Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 : Trik interogasi ala preman
Kaisar Yan melompat turun dari atas kuda perang hitamnya dengan gerakan yang sangat gagah. Jubah zirah ringannya gemerincing saat melangkah mendekati Ara. Sepasang mata elangnya menatap bergantian antara kelima pembunuh yang terikat tak berdaya dan wajah santai Permaisurinya. Para pengawal kekaisaran yang baru tiba di belakang Kaisar langsung mengepung area tersebut dengan tombak terhunus, wajah mereka dipenuhi ekspresi syok yang amat pekat.
"Kaisar... mereka... mereka adalah anggota dari Organisasi Belati Hitam, sekelompok pembunuh bayaran bayaran yang sangat terkenal di wilayah luar!" bisik salah satu jenderal senior setelah memeriksa tato di pergelangan tangan salah satu pembunuh yang pingsan.
Kaisar Yan tidak merespons ucapan jenderalnya. Pandangannya tetap terkunci pada Ara. "Xia Ruo. Kau benar-benar merobohkan mereka semua sendirian? Tanpa satu pun luka?"
Ara memutar bola matanya malas, lalu menepuk-nepuk debu imajiner di lengannya. "Udah liat buktinya kan, Mas Bro? Lagian gerakan mereka ketebak banget, lambat kayak siput keseleo. Di tongkrongan gua yang dulu, bocah SMP aja gerakannya lebih lincah dari ini."
Kaisar Yan menyipitkan mata, mengabaikan istilah 'bocah SMP' yang lagi-lagi terdengar asing di telinganya. Dia melangkah mendekati pemimpin pembunuh yang hidungnya sudah miring akibat pukulan Ara. Pria berbaju hitam itu mendongak, menatap Kaisar Yan dengan tubuh gemetaran, meskipun mencoba berlagak tangguh.
"Kaisar Yan... bunuh saja kami. Kami tidak akan pernah membocorkan siapa yang menyewa kami. Anggota Belati Hitam lebih memilih mati daripada mengkhianati klien!" desis si pemimpin pembunuh dengan sisa-sisa keberaniannya.
Kaisar Yan menarik pedang gioknya setengah jalan, siap untuk melakukan penyiksaan fisik. Namun, sebelum mata pedang itu menyentuh kulit sang pembunuh, Ara mendadak maju dan menepis pelan tangan Kaisar Yan.
"Bentar, Mas Bro. Kalau pake gaya lu yang kuno begitu mah lama. Main potong-potongan daging doang mah kagak bakal bikin mereka takut, mereka kan emang udah pasrah mati," sela Ara ceplas-ceplos.
Kaisar Yan menaikkan sebelah alisnya, merasa tertarik. "Lalu, kau punya cara yang lebih baik, Permaisuri?"
Ara menyeringai licik. Dia berjalan mendekati si pemimpin pembunuh, lalu berjongkok di depannya. Tangan kanannya dengan santai meraba ikat pinggang si pembunuh dan mengeluarkan sebotol kecil cairan hitam—racun yang tadi hendak mereka gunakan. Ara membuka tutup botol itu, lalu mengayun-ayunkannya di depan wajah si pemimpin pembunuh.
"Denger ya, Mas Bro Berbaju Hitam," ucap Ara dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut namun terdengar sangat psikopat. "Gua tahu lu kagak takut mati karena tebasan pedang. Tapi... gimana kalau gua kagak bunuh lu? Gimana kalau gua paksa lu minum racun lu sendiri, tapi cuma setetes? Racun ini kan bikin tubuh melepuh perlahan, kan?"
Si pemimpin pembunuh menelan ludah, matanya mulai bergetar.
"Terus, setelah lu cacat dan mukanya hancur, gua bakal lepasin lu. Gua bakal sebar rumor ke seluruh kekaisaran kalau lu udah bocorin semua rahasia Organisasi Belati Hitam ke Kaisar, dan lu dikasih hadiah uang banyak makanya dilepasin," lanjut Ara, senyumannya makin melebar. "Kira-kira... apa yang bakal dilakuin sama bos organisasi lu atau temen-temen lu saat ngeliat lu idup sendirian sementara yang lain mati? Lu bakal diburu kayak tikus got sama komunitas lu sendiri, dan keluarga lu di kampung juga kagak bakal aman. Bener kagak?"
Mendengar trik interogasi psikologis modern dari Ara, wajah si pemimpin pembunuh langsung berubah menjadi putih pucat seputih kain kafan. Ini jauh lebih kejam daripada hukuman mati! Ini adalah penghancuran reputasi dan hidup secara total! Bahkan Kaisar Yan dan para jenderal di belakangnya sampai tertegun, tidak menyangka seorang wanita bisa memikirkan taktik sekejam dan secerdik itu tanpa menumpahkan darah.
"Ja-jangan... jangan lakukan itu!" jerit si pemimpin pembunuh, pertahanan mentalnya runtuh seketika dalam satu menit. "Saya akan bicara! Saya akan bicara! Kami disewa oleh pelayan pribadi Kediaman Wang! Menteri Wang yang memberikan emasnya untuk melenyapkan Permaisuri di hutan ini!"
Suasana di tengah hutan itu mendadak menjadi sangat dingin. Nama 'Menteri Wang' yang keluar dari mulut pembunuh itu membuat para pengawal kekaisaran langsung menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa ini adalah pusaran konflik politik tingkat tinggi.
Ara bangkit berdiri, lalu menepuk telapak tangannya dengan puas ke arah Kaisar Yan. "Tuh, kan, bener dugaan gua. Si paman tambun paman si uler kadut baju pink itu emang beneran minta digulung. Gimana, Mas Bro Kaisar? Buktinya udah jelas, kan? Mau langsung kita giles sekarang?"
Kaisar Yan menatap Ara dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa kagum yang amat pekat. Senyuman miring andalannya terukir sangat jelas di wajah tampannya. "Kerja bagus, Permaisuriku. Ternyata kecerdasanmu jauh lebih berbahaya daripada kekuatan fisikmu."
Pria penguasa dingin itu kemudian berbalik ke arah pasukannya, suaranya menggelegar penuh otoritas mutlak. "Amankan para pembunuh ini! Acara berburu selesai. Hari ini, kita kembali ke istana untuk membersihkan beberapa tikus tanah yang sudah berani mengusik ketenangan Permaisuri!"
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣