Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Pagi harinya, suasana rumah megah itu kembali tenang setelah hiruk-pikuk keberangkatan anak-anak ke sekolah surut. Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos sela-sela pepohonan rindang di halaman belakang, membiaskan kilau keemasan di atas permukaan air kolam renang yang tenang.
Aku duduk bersandar di salah satu kursi santai berbahan rotan sintetis di tepi kolam. Pagi ini, aku mengenakan home-dress berbahan satin halus berwarna abu-abu mutiara yang menjuntai anggun, dipadukan dengan hijab instan bahan chiffon senada yang terpasang rapi. Di tanganku, sebuah cangkir porselen berisi teh herbal hangat menguapkan aroma melati yang menenangkan. Tidak ada riasan tebal, hanya ketenangan alami dan keanggunan tiada tanding dari seorang wanita yang memegang kendali penuh atas hidupnya.
Denting sepatu pantofel di atas lantai granit memecah kedamaian pagi. Gibran melangkah mendekat dengan setelan kemeja kerja tanpa jas, membawa dua lembar kertas berkas yang terlipat rapi. Raut wajahnya penuh bayang-bayang kelelahan, matanya menghitam menandakan pria itu tidak bisa tidur nyenyak semalam akibat gertakanku di ruang tamu.
Ia tidak langsung duduk. Gibran berdiri di dekat meja kaca, menatapku yang masih sibuk menyesap teh hangat tanpa sedikit pun terganggu oleh kehadirannya.
"Kirana," panggil Gibran dengan suara serak, mencoba menurunkan intonasinya serendah mungkin. "Kita perlu bicara. Secara dewasa."
Aku meletakkan cangkir porselenku di atas tatakan dengan gerakan yang sangat halus, lalu mendongak menatapnya santai. "Bicara soal apa lagi, Mas? Bukannya semua sudah jelas semalam?"
Gibran menghela napas panjang, menarik kursi di hadapanku lalu duduk kaku. Pria yang biasanya selalu bertindak arogan sebagai CEO itu kini menunjukkan gestur tubuh yang sedikit menunduk,sebuah pertanda bahwa ia sedang mencoba bernegosiasi.
"Soal gugatan perceraian kedua yang sedang disiapkan pengacaraku," ujar Gibran ragu, matanya menatap lurus ke dalam manik mataku. "Aku tahu kamu semalam cuma emosi. Kita tidak perlu membawa masalah rumah tangga ini sampai heboh di media atau pengadilan umum. Itu cuma bakal merusak nama baikku dan mengganggu mental Kayla sama Evan."
Aku terkekeh pelan sebuah tawa kecil yang sangat manis namun terasa amat dingin di telinga Gibran.
"Oh, sekarang kamu baru ingat soal mental anak-anak, Mas?" sindirku halus, menyunggingkan senyuman miring. "Bukannya kemarin-kemarin kamu cuma sibuk memikirkan bagaimana caranya melegalkan wanita simpananmu itu?"
Wajah Gibran mengetat, namun ia berusaha menahan amarahnya demi kelancaran negosiasi ini.
"Sebutkan apa mau kamu, Kirana," potong Gibran langsung pada intinya, memajukan tubuhnya ke depan meja. "Katakan apa yang kamu inginkan supaya kamu mau menyetujui gugatan cerai ini dan menandatangani berkasnya tanpa perlu ada drama di pengadilan! Kamu mau rumah ini? Rumah atas nama kamu. Kamu mau mobil baru? Aku belikan. Uang pesangon cerai? Sebutkan nominalnya. Berapa ratus juta atau berapa miliar yang kamu mau? Aku turuti, asal kamu mau melepaskan aku secara baik-baik!"
Tawaran yang terkesan sangat fantastis bagi sebagian wanita. Namun bagiku, tawaran itu tak lebih dari remah-remah sampah yang dilemparkan seorang pria curang yang sedang panik.
Gibran tidak tahu bahwa di belakang panggung ini, orang bayaran yang kusewa secara rahasia sedang bekerja ekstra keras melacak seluruh aset tersembunyi yang ia miliki mulai dari saham atas nama pihak ketiga, kavling tanah atas nama Melani, hingga rekening rahasia luar negeri. Aku butuh waktu. Aku harus tetap bertahan di rumah ini sebagai istri sah agar proses pelacakan aset itu tuntas tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dan yang paling penting: aku ingin melihat sejauh mana pria ini sanggup bertahan dalam jerat kebohongannya sendiri. Aku ingin menguras habis hartanya sampai ia tak punya sepeser pun tersisa untuk memanjakan wanita simpanannya.
Aku menyandarkan punggungku anggun ke sandaran kursi, mengusap jemariku yang dihiasi cincin pernikahan kami yang masih melingkar manis cincin yang sebentar lagi akan menjadi saksi kehancurannya.
"Aku menolak," jawabku singkat, tenang, dan sangat tegas.
Gibran membelalak kaget. "Apa?!"
"Aku menolak tawaran negosiasimu, Mas. Dan aku menolak untuk diceraikan," ulangku dengan intonasi mengayun yang teramat mantap. "Aku tidak akan pernah menandatangani surat gugatan cerai itu, baik yang pertama, kedua, maupun yang keseratus."
"Kirana, kamu gila?!" bentak Gibran, kesabarannya yang setipis benang akhirnya putus seketika. Pria itu berdiri mendadak, menepuk meja kaca hingga cangkir tehku bergetar. "Kenapa kamu sekeras kepala ini, hah?! Apa yang sebenarnya kamu pertahankan dari pernikahan yang sudah hancur ini?."
Aku mendongak, menatap matanya yang memerah padam dengan pandangan datar tanpa ada sedikit pun getar ketakutan.
"Aku tidak mempertahankan pernikahan ini, Mas," balasku dingin. "Aku cuma mempertahankan hakku sebagai istri sah."
"Hak apa?!" sergah Gibran dengan gurat frustrasi yang teramat amat memuncak di wajahnya. Ujung jarinya menunjuk tepat di depan wajahku. "Paham tidak sih kamu, Kirana?! Aku itu sudah tidak cinta lagi sama kamu! Aku sudah tidak ada rasa sedikit pun sama kamu! Paham?."
Kalimat aku sudah tidak cinta lagi itu bergema kasar di area tepi kolam renang yang sepi.
Dalam hati, aku tersenyum sinis mendengarnya. "Siapa juga yang masih sudi mencintaimu, Mas? Rasa cintaku padamu sudah mati dan membusuk sejak kamu pertama kali menyentuh wanita lain di belakangku."
Bagi wanita biasa, kalimat itu mungkin akan meremukkan hati dan memicu derai air mata. Namun bagiku, kata-kata itu tak lebih dari angin lalu yang makin memperkuat tekadku untuk menghancurkannya secara perlahan.
Aku bangkit berdiri dari kursi santaiku dengan gerakan sangat anggun. Aku merapikan lipatan gaun satin abu-abuku, menatap Gibran dari atas ke bawah dengan pendar mata yang penuh penghinaan paling halus.
"Perasaanmu bukan urusanku lagi, Mas," bisikku pelan namun menusuk ulu hatinya. "Mau kamu cinta atau tidak, kenyataannya sampai detik ini di mata hukum agama dan negara, aku adalah satu-satunya istri sahmu. Dan selama aku belum ingin melangkah pergi, kamu tidak akan pernah bisa menjadikan wanita lain sebagai Ratumu."
Gibran mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga tubuhnya gemetar kaku. Napasnya memburu, mukanya merah padam ditelan rasa kebas dan kekalahan telak. Gertakan hukum gagal, tawaran uang miliaran pun mentah di hadapanku. Ia sadar betul bahwa dirinya sedang terkunci di dalam perangkap yang kubuat sendiri.
"Kamu bakal menyesal dengan keputusan konyol ini, Kirana!" desis Gibran penuh kebencian yang meluap.
Tanpa menunggu balasan dariku, Gibran memutar tubuhnya kasar. Ia menyambar tas kerjanya di atas meja lalu melangkah pergi meninggalkan area kolam renang dengan hentakan kaki yang amat gusar menuju mobil dinasnya untuk berangkat ke kantor.
Aku berdiri mematung di tepi kolam, memandangi punggung pria itu yang kian menjauh dan menghilang di balik belokan lorong rumah.
Cahaya matahari pagi membelai lembut wajahku. Aku mengambil cangkir teh melatiku kembali, menyunggingkan senyuman puas yang teramat anggun dan penuh kemenangan.
"Harusnya..." gumamku lirih, membiarkan suara bisikanku menyatu dengan hembusan angin pagi yang sejuk, "...orang yang sudah berumur seperti kamu itu fokus merawat dan mendampingi anak-anak yang sudah beranjak remaja, Mas... Bukan malah sibuk kebelet mau kawin lagi."
Aku menyesap teh hangatku kembali dengan tenang. Pagi ini, skakmat negosiasi telah berhasil mendarat. Biarkan Gibran kelimpungan di kantornya dengan rasa frustrasi, sementara aku di sini terus menyusun strategi untuk mengambil alih seluruh takhta dan hartanya tanpa tersisa.
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....