Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
"Jadiiiii dia tahu keberadaan Nismara? Tapiiii....."
Miranti segera mengetik untuk membalas pesan itu daripada dia menduga-duga sendiri.
[ Maksud mu apa? Dan mau apa?]
Tampak nya Si Peduli Kamoe memang menunggu respon Miranti, sebab tak menunggu waktu lama dia membalas pesan lagi.
[ Aku tahu di mana Nismara. Bawa uang 30 juta tunai! Kita ketemu di cafe Republik.]
Miranti segera membalas.
[ Hahaha, kau pikir aku percaya?]
Meski menuliskan kalimat seperti nada tertawa dan meremehkan tapi Miranti membalas dengan hati dag dig dug luar biasa.
Sofia Elena.
Balasan Si Peduli Kamoe membuat laki-laki Meranti membelalak.
[ Cafe Republik, 30 menit lagi. Tiga 10 juta adalah harga yang sangat murah untuk sebuah informasi penting ini.]
Miranti menarik nafas panjang. Dia sama sekali tidak percaya bahwa pengirim pesan di email ini adalah Si Peduli Kamoe yang dulu pernah mengirim pesan pada Nismara. Pasti ini adalah orang yang mengaku dan hanya ingin memeras. Miranti yakin sekali.
Tapi siapa? kenapa penipu ini tahu tentang Si Peduli Kamoe?
Cafe Republik memang berada di pinggiran kota, tapi 30 menit adalah waktu yang lumayan longgar untuk dia berkendara sampai di sana. Bahkan dengan kecepatan santai, jarak tempuh paling lama 20 menit, apalagi di jam tanggung seperti sekarang, jalanan pasti sepi.
"Mungkin Dia memberi waktu padaku untuk sekalian menyiapkan uangnya." Miranti menyeringai. "Tidak akan ada uang buat kamu, penipu amatir! Aku datang ke sana untuk menangkap."
Miranti menelpon Abdul, sopir kantor kepercayaannya. Dia tidak membawa mobil sendiri, berpikir barangkali dia butuh bantuan untuk menghadapi si penipu yang mengaku-ngaku sebagai Si Peduli Kamu.
Dan tepat 20 menit kemudian mereka sudah memasuki cafe yang dimaksud.
"Saya di sini saja ya, Bu." kata Abdul menunjuk sisi teras cafe. Di situ ada kursi panjang yang kosong.
"Okey." Miranti menyahut tanpa menghentikan langkahnya.
Cafe ternyata lumayan ramai. Miranti segera mencari apakah si Peduli Kamu palsu itu sudah berada di dalam kafe ini? Dia itu laki-laki atau perempuan?
Miranti mengambil duduk di salah satu sudut dari duduknya dia bisa melihat orang-orang yang masuk melalui pintu depan. Baru saja dia menengok telepon genggamnya, dan bermaksud mengirim pesan pada Si Peduli Kamu, namun ternyata Miranti telah keduluan.
[ Datang juga ternyata. Berani bawa sopir hahaha.]
Sialan! Spontan mata Miranti berkeliling lagi. Ada satu kelompok remaja yang tengah asik bercanda sambil makan. Di ujung berat ada sepasang kekasih yang tengah asik bersuapan. "Bukan, dia pasti datang sendiri, tidak mungkin berdua apalagi berkelompok."
Netra Miranti kini focus mencari pada meja yang hanya diisi oleh satu orang saja.
"Ah, bisa jadi dia." gumam Miranti lirih. Dia melihat ada satu gadis berkacamata yang tampak celingukkan seperti menunggu seseorang datang. Dia memegang telepon genggamnya, sesekali dia melihat ke pintu masuk dengan gelisah. Di mejanya sudah terhidang 2 gelas minuman dan beberapa makanan.
"Tapi dia seperti menunggu seseorang, wajahnya terlihat hampir menangis. Mungkin dia sudah menunggu terlalu lama. Sedang Peduli Kamu sudah langsung mengenali aku saat aku masuk. Hmmmm...... apakah laki-laki itu?"
Miranti melihat seorang laki-laki yang asik menunduk dan focus di layar telepon genggamnya.
[ Coba tebak, aku yang mana. Hahaha.]
Pesan Si Peduli Kamoe datang lagi.
[ Aku sedang melihatmu.]
Miranti membalas pesan itu. Lalu matanya menatap tajam pria yang dia yakini adalah si Peduli Kamu palsu. Dua detik kemudian laki-laki itu menoleh ke arah Miranti, namun segera membuang muka. Miranti tersenyum penuh kemenangan. Laki-laki itu kembali ke layar telepon genggamnya, namun beberapa detik kemudian melirik gelisah.
"Kena kau! Kamu pikir segampang itu mengelabui aku." Seringai Miranti bertambah lebar.
Saat Miranti berdiri, laki-laki itu pun berdiri. Laki-laki itu melihat ke arah Meranti sekilas, lalu terlihat bergegas meninggalkan tempat. Miranti pun segera melakukan hal yang sama.
"Aku tidak boleh kehilangan dia....." Mata Miranti telah mengunci pergerakan laki-laki mencurigakan itu.
Duk.
Bug.
Klontang.
"Aduuuuh."
Tanpa sengaja Miranti telah menabrak seorang gadis. Mata Miranti betul-betul fokus pada laki-laki incarannya, sebab itu dia tidak melihat gadis yang sedang berjalan di depannya.
"Maaf ya ,Tante tidak sengaja." kata Miranti melihat ke bawah. Gadis itu terduduk sambil memegangi lututnya. Sejenak Miranti bingung, apakah dia harus menolong gadis yang ditabraknya itu dengan pertaruhan kehilangan si penipu?
"Maaf, Tante buru-buru." Miranti berkata sambil mengetukkan kedua telapak tangannya sekilas.
Miranti bergegas meninggalkan tempat itu. Dia lebih memilih untuk terus mengikuti laki-laki itu dibandingkan menolong gadis yang ditabraknya.
" Abdul, cegah orang itu!" Miranti berseru saat laki-laki yang dia yakini sebagai si Peduli Kamu palsu telah mencapai mobil dan bersiap membuka pintunya.
Abdul yang tengah bersantai sambil merokok, tergugup gugup berdiri membuang puntung rokok ke dalam kolam ikan di depannya dan segera berlari. Tepat saat laki-laki itu hendak menutup mobilnya, Abdul berhasil menahan.
"Hai, ada apa ini? Aku lagi buru-buru." laki-laki itu berkata marah, nyalang menatap Abdul karena Abdul sudah menghalangi gerakan dia untuk menutup pintu mobilnya.
"Jangan buru-buru kita belum bertransaksi kan?" Miranti mencapai tempat itu. Berdiri di sebelah Abdul meski ngos-ngosan Miranti tetap mengeluarkan seringainya.
"Transaksi apa?" laki-laki itu bertanya kebingungan.
"Jangan berlagak bego." tukas Miranti.
"Turun, turun. Turun kamu!" tukas Abdul sambil mencengkram pria itu dan memaksanya turun.
"Eh ada apa ini pak, Bu?" seorang bapak-bapak yang dilihat dari seragamnya adalah penjaga keamanan di cafe ini. Di sebelahnya ada bapak-bapak lagi sepertinya tukang parkir.
"Tolong, saya dirampok!" laki-laki yang dipegang Abdul melolong otomatis Abdul melepaskannya segera. Dia tidak mau mendapat masalah.
" Dia ini penipu, Pak!" Miranti berseru. " Jangan sampai dia lepas, Dul!"
Refleks Abdul memegangi lengan laki-laki itu lagi.
"Bukan! Enak saja Kamu ngawur!" laki-laki itu garang menatap Miranti, berganti menatap Abdul. "Lepaskan atau saya laporkan ke polisi kalian!"
Genggaman Abdul mengendur. Dia tetap memegang lengan orang itu namun tidak sekencang yang pertama dia lakukan.
"Sebenarnya ada apa?" Si penjaga kafe berusaha melirai.
"Nggak tau, Pak, saya ini buru-buru mau jemput saudara saya di stasiun, tiba-tiba suami istri ini datang, sepertinya mau merampok mobil saya." kata laki-laki itu dengan ngawurnya, seraya menunjuk Abdul dan Miranti.
"Edan! Perampokan di siang bolong." bapak penjaga itu melotot ke arah Abdul.
Miranti hendak menukas, namun telepon yang sedang dipegangnya terasa bergetar. Sebuah pesan dari si Peduli Kamu.
[ Hahaha ngapain di situ? Mau kau paksa laki-laki itu untuk menikahimu? Kalau kamu menyangka dia itu adalah aku. Itu salah besar!]
Susah payah Miranti menelan ludahnya, kemudian memandang Abdul dengan matanya dia mengintruksi Abdul untuk menjauh dari laki-laki itu. Abdul paham dan dia mundur satu langkah ke belakang.
" Maafkan kami, Bapak-bapak. Saya salah orang." kata Miranti melihat ke arah penjaga cafe, tukang parkir dan laki-laki yang telah dituduhnya. lalu mengangguk sebanyak dua kali.
"Eh, maaf, Pak." Abdul pun ikut meminta maaf.
"Huh, gue beri juga Elo!" laki-laki itu berteriak di muka Abdul.
Abdul memejamkan mata. bukan karena takut, tapi udara dan air keluar dari mulut laki-laki itu menampar wajahnya dengan bebauan menyengat.
"Eh, sorry, Mas, saya abis makan sambel pete, terus lupa gosok gigi tadi pagi." kata si laki-laki itu sambil balik ke kemudi nya, lalu menutup mobil dan segera menghilang.
"Barusan ada apa sih, Bu?"
"Maaf, Dul. Aku salah orang." jawab Miranti dengan rasa bersalah. Miranti sejenak mematung, apakah dia harus kembali ke dalam cafe atau pergi saja? Si peduli kamu jelas masih berada di sekitar sini, buktinya dia bisa melihat kejadian barusan. Tapi jujur untuk masuk dia agak malu. Beberapa saat tadi kehebohan yang Miranti ciptakan telah menyita perhatian semua orang di tempat ini dan ujungnya dia yang salah.