Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipecat?

Reyna menarik napas panjang, berusaha menata nada suaranya agar tetap terdengar santai dan tidak memancarkan sedikit pun beban yang sedang menghimpit dadanya.

^^^​[Duh, maaf banget ya, Ni... Kayaknya aku nggak bisa ikut deh] - Reyna^^^

​[Yah... Kenapa, Rey? Kan lumayan banget bisa liburan bareng, mumpung ada libur panjang. Kamu pasti capek kan kerja terus? Ikut aja, nanti masalah transportasi sama penginapan kamu nggak usah pusingin, biar Mas Bagas yang atur] - Agnia

​Mendengar tawaran tulus dari sahabatnya, dada Reyna berdesir hangat sekaligus ngilu. Ia tahu Agnia begitu baik padanya, namun justru karena itulah Reyna semakin yakin menolaknya. Ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Agnia, apalagi menjadi benalu di tengah momen liburan pasangan pengantin baru itu. Lagipula, sisa uangnya harus benar-benar ia alokasikan secara ketat untuk membayar sewa kontrakan bulan depan serta untuk kebutuhannya sehari-hari.

^^^​[Nggak bisa, Ni. Masalahnya kerjaanku banyak banget, ada beberapa berkas dan urusan yang harus aku selesaikan sendiri di rumah selama liburan ini. Pokoknya agak ribet deh kalau aku tinggal liburan] - Reyna^^^

​Reyna terpaksa berbohong pada Agnia demi menjaga privasi masalahnya, ia belum siap membagikan kabar pahit pemecatannya kepada Agnia yang saat ini sedang menikmati masa-masa indahnya setelah menikah.

​[Beneran nggak bisa diwakilin atau dikerjain nanti setelah liburan?] - Agnia

^^^​[Beneran nggak bisa, Agnia sayang... Nanti kalau proyek pekerjaan yang ini kelar dan situasiku udah santai, aku janji bakal main ke rumah baru kamu. Kita nongkrong sepuasnya] - Reyna^^^

[Ya udah deh kalau gitu... Padahal aku ngarep banget kamu bisa ikut, tapi ya mau gimana lagi kalau urusan pekerjaan kamu lagi padat. Jangan lupa jaga kesehatan ya, Rey. Jangan terlalu memaksakan diri kerja terus] - Agnia

^^^​[Iya, Ni. Makasih ya udah ngajak. Kamu sama Bagas hati-hati ya pas jalan ke Dieng nanti] - Reyna^^^

​[Sip! Nanti aku bawa oleh-oleh makanan khas sana ya. Daaah Reyna] - Agnia

^^^​[Daaah...] - Reyna^^^

​Sambungan telepon terputus, Reyna menurunkan ponselnya dan mengembuskan napas lega yang lumayan panjang. Kamar kontrakannya kembali diselimuti keheningan, hanya diselingi suara gemericik air hujan yang membasahi genteng.

​Reyna menyandarkan kepalanya ke dinding kamar dan menatap langit-langit yang sedikit berjamur, penolakan itu terasa tepat. Meski artinya ia harus melewatkan kesempatan berlibur dan melepas penat, Reyna sadar fokus utamanya saat ini adalah bertahan hidup.

​Reyna memiringkan tubuhnya, mengambil laptop yang tergeletak di samping kasur busanya, lalu kembali membuka deretan situs lowongan kerja. Dengan jemari yang kembali lincah menari di atas papan ketik, Reyna melanjutkan perjuangannya, melamar satu per satu posisi pekerjaan demi menyambung masa depannya di kota Bandung.

#

Keesokan harinya, Agnia melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai padat. Usai menghabiskan waktu sejak pagi di rumah orang tuanya, tiba-tiba Agnia teringat pada sahabatnya. Pembicaraan mereka di telepon semalam masih terngiang-ngiang, Agnia merasa sedih karena Reyna yang tidak bisa ikut berlibur.

"Dasar si pekerja keras," gumam Agnia seraya menyunggingkan senyum tipis.

Karena jarak dari rumah orang tuanya menuju arah pulang searah dengan kawasan perkantoran tempat Reyna bekerja, Agnia memutuskan untuk membelokkan kemudinya. Ia mampir ke sebuah kedai camilan ternama di pinggir jalan, membelikan beberapa kotak kue pastry serta beberapa cup minuman segar favorit Reyna dan teman-teman kerjanya. Agnia sengaja tidak menghubungi Reyna terlebih dahulu, ia ingin memberikan kejutan manis di tengah jam istirahat siang dan menghibur sahabatnya yang katanya sedang tenggelam dalam tumpukan berkas kantor.

Sekitar lima belas menit kemudian, mobil Agnia memasuki pelataran parkir gedung perkantoran tempat Reyna mengabdi selama empat tahun terakhir. Suasana pelataran tampak lengang, Agnia turun dari mobil dengan membawa kantong plastik besar berisi camilan, lalu melangkah santai menuju pos penjagaan di dekat gerbang masuk. Seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya saat ia berkunjung, Agnia berniat menitipkan makanan tersebut kepada petugas keamanan untuk diserahkan ke meja Reyna di lantai dua.

"Selamat siang, Pak," sapa Agnia ramah pada petugas satpam paruh baya yang sedang duduk di posnya.

Satpam tersebut mendongak dan menyunggingkan senyum kenal. "Eh, Mbak Agnia. Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Mau ketemu Mbak Reyna ya?" tanyanya.

"Iya, Pak. Ini saya dibawain camilan buat Reyna sama teman-teman kantornya. Tapi saya lagi agak buru-buru, jadi saya titip di pos aja ya, Pak. Nanti tolong minta tolong sama staf yang naik ke atas buat kasihin ke meja Reyna," ujar Agnia ceria sembari mengangsurkan kantong plastik berukuran besar itu.

Namun, alih-alih mengambil kantong plastik tersebut. Pak Joko justru tertegun, raut wajah ramahnya perlahan berubah menjadi serba salah dan hening sejenak merayapi pos penjagaan itu.

"Loh... Mbak Agnia belum tahu ya?" tanya Pak Joko pelan, dahinya berkerut heran.

Agnia menaikkan sebelah alisnya, menghentikan gerak tangannya. "Tahu soal apa ya, Pak?" tanyanya.

Pak Joko menghela napas pendek, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar area parkir sebelum kembali menatap Agnia dengan raut prihatin. "Mbak Reyna kan sudah tidak bekerja di sini lagi sejak tiga hari yang lalu, Mbak," jawabnya.

Kata-kata itu meluncur tenang, namun dampaknya bak hantaman keras yang membuat Agnia membeku seketika, tangannya yang memegang kantong makanan mendadak terkulai pelan di atas meja pos.

"Gimana, Pak? Tidak bekerja lagi?" ulang Agnia dengan nada tidak percaya.

"Iya, Mbak," jawab Pak Joko.

"Bapak salah orang kali... Reyna, Pak. Reyna yang di bagian administrasi, semalam dia baru saja teleponan sama saya dan bilang kalau pekerjaan kantornya lagi banyak-banyaknya!" ucap Agnia.

Pak Joko menggelengkan kepala dengan tegas, "Nggak salah, Mbak. Saya tahu betul Mbak Reyna. Tiga hari yang lalu, pas jam kerja pagi, ada keributan cukup besar, Mbak Reyna berdebat sama Bu Sandra. Nggak lama setelah itu, Mbak Reyna turun sambil bawa semua barang-barang pribadinya di tas ransel dan pamitan sama saya di depan pos ini sambil tersenyum, bilang kalau dia sudah dipecat dan tidak kerja di sini lagi," jelasnya.

Darah Agnia rasanya mendadak berdesir hebat. Rasa terkejut yang luar biasa menyengat dadanya, beradu dengan gelombang amarah dan kepedihan yang membuncah secara bersamaan. Alasan pekerjaan menumpuk yang diucapkan Reyna semalam seketika runtuh, berganti dengan kenyataan pahit bahwa sahabatnya telah memikul penderitaan hebat itu sendirian tanpa berbagi cerita sedikit pun padanya.

"Dipecat?" gumam Agnia, suaranya bergetar menahan luapan emosi.

Tanpa membuang waktu lagi, Agnia merogoh ponselnya dari dalam tas. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia mencari nama kontak Reyna dan langsung melakukan panggilan suara. Agnia menempelkan ponsel itu erat-erat ke telinganya, menanti nada sambung yang terus berdering nyaring.

Tut... tut... tut...

Satu kali panggilan berdering hingga terputus secara otomatis tanpa ada jawaban, Agnia menekan tombol panggil ulang. Sekali lagi, hanya suara nada sambung monoton yang menyapa pendengarannya hingga panggilan kedua kembali mati.

"Reyna... angkat dong...," gumam Agnia panik dan matanya mulai memerah menahan kekesalan sekaligus kekhawatiran yang teramat sangat atas apa yang sedang dialami sahabatnya itu.

.

.

.

Bersambung.....

1
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
Aidil Kenzie Zie
kok jawabnya terserah sich Dikta biar nggak ada yang curiga ya kalo ternyata ente emang udah ada rasa
Felycia Fernandez
pernah denger sih mie ini,katanya enak banget khas wonosobo
Felycia Fernandez: ntar kk Thor aku cobain kalau ada perjalanan ke daerah sana👍
total 2 replies
lia juliati
bonus 1 update tor😍
lia juliati
bumbu anton seru nih tor😄
Rizky Manik
makin seru ni pdkt antara Dikta sama reyna🤭
lanjut thor
lia juliati
biarin anton deketin Reyna tor.... biar ada bumbunya🤭
Rizky Manik
lanjut thor🙏
Rizky Manik
yakin Dikta gkmau pacaran? jangan2 nnti langsung nikah aja yakan🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!