Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Pedang di Balik Bayangan
Pagi berikutnya, papan pertandingan semifinal ditempel di tepi Panggung Uji, memicu gumaman kaget dari sebagian besar murid yang berkumpul membacanya.
Lin Mu melawan Su Wan.
"Sudah kubilang aku tidak ingin kau jadi lawanku," Su Wan berkata sambil menghela napas panjang saat mereka berdua berdiri berdampingan membaca papan itu, nada suaranya setengah bercanda setengah kecewa sungguhan. "Nasib punya selera humor yang buruk."
"Kita bisa saling menghibur diri dengan berpikir salah satu dari kita pasti tetap masuk sepuluh besar," Lin Mu menjawab, mengangkat bahu tenang. "Panitia sudah mengumumkan penilaian gabungan antara hasil turnamen dan evaluasi tetua bagi mereka yang tersingkir di semifinal dengan performa luar biasa."
"Kita bisa saling menghibur diri dengan berpikir salah satu dari kita pasti tetap masuk sepuluh besar," Lin Mu menjawab, mengangkat bahu tenang. "Panitia sudah mengumumkan penilaian gabungan antara hasil turnamen dan evaluasi tetua bagi mereka yang tersingkir di semifinal dengan performa luar biasa."
"Benar juga," Su Wan tersenyum tipis, meski matanya tetap menyorotkan tekad yang tak berkurang sedikit pun. "Tapi aku tetap akan berusaha memastikan yang tersingkir adalah kau."
Pertandingan mereka dimulai tepat siang hari, disaksikan tribun yang kali ini jauh lebih ramai dibanding hari sebelumnya—kabar tentang gadis misterius dengan jurus ilusi cahaya yang mengalahkan tiga lawan berturut-turut telah menyebar luas, dan banyak yang penasaran bagaimana Lin Mu akan menghadapinya.
Begitu pertandingan dimulai, Su Wan segera mengaktifkan jurusnya—Seribu Bayangan Cahaya, teknik yang menciptakan puluhan bayangan dirinya sendiri yang tampak nyata sempurna, mengelilingi Lin Mu dari segala arah dalam kilatan cahaya yang membutakan mata sejenak.
Tribun bergumam kagum. Bahkan dari kejauhan, sulit membedakan mana Su Wan yang asli di antara lautan bayangan identik yang kini mengepungnya.
Namun Lin Mu tidak mengandalkan matanya.
Ia menutup mata sepenuhnya, mengingat kembali prinsip dasar yang baru-baru ini ia pelajari dari manuskrip Xuan Bo—Prinsip Pedang Tanpa Bentuk bukan sekadar filosofi tentang jurus, melainkan tentang bagaimana seorang kultivator sejati seharusnya "melihat" pertarungan bukan hanya lewat mata, melainkan lewat pemahaman menyeluruh atas aliran qi di sekitarnya.
Puluhan bayangan Su Wan mungkin identik secara visual, namun qi sesungguhnya hanya mengalir dari satu tubuh—sisanya sekadar cahaya kosong tanpa substansi.
Lin Mu merasakan aliran qi tipis namun nyata di antara lautan bayangan itu, bergerak perlahan ke arah barat daya panggung. Ia melangkah maju tanpa membuka mata, pecahan Penakluk Fajar terangkat siap, mengikuti jejak qi itu dengan presisi yang membuat seluruh tribun menahan napas.
Su Wan—yang asli—tersentak kaget saat menyadari Lin Mu bergerak lurus ke arahnya, seolah sanggup melihat menembus ilusinya sendiri.
"Bagaimana—" Ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Pecahan Penakluk Fajar sudah berhenti tepat di depan lehernya, seluruh bayangan yang mengelilingi mereka lenyap seketika begitu konsentrasinya terganggu.
"Ilusi visualmu memang sempurna," Lin Mu berkata, membuka matanya kembali, menurunkan pedangnya perlahan. "Tapi qi tidak pernah bisa benar-benar berbohong pada seseorang yang tahu cara mendengarkannya."
Su Wan terdiam sesaat, menatap Lin Mu dengan campuran kekaguman dan sedikit rasa tidak percaya, sebelum akhirnya tertawa kecil, geli sekaligus terkesan. "Aku menyerah. Sejujurnya, ini kekalahan yang paling menyenangkan yang pernah kualami."
Tribun meledak dalam sorak sorai, kagum menyaksikan cara Lin Mu mematahkan salah satu teknik paling sulit dipahami di antara seluruh peserta seleksi tahun itu.
Sore harinya, setelah seluruh babak semifinal dan penilaian tambahan selesai, dewan tetua sekte mengumumkan sepuluh nama resmi yang akan mewakili Sekte Awan Putih dalam Pertemuan Tiga Sekte, ditempel di papan utama di hadapan seluruh murid yang berkumpul menanti dengan tegang.
Nama Lin Mu tercantum di posisi pertama, diikuti Han Zhengyu di posisi kedua, dan—meski kalah di semifinal—Su Wan tetap masuk daftar di posisi ketiga berkat evaluasi tetua yang menilai teknik ilusinya sebagai aset berharga bagi tim, ditambah tujuh nama lain dari berbagai angkatan senior yang telah lama dikenal sebagai bakat-bakat terbaik sekte.
"Kita akan berlatih bersama sebagai satu tim mulai besok," Xuan Bo mengumumkan pada kesepuluh murid terpilih yang berkumpul di Aula Pedang malam itu, wajahnya penuh kebanggaan yang jarang ia tunjukkan. "Dua bulan tersisa sebelum keberangkatan ke wilayah netral perbatasan tiga sekte. Aku ingin kalian bukan hanya kuat secara individu, tapi juga memahami cara bertarung sebagai satu kesatuan—sebab beberapa cabang kompetisi di Pertemuan Tiga Sekte menuntut kerja sama tim, bukan sekadar pertarungan satu lawan satu."
Kesepuluh murid saling bertukar pandang, sebagian sudah saling kenal dari angkatan yang sama, sebagian lain—seperti Lin Mu—masih terasa asing bagi kebanyakan dari mereka. Namun malam itu, diikat oleh kebanggaan yang sama sebagai perwakilan terbaik sekte mereka, sebuah rasa persaudaraan baru mulai tumbuh perlahan di antara mereka.
Lin Mu berdiri di tengah kesepuluh murid itu, merasakan sesuatu yang telah lama tak ia rasakan sejak kejatuhannya tiga abad lalu—rasa memiliki tempat, rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri semata.
Tiga abad lalu, aku berdiri sendirian di puncak, terlalu tinggi untuk dijangkau siapa pun di sekitarku, pikirnya, menatap wajah-wajah baru di sekelilingnya yang dipenuhi semangat dan harapan yang sama. Mungkin kali ini, jalanku menuju puncak tidak harus ditapaki sendirian lagi.
semngat thor/Determined/