Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta yang Salah Kubaca
Selasa pagi, aku menemukan tiga foto di galeri ponselku yang aku tidak ingat menyimpannya.
Bukan aku yang mengambil. Aku tahu itu karena sudutnya salah, terlalu miring ke atas, khas orang yang memotret sambil setengah panik. Ketiganya diambil hari Sabtu kemarin, di aula kampus yang disulap jadi lokasi konvensi kecil, dan di semuanya aku ada di frame dengan ekspresi yang aku sendiri malu melihatnya. Mulut setengah terbuka. Mata fokus ke satu titik yang jelas bukan kamera.
Aku duduk di lantai kamar, masih pakai kaos tidur, laundry setengah terlipat di sampingku, menatap foto-foto itu lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar menghapus atau menyimpannya.
Sabtu itu baru dua hari lalu. Rasanya sudah seperti seminggu.
Aku tidak pernah benar-benar berencana pergi ke konvensi itu.
Cahaya yang mengajak, hari Kamis, tiga hari sebelum acara, dengan cara yang khas dia: bukan bertanya, tapi memberitahu.
"Sabtu kita ke UI Fest ya. Ada booth cosplay sama merchandise."
"Aku belum bilang iya."
"Belum, tapi bakal iya."
Dan memang begitu. Aku tidak protes lebih jauh karena, jujur saja, UI Fest adalah salah satu acara yang sudah aku tandai di kalender sejak dua bulan lalu, cuma belum sempat bilang ke siapa pun karena tidak ada yang perlu diajak. Sekarang ada. Jadi ya sudah.
Yang tidak aku antisipasi adalah versi Cahaya yang muncul begitu kami sampai di sana.
Aku sudah terbiasa dengan Cahaya yang tahu cara bicara ke siapa saja, yang bisa membuat orang asing tertawa dalam lima menit pertama. Tapi Cahaya yang berdiri di depan booth merchandise Stellar Requiem, menjelaskan ke penjaga stand kenapa figure edisi terbatas gelombang kedua punya detail bros yang berbeda dari gelombang pertama, itu Cahaya yang belum pernah aku lihat.
"Yang ini repaint dari cetakan lama," katanya ke penjaga stand, menunjuk salah satu figure di rak paling atas. "Makanya warnanya agak beda dari official art. Yang batch awal lebih terang birunya."
Penjaga stand, cowok umur sekitar dua puluh lima, menatap Cahaya dengan ekspresi yang aku kenali karena aku sendiri sering memasangnya: kaget ada orang yang tahu detail sespesifik itu.
"Kamu ngikutin serinya?" tanya dia.
"Enggak, aku enggak nonton. Tapi temenku suka banget, jadi aku baca-baca."
Kalimat itu diucapkan seringan mungkin, seolah "baca-baca" adalah kata yang cukup untuk menjelaskan riset yang, aku tahu sekarang, sudah berjalan bertahun-tahun. Aku berdiri di sampingnya, tidak bilang apa-apa, karena kalau aku bicara aku tidak yakin apa yang akan keluar dari mulutku.
Kami keliling booth demi booth siang itu, dan pola yang sama berulang. Cahaya menyebut detail yang bahkan aku, yang menonton serinya tiga kali penuh, kadang lupa. Nama seiyuu karakter pendukung di episode sepuluh. Perbedaan desain kostum antara versi anime dan versi light novel aslinya. Satu kali, dia bahkan mengoreksi seorang cosplayer soal urutan lencana di kostumnya, dengan nada yang sangat sopan sampai orang itu malah berterima kasih.
"Sejak kapan kamu tahu semua ini," tanyaku, di sela-sela antre makanan.
"Sejak lama."
"Seberapa lama?"
Cahaya melirikku, lalu memutuskan untuk fokus ke menu di depan stand makanan. "Lama banget. Enggak penting itungannya."
Aku tidak mendesak lebih jauh. Ada sesuatu di caranya menjawab yang membuatku merasa pertanyaan itu menyentuh area yang dia belum siap dibuka sepenuhnya, dan aku sudah cukup belajar dari insiden kotak kardus minggu lalu untuk tahu kapan harus berhenti.
Insiden kostum terjadi jam dua siang, di area yang disediakan untuk foto cosplay.
Cahaya tidak pakai kostum lengkap Kaito Amagi hari itu. Dia sendiri bilang belum siap untuk itu, masih terlalu personal, jadi dia cuma pakai kostum yang dia pinjam dari temannya di kelompok tujuh, karakter dari anime lain yang aku tidak terlalu kenal, sesuatu tentang penyihir sekolah. Rok lipit warna ungu, jubah pendek, dan topi bertepi lebar yang katanya sudah dipakai tiga orang sebelum dia hari itu.
Robek terjadi saat dia berputar untuk foto, jubah tersangkut kaki kursi lipat panitia, dan suara sobek kain terdengar cukup jelas untuk membuat tiga orang di sekitar menoleh.
"Oh Tuhan," kata Cahaya, tangan langsung meraih bagian bawah jubah yang robek sekitar sepuluh senti dari jahitannya. "Oh Tuhan, ini punya orang."
"Ada yang bawa jarum jahit?" tanyaku ke sekitar, refleks, sebelum benar-benar berpikir apakah pertanyaan itu masuk akal untuk ditanyakan di tengah aula konvensi.
Ternyata masuk akal. Panitia cosplay punya semacam kit darurat, isinya jarum, benang beberapa warna, peniti, dan lem kain, disiapkan khusus untuk situasi seperti ini karena rupanya bukan kejadian langka.
Aku yang akhirnya menjahit.
Bukan karena aku ahli. Tapi karena tanganku ternyata lebih stabil dari tangan Cahaya yang saat itu sedang panik, dan karena aku pernah membantu ibu menjahit kancing beberapa kali, jadi setidaknya aku tahu dasar-dasarnya. Cahaya duduk di kursi, jubah masih menempel di badannya, dan aku berlutut di depannya dengan jarum di tangan, mencoba menjahit tanpa menusuk kulitnya, sementara sekitar lima orang menonton dari kejauhan seperti sedang menyaksikan operasi darurat.
"Pelan-pelan," kata Cahaya, suaranya lebih tinggi dari biasa.
"Aku sedang pelan-pelan."
"Jangan sampe nusuk aku."
"Aku enggak akan nusuk kamu."
"Tadi hampir."
"Itu jarumnya cuma deket, bukan nusuk."
"RASANYA SAMA AJA DARI SUDUT PANDANGKU."
Aku menahan tawa, terus menjahit, dan setelah sekitar sepuluh menit yang terasa jauh lebih lama dari itu, jahitannya jadi. Tidak rapi. Ada beberapa bagian yang benangnya kelihatan lebih tebal dari kainnya. Tapi cukup untuk menahan robekan sampai acara selesai.
"Makasih," kata Cahaya, memeriksa hasil jahitanku dengan menyentuh bagian itu pelan-pelan.
"Sama-sama."
"Kamu bisa jahit ternyata."
"Skill dasar. Bukan sesuatu yang aku banggakan."
"Tetep aja keren." Dia berdiri, merapikan roknya, lalu tersenyum, senyum yang lebih ringan dari sebelumnya, tanda dia sudah kembali tenang. "Ternyata kamu berguna juga."
"Terima kasih atas pengakuannya."
"Jangan besar kepala."
Aku tidak menjawab itu. Tapi aku ingat, cukup jelas, bahwa selama sepuluh menit menjahit itu, aku tidak sekali pun berpikir tentang orang-orang yang menonton, atau tentang seberapa aneh pemandangan itu kalau dilihat dari luar. Yang ada di kepalaku cuma satu hal: jangan sampai jarum ini menyentuh kulitnya.
Komentar "serasi" pertama kali muncul sekitar jam tiga sore, dari seorang mahasiswi jurusan Desain yang kebetulan mengenal Cahaya dari organisasi.
"Kalian pacaran?" tanyanya, langsung, tanpa basa-basi, sambil menatap bergantian ke aku dan Cahaya.
"ENGGAK," jawab Cahaya, cepat, terlalu cepat, dengan volume yang membuat dua orang lain di dekat kami menoleh. "Kita temen dari kecil doang."
"Serius? Tadi pas dia jahitin kostum kamu itu, chemistry-nya kayak..." Mahasiswi itu tidak menyelesaikan kalimatnya, cuma mengangkat alis sambil tersenyum.
"Itu bukan chemistry. Itu darurat."
"Darurat kok mesra."
"ENGGAK MESRA."
Aku berdiri di sana, tidak ikut bicara, karena aku tidak tahu harus menjawab apa yang tidak akan membuat situasi ini semakin rumit. Cahaya menarik lenganku, setengah menyeret, ke arah booth berikutnya, wajahnya merah dengan cara yang bisa disalahartikan sebagai kepanasan kalau saja hari itu tidak ber-AC.
"Kenapa kamu diem aja," bisiknya, setelah kami cukup jauh dari mahasiswi tadi.
"Diem aja gimana?"
"Waktu dia nanya kita pacaran."
"Aku pikir kamu udah jawab."
"Kamu juga harusnya bilang sesuatu."
"Aku bilang apa? Kamu udah bilang enggak."
Cahaya tidak menjawab itu langsung. Dia berjalan sedikit lebih cepat, dan aku menyusul, dan topik itu tidak dibahas lagi sepanjang sisa sore, meski aku sempat menangkap dia diam agak lama sekali, menatap ke arah rak merchandise tanpa benar-benar melihat apa yang ada di sana.
Sasa muncul di UI Fest sekitar jam empat, telat karena ada urusan organisasi, dan begitu dia sampai dan mendengar cerita hari itu dari orang-orang di sekitar (bukan dari kami, dari orang lain yang kebetulan bercerita), ekspresinya berubah jadi sesuatu yang aku sudah mulai hapal: mata menyipit, senyum kecil di sudut bibir, tanda dia sedang menyusun teori.
"Jadi," katanya, duduk di sebelah kami di area istirahat, "kudengar ada insiden jahit-menjahit dramatis."
"Bukan dramatis," kata Cahaya.
"Dan ada yang nanya kalian pacaran."
"Sas."
"Dan kamu jawab enggak dengan volume yang bisa didenger tiga booth ke sebelah."
"SASA."
Sasa mengangkat kedua tangan, gestur damai yang jelas tidak damai. "Aku cuma laporan fakta lapangan. Enggak nambahin opini."
"Kamu selalu nambahin opini."
"Kali ini enggak." Dia menoleh ke arahku. "Ren, gimana rasanya jahitin kostum orang yang katanya cuma temen kecil?"
"Standar," jawabku. "Kayak jahitin kancing baju."
"Kancing baju enggak bikin orangnya nahan napas gitu deket-deket."
"Aku enggak nahan napas," kata Cahaya, cepat.
"Aku enggak ngomong soal kamu." Sasa tersenyum lebih lebar. "Aku ngomong soal dia."
Aku merasa perlu mengklarifikasi bahwa aku memang menahan napas beberapa kali selama menjahit, tapi itu karena aku fokus supaya jarumnya tidak melenceng, bukan karena alasan lain yang sepertinya sedang diarahkan oleh Sasa. Tapi menjelaskan itu terasa lebih rumit dari sekadar diam, jadi aku diam.
Sasa menatap kami berdua bergantian, dengan ekspresi seseorang yang baru saja menemukan bukti tambahan untuk sebuah teori yang sudah lama dia bangun, lalu memutuskan untuk tidak melanjutkan lebih jauh, mungkin karena hari sudah sore dan dia baru sampai dan belum sempat makan.
"Ya udah," katanya, berdiri. "Aku laper. Ada yang mau nemenin cari makan?"
Cahaya langsung berdiri, terlalu cepat, jelas mencari alasan untuk keluar dari percakapan itu. Aku ikut berdiri juga, dan kami bertiga jalan ke arah food court, dan topik "pacaran" atau "chemistry" tidak muncul lagi untuk sisa sore itu.
Perjalanan pulang malam itu berbeda dari yang biasa.
Biasanya kami pulang naik angkot atau jalan kaki kalau jaraknya dekat. Malam itu, karena konvensi selesai jam delapan dan kami berdua sudah lelah, Cahaya mengusulkan naik ojek online, satu kendaraan, aku di depan pengemudi, dia duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan, dia diam. Bukan diam yang canggung, tapi diam yang berbeda dari biasanya, dan aku merasakannya tanpa bisa menjelaskan kenapa.
Di lampu merah dekat jalan protokol, sekitar sepuluh menit sebelum sampai rumah, dia tiba-tiba bicara, suaranya nyaris tenggelam oleh suara knalpot motor lain di sekitar.
"Ren."
"Hm?"
"Hari ini... aku pengen bilang sesuatu."
Aku menoleh sedikit, meski posisi di motor membuat gerakan itu terbatas. "Apa?"
Dia diam beberapa detik. Lampu berubah hijau. Motor kami mulai jalan lagi, dan suara angin serta jalanan membuat suaranya sedikit lebih sulit terdengar.
"Sebenernya, dari dulu aku..."
Ponselku bergetar di saku, keras, dan reflekku langsung mengecek karena aku pikir itu penting (ternyata cuma notifikasi grup PKKMB soal jadwal yang sama sekali tidak mendesak), dan gerakan itu, sekecil apa pun, cukup untuk memotong apa pun yang sedang Cahaya coba katakan.
"Apa tadi?" tanyaku, setelah menyimpan ponsel kembali.
"Enggak jadi," katanya. "Lupa."
"Kamu baru aja mulai ngomong."
"Iya, terus lupa."
"Cahaya."
"Rendy."
"Kamu enggak—"
"Udah sampai kok bentar lagi," katanya, memotong, menunjuk ke arah gang kami yang memang sudah kelihatan dari kejauhan. "Laper enggak? Ada indomie di rumahku kalo mau."
Aku ingin mendesak lebih jauh. Tapi ada sesuatu di caranya mengalihkan topik yang terasa seperti pintu yang sengaja ditutup, bukan lupa jalan keluar, dan aku memutuskan untuk tidak memaksa membukanya malam itu.
"Boleh," jawabku akhirnya. "Tapi aku yang masak. Kamu masak indomie kelewat matang."
"ITU ENGGAK BENER."
"Minggu lalu mienya jadi bubur."
"ITU KARENA AKU LAGI MIKIRIN HAL LAIN."
Perdebatan soal indomie itu berlanjut sampai kami sampai depan rumahnya, dan momen di motor tadi, apa pun yang hampir dia katakan, terkubur di bawah percakapan yang jauh lebih ringan.
Sekarang, Selasa pagi, dua hari setelah semua itu, aku masih duduk di lantai kamar dengan laundry setengah terlipat dan tiga foto di galeri ponsel.
Aku membuka salah satu foto lebih lebar. Di dalamnya, aku sedang berlutut menjahit jubah Cahaya, kepala menunduk, fokus penuh ke tanganku, sementara Cahaya berdiri di depanku dengan ekspresi yang, dari sudut ini, tidak terlihat panik sama sekali. Terlihat... aku tidak tahu kata yang tepat. Tenang, mungkin. Atau sesuatu yang lebih dari tenang.
Aku tidak pernah melihat ekspresinya sendiri saat momen itu terjadi, karena aku terlalu fokus ke jarum dan kain. Sekarang, lewat foto yang diambil orang lain, aku baru melihatnya.
Ponselku bergetar. Pesan dari Sasa, bukan Cahaya.
"Eh Ren. Boleh nanya sesuatu enggak."
"Boleh."
"Serius nih. Kamu beneran enggak sadar apa-apa soal hari Sabtu?"
Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas.
"Sadar apa maksudnya?"
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi, pola yang sama seperti yang biasa Cahaya lakukan, dan aku baru sadar bahwa mungkin itu bukan kebiasaan personal Cahaya, tapi kebiasaan umum orang yang sedang mempertimbangkan seberapa jujur mau jadi.
"Enggak apa-apa," balas Sasa akhirnya. "Lupain aja. Nanti juga kamu ngeh sendiri, kayaknya."
"Ngeh apa?"
"Nanti."
Aku tidak mendapat jawaban lebih jelas dari itu, seberapa pun aku mendesak, dan setelah dua percobaan lagi yang dibalas dengan stiker kucing menguap, aku menyerah dan meletakkan ponsel.
Aku menyelesaikan lipat laundry sambil kembali memikirkan hari Sabtu, bukan sebagai satu kejadian besar, tapi sebagai kumpulan potongan kecil yang, satu per satu, tidak terasa apa-apa, tapi kalau disatukan mulai membentuk sesuatu.
Cahaya yang tahu detail lore serial yang bahkan aku lupa. Cahaya yang panik soal jahitan, tapi kemudian tenang begitu tanganku bergerak menjahit. Cahaya yang menjawab "enggak" dengan volume terlalu keras ke pertanyaan soal pacaran. Cahaya yang diam berbeda di motor, lalu mulai bicara, lalu berhenti karena ponselku bergetar di waktu yang paling tidak tepat.
Aku memikirkan dunia yang selama ini aku anggap milikku sendiri, dunia anime dan manga dan detail-detail kecil yang tidak semua orang peduli, dan bagaimana Cahaya, tanpa pernah aku minta, sudah masuk ke dalamnya sejauh yang aku baru sadari minggu ini.
Bukan cuma sampai di pintu. Sudah masuk cukup dalam untuk tahu detail bros yang bahkan aku sendiri lupa.
Aku pikir selama ini dunia kami cuma bersinggungan di satu titik, gang tempat kami tinggal, sekolah yang sama, kebiasaan pulang bersama. Selebihnya, aku pikir dunianya luas dan terbuka, penuh orang, penuh kegiatan, sementara duniaku kecil, tertutup, cuma cukup untuk satu orang plus beberapa karakter fiksi.
Sekarang aku tidak yakin lagi peta itu benar.
Mungkin dunia kami tidak dua lingkaran yang cuma bersentuhan di satu titik. Mungkin lebih mirip dua lingkaran yang, tanpa aku sadari, sudah tumpang tindih cukup lebar, dan aku baru mulai melihat area yang tumpang tindih itu sekarang, telat, setelah bertahun-tahun menganggapnya tidak ada.
Aku tidak tahu apa artinya itu.
Bukan dalam artian aku tidak peduli. Lebih ke arah aku benar-benar tidak punya kerangka untuk memprosesnya. Ini bukan jenis informasi yang bisa aku cari solusinya lewat forum diskusi jam tiga pagi atau lewat menonton ulang episode yang sama untuk ketiga kalinya. Ini jenis informasi yang, kalau aku jujur, aku tidak tahu harus diapakan.
Siang itu, di kelas, Bimo duduk di sebelahku seperti biasa, dan di sela dosen menjelaskan struktur data yang sudah aku pahami dari buku yang aku baca sebelum semester dimulai, dia membisikkan sesuatu yang tidak aku duga.
"Denger-denger kamu jahitin kostum orang di UI Fest."
Aku menoleh. "Dari mana kamu tau?"
"Grup angkatan. Ada yang foto, terus nyebar."
Aku menghela napas, kembali menatap papan tulis. "Itu darurat. Kostumnya sobek."
"Katanya sih gitu." Bimo menahan senyum, mencatat sesuatu yang jelas bukan materi kuliah di buku catatannya. "Tapi kamu tau kan, orang enggak akan liat itu sebagai 'darurat'. Mereka bakal liat itu sebagai adegan romantis dari anime yang kamu tonton."
"Itu bukan adegan anime. Itu kejadian nyata yang aku alami sendiri."
"Justru itu masalahnya, Ren." Bimo menutup buku catatannya, menatapku dengan ekspresi yang, untuk seseorang yang baru aku kenal beberapa minggu, terasa cukup serius. "Kehidupan kamu udah kayak plot anime, tapi kamu satu-satunya karakter yang enggak sadar."
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Dosen di depan melanjutkan penjelasan soal linked list, dan aku mencoba fokus kembali ke materi, tapi kalimat Bimo tetap menempel di suatu tempat di kepalaku, tidak mau pergi, sepanjang sisa jam kuliah itu.
Sore itu, sepulang kuliah, aku dan Cahaya jalan pulang seperti biasa, rute yang sama, jam yang kurang lebih sama, tapi ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda, meski aku tidak bisa menunjuk persis apa itu.
"Ren," katanya, di tengah jalan.
"Hm?"
"Sabtu kemarin seru ya."
"Iya."
"Makasih udah mau ikut."
"Kamu yang ngajak."
"Iya, tapi kamu bisa aja nolak."
Aku memikirkan itu sebentar. "Aku enggak kepikiran buat nolak."
Cahaya diam, langkahnya sedikit melambat, dan aku menyesuaikan langkahku dengannya tanpa berpikir, karena itu sudah jadi refleks bertahun-tahun.
"Kenapa?" tanyanya akhirnya.
"Kenapa apa?"
"Kenapa kamu enggak kepikiran buat nolak."
Aku mencari jawaban yang tepat, jawaban yang cukup jujur tapi tidak terlalu besar untuk situasi santai sore ini. "Karena itu kamu yang ngajak," jawabku akhirnya, sesederhana itu, karena memang sesederhana itu di kepalaku.
Cahaya tidak menjawab langsung. Dia menatap ke depan, ke arah jalan yang mulai berbayang jingga karena matahari sudah mulai turun, dan untuk beberapa langkah, kami berjalan dalam diam yang, kali ini, terasa sedikit berbeda dari diam-diam kami yang biasa.
Bukan canggung. Tapi juga bukan diam yang kosong.
Diam yang, kalau aku boleh menebak, penuh dengan sesuatu yang belum siap diucapkan salah satu dari kami, atau mungkin keduanya.
Aku tidak tahu apa itu.
Aku cuma tahu bahwa peta yang selama ini aku pegang, tentang dunia aku dan dunia Cahaya sebagai dua wilayah yang cuma bersinggungan sedikit, mungkin sudah lama salah. Dan aku baru mulai sadar itu sekarang, telat, seperti biasa, dengan cara yang khas aku: bukan lewat momen dramatis, tapi lewat foto yang tidak sengaja tersimpan di galeri, lewat kalimat teman sekelas yang mengganggu selama satu jam kuliah, lewat diam yang terasa berbeda di sore hari yang sama seperti biasanya.
Aku tidak tahu ke mana ini akan berjalan.
Tapi untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya apakah aku seharusnya sudah bertanya jauh lebih awal.