Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Bisa Membawamu

Nelia kembali ke ruang tamu. Ia memandangi Silvia yang begitu tenggelam dalam belajarnya, seolah waktu kembali ke masa ketika mereka bertiga dulu berjuang bersama menuju bangku kuliah.

Nilai Silvia dan Chris selalu berada di jajaran teratas. Sejak kecil, Nelia selalu bertanya-tanya, kenapa mereka bisa bermain dan bersenang-senang bersamanya, bahkan ia tidak pernah melihat mereka belajar, tetapi nilai mereka tetap jauh lebih tinggi darinya.

Setiap tahun, saat acara pertemuan orang tua di sekolah, kedua orang tuanya selalu menatapnya dengan tatapan dingin. Begitu sampai di rumah, yang menunggunya justru lebih parah. Caci maki seolah tak ada habisnya menghujani dirinya.

Nelia melihat Silvia yang begitu serius dalam belajar, lalu berjongkok di sampingnya, “Sil, malam ini kamu mau makan apa?”

Pena di tangan Silvia tidak pernah berhenti bergerak, “Terserah kamu saja.”

Nelia berpikir sejenak lalu berdiri, “Bagaimana kalau nanti kita makan di luar saja?”

“Boleh juga.”

Kebetulan Silvia baru saja menyelesaikan soal terakhir. Ia menutup bukunya lalu berjalan menghampiri Nelia, “Ayok, ganti baju. Kita makan di luar.”

“Siap! Perintah diterima!”

--

Potongan daging di atas panggangan mengeluarkan suara cesss-cesss. Di bawah sorotan lampu, permukaan daging yang matang berkilau menggugah selera.

Silvia mengambil sepotong daging yang sudah berubah kecokelatan, lalu meletakkannya ke mangkuk Nelia.

Nelia meniupnya sebentar, mencelupkan daging itu ke saus yang sudah disiapkan, lalu langsung memasukkannya ke mulut, wajahnya seketika puas. Ia bahkan menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kiri san kanan saat sari daging yang gurih pecah di dalam mulutnya.

Nelia mengambil beberapa potong daging matang lainnya dan memasukkannya ke mangkuk Silvia, “Sil, kamu jangan cuman kasih aku saja. Kamu juga perlu gizi yang banyak.”

Silvia mencelupkan dagingnya ke dalam saus kering di depannya, lalu mengangguk kecil, “Baik.”

“Enak kan?” Nelia mendekat.

“Mm.”

“Silvia? Nelia?”

Suara perempuan yang tidak asing terdengar dari samping.

Keduanya mengangkat kepala dan melihat Minnie bersamaan dengan Adrian yang berdiri di belakangnya.

Mata Nelia langsung berbinar, “Minnie! Adrian! Kalian juga datang makan? Duduk sini bareng kita!”

Minnie tersenyum, “Tentu saja, Si Kecil.”

Ia langsung duduk di hadapan Nelia dan menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap gadis kecil di depannya.

“Kalian baru datang juga?”

“Enggak, sudah lumayan lama.”

Mulut Nelia masih dipenuhi dengan aroma daging.

Minnie terkekeh melihat wajahnya.

Adrian menyerahkan menu kepada Minnie, “Minnie, kamu mau makan apa?”

Minnie melambaikan tangannya, “Kamu saja yang bantu pilihin.”

Adrian membaca menu dengan teliti, lalu mencentang beberapa pilihan di menu itu, “Daging sapi dan kambing, boleh?”

Minnie mengerutkan kening sambil membaca dokumen yang terbuka di layar ponselnya, “Terserah.”

Nelia memutar bola matanya sebelum rasa penasarannya mengalahkan dirinya. Ia mendekat ke belakang ponsel Minnie, “Minnie, kamu kok sibuk banget?”

Tatapan Minnie masih terpaku pada layar, “Mm. Belakangan ini memang bakal cukup sibuk.”

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada datar, “Setelah seseorang pergi, semua pekerjaan berantakan yang ditinggalkan jatuh ke tanganku.”

Silvia yang sedang memegang sumpit tiba-tiba terbeku, ia mengangkat pandangan ke arah Minnie. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi melihat Minnie sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih lanjut, Silvia akhirnya kembali menutup mulut.

Nelia melihat ketiga orang di depannya. Ada yang sibuk bekerja, ada yang sibuk memanggang daging, ada pula yang sibuk belajar. Ia hanya bisa menghela napas pasrah.

Nelia menusuk-nusuk potongan daging kecil di dalam mangkuknya, “Sil, kalau Minnie sibuk kerjaan ya sudahlah. Tapi kenapa kamu juga harus belajar bahasa Inggris di restoran yang penuh dengan suasana ramai ini?”

Nelia dengan lemas menyandarkan tubuhnya ke bahu Silvia. Ia memiringkan kepalanya, mencoba membaca artikel berbahasa asing yang terbuka di ponsel Silvia.

Namun baru saja beberapa detik, matanya sudah terasa berkunang-kunang. Ia akhirnya memejamkan matanya.

Silvia tersenyum penuh kasih dan mengusap rambut Nelia, “Kenapa? Seharian memikir alur cerita jadi sekarang dah pusing?”

Nelia menopang kepalanya dengan kedua tangan. Setelah sedikit menggeleng-gelengkan kepala, ia kembali duduk tegak, “Alurnya mentok. Aku benar-benar nggak bisa memikirkan kelanjutannya...Belum lagi permintaan pembaca sekarang banyak banget. Aku jadi kangen dengan zaman ketika penulis bebas menulis apa yang mereka mau, lalu pembaca tinggal mengikuti alur ceritanya saja.”

Nelia mengeluh sambil menyusupkan kepalanya ke pelukan Silvia, “Silvia, aku capek banget...”

Silvia menutup ponselnya, lalu memeluk Nelia dengan kedua tangannya, “Iya, iya. Pembacanya memang jahat, ya?”

Minnie melihat Nelia yang sedang mengeluh. Sudut bibirnya perlahan terangkat, “Nona Nelia, kamu seorang komikus?”

Begitu mendengar seseorang menanyakan perkerjaannya, Nelia langsung duduk tegak dan mengangguk berkali-kali.

Minnie tersenyum, “Biasanya kamu menggambar komik tentang apa?”

Nelia mengangkat tangannya dan mulai melipat jari satu per satu, “Romansa, misteri, keluarga...semuanya ada.”

“Woww, ternyata Nelia seorang komikus serba bisa.”

Mendengar pujian Minnie, Nelia langsung membusungkan dada. Ia bahkan meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Tentu saja!”

Adrian meletakkan daging yang sudah matang ke dalam mangkuk Minnie, “Sudah matang, makanlah.”

Minnie menunduk melihat daging di mangkuknya, tatapan dinginnya sedikit melunak, “Terima kasih.”

Adrian hanya menjawab singkat, “Mm.” Kedua tangannya diam-diam mengepal di bawah meja.

Tumpukan daging di atas troli kecil di samping meja akhirnya hampir habis.

Nelia mengusap perutnya sambil berputar kecil di tempat. Tangannya masih melingkar erat di lengan Silvia.

Adrian mengeluarkan kunci mobil dan menggoyangkannya di depan mereka, “Perlu aku antar pulang?”

Minnie berdiri di belakangnya dan ikut berkata, “Biar kami antar kalian lah. Ini sudah malam, kalian berdua pulang sendiri kurang aman.”

Nelia menggeleng sambil memejamkan matanya, “Nggak perlu kok Kak Minnie. Aku dan Silvia sekalian berjalan-jalan, biar makanannya turun dulu.’’

Minnie menatap Silvia yang sejak tadi tidak ikut bicara, “Silvia, menurutmu gimana?”

Silvia tersenyum kecil, “Mm. Kami bisa pulang sendiri. Lagi pula, apartemennya cukup dekat dari sini.”

Minnie menghela napas pasrah, “Baiklah kalau gitu. Kalau sudah sampai apartemen, jangan lupa kabariku ya.”

Minnie berjalan menuju mobil, tetapi sebelum masuk, ia kembali menoleh dan mengingatkan, “Ingat, kalau terjadi sesuatu, jangan memaksakan diri.”

“Udah tau kok, Kak Minnie.” Nelia tersenyum lebar.

Malam perlahan menyelimuti kota.

Nelia berjalan di samping Silvia, memperhatikan bayangan mereka yang terus bergerak mengikuti langkah di atas trotoar.

Ia tersenyum sambil menatap bulan di langit, “Silvia, kalau nanti kamu pergi... bulan yang kamu lihat dari sana, kira-kira masih bisa kulihat dari sini nggak?”

Silvia menundukkan kepala, “Kalau kamu mau, setiap malam akan aku fotokan untukmu.”

Sudut bibir Nelia perlahan terangkat, “Dulu aku selalu berpikir, meskipun kamu dan Chris benar-benar menikah, kita tetap bisa menghabiskan waktu bersama seperti waktu kecil. Melihat bintang, mendaki gunung, jalan-jalan…dan orang yang selalu berada di samping kita tetaplah satu sama lain.”

Suaranya perlahan tercekat, ia berusaha menahan tangis, “Tapi sekarang, Chris sudah pergi…tidak lama lagi kamu juga akan pergi ke luar kota. Kota sebesar ini pada akhirnya hanya akan menyisakan aku sendirian.”

Langkah Silvia terhenti sesaat, ia tidak pernah menyangka Nelia yang selalu ceria dan seolah tidak pernah memikirkan apa pun ternyata menyimpan pikiran sedalam itu.

Selama ini, Silvia mengira Nelia akan menerima begitu saja kenyataan bahwa suatu hari nanti mereka harus menjalani hidup masing-masing. Namun malam ini adalah pertama kalinya Silvia benar-benar mendengar betapa Nelia menghargai persahabatan mereka.

Silvia menatap gadis di sampingnya yang diam-diam mulai memerah matanya, hatinya terasa sakit, “Nelia... maaf.”

Ia tidak bisa membawa Nelia pergi bersamanya.

Ia juga tidak bisa membiarkan Nelia ikut melangkah bersamanya menuju tempat yang penuh bahaya dan ketidakpastian.

Perjalanan ini, bahkan Silvia sendiri juga tidak bisa menjamin bahwa dirinya akan kembali dengan selamat. Namun semua itu tidak berani ia katakana.

Jika ia mengatakannya, mungkin ia bahkan tidak akan bisa menyelesaikan perjalanannya ke luar negeri.

Apa yang ditinggalkan Chris...

Adalah sesuatu yang telah ia lindungi dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Bagaimanapun caranya, Silvia harus melanjutkan tugas itu.

Ia harus melindunginya sampai akhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!