiku masih hidup?"
Aku tak mendengar jawaban, hanya sebuah pukulan tajam ke perutku, dan aku kembali terjatuh berlutut di lantai.
"Untuk saat ini dia masih hidup. Tapi pada kesalahan pertama yang kaubuat, akan kucabut dia lewat mulutmu."
Begitu Burian mengenakan pakaiannya dan pergi, aku merebahkan diri di lantai dan memeluk perutku. Kenapa ia menyakiti anaknya sendiri? Aku tak sanggup lagi menahannya. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Tangisku tak mau berhenti dan dadaku sakit, sakit sekali.
Kesalahan apa yang telah kuperbuat sampai harus menanggung hukuman seberat ini? tanyaku pada diriku sendiri, tapi tak seorang pun menjawab pertanyaanku.
Kini aku benar-benar yakin tak ada Tuhan. Sebab jika Ia sungguh ada, bagaimana mungkin Ia membiarkan semua ini menimpaku?