H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Waktu menunjukkan H-7 menuju hari pernikahan. Suasana di lantai operasional gedung pusat Aura Fashion Jakarta mendadak riuh oleh perbincangan hangat di antara para staf. Di atas meja kerja divisi operasional, beberapa lembar undangan pernikahan berdesain mewah dengan sampul beludru emas kini menjadi pusat perhatian.
Reno Alamsyah berdiri di tengah-tengah rekan kerjanya dengan balutan kemeja rapi. Di tangannya, ia membagikan undangan-undangan fisik tersebut kepada beberapa staf terdekat, termasuk Andri.
Andri menerima undangan itu, membuka bagian sampulnya, lalu mendadak mengerjap keningnya bingung. Ia membaca nama mempelai wanita yang tercetak tebal di sana berulang kali.
"Eh, tunggu dulu, Ren..." protes Andri dengan nada kaget, menatap Reno penuh tanda tanya. "Ini... kok nama pengantin wanitanya Gisella Aurora? Bukannya harusnya Kalea Mahika? Kok bisa ganti gini?"
Seketika, seluruh karyawan di sekitar meja itu menoleh, merapat dan ikut menatap undangan di tangan Andri dengan tatapan penuh rasa penasaran. Bisik-bisik langsung bergemuruh di sudut ruangan.
Reno menghela napas panjang. Pria itu memasang ekspresi paling muram, sedih, dan teraniaya yang ia miliki sebuah akting kelas atas yang sangat meyakinkan untuk memutarbalikkan fakta.
"Iya, Ndri... itu memang benar Gisella," ucap Reno dengan suara parau yang dibuat-buat, sengaja mengeraskan volumenya agar didengar oleh semua orang di lantai tersebut.
"Loh, kok bisa?!" cecar salah satu staf wanita penasaran. "Ke mana Mbak Mahika? Kalian kan sudah pacaran lama dan sebentar lagi mau nikah! Kok tiba-tiba diganti sama Kakaknya?"
Reno menunduk sejenak, memainkan jemarinya seolah menahan beban emosional yang berat, lalu mendongak menatap rekan-rekan kerjanya dengan sorot mata penuh kepalsuan.
"Jujur, ini hal paling berat yang harus saya hadapi..." buka Reno memulai sandiwaranya. "Kalian semua tahu kan pas Mahika tiba-tiba mengundurkan diri dari kantor ini bulan lalu? Sebenarnya... saat itu kami sedang bertengkar hebat gara-gara tekanan mental persiapan pernikahan."
Reno sengaja memelankan suaranya, menciptakan suasana dramatis. "Mahika menolak mendengarkan nasehat keluarga. Dia mendadak menjadi sangat egois, emosional, dan... ya, dia memilih minggat kabur entah ke mana membawa kopernya sendiri tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Nomor ponselnya aktif tidak bisa dihubungi."
Suasana di sekitar meja langsung berubah tegang. Para karyawan berdesis kaget mendengar cerita tersebut.
"Seriusan, Ren?! Mbak Mahika kabur?!" seru Andri tidak percaya. "Parah banget! Padahal kan tinggal hitungan hari menuju hari H!"
"Iya, Ndri..." lanjut Reno, memasang muka paling nelangsa. "Persiapan gedung, katering, dan undangan sudah telanjur disebar. Keluarga besar saya dan keluarganya Mahika hampir menanggung malu yang luar biasa besar kalau pernikahan ini batal total."
Reno meraih pundak Andri, menatapnya penuh rasa terima kasih yang dibuat-buat. "Untungnya... Kakak kandung Mahika, Gisella, bersedia pasang badan. Gisel mau berkorban mengambil alih posisi pengantin wanita demi menyelamatkan nama baik keluarga besar dan tidak membuat semua undangan sia-sia. Makanya, di undangan ini namanya tertulis Gisella Aurora."
Mendengar penjelasan panjang lebar yang begitu terstruktur itu, gelombang simpati seketika mengalir deras di antara para karyawan kantor.
"Wah, gila sih... Kasihan banget lu, Ren!" bela Andri menepuk bahu Reno prihatin. "Udah ditinggal kabur pas mau nikah, masih harus menanggung malu. Mahika ternyata egois banget ya, tega ninggalin cowok sebaik lu."
"Iya, Mas Reno sabar banget ya. Untung ada Kak Gisel yang mau tanggung jawab gantiin," tambah staf wanita lainnya ikut mencibir Mahika.
Di balik sudut lorong lantai tersebut, tepat di dekat pintu pantry yang terbuka, Ibu Aura berdiri mematung. Wanita paruh baya itu mendengar setiap kata fitnah dan bualan menjijikkan yang keluar dari mulut Reno.
Darah Bu Aura mendidih hebat. Jari-jarinya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rasa jijik dan amarah yang teramat pekat membuat dadanya naik-turun menahan sesak. Ingin sekali ia melangkah maju saat itu juga, menjambak rambut Reno, melemparkan bukti-bukti perselingkuhan pria itu dengan Gisella ke muka seluruh staf, dan meneriakkan kebenaran yang sesungguhnya.
"Laki-laki mokondo tidak tahu malu.' maki Bu Aura dalam hati, matanya menatap tajam punggung Reno yang sedang menerima pujian palsu dari rekan kerjanya. "Berani-beraninya dia memfitnah Mahika yang tersakiti seolah-olah dialah korban yang paling tersiksa."
Namun, tepat saat Bu Aura hendak melangkah keluar dari persembunyiannya, bayangan pesan Mahika beberapa waktu lalu tiba-tiba terngiang di kepalanya.
Tahan amarah Ibu... Biarkan mereka membangun panggung kebohongan itu setinggi-tingginya. Karena saat hari H nanti, setelah ijab kabul selesai, kebenaran itu akan meruntuhkan mereka seketika.
Bu Aura menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan memaksa kakinya mundur. Ia menelan mentah-mentah rasa geramnya, memilih untuk menuruti strategi brilian yang dirancang oleh anak didiknya sendiri.
Nikmati kebohonganmu seminggu ini, Reno, bantar Bu Aura dingin dalam hati. Karena setelah itu, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Di belahan kota Bandung yang sejuk, jauh dari hiruk-pikuk fitnah kantor Jakarta, Kalea Mahika sedang duduk tenang di balik meja kerja di studio pribadinya.
Meskipun ia telah memutus total komunikasi dengan mengganti nomor ponselnya dan tidak lagi memegang kartu lama, Mahika sama sekali tidak hidup di gua terisolasi. Ponsel barunya yang terhubung ke internet dipenuhi oleh deretan notifikasi pesan, Direct Message (DM) Instagram, hingga mention media sosial dari anak-anak kantor Aura Fashion yang penasaran dengan kabar burung pernikahan Reno.
Beberapa pesan bahkan bernada menghakimi, menanyakan kebenarannya, atau sekadar bergosip ria tentang kabar dirinya yang disebut kabur dari pernikahan.
Mahika hanya membaca pesan-pesan tersebut sambil menyeruput teh hangatnya dengan senyum tipis yang amat tenang. Tidak ada rasa sakit hati, tidak ada amarah yang meledak-ledak. Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan Reno di Jakarta saat ini menebar narasi busuk dan mengumpulkan simpati publik agar kelak kejatuhannya terasa jauh lebih mematikan.
Di saat yang sama, layar ponselnya bergetar menampilkan panggilan video masuk dari satu-satunya orang di Jakarta yang tetap ia izinkan mengetahui kehidupannya: Bu Aura.
Mahika segera menggeser tombol hijau. Wajah anggun Bu Aura yang tampak masih memendam sisa-sisa emosi langsung memenuhi layar.
"Mahika..." sapa Bu Aura dengan nada suara gemetar menahan geram. "Kamu tahu apa yang baru saja dilakukan pria biadab itu di kantor tadi pagi?"
Mahika tersenyum kecil, menjawab dengan suara yang amat tenang. "Reno membagikan undangan atas nama Kak Gisel, lalu bercerita ke seluruh staf kalau saya kabur dari rumah karena egois dan stres menghadapi pernikahan, kan, Bu?"
Bu Aura terbelalak kaget. "Kamu... darimana tahu selengkap itu? Jangan bilang ada staf saya yang bocor informasi ke kamu?"
"Bukan ada yang bocor, Bu," sahut Mahika halus. "Banyak anak kantor yang kirim DM ke Instagram saya, tanya macam-macam. Tapi sengaja tidak saya balas. Saya sudah menduga seratus persen kalau Reno bakal pakai narasi kabur itu untuk menyelamatkan muka dan jabatannya."
Bu Aura menghela napas panjang, menyandarkan keningnya dengan jemari yang memijat pelipis. "Ibu tadi hampir tidak tahan, Mahika! Ibu ingin sekali mendobrak rapat mereka dan merobek-robek undangan itu di depan mukanya! Rasanya geram sekali melihat dia berakting jadi pria tersakiti."
"Jangan, Bu..." pinta Mahika lembut, menatap mentornya penuh permohonan. "Biarkan dia merasa di atas angin seminggu lagi. Semakin tinggi panggung kebohongan yang mereka bangun sekarang, semakin keras pula suara benturan saat mereka jatuh nanti."
Mendengar ketenangan mutlak dari suara Mahika, Bu Aura perlahan menghembuskan napasnya, meredakan amarah di dadanya. Ia tersenyum tipis, merasa kagum bercampur bangga pada ketangguhan mental wanita muda di hadapannya ini.
"Kamu benar, Mahika... Kamu memang perempuan paling tenang dan cerdik yang pernah Ibu kenal," puji Bu Aura tulus. "Lalu, bagaimana persiapan koleksi gaun di Mahika Atelier untuk hari H nanti? Apakah semuanya sudah siap?"
Mahika berdiri dari kursinya, berjalan mendekati manekin utama di sudut studio tempat gaun pengantin rancangan utamanya tergantung megah. Gaun putih berpotongan A-line dengan taburan kristal swarovski berkilau lembut diterpa cahaya lampu ruangan.
"Semuanya sudah seratus persen siap, Bu," jawab Mahika penuh keyakinan. "Gaun ini dirancang khusus untuk menutup seluruh kepalsuan mereka di hari pernikahan nanti."
"Bagus," ujar Bu Aura dengan tatapan mata yang menyala tajam. "Ibu di Jakarta akan terus mengawasi gerak-gerik mereka. H-7 ini biarkan mereka menikmati mimpi indah terakhirnya. Begitu hari H tiba tepat setelah ijab kabul selesai kita akan ledakkan semuanya lewat konfirmasi terbuka dari media sosialmu."
"Siap, Bu," balas Mahika mantap.
Setelah sambungan video itu berakhir, Mahika kembali menatap gaun pengantin buatannya di manekin. Jarum jam terus berdetak mendekati hari pembalasan. Di Jakarta, Reno dan keluarga toxic-nya mungkin sedang tersenyum lebar menyambut hari bahagia mereka. Namun mereka tidak pernah tahu, bahwa badai terbesar dalam hidup mereka sedang dikurung rapat di dalam studio Dago Atas, siap dilepaskan begitu lembaran undangan palsu itu dibaca di hadapan para tamu undangan.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂