Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Luar Benteng Es dan Munculnya Ujian Baru
Waktu berlalu begitu cepat di dalam isolasi damai Sekretariat Lembah Salju. Dua pekan penuh telah dihabiskan oleh Gu Yan-Zhi, Gu Chen, dan Gu Ruoxi untuk memusatkan seluruh perhatian pada latihan kultivasi, memperkuat fondasi tenaga dalam, serta menyelaraskan sinkronisasi elemen alam di dalam tubuh mereka.
Bagi Gu Yan-Zhi, keberhasilan menembus ambang batas ke Pemusatan Qi Tingkat Tiga membuka pintu pemahaman baru terhadap manuskrip kuno Kitab Pembalik Langit. Ia tidak hanya mampu mengendalikan distorsi ruang mikro dengan presisi yang jauh lebih tajam, tetapi juga mulai menguasai teknik dasar Langkah Bayangan Kosmik—sebuah ilmu gerakan kaki tingkat tinggi yang memungkinkan penggunanya melesat cepat bagaikan kilat keemasan tanpa meninggalkan jejak fisik di atas permukaan tanah atau salju.
Di sudut aula utama, Gu Chen juga menunjukkan kemajuan yang sangat membanggakan. Berkat konsentrasi Qi yang pekat di lembah pualam itu, kultivasi Gu Chen berhasil merangkak naik secara mantap ke tahap akhir Pemusatan Qi Tingkat Satu, memberikan ketahanan fisik yang cukup untuk menghadapi bentrokan jarak dekat. Sementara itu, Gu Ruoxi, meskipun tidak berfokus pada pertarungan langsung, mampu mengaktifkan kepekaan spiritual yang luar biasa, mendeteksi fluktuasi energi asing dari jarak yang cukup jauh—sebuah bakat alami langka yang sangat berguna sebagai sistem peringatan dini kelompok mereka.
Namun, ketenangan mutlak di dalam benteng es purba itu akhirnya mulaiikusik oleh sinyal-sinyal alam yang ditangkap oleh kepekaan Gu Ruoxi pada suatu pagi yang dingin.
Saat itu, matahari baru saja memancarkan sinarnya yang tipis di balik punggung bukit es utara. Gu Ruoxi yang sedang duduk bersila di dekat pintu masuk aula utama tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Napasnya sedikit memburu, dan ia segera bangkit berdiri, melangkah cepat menghampiri Gu Yan-Zhi yang sedang melatih pernapasan di dekat altar kosmik.
"Kakak..." panggil Gu Ruoxi dengan nada cemas, suaranya bergetar pelan. "Aku... aku merasakan riak fluktuasi Qi asing di luar celah tebing gerbang lembah. Jumlahnya tidak sedikit, dan energi mereka terasa jauh lebih padat serta tajam dibandingkan para pengintai Sekte Pedang Salju tempo hari."
Gu Yan-Zhi menghentikan sirkulasi energinya seketika. Ia membuka kedua matanya, memancarkan pendar keemasan lembut yang langsung mereda menjadi tatapan tajam penuh perhitungan. Di bahunya, Hu Yijie mendesis pelan, bulu putih di punggungnya meremang kaku sementara mata ambernya menatap lurus ke arah pintu keluar gua.
Tuan... mereka datang. Dan sepertinya mereka bukanlah kelompok penjelajah biasa yang tersesat, suara telepati Hu Yijie bergema dengan nada memperingatkan.
Gu Yan-Zhi bangkit berdiri perlahan. Ia merapikan jubah hitamnya, lalu menatap Gu Chen yang langsung sigap menggenggam senjata tongkat besi tempa yang selalu ia bawa selama perjalanan.
"Tenanglah, Ruoxi," ucap Gu Yan-Zhi tenang, menyentuh pundak saudarinya lembut untuk meredakan ketegangannya. "Kita sudah menduga hari ini cepat atau lambat akan datang. Peningkatan kultivasi kita selama dua pekan terakhir tidak akan ada artinya jika kita tidak menguji ketangguhannya di medan pertempuran yang sesungguhnya."
Gu Chen menganggukkan kepalanya mantap. "Tuan muda benar. Biar aku dan Hu Yijie yang mengawasi bagian depan celah gerbang. Kami tidak akan membiarkan siapa pun menginjakkan kaki ke dalam aula utama ini dengan mudah."
"Tidak, Gu Chen," jawab Gu Yan-Zhi sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Faksi yang datang kali ini mengetahui persis ke mana arah jejak pelarian kita. Bersembunyi di dalam gua hanya akan membuat kita terjebak dalam posisi bertahan yang pasif. Kita keluar menyambut mereka."
Beberapa menit kemudian, ketiganya melangkah keluar melewati celah sempit dua dinding es raksasa yang menjadi gerbang utama Sekretariat Lembah Salju. Udara dingin pegunungan langsung menyergap wajah mereka, bercampur dengan bau amis darah yang terbawa oleh tiupan angin pagi.
Di dataran salju terbuka yang berada tepat di depan celah lembah, berdiri lima orang sosok berjubah tebal berwarna merah tua dengan sulaman benang emas berbentuk lambang api membara di bagian punggung. Atribut itu adalah tanda pengenal mutlak dari Keluarga Bai dari Cabang Utara—keluarga bangsawan saingan yang sejak awal berambisi menghabisi sisa-sisa garis keturunan Gu Yan-Zhi demi merebut kotak warisan pusaka leluhur.
Pemimpin rombongan tersebut adalah seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan bekas luka bakar melintang di sisi leher sebelah kiri. Namanya Bai Kun, seorang tetua tingkat menengah dari faksi cabang keluarga tersebut yang telah mencapai tahap Pemusatan Qi Tingkat Tujuh. Di sampingnya, berdiri dua orang pendekar bayaran tingkat enam dan dua orang pengintai muda yang memegang kompas spiritual penjejak energi.
Bai Kun menyipitkan matanya yang kecil, menatap tajam ke arah Gu Yan-Zhi yang melangkah keluar dari celah tebing dengan sikap tenang tanpa rasa gentar sedikit pun. Senyuman meremehkan dan kejam langsung menghiasi bibir tebal pria paruh baya itu.
"Wah, wah... lihat siapa yang bersembunyi di balik sarang tikus es ini!" suara Bai Kun melengking tajam memecah kesunyian lembah salju. Ia melangkah maju dua langkah, memancarkan tekanan aura Qi tingkat tujuh yang begitu berat hingga membuat permukaan salju di sekitarnya bergetar halus. "Gu Yan-Zhi, buronan cilik dari Klan Gu utama! Kau pikir dengan melarikan diri ke ujung dunia es yang membeku ini, kau bisa lepas dari cengkeraman hukuman keluarga besar kami?"
Gu Yan-Zhi berdiri tegak, tangannya bersidekap di dada dengan jubah hitam yang berkibar tenang diterpa angin dingin. Ia menatap rendah ke arah Bai Kun seolah-olah pria paruh baya di hadapannya itu bukanlah seorang kultivator tingkat tujuh yang mematikan, melainkan sekadar angin lalu yang tidak penting.
"Hukuman keluarga besar?" jawab Gu Yan-Zhi dengan nada suara yang dingin dan menusuk. "Kalian menyebut pembantaian licik, pengkhianatan internal, dan perampasan hak waris sebagai 'hukuman'? Tampaknya batas antara kebenaran dan kebejatan di dalam Klan Bai sudah lama runtuh total."
Wajah Bai Kun langsung memerah padam menahan amarah mendengar sindiran telak tersebut. Sebagai seorang tetua cabang yang terbiasa dihormati di wilayah kekuasaannya, mendengarnya dihina secara terang-terangan oleh seorang pemuda yang tingkat kultivasinya berada jauh di bawahnya adalah sebuah tamparan keras bagi harga dirinya.
"Bocah kurang ajar! Mulutmu memang masih setajam lidah ular meskipun nyawamu sudah berada di ujung tanduk!" bentak Bai Kun geram, urat-urat di lehernya menegang. "Serahkan kotak warisan pusaka leluhur dan gulungan teknik rahasia itu sekarang juga! Jika kau berlutut dan memohon pengampunan, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk memberi keluargamu kematian yang cepat tanpa rasa sakit!"
Gu Yan-Zhi tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan aura pembunuh yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk para pengawal di belakang Bai Kun meremang seketika.
"Kotak warisan itu ada di sini," ujar Gu Yan-Zhi sambil mengangkat tangan kanannya perlahan, menunjuk ke arah dadanya sendiri tempat Dantian dan jiwanya berada. "Jika kau menginginkannya, datang dan ambil sendiri dengan nyawamu sebagai taruhannya."
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Bai Kun meraung marah. Aura merah menyala membara meledak keluar dari tubuh kultivator tingkat tujuh itu, mencairkan salju di sekeliling kakinya dalam sekejap mata. Pertarungan hidup dan mati di tanah es yang putih bersih itu resmi dimulai, menguji sejauh mana batas kekuatan sang Jenderal Langit menghadapi amukan murka seorang tetua faksi besar Benua Dewa.