Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 — Katanya Sudah Berhenti
Galeri mengabarkan salah satu lukisan Nara terjual pada Selasa pagi.
Pembeli yang sempat bertanya harga malam pameran akhirnya mengonfirmasi pilihannya. Setelah potongan komisi sesuai perjanjian, pembayaran akan masuk ke rekening Nara.
Ia membaca email itu sambil berdiri di dekat jendela.
Seharusnya ia menelepon Maya. Sahabatnya pasti akan berseru bahwa sudah dibilang lukisan itu akan laku, lalu menuntut traktiran kopi.
Nara membuka kontaknya, melihat percakapan terakhir tentang warna bingkai, dan tidak menekan panggil.
Ia membalas galeri terlebih dahulu.
Setelah itu, baru ia membuka pesan Adrian yang dibiarkan semalaman.
Jam dua. Di studio. Aku cuma mau bicara.
Jawaban datang ketika ia masih memegang ponsel.
Iya.
Nara mematikan layar.
Ia memilih jam siang. Percetakan buka, orang-orang bekerja, cahaya masuk dari jendela. Ia berharap suasana siang yang ramai bisa membantunya tetap membicarakan masalah mereka, bukan kembali larut dalam keinginan untuk dekat dengan Adrian.
* * *
Adrian datang tepat pukul dua, tanpa makanan dan tanpa alasan pekerjaan.
Nara membukakan pintu. Ia tidak memeluknya, tetapi beberapa detik pertama hanya dihabiskan untuk saling memandang.
Adrian tampak lelah. Nara ingin menyentuh pipinya.
Ia berbalik menuju meja.
“Kopi?”
“Boleh.”
Nara menyiapkan dua cangkir kopi, mencoba menenangkan diri sebelum mulai bicara. Adrian meletakkan tas di kursi, memperhatikan lukisan terang yang sudah dibungkus di dekat dinding.
“Yang itu mau dikirim?”
Nara mengangguk.
“Pesanan Maya. Untuk rumah kalian.”
Adrian menatap label kecil pada bungkusnya, lalu kembali kepada Nara.
“Kamu nggak bilang.”
“Kapan?”
Adrian tidak menjawab. Nara menyesal menggunakan nada itu, tetapi ia tidak ingin lagi menjadi orang yang harus membuat semua hal terdengar ringan.
Ia menaruh kopi.
“Dia minta aku pilihkan. Buat ulang tahun pernikahan.”
Adrian menarik kursi dan duduk.
Nara duduk di seberangnya.
“Aku tahu kamu perlu pulang,” katanya. “Minggu pagi itu. Aku tahu dari sebelum kamu datang.”
“Aku tetap bikin kamu merasa ditinggal.”
Nara melihat uap tipis dari cangkir.
“Aku pikir aku bisa terima. Ternyata melihat kamu pasang cincin lagi, dengar dia sudah belikan sarapan… aku nggak bisa pura-pura nggak sakit.”
Adrian meletakkan kedua tangannya di meja, jauh dari tangan Nara.
“Aku nggak mau menjanjikan sesuatu hanya supaya kamu mau ketemu lagi.”
“Terus kita mau bagaimana?”
Adrian menatapnya, tetapi tidak menjawab. Nara kecewa. Ia tahu laki-laki itu belum menjanjikan apa-apa, tetapi apa ia harus terus menunggu tanpa tahu sampai kapan?
Di bawah, mesin pemotong kertas berdentum sebentar.
“Dimas tahu kamu tinggal di sini?”
“Tahu. Dia minta aku pulang.”
“Kamu mau?”
Nara menggeleng.
“Bukan karena kamu. Aku sudah nggak mau tinggal dengan kamera dan semua pertanyaan itu.”
“Aku mengerti.”
“Jangan jadikan itu alasan kamu merasa aku sudah bebas.”
Adrian memandang cincin di tangan Nara, lalu cincinnya sendiri.
“Nggak.”
Mereka diam cukup lama. Kopi mulai dingin, dan Nara belum meminumnya sedikit pun.
Ia ingin Adrian mengatakan ia akan menyelesaikan semuanya. Ia juga ingat betapa bencinya ia pada janji Dimas yang selalu dibuat supaya sebuah percakapan berakhir.
“Aku sayang kamu,” kata Adrian akhirnya.
Nara mengangkat wajah.
“Dan aku tahu itu belum menjawab pertanyaanmu.”
Air mata Nara mulai turun. Ia mengusapnya dengan cepat, marah karena kalimat itu tetap membuatnya bahagia meskipun baru saja diakui tidak cukup.
Adrian mengulurkan tangan di atas meja.
Nara melihatnya, lalu meletakkan tangannya di sana.
* * *
Maya menutup percakapan Nara di ponselnya sendiri ketika mobil berhenti di depan percetakan.
Ia tidak tahu Adrian sedang berada di studio Nara. Ia datang karena sejak kemarin jawaban Nara terus berputar di kepalanya, bercampur dengan pesan suaminya tentang kantor yang ternyata tutup.
Ia ingin bertanya sekali lagi, berdua saja dengan Nara, tanpa pelayan atau tamu lain di sekitar mereka.
Ada pula bingkai yang bisa dijadikan alasan. Maya malu bahwa kini ia memerlukan alasan untuk mendatangi sahabatnya.
Ia memberi tahu pegawai percetakan akan naik ke studio. Orang itu mengenalinya dari hari mengangkut kardus dan menunjuk tangga samping.
Maya mengucapkan terima kasih.
Di anak tangga terakhir, ia mendengar suara pelan dari balik pintu. Tidak cukup jelas untuk dikenali.
Ia berhenti, lalu mengetuk.
* * *
Nara menarik tangannya dari genggaman Adrian.
Ponselnya menyala di meja.
Maya: Gue di depan. Bukain ya.
Untuk sesaat, ia hanya melihat nama itu.
Adrian mengikuti arah pandangannya. Wajahnya berubah.
Ketukan terdengar lagi.
“Na?”
Nara menoleh ke ruang belakang. Ada pintu, lemari, tempat tidur yang sudah dirapikan. Ia bahkan sempat menghitung berapa langkah yang dibutuhkan Adrian untuk masuk ke sana.
Pikiran itu membuatnya membeku.
Maya berdiri di luar, menunggu dibukakan pintu seperti pada semua kunjungan sebelumnya.
“Nara?”
Adrian berdiri dari kursinya.
Nara mengangkat tangan sedikit, tidak tahu apakah sedang meminta ia menunggu atau melarangnya bergerak.
Ia tidak sanggup menyuruh laki-laki itu bersembunyi. Ia juga belum sanggup membayangkan apa yang akan terjadi ketika pintu dibuka.
Ketukan ketiga lebih pelan.
Nara berjalan ke pintu.
Telapak tangannya basah ketika menyentuh kunci. Ia memutarnya, membuka pintu secukupnya, lalu melihat wajah Maya.
Sahabatnya mula-mula memandang mata Nara yang merah.
Kemudian pandangannya bergerak melewati bahu Nara.
Dua cangkir di meja. Tas di kursi. Adrian berdiri beberapa langkah di belakang, masih mengenakan kemeja kerja.
Maya tidak mengatakan apa-apa.
Nara mencengkeram tepi pintu, takut Maya bisa melihat tangannya gemetar.
“May…”
Maya melihat suaminya, kemudian kembali kepada Nara.
“Katanya kalian sudah nggak ketemu diam-diam lagi?”