Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus Diakhiri

Berbanding terbalik dengan kesuksesan yang diraih Gala di kota, hal yang tak menyenangkan justru menyelimuti rumah mewah milik Bu Gendis di desa. Wanita paruh baya itu setiap hari menatap cemas ke arah Mawar yang sibuk beraktivitas di halaman maupun di dalam rumah, namun matanya tak pernah lepas mengamati setiap gerak-gerik gadis itu dengan perasaan gelisah yang makin menumpuk.

Sudah berhari-hari pikiran Bu Gendis tak tenang, tak bisa tidur nyenyak, tak bisa makan dengan nikmat. Ia melihat perubahan nyata pada tubuh Mawar, wajahnya kadang pucat pasi lalu seketika memerah, sering menutup mulutnya berusaha menahan mual di pagi hari, nafsu makannya naik turun tak menentu, dan yang paling mencolok, perut gadis itu perlahan namun pasti semakin membuncit, bentuknya membulat ke depan, tak seperti perut yang hanya gemuk karena banyak makan.

"Mawar, kemari sebentar, Nak," panggil Bu Gendis dengan suara yang berusaha tetap tenang, namun matanya menatap tajam, teliti, tak melepaskan sedikit pun.

Mawar melangkah mendekat pelan, tangannya saling meremas di balik punggung, jantungnya berdegup kencang seakan tahu apa yang akan ditanyakan. "Ada apa, Bu?"

Bu Gendis menyentuh pinggang dan perut gadis itu dengan ragu-ragu, jemarinya meraba perlahan, lalu menghela napas panjang yang terasa berat di dada. "Perutmu ini... kenapa terlihat semakin membesar belakangan ini? Padahal kamu makan biasa saja, bahkan kadang terlihat tak berselera sama sekali. Apa kamu sakit? Katakan pada Ibu, jangan ditutupi," tanya Bu Gendis, suaranya bercampur cemas dan curiga.

Wajah Mawar tiba-tiba memucat, matanya segera menunduk dalam, tak berani menatap manik mata sang ibu. "Tidak kok, Bu. Mungkin hanya pencernaanku saja yang sedang kurang baik. Akan sembuh sendiri kok."

Namun jawaban itu sama sekali tidak menenangkan hati Bu Gendis. Keraguan itu semakin kuat mencengkeram hatinya setiap waktu. Ibu dua orang anak itu tak bisa membiarkan prasangka buruk terus tumbuh tanpa kejelasan.

Untuk menghilangkan keraguan, Bu Gendis terpaksa membawa gadis itu menuju kediaman bidan desa yang tak jauh dari pemukiman warga.

"Bu Yanti, tolong periksakan kondisi Mawar dengan teliti. Saya khawatir ada sesuatu yang tidak beres dengan kesehatannya," ujar Bu Gendis saat mereka duduk di ruangan sederhana yang berbau ramuan obat itu.

Bidan Yanti tersenyum ramah, lalu meminta Mawar berbaring sebentar di atas dipan kayu. Ia memeriksa denyut nadi, menanyakan keluhan yang dirasakan, lalu menyentuh lembut perut Mawar dengan teliti. Detik berikutnya, senyum bidan itu melebar namun penuh keheranan.

"Bu Gendis, Mawar... sebenarnya tidak ada penyakit yang berbahaya. Justru kabar yang saya sampaikan ini mungkin akan mengejutkan kalian berdua," Bidan Yanti berusaha melembutkan nada bicaranya.

"Mawar sedang mengandung. Usia kandungannya sudah masuk bulan kedua. Kondisi janinnya sehat dan kuat, Bu," lanjut Bidan Yanti dengan senyum getir.

"Apa? Hamil?!"

Seolah tersambar petir di siang bolong, tubuh Bu Gendis terhuyung mundur, napasnya tertahan di kerongkongan, pandangannya sempat kabur sejenak hingga ia nyaris jatuh pingsan di kursi kayu itu. Kakinya terasa lemas tak bertulang.

"Apa yang Anda katakan?! Mawar masih gadis! Dia belum menikah! Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?!" Dengan sisa tenaga yang tersisa, Bu Gendis mencengkeram pinggiran meja agar tetap tegak berdiri.

"Mohon maaf, Bu Gendis, tapi seperti itulah kenyataannya. Saya periksa dengan teliti, tidak keliru. Denyut jantung janinnya terdengar jelas dan kuat," jawab Bidan Yanti lembut namun tegas.

"Siapa?! Siapa yang berani melakukan hal tak tahu malu ini padamu, Mawar?!" Suara Bu Gendis bergetar hebat, amarah meledak-ledak di dadanya.

Bidan Warti terkejut melihat reaksi yang berlebihan itu. "Saya hanya menyampaikan hasil pemeriksaan saya, Bu. Kesehatan ibu dan janin sebenarnya sangat baik."

Bu Gendis segera mengumpulkan kesadarannya, lalu mengeluarkan sejumlah uang yang cukup banyak dari tas sutra miliknya, kemudian menyodorkan uang itu ke depan Bidan Yanti.

"Ini, ambillah. Anggap saja sebagai rasa terima kasih saya karena telah memeriksa Mawar. Tapi ada satu syarat yang harus anda patuhi jika karirmu sebagai bidan di desa ini tidak mau berakhir," ujar Bu Gendis dengan nada dingin dan mengancam, matanya menatap tajam lurus ke mata Bidan Yanti.

"Kabar tentang kehamilan Mawar tidak boleh keluar dari mulutmu sedikit pun. Jika sampai tersebar ke warga desa, percayalah, reputasimu akan hancur seketika. Kau tahu sendiri betapa saya dihormati dan dipercaya oleh seluruh warga desa ini," lanjutnya dengan tegas.

Bidan Yanti menelan ludah dengan cemas. Ia sangat paham siapa Bu Gendis, wanita itu bukan sekadar warga biasa, melainkan orang yang sangat berpengaruh, suaranya didengar oleh kepala desa hingga para tetua adat. Membantah sama saja dengan mencelakai diri sendiri.

"Baik, Bu Gendis. Saya janji akan menjaga rahasia ini sekuat tenaga. Tak ada satu orang pun yang akan saya beri tahu," jawab Bidan Warti patuh, lalu menerima uang itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

***

Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satu pun kata yang terucap. Udara di antara mereka terasa berat dan menyesakkan. Begitu pintu rumah tertutup rapat dan hanya ada mereka berdua saja, bendungan kemarahan Bu Gendis akhirnya pecah sepenuhnya.

"Kau tidak tahu malu, Mawar! Kau mempermalukan Ibu, mendatangkan aib pada nama baik keluarga yang sudah kita jaga selama bertahun-tahun!" seru Bu Gendis tak lagi menahan diri. Ia mengguncang bahu Mawar, memukul pelan punggung dan lengan gadis itu dengan tangan yang gemetar karena amarah.

"Katakan! Siapa ayah dari bayang yang kau kandung?! Siapa yang berani menodai kesucianmu sebelum halal diucapkan?!"

Mawar hanya bisa menangis tersedu-sedu, menangkis pukulan itu dengan lemah namun tak berani melawan sedikit pun. Kedua tangannya memeluk perutnya erat, seolah melindungi satu-satunya harta yang kini ia miliki di dunia ini.

"Katakan! Jangan diam saja seperti patung bisu!" Bu Gendis menarik bahu Mawar hingga gadis itu terdorong ke dinding ruang tamu.

"Apakah... apakah Gala? Benar kan? Hanya dia yang dekat denganmu. Pasti dia yang melanggar batas sebelum pergi merantau ke kota!"

"Bukan begitu, Bu! Tolong jangan menuduh Gala sembarangan!" Mawar akhirnya bersuara di sela isak tangisnya, matanya memerah menatap sang ibu.

"Siapa lagi kalau bukan dia? Dia yang kau tunggu-tunggu setiap hari, dia yang kau janjikan sebagai suami! Pasti dia yang berbuat kotor lalu pergi meninggalkanmu!" tuduh Bu Gendis semakin yakin, matanya menyala penuh kemarahan sekaligus kekecewaan yang mendalam.

"Pria itu sudah sukses di kota sana, mungkin sudah lupa janjinya, tapi meninggalkan beban aib di sini! Bagaimana aku bisa menghadapi tetangga, kerabat, semua orang yang menghormati keluarga kita?!"

Mawar mencoba berbicara, bibirnya bergetar, namun suaranya tertahan oleh tangis yang mencekik leher. Ia tahu, kebenaran saat ini tak akan diterima oleh Bu Gendis yang hatinya sudah tertutup rapat oleh rasa malu dan takut.

Bu Gendis akhirnya berhenti memukul, namun napasnya masih memburu berat, dadanya naik turun menahan amarah yang belum sepenuhnya reda. Ia menatap putri bungsunya dengan pandangan yang bercampur antara kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang tak terlukiskan.

"Kau harus mengakhiri ini, Mawar. Sebelum semua orang tahu." ucap Bu Gendis pelan namun tegas, lalu berbalik pergi meninggalkan Mawar yang terkulai lemas di lantai, sendirian dengan rahasia yang perlahan menggerogoti hatinya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!