Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Palu Pertama dan Kabar Kedua
..."Ketika orang berebut karena lapar, maka jangan beri mereka ceramah, beri mereka meja, timbangan, dan nama yang ditulis dengan tinta agar semua bisa melihat dengan jelas."...
Fajar di Desa Majia datang dengan suara yang berbeda dari tiga minggu terakhir, bukan lagi suara air yang menggerus atau tangis bayi yang demam, melainkan suara palu yang memukul paku ke balok bambu, suara gergaji yang mengiris kayu basah, dan suara ibu-ibu yang bernyanyi pelan sambil mengaduk adonan lumpur dengan jerami untuk plester dinding, karena hari ini adalah hari pertama pembangunan rumah dimulai setelah tujuh hari Emei menunggu di depan gerbang yang tertutup.
Jing yue berdiri di tengah lapangan dengan lengan baju digulung sampai ke siku, tangannya penuh kapalan dan kukunya hitam karena lumpur, tetapi matanya bersinar ketika dia melihat barisan tiang pertama sudah berdiri dan di atasnya tergantung tali warna merah yang dipasang warga sebagai tanda bahwa rumah ini adalah rumah harapan pertama setelah banjir.
Paman Chen, kepala desa yang dulu menatapnya dengan curiga, kini ikut mengangkat balok bersama tiga pemuda, dan setiap kali balok itu berhasil ditegakkan dia akan menoleh ke arah
Jing yue dan mengangguk kecil seakan berkata bahwa kepercayaan itu memang harus diusahakan, bukan diminta.
Anak-anak berlari membawa air di ember bambu untuk menyiram fondasi, para nenek duduk di bawah pohon menenun atap dari daun, dan di sudut lapangan dapur umum mengepul dengan bau bubur jagung yang untuk pertama kalinya dalam sebulan tidak dicampur dengan rasa takut.
Lei Feng bekerja di sisi lain, mengajari murid Pedang Langit cara mengikat simpul yang kuat agar atap tidak terbang saat angin datang, dan sesekali dia melirik ke arah Jing yue dengan ekspresi yang tidak lagi sinis, melainkan seperti orang yang baru belajar bahwa kehormatan tidak selalu datang dari kemenangan pedang.
Sekitar tengah hari, ketika matahari mulai panas dan semua orang berhenti untuk minum, datang seorang pemuda dari arah timur dengan napas terputus-putus, bajunya basah kuyup dan kakinya penuh lumpur, dan dia langsung berlutut di depan Jing yue sambil berkata bahwa dia diutus dari Desa Shuanghe, desa keempat di daftar tugas istana.
"Jangan kirim beras dulu," teriak pemuda itu dengan suara serak, "di sana sudah ribut, sudah ada yang berkelahi, ada yang bilang berasnya ditahan kepala desa, ada yang bilang murid sekte lain datang duluan dan mengambil semua, sekarang orang saling dorong di balai desa dan ada yang terluka."
Kata-kata itu jatuh ke tengah lapangan seperti batu besar ke kolam tenang, membuat semua palu berhenti, semua nyanyian berhenti, dan semua mata menoleh ke Jing yue yang berdiri dengan ember air di tangan dan belum sempat meletakkannya.
Jing yue meletakkan ember itu pelan, air tumpah ke tanah dan membentuk genangan kecil, lalu dia menarik napas panjang dan bertanya berapa banyak orang yang terluka dan siapa yang memimpin di sana sekarang.
Pemuda itu menjawab bahwa yang memimpin sementara adalah wakil kepala desa karena kepala desanya sakit, dan bahwa kelompok yang datang duluan adalah murid dari Sekte Sungai Gelap, sekte kecil yang terkenal suka memotong jalur bantuan untuk dijual lagi, dan karena itu warga curiga dan mulai menuduh semua orang luar.
Tetua Kedua yang sedang mengukur kayu langsung berkata bahwa mereka harus berangkat sekarang, bahwa kalau dibiarkan kerusuhan akan semakin besar dan nama semua sekte akan jelek di mata pemerintah, tetapi Tetua Ketiga menolak karena pembangunan di Majia baru mulai dan kalau semua orang pergi maka rumah-rumah ini tidak akan selesai sebelum hujan kedua.
Jing yue tidak langsung menjawab, dia berjalan ke tepi lapangan, menatap rumah yang rangkanya baru setengah jadi, menatap anak-anak yang tadi tertawa kini diam menatapnya, lalu dia menoleh ke Paman Chen dan bertanya apakah warga Majia bersedia melanjutkan pembangunan sendiri selama tiga hari dengan diawasi oleh Tetua Ketiga dan sepuluh murid.
Paman Chen mengangguk tanpa ragu dan berkata bahwa mereka sudah belajar caranya, dan bahwa mereka tidak akan mengecewakan Emei, asalkan Jing yue berjanji akan kembali membawa kabar baik dari Shuanghe.
Keputusan itu diambil dalam waktu kurang dari setengah teh, dan Jing yue memilih dua puluh murid terbaik, membawa sisa obat, membawa dua karung beras terakhir, dan membawa Lei Feng karena dia tahu bahwa di tempat yang sedang panas dibutuhkan orang yang wajahnya tegas agar orang tidak macam-macam.
Perjalanan ke Desa Shuanghe memakan waktu setengah hari karena mereka harus memotong jalan lewat pematang sawah yang masih becek, dan sepanjang jalan Jing yue tidak banyak bicara, dia hanya menghitung di dalam hati berapa banyak orang yang harus diberi makan, berapa banyak luka yang harus diobati, dan bagaimana caranya agar tidak ada lagi tuduhan seperti yang terjadi di Majia.
Ketika mereka sampai, pemandangan yang mereka lihat membuat dada Jing yue sesak, karena di depan balai desa ada kerumunan lebih dari seratus orang yang saling berteriak, beberapa memegang kayu, beberapa memegang karung, dan di tengahnya ada tumpukan beras yang sudah setengah terbuka dan dijaga oleh lima orang berjubah hitam dengan lambang ombak, yaitu Sekte Sungai Gelap.
Pemimpin mereka, seorang pria kurus bernama Zhang Hu, berdiri di atas tangga sambil berteriak bahwa beras itu milik mereka karena mereka yang pertama datang, dan siapa pun yang mau ambil harus bayar dengan kerja atau dengan uang.
Warga berteriak balik bahwa ini bantuan dari istana dan harus dibagi gratis, dan suasana semakin panas sampai ada seorang ibu yang pingsan karena terdorong dan tidak ada yang menolong.
Jing yue tidak berteriak, dia tidak mendorong, dia hanya berjalan lurus ke tengah kerumunan dengan tangan kosong, dan ketika ada orang yang hampir memukulnya dia menahan tangan orang itu dengan lembut dan berkata bahwa kalau mereka terus berkelahi maka beras ini akan habis dimakan oleh tikus sebelum masuk ke perut siapa pun.
Suasana hening sesaat karena tidak ada yang menyangka ada perempuan muda yang berani masuk ke tengah keributan tanpa pengawal, lalu Jing yue menoleh ke Zhang Hu dan berkata bahwa dia dari Emei dan dia membawa surat dari pengadilan yang menyatakan bahwa pembagian harus dilakukan di depan umum dan dicatat.
Zhang Hu tertawa dan berkata bahwa surat tidak bisa mengenyangkan perut, tetapi Jing yue menjawab bahwa kalau dia mau, dia bisa mengambil alih beras itu sekarang juga dengan bantuan pengadilan dan pasukan kabupaten, tapi dia tidak mau melakukan itu karena yang rugi adalah warga.
Dia lalu mengusulkan cara baru, bahwa beras akan ditimbang di depan semua orang, dicatat nama kepala keluarga, dan dibagikan satu karung untuk lima orang, dan siapa pun yang mencoba mengambil lebih akan dicatat dan dilaporkan, dan untuk mengawasi itu dia meminta Zhang Hu dan dua warga yang paling vokal untuk duduk bersama di meja pembagian.
Awalnya Zhang Hu menolak, tapi ketika Lei Feng maju dan meletakkan tangannya di gagang pedang tanpa mencabutnya, dan ketika warga mulai mendukung ide Jing yue karena mereka lelah bertengkar, akhirnya Zhang Hu setuju dengan syarat bahwa namanya juga ditulis sebagai penyalur.
Pembagian dimulai sore itu juga, di bawah pengawasan semua orang, dan Jing yue sendiri yang duduk di meja dengan tinta dan bambu, menulis nama satu per satu sambil bertanya berapa anggota keluarga dan apakah ada yang sakit, dan setiap karung yang keluar ditimbang di depan umum agar tidak ada yang bisa menuduh.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam seminggu, tidak ada teriakan di Shuanghe, hanya ada antrean panjang yang tenang dan suara anak-anak yang akhirnya bisa makan nasi hangat.
Zhang Hu datang ke tenda Jing yue menjelang tengah malam dan berkata dengan enggan bahwa dia tidak menyangka Emei mau membagi panggung dengannya, dan Jing yue menjawab bahwa tujuan mereka sama, yaitu agar orang tidak lapar, dan kalau tujuannya sama maka tidak perlu berebut nama.
Keesokan harinya, Jing yue meminta warga untuk memilih lima orang untuk menjadi pengurus gudang, dan dia mengajari mereka cara mencatat, cara menimbang, dan cara melapor, agar setelah Emei pergi mereka bisa mandiri.
Dia juga memeriksa orang sakit, memberi obat, dan meminta muridnya untuk memperbaiki sumur yang tertutup lumpur, sama seperti yang mereka lakukan di Majia.
Di hari ketiga, ketika semua sudah berjalan, datang utusan dari kabupaten membawa tambahan beras dan obat, dan utusan itu terkejut melihat bahwa di Shuanghe tidak ada kerusuhan lagi, dan dia bertanya siapa yang menenangkan, dan warga serempak menunjuk ke arah Jing yue yang sedang menyapu halaman balai.
Sebelum pergi, Jing yue mengumpulkan warga dan berkata bahwa dia harus kembali ke Majia karena di sana rumah-rumah belum selesai, dan dia berpesan agar jangan ada yang menjual beras, jangan ada yang memukul sesama, dan kalau ada masalah kirim orang ke Majia dan dia akan datang.
Warga mengantarnya sampai ke ujung jalan, dan beberapa bahkan menangis karena mereka sudah lama tidak melihat orang luar yang pergi tanpa meminta imbalan.
Perjalanan kembali ke Majia terasa lebih ringan, karena di dalam dada Jing yue ada catatan bahwa satu desa lagi sudah bisa bernapas, dan ketika dia sampai, dia disambut dengan sorak karena rumah pertama sudah hampir jadi dan atapnya sudah dipasang.
Malam itu dia duduk di depan rumah baru, menulis di bukunya dengan tangan yang lecet, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa kelaparan membuat orang menjadi serigala, tapi keadilan kecil yang dilakukan di depan mata bisa membuat serigala itu duduk kembali menjadi manusia.
Dia juga menulis bahwa hari ini dia hampir memilih untuk tetap di Majia karena sayang meninggalkan pembangunan, tapi dia ingat bahwa tugas seorang Penjaga Gerbang bukan hanya membangun satu rumah, tapi memastikan semua rumah bisa dibangun.
Sebelum tidur, Paman Chen datang membawa semangkuk teh dan berkata bahwa warga sudah memutuskan untuk menamai rumah pertama itu "Rumah Emei", dan Jing yue hanya bisa tersenyum sambil mengusap papan kayu yang masih berbau getah.
Di luar, angin bertiup pelan, bintang mulai muncul, dan di kejauhan terdengar suara gong dari Shuanghe yang menandakan bahwa pembagian besok akan berjalan lagi tanpa keributan.
Jing yue menutup bukunya, menatap langit, dan berbisik bahwa besok mereka akan mulai membangun rumah kedua di Majia, dan lusa mereka akan pergi ke desa kelima, karena surat kedua belum selesai, dan karena selama masih ada satu orang yang belum punya atap maka tangannya tidak boleh berhenti.