Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni Keluarga di Ujung Ledakan dan Kode Genetik Omega

00:25... 00:24... 00:23...

Suara alarm bom berdecit nyaring, memecah kesunyian ruangan penthouse yang beraroma lavender dan darah kematian Antonius. Di layar komputer, wajah Madam Elena—wanita yang seharusnya sudah bersemayam di liang lahat selama satu dekade—masih menatap mereka dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki.

Siska, agen elit yang tidak pernah gentar menghadapi todongan senjata seratus musuh sekaligus, mendadak membeku di tempatnya. Napasnya tercekat. Bola matanya melebar menatap layar monitor.

“Ibu...?” bisik Siska, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru suara hitung mundur digital. “Itu... tidak mungkin. File otopsi kematianmu di Berlin diverifikasi oleh Interpol dan CIA sepuluh tahun lalu!”

“Waktu lu buat ngobrol sama almarhumah nyokap bisa disambung nanti lewat Zoom meeting, Sis! Ini waktu kita sisa belasan detik sebelum kita jadi serpihan debu kosmik!” teriak Gala histeris. Jurnalis itu melompat-lompat panik di atas karpet mahal sambil memegang jubah mandinya erat-erat. “WOI! Kalau kita mati gosong di sini, berita kematian kita pasti ditaruh di halaman dua koridor gosip, bukan halaman utama! Gue nggak mau tanda jasa anumerta gue judulnya 'Jurnalis Lebay Tewas Berbalut Handuk Spa'!”

00:12... 00:11... 00:10...

Senja tidak membuang waktu sedetik pun. Melihat Siska yang masih shock, Senja langsung melompat menerjang, menarik lengan Siska dan menyeret tubuh agen berdarah dingin itu bersama Gala masuk ke dalam lorong rahasia di balik dinding perpustakaan yang baru saja terbuka.

“Masuk! Cepat!” bentak Senja.

Mereka bertiga melompat masuk berguling-guling ke dalam lorong gelap gulita tepat saat detik terakhir tercapai di layar.

BOOOOOOMMMMM!!

Ledakan dahsyat dari lima puluh kilogram bahan peledak C-4 yang dipicu oleh detak jantung mayat Antonius menghancurkan seluruh lantai atas penthouse resor spa tersebut. Gelombang kejut api dan angin panas mendesak dari belakang, mendorong tubuh Senja, Gala, dan Siska meluncur menuruni seluncuran baja darurat bawah tanah dengan kecepatan luar biasa.

KBRUK!

Mereka mendarat dengan tidak elegan di atas tumpukan matras pelindung otomatis di sebuah fasilitas bawah tanah yang luas, steril, dan berkilau kebiruan. Di atas kepala mereka, langit-langit penthouse runtuh menimbun reruntuhan beton dan puing-puing berapi, menutup rapat pintu masuk dan mengubur jejak mereka dari dunia luar.

Gala terkapar menelungkup, terbatuk-batuk mengeluarkan debu putih dari paru-parunya. Ia meraba tubuhnya sendiri satu per satu. “Eh... tulang gue masih utuh? Sumpah, gue tadi ngerasa nyawa gue udah melayang lewat tenggorokan.”

Senja bangkit berdiri, menepis debu di jubah mandinya, lalu segera mengarahkan senapannya ke sekeliling ruangan.

Mereka kini berada di dalam sebuah laboratorium bawah tanah bergaya futuristik yang jauh lebih besar dan canggih daripada Bunker Alpha-Zero di Gunung Salak. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca kuarsa tebal, menampilkan barisan tabung kriogenik raksasa berisi cairan hijau bercahaya, dengan kabel-kabel optik yang melintang di sepanjang langit-langit layaknya urat nadi raksasa.

Siska bangkit perlahan. Wajahnya pucat pasi, namun sorot mata kepedihannya telah berubah menjadi amarah dingin yang mematikan. Ia berjalan mendekati konsol terminal pusat yang menyala otomatis menyambut kedatangan mereka.

Di layar terminal besar itu, wajah Madam Elena kembali muncul secara langsung (live).

“Pendaratan yang cukup dramatis, Siska,” suara Madam Elena menggema lembut melalui speaker ruangan, bernada keibuan namun menyimpan otoritas yang mengerikan. “Ibu bangga melihat refleks taktis putrimu tidak tumpul meskipun kau sempat pensiun mengurus organisasi murahan milik keluarga Broto itu.”

Siska mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap tajam ke arah kamera pengintai di sudut ruangan. “Jangan panggil aku putrimu, Elena! Kau memalsukan kematianmu sepuluh tahun lalu, membiarkan aku hidup dalam bayang-bayang trauma pembunuhan yang kau rekayasa sendiri, dan sekarang kau muncul sebagai dalang di balik kekacauan Vanguard? Apa sebenarnya yang kau inginkan?!”

Madam Elena di balik layar menghela napas pelan, menampilkan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.

“Vanguard hanyalah alat, Siska. Begitu juga dengan Victor, dan begitu pula mendiang Sersan Broto,” jawab Elena tenang. “Organisasi-organisasi itu diciptakan hanya untuk menyaring manusia-manusia terkuat di dunia. Tapi tujuan akhir kita jauh lebih besar daripada sekadar uang atau kekuasaan politik.”

Gala merangkak mendekati Siska, berbisik dengan nada ngeri. “Sis... nyokap lu ini aliran sekte sesat apa agen rahasia galaksi sebelah, sih? Ngomongnya udah kayak penjahat di film James Bond angkatan pertama.”

Senja melangkah maju, memegang bahu Siska untuk menenangkan rekannya, lalu menatap lurus ke arah layar. “Kalau Vanguard dan ayahku cuma alat, apa arti koper Protokol Broto dan data-data yang kami bawa selama ini? Jangan berputar-putar lagi, Elena. Katakan apa tujuanmu yang sebenarnya!”

Madam Elena tersenyum tipis. Jari-jarinya di layar mengetuk konsol, membuka sebuah file rahasia dengan tingkat enkripsi tertinggi yang belum pernah dilihat sebelumnya: PROYEK OMEGA: KODE GENETIK KEHANCURAN.

“Ayahmu, Broto, tidak pernah berniat menghancurkan seluruh sistem, Senja,” kata Elena dengan suara yang mendadak berubah serius dan dingin. “Dia menyembunyikan kunci terakhir di dalam darahmu. Koper itu bukan sekadar alat transfer kekayaan, melainkan kunci biometrik untuk mengaktifkan 'Sistem Othelo'—sebuah jaringan kendali satelit global yang dapat mematikan seluruh infrastruktur digital dunia dalam waktu sepuluh detik.”

Elena menatap tajam ke arah Senja.

“Dan kunci itu... hanya bisa aktif jika darah dari keturunan Broto disatukan dengan sampel biologis dari garis keturunan pendiri asli Vanguard yang tersisa... yaitu Siska.”

Seketika, suasana di dalam laboratorium bawah tanah itu menjadi senyap total.

Gala menoleh bergantian antara istrinya dan Siska. Otak jurnalisnya berputar keras mencerna kalimat tersebut. “Tunggu... tunggu sebentar! Maksud lo... Senja sama Siska itu... punya hubungan darah? Atau bagian dari eksperimen yang sama?!”

Siska sendiri terpaku, menatap Senja dengan keterkejutan yang luar biasa. Selama ini, Siska mengira hubungannya dengan Senja hanyalah sebatas takdir pelindung dan target perlindungan.

“Itu... tidak mungkin,” ucap Siska lirih. “Ibu tidak pernah mengatakan hal itu di catatan pelatihan agen!”

“Tentu saja tidak, Siska,” suara Madam Elena mendadak terdengar berdengung aneh, seolah sinyal transmisinya sedang disadap dari lokasi yang sangat jauh. “Karena arsip asli tentang asal-usul kalian berdua disembunyikan di balik protokol terdalam pangkalan ini. Dan sekarang... kalian berdua telah masuk ke dalam perangkap yang sempurna.”

KLIK! KLIK! KLIK!

Tiba-tiba, seluruh pintu keluar di laboratorium bawah tanah itu menutup rapat dengan bunyi deru hidrolik yang berat. Lampu-lampu biru berubah menjadi merah menyala, dan di dinding-dinding kaca kuarsa, semburan gas putih mulai mendesis keluar memenuhi ruangan.

“Gas bius! Tahan napas kalian!” teriak Senja sambil menarik kerah baju Gala dan menutup hidungnya menggunakan kain jubah mandi.

Siska mencoba menembakkan senapannya ke panel kendali utama, namun sistem pertahanan otomatis ruangan langsung menembakkan laser pertahanan yang melelehkan senjata Siska seketika.

“Sistem ini dikendalikan dari jarak jauh menggunakan enkripsi tingkat militer yang tidak bisa dibobol!” seru Siska panik, matanya mulai berkunang-kunang karena menghirup sisa gas yang merembes masuk.

Gala yang mulai kehilangan kesadaran, merosot jatuh ke lantai sambil memegang kepalanya. “Sumpah ya... kalau habis ini gue bangun dan kita diculik alien, gue bakal nulis artikel komplain paling pedas di koran nasional...”

Sebelum kesadaran mereka benar-benar hilang sepenuhnya, sesosok bayangan tinggi berjas hitam melangkah keluar dari balik tabung kriogenik raksasa di ujung ruangan. Wajah bayangan itu tertutup topeng perak bermotif rajawali, tersenyum menyeringai di balik kabut gas putih.

Dan kalimat terakhir yang didengar Senja sebelum dunianya menjadi gelap gulita adalah suara bisikan dingin dari sosok bertopeng tersebut:

“Selamat tidur, anak-anakku. Permainan baru saja dimulai.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!