Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
***
Bulan ketiga bukanlah waktu yang menyembuhkan luka, melainkan masa di mana belati penghianatan dan penyesalan semakin menancap dalam di antara Kenzo dan Alana. Mansion Elard yang megah berdiri kokoh di atas bukit elit kota, namun di baliknya tersimpan sebuah neraka tak kasat mata yang perlahan-lahan menggerogoti kewarasan penghuninya.
Di dalam rumah itu, Alana tetap menjalankan perannya dengan sempurna. Ia adalah Nyonya Muda Elard yang diidamkan oleh siapa pun yang melihatnya—angun, cekatan, tidak pernah telat menyiapkan pakaian kerja suaminya, dan selalu memastikan setiap sudut rumah bersih tanpa cela. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, jiwa Alana telah lama mati.
Setiap kali malam beranjak larut dan lampu-lampu kamar utama diredupkan, Alana tidak pernah tidur dalam dekapan hangat penuh cinta. Dengan tatapan kosong yang menusuk, wanita itu justru adalah pihak yang pertama kali mendekati Kenzo. Tanpa senyuman, tanpa bisikan mesra, Alana akan menatap suaminya datar lalu berbisik, "Mas Kenzo, waktu penyatuan kita malam ini sudah tiba. Silakan tunaikan kewajiban kontrak."
Bagi Kenzo, kalimat itu adalah siksaan terkejam di muka bumi. Sentuhan yang seharusnya menjadi simbol cinta kini berubah menjadi ritual dingin penuh kepedasaan. Alana menyerahkan raganya tanpa perlawanan, namun ia menutup rapat hatinya, membuat setiap penyatuan di atas ranjang itu terasa bagaikan memeluk patung es yang bernapas. Kenzo sering kali menangis dalam diam setelah Alana jatuh tertidur lelah di sisinya, merasa dirinya adalah monster paling hina yang telah menghancurkan hidup wanita yang paling ia cintai.
Namun, penderitaan Kenzo di dalam rumah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan badai dahsyat yang menghantamnya di luar rumah—di lantai atas gedung pencakar langit Elard Corporation.
Pagi itu, ruang rapat utama Elard Corp terasa lebih mencekam daripada biasanya. Meja rapat panjang dari kayu mahoni dipenuhi oleh para anggota dewan direksi senior yang melipat tangan di dada dengan wajah masam. Di ujung meja, Kakek Elard dan sang ayah duduk bersidekap, sorot mata mereka dingin menghujam tajam ke arah Kenzo yang berdiri tegak di depan layar presentasi.
"Laporan kuartal ini benar-benar mengecewakan, Kenzo!" bentak Pak Darmawan, salah satu direktur senior yang memegang saham minoritas terbesar, sambil melemparkan berkas laporan keuangan ke atas meja. Suaranya menggema keras di ruang rapat yang kedap suara itu. "Margin keuntungan perusahaan kita merosot drastis hingga dua puluh persen! Proyek properti di Sukatani mangkrak akibat masalah hukum kemarin, dan para investor mulai kehilangan kesabaran!"
Kenzo mengepalkan kedua tangannya di balik meja, menahan gejolak emosi yang hampir meledak di dadanya. Wajahnya tampak kuyu, cerminan dari malam-malam panjang tanpa tidur yang ia lalui bersama rasa bersalahnya terhadap Alana.
"Krisis kemarin berhasil kita selesaikan, Pak Darmawan. Kepolisian sudah membersihkan sindikat penadah di pabrik Sukatani, dan operasional sedang kita genjot kembali untuk mengejar ketertinggalan," jawab Kenzo dengan suara bariton yang berusaha ia tenangkan, meski rahangnya mengeras.
"Alasan!" potong sang Ayah tajam dari ujung meja. Suara pria paruh baya itu penuh dengan kekecewaan yang tidak ditutup-tutupi. "Dewan direksi tidak mau tahu alasanmu! Kami menuntut peningkatan keuntungan minimal tiga puluh persen sebelum akhir bulan ini. Jika target itu tidak tercapai, para pemegang saham mayoritas sudah sepakat... kami akan benar-benar menjual seluruh saham kami secara massal dan menjatuhkan nilai perusahaan di pasar bebas!"
Ancaman itu menghantam Kenzo bagaikan hantaman palu besar. Aksi dumping saham secara drastis oleh dewan direksi sendiri berarti kehancuran total bagi Elard Corp—perusahaan yang dibangun oleh keringat leluhur mereka selama puluhan tahun.
Seorang direktur lain, Pak Hendra, bersuara dengan nada dingin merendahkan. "Sejak kamu membawa gadis itu ke mansion dan menikahinya demi kontrak bodoh yang merusak reputasi keluarga, fokusmu di perusahaan menurun drastis, Kenzo. Kamu sibuk mengurus rumah tangga yang berantakan ketimbang menyelamatkan perusahaan ini. Jika kamu tidak mampu memimpin, mundur dari kursi CEO!"
Suasana di ruang rapat mendadak sunyi mencekam. Kakek Elard yang sejak tadi bergeming akhirnya mengangkat wajahnya, menatap cucu tunggalnya dengan sorot mata yang penuh tekanan psikologis luar biasa.
"Kenzo," suara kakek terdengar parau namun penuh otoritas mutlak. "Darah Elard mengalir di tubuhmu. Jangan biarkan urusan wanita melemahkan singgasanamu. Kakek memberi waktu dua minggu. Pulihkan keuntungan perusahaan, atau hadapi konsekuensi kehilangan segalanya—termasuk kendali atas mansion tempat tinggalmu."
Rapat bubar dengan ketegangan yang pekat. Para direktur meninggalkan ruangan satu persatu dengan tatapan sinis, meninggalkan Kenzo seorang diri di tengah ruangan yang terasa semakin sempit dan menyesakkan.
Pukul sebelas malam, Kenzo baru tiba kembali di Mansion Elard. Langkah kakinya terasa sangat berat menapaki lantai marmer ruang depan. Jas kerjanya tersampir di lengan, sementara dasinya sudah longgar melingkar di leher. Ia merasa berada di ujung jurang kehancuran; di kantor ia diancam kehilangan perusahaan, dan di rumah ia hidup dalam bayang-bayang dinginnya kebencian Alana.
Begitu ia membuka pintu kamar utama, ia mendapati Alana tengah duduk di tepi ranjang dengan mengenakan gaun tidur sutra putih, menunggunya dalam keheningan. Di atas nakas, deretan botol vitamin dan ramuan herbal masih tertata rapi—bukti kepatuhan mutlak yang justru menyiksa batin Kenzo.
Alana menoleh perlahan. Matanya menatap Kenzo tanpa binar kehidupan.
"Kamu pulang terlambat malam ini, Mas Kenzo," ujar Alana dengan suara datar tanpa ekspresi. Ia berdiri perlahan, melangkah mendekati suaminya. "Apakah ada masalah besar di perusahaan? Atau... apakah kamu sedang memikirkan cara bagaimana mengusir saya jika perusahaan keluargamu benar-benar hancur?"
Kenzo tertegun, menatap lekat-lekat wanita yang berdiri di hadapannya. Rasa lelah yang teramat sangat, ditambah tekanan dari dewan direksi dan kakeknya, mendadak membuat pertahanan batin Kenzo runtuh seketika.
"Darimana... darimana kamu tahu soal perusahaan?" suara Kenzo parau, nyaris berbisik.
Alana tersenyum tipis—senyuman sinis yang sangat dingin. "Berita bisnis bergerak cepat, Mas. Istri simpanan di kontrak ini pun tahu kalau perusahaan keluarga Elard sedang di ujung tanduk karena ketidakmampuan CEO-nya." Alana mengulurkan tangan, meraih ujung kemeja Kenzo dengan jemarinya yang lentik namun sedingin es. "Tapi tenang saja. Kontrak kita masih berlaku. Sebelum perusahaan ini hancur, dan sebelum kamu kehilangan segalanya... jalankan dulu kewajibanmu malam ini di atas ranjang."
Mendengar kata-kata itu, ketahanan terakhir di dalam diri Kenzo hancur berkeping-keping. Pria tegap itu tidak lagi mampu menahan air matanya. Ia jatuh berlutut di lantai hadapan Alana, membenamkan wajahnya pada lipatan gaun istrinya sambil terisak keras.
"Alana... kumohon... hentikan ini..." isak Kenzo pilu, bahunya bergetar hebat. "Hukum aku, caci maki aku, pukul aku kalau kamu mau! Tapi jangan perlakukan aku seperti ini... Jangan bunuh jiwamu perlahan-lahan di hadapanku. Aku lebih baik mati daripada harus melihatmu menjadi boneka es setiap malam!"
Alana menunduk, menatap pria yang selama ini diagungkan sebagai penguasa korporasi kini bersimpuh menangis di kakinya. Tidak ada rasa iba di matanya, yang ada hanyalah kehampaan yang teramat luas. Dengan gerakan lambat, Alana melepaskan cengkeraman tangan Kenzo dari gaunnya.
"Bangkit, Mas Kenzo," bisik Alana dingin tanpa emosi. "Seorang CEO tidak boleh menangis di lantai. Dan sebagai Nyonya Elard... saya sedang menunggu di atas ranjang."
Bersambung ....
kann, kaya gini aja baru nyesell huhuhu