Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20: Festival Musim Gugur dan Cinta yang Tumbuh
Bulan berganti musim, dan daun-daun di sekitar sekolah mulai berubah warna menjadi jingga, kuning, dan merah keemasan, menciptakan pemandangan yang indah dan hangat. Sekolah mengadakan Festival Musim Gugur setiap tahunnya—acara yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa. Halaman sekolah dihiasi dengan daun-daun kering yang cantik, labu-labu oranye, dan lampu-lampu gantung yang berkilauan saat malam tiba. Suasana penuh kegembiraan, dan setiap sudut sekolah dipenuhi tawa dan kegembiraan.
Tahun ini, kami berempat—aku, Ethan, Mark, dan Elena—memutuskan untuk ikut serta dalam kontes dekorasi kelas. Kami bekerja sama dengan penuh semangat, menghias kelas kami dengan tema "Hutan Musim Gugur yang Penuh Cahaya". Ethan merancang tata letak dengan cermat, Mark mengurus perlengkapan, Elena membuat hiasan bunga dan daun dari kertas berwarna, sementara aku menyiapkan hiasan meja dan pencahayaan yang lembut. Seluruh kelas berubah menjadi tempat yang hangat dan ajaib, seolah-olah kami berada di tengah hutan yang disinari cahaya bulan.
Malam festival tiba. Lampu-lampu di padang sekolah mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana yang romantis dan penuh keajaiban. Musik lembut mengalun dari panggung utama, dan para siswa berjalan berkeliling mengenakan pakaian musim gugur yang hangat dan cantik. Aku mengenakan gaun berwarna krem dengan kardigan cokelat muda, rambutku dikepang sederhana dengan pita warna-warni daun kering. Saat aku berjalan keluar dari kelas, Ethan berdiri di sana menungguku, mengenakan kemeja cokelat dan celana kain berwarna krem, menatapku dengan kagum yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kau terlihat luar biasa cantik," ucapnya pelan saat aku mendekat. "Seperti bunga yang tumbuh di tengah musim gugur yang indah."
"Kau juga terlihat sangat tampan, Ethan," jawabku dengan wajah sedikit memerah. "Terima kasih sudah menungguku."
Malam itu kami berjalan berkeliling bersama, menikmati setiap momen festival. Kami mencicipi makanan khas musim gugur, menonton pertunjukan musik, dan berfoto bersama di setiap sudut yang indah. Mark dan Elena juga bergabung dengan kami, tertawa dan bercanda, seolah tidak ada beban apa pun di dunia ini. Saat matahari benar-benar terbenam dan langit berubah menjadi gelap namun penuh bintang, kami berempat naik ke atap gedung sekolah untuk melihat kembang api yang akan dinyalakan di tengah acara.
Angin malam berhembus sejuk, dan kami berdiri di sana, memandang ke arah kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Tiba-tiba, cahaya terang menyambar di langit, diikuti dengan kembang api yang mekar berwarna-warni—merah, emas, biru, ungu—menghiasi langit gelap dengan keindahan yang luar biasa. Di bawah cahaya kembang api itu, Ethan meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Lihatlah itu," ucapnya pelan, matanya menatapku, bukan ke arah langit. "Setiap kembang api itu cantik, tapi hanya sebentar. Tapi cintaku padamu… ia akan tetap bersinar selamanya, lebih terang dari apa pun di langit itu."
Aku menatapnya, dan di bawah cahaya warna-warni itu, aku tersenyum bahagia. "Cintaku padamu juga begitu, Ethan. Ia tidak akan pernah pudar."
Di samping kami, Mark dan Elena berdiri berdampingan, tersenyum melihat kami berdua. Mark menatap Elena sebentar, dan ada sesuatu yang baru di antara mereka—persahabatan yang mulai tumbuh menjadi perasaan yang lebih dalam, perlahan namun pasti. Dan di langit yang penuh cahaya itu, aku tahu bahwa semua orang di sekitarku sedang menuju kebahagiaan mereka masing-masing. Takdir tidak hanya mengubah ceritaku—ia juga mengubah cerita teman-temanku. Dan itu adalah hal terindah yang pernah kulihat.