Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:645
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Cahaya yang Tumbuh Bersama Waktu

Waktu seakan melangkah lebih lembut dan indah sejak kehadiran kehidupan kecil itu melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Musim berganti, bunga-bunga mekar dan gugur bergantian menyapa bumi, namun di dalam kediaman yang berdiri tenang di atas bukit itu, suasana kebahagiaan dan kasih sayang tak pernah berubah sedikit pun. Setiap sudut ruangan kini tampak lebih hidup dan penuh warna. Terdengar suara tangis mungil yang sesekali terdengar memecah kesunyian, lalu disusul suara lembut seorang ibu yang menenangkan, serta suara rendah dan penuh kasih sayang seorang ayah yang selalu hadir menyambut kehadiran putri kecilnya.

Mo Xi Yue tumbuh dengan luar biasa sehat dan kuat. Kulitnya yang putih bersih kini semakin halus dan berkilauan terkena cahaya matahari pagi yang lembut. Matanya yang terpejam rapat sejak lahir kini perlahan mulai terbuka, menampakkan sepasang mata yang jernih dan lembut bagaikan air sungai yang mengalir tenang dari pegunungan tinggi. Setiap kali sepasang mata itu terbuka dan menatap wajah ayah atau ibunya, seketika senyum terindah akan merekah di bibir mungilnya. Senyum yang belum memiliki gigi namun terasa begitu hangat dan menenangkan hati siapa pun yang melihatnya.

Su Yi kini telah pulih kembali dengan sehat dan bugar. Wajahnya yang sempat pucat kini kembali bersinar cantik dan segar. Ia tampak lebih tenang dan penuh kelembutan, seakan kehadiran putri kecilnya telah melengkapi separuh jiwanya yang sempat hilang. Setiap hari ia menghabiskan waktunya bersama putri kecilnya. Menyusui, memandikan, mendandani, dan mengayunkan tubuh mungil itu di dalam pelukannya yang hangat dan lembut. Setiap kali Xi Yue menangis atau gelisah, seketika Su Yi akan merangkulnya erat, membisikkan kata-kata lembut di telinganya, dan dalam sekejap tangis mungil itu akan berhenti berganti senyum yang tulus dan ceria.

Dan Mo Han... sejak kehadiran putri kecilnya, pria yang biasanya tegas dan tenang itu kini tampak memiliki sisi kelembutan yang tak pernah ditunjukkannya kepada siapa pun sebelumnya. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, hal pertama yang ia lakukan adalah mendekat ke tempat tidur bayi, menatap wajah putri kecilnya yang sedang terlelap atau tersenyum menyambut sinar matahari pagi. Ia akan mengusap lembut kepala mungil itu, mencium keningnya yang harum, lalu berbicara pelan seakan putri kecilnya sudah dapat memahami setiap kata yang terucap dari bibirnya. Setiap sore saat pulang ke rumah, ia akan segera mencuci tangan dan berganti pakaian bersih sebelum berhati-hati merangkul tubuh mungil itu ke dalam pelukannya yang kokoh dan hangat. Ia akan mendekatkan wajahnya ke wajah putrinya, menatap mata jernih itu lekat-lekat, dan seketika rasa lelah seharian bekerja akan lenyap tak berbekas digantikan oleh kebahagiaan yang meluap-luap di dadanya.

"Lihatlah..." Su Yi berucap pelan suatu sore saat mereka bertiga duduk berdampingan di beranda yang menghadap ke arah lembah hijau yang luas. Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil menatap putri kecilnya yang berbaring nyaman di atas pangkuan ayahnya. Tangan mungil Xi Yue sesekali terangkat menyentuh wajah ayahnya yang tersenyum lembut menatapnya dengan mata yang penuh kasih sayang. "Dia semakin mirip denganmu setiap harinya. Lihatlah matanya... tatapannya begitu teguh dan tenang persis seperti tatapanmu. Dan hidungnya... begitu tegap dan indah..."

Mo Han tersenyum mendengar itu. Ia menangkup kedua tangan mungil putrinya yang meraba wajahnya, lalu mengecup telapak tangan itu berkali-kali dengan penuh kasih sayang. Matanya menatap wajah putrinya lekat-lekat, lalu beralih menatap wajah istrinya yang tampak bahagia dan tenang di sampingnya.

"Namun senyumnya... senyum itu persis milikmu..." Mo Han menjawab pelan dengan suara yang rendah namun penuh kelembutan dan kekaguman yang tulus. "Senyum yang mampu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Senyum yang membawa cahaya kebahagiaan ke mana pun ia pergi. Xi Yue... putri kecil kita... sungguh gabungan keindahan dan kelembutan terbaik dari kita berdua."

Xi Yue seakan mengerti pujian itu. Ia tersenyum lebar memperlihatkan gusi mungilnya yang merah muda, lalu mengeluarkan suara rengekan halus yang terdengar begitu indah dan menyejukkan hati kedua orang tuanya. Su Yi tertawa lembut melihat tingkah laku putri kecilnya, sementara Mo Han hanya tersenyum bahagia sambil mendekatkan wajahnya ke wajah putrinya dan mengecup keningnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga.

Hari-hari berlalu dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan. Setiap hari membawa perubahan kecil yang menyenangkan hati kedua orang tuanya. Mulai dari senyum pertama yang muncul tanpa sebab, suara tawa kecil yang terdengar bagaikan denting lonceng perak yang lembut, hingga saat-saat di mana Xi Yue mulai belajar membalikkan tubuhnya sendiri dengan penuh semangat dan kegigihan yang menggemaskan. Setiap kali ia berhasil melakukan hal baru, seketika suara tepuk tangan dan pujian tulus dari ayah dan ibunya akan menyambutnya dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang.

Suatu hari saat Xi Yue mulai belajar merangkak, kedua orang tuanya duduk di lantai beralaskan karpet empuk yang hangat, menatap putri kecil mereka yang berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuh mungilnya ke depan. Tangan mungilnya menumpu dengan gemetar, lutut kecilnya berusaha menekuk dan mendorong tubuhnya yang masih goyah. Berkali-kali ia terjatuh dan berbaring telentang menatap wajah ayah dan ibunya dengan mata yang berbinar namun sedikit berkaca-kaca. Namun tak satu pun tangis yang keluar dari bibir mungilnya. Ia kembali berusaha bangkit, kembali menumpukan tangannya ke lantai, dan kembali berusaha melangkah maju dengan penuh semangat dan kegigihan yang luar biasa untuk ukuran anak seusianya.

"Dia begitu gigih..." Su Yi berbisik pelan sambil menatap putri kecilnya dengan mata yang berkaca-kaca penuh kebanggaan dan kasih sayang. "Dia tidak pernah menyerah walau berkali-kali terjatuh. Sepertinya dia mewarisi keteguhan hatimu..."

Mo Han tersenyum mendengar itu. Ia tidak segera membantu putri kecilnya melainkan membiarkannya berusaha sendiri terlebih dahulu sambil tetap bersiap siaga untuk menjaganya dari bahaya. Matanya menatap wajah putrinya lekat-lekat dengan penuh kebanggaan dan harapan yang mendalam.

"Karena dia tahu... bahwa di ujung usahanya... ada kita berdua yang selalu menantikan keberhasilannya." Mo Han menjawab pelan dengan suara yang penuh keyakinan. "Itulah yang memberinya kekuatan untuk terus berjuang. Karena dia tahu... ia tidak sendirian. Kita selalu ada di sisinya. Menyemangatinya... dan mencintainya tanpa syarat apa pun."

Dan benar saja. Setelah berusaha berkali-kali dengan penuh kesabaran dan ketekunan yang luar biasa, akhirnya tubuh mungil itu berhasil melangkah maju beberapa langkah merangkak. Xi Yue berhenti sejenak, menatap wajah ayah dan ibunya yang tampak begitu bangga dan bahagia menatapnya, lalu seketika senyum terindah merekah di bibirnya diikuti suara tawa cerianya yang menggema penuh kebahagiaan. Su Yi segera merentangkan tangannya dan merangkul putri kecilnya yang mungil itu ke dalam pelukannya yang hangat dan penuh kasih sayang. Mo Han ikut mendekat, memeluk erat istri dan putrinya, merasakan kebahagiaan yang melimpah ruah memenuhi dadanya.

"Bagus sekali... putri ayah..." Mo Han berucap pelan sambil mengecup kepala putrinya berkali-kali dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang. "Kau hebat sekali... jangan pernah menyerah... karena ayah dan ibumu akan selalu ada di belakangmu... mendukungmu... dan mencintaimu selamanya."

Waktu terus berjalan membawa pertumbuhan yang luar biasa dari kehidupan kecil yang menjadi sumber kebahagiaan mereka berdua. Setiap hari membawa tawa dan senyum baru yang memperindah kehidupan keluarga kecil itu. Xi Yue tumbuh menjadi anak yang ceria, cerdas, dan penuh kasih sayang. Ia selalu menyambut kedatangan ayahnya setiap sore dengan tawa ceria dan pelukan hangat yang tak pernah lelah. Ia selalu menemani ibunya melakukan berbagai hal dengan penuh kesabaran dan kelembutan yang luar biasa. Setiap kali ketiganya berkumpul bersama, suasana rumah itu akan terasa penuh kebahagiaan dan kedamaian yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata apa pun.

Suatu malam saat bulan purnama kembali bersinar terang benderang di langit gelap, Mo Han duduk di tepi tempat tidur putrinya yang kini sudah mulai dapat berbicara dan berjalan dengan tegap. Ia menatap wajah putrinya yang sedang terlelap damai dengan senyum tipis yang tersungging di bibir mungilnya. Tangannya yang besar dan hangat perlahan mengusap lembut rambut hitam halus putrinya yang terhampar indah di atas bantal kecilnya. Di sampingnya berdiri Su Yi yang memeluk pinggang suaminya dari samping, ikut menatap wajah putri kecil mereka dengan mata yang penuh kasih sayang dan rasa syukur yang mendalam.

"Lihatlah betapa besarnya kasih sayang Tuhan kepada kita..." Su Yi berbisik pelan sambil menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. "Dia memberikan kita anugerah yang begitu indah dan berharga. Xi Yue... cahaya kecil kita... telah tumbuh menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup kita."

Mo Han mengangguk pelan. Ia merangkul bahu istrinya mendekat ke dadanya, lalu menatap wajah putrinya yang bersinar lembut di bawah cahaya lampu kamar yang redup. Hatinya terasa penuh hingga meluap-luap rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kebaikan dan kasih sayang yang dilimpahkan kepada keluarga kecil mereka.

"Ya... dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan titipkan kepada kita..." Mo Han berucap pelan dengan suara yang penuh ketulusan dan doa yang mendalam. "Dan kita berjanji... akan menjaganya dengan segenap jiwa raga kita. Akan mendidiknya dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Akan membiarkannya tumbuh menjadi cahaya yang bersinar terang membawa kebaikan ke mana pun ia pergi. Dan kelak... saat ia tumbuh dewasa... ia akan tahu betul... bahwa di dunia ini... ada kasih sayang yang tak pernah putus... ada cinta yang tak pernah pudar... dan ada rumah yang selalu menantikan kepulangannya dengan pintu dan hati yang selalu terbuka lebar selamanya."

Su Yi tersenyum mendengar janji tulus itu. Ia mendongak menatap wajah suaminya yang tampak teguh dan tulus di bawah cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari jendela. Ia tahu bahwa janji itu akan selalu terjaga. Karena cinta yang menyatukan mereka berdua adalah cinta sejati yang tulus dan abadi. Dan kasih sayang yang mereka berikan kepada putri kecil mereka adalah kasih sayang yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam dan tulus.

Malam itu, di bawah sinar rembulan yang bersinar terang benderang di langit gelap, ketiga jiwa yang saling terhubung oleh ikatan kasih sayang yang tak terputuskan itu beristirahat dengan tenang dan damai. Cahaya kecil mereka telah lahir dan tumbuh dengan sehat dan bahagia. Dan di hati kedua orang tuanya... tertanamlah keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa masa depan putri mereka akan bersinar terang benderang. Karena ia lahir dari cinta sejati. Tumbuh dalam kasih sayang yang berlimpah ruah. Dan dijaga oleh doa tulus kedua orang tuanya yang akan terus menyertainya hingga ke ujung waktu dan selamanya.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!