Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Batas Kesabaran
Gemuruh perayaan akhirnya berlalu. Sorakan puluhan ribu murid dan keributan di arena kini hanya tersisa sebagai kenangan.
Bagi para murid Sekte Bintang Jatuh, hari itu menjadi awal kebangkitan seorang jenius yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Namun bagi Shen Luo, semua itu tidak lebih dari gangguan kecil. Setelah menerima haknya sebagai juara, ia memilih kembali ke tempat yang paling ia sukai.
Puncak Hantu Kesunyian.
Begitu melewati batas puncak, suasana sunyi langsung menyambutnya. Angin gunung membawa sisa-sisa Niat Pedang yang liar, sementara daun-daun pinus kering bergesekan di atas tanah berbatu.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada murid yang mengerumuninya.
Tidak ada pula orang yang berusaha mendekatinya demi mencari muka.
Shen Luo justru merasa lebih tenang.
Ia tidak berhenti untuk beristirahat. Setelah melewati ilusi air terjun, ia langsung masuk ke Gua Bintang. Di tengah gua, altar batu giok masih memancarkan hawa dingin yang menenangkan pikiran. Shen Luo duduk bersila dan mulai mengatur napas.
Sembilan Akar Spiritual di dalam tubuhnya segera bergerak.
Setelah melewati begitu banyak pertarungan, kesembilan akar itu telah mencapai batas penyerapan. Begitu teknik pernapasannya dijalankan, pusaran Qi terbentuk di dalam tubuh Shen Luo dan mulai menarik energi spiritual dari sekelilingnya.
Satu jam berlalu.
Kemudian dua jam.
Lima jam kemudian, Shen Luo perlahan membuka mata.
Alisnya berkerut.
Ada yang tidak beres.
Ia segera memeriksa keadaan Gua Bintang. Tempat yang sebulan lalu dipenuhi kabut spiritual kini terasa jauh lebih kosong. Pilar giok di langit-langit tidak lagi meneteskan embun spiritual, sementara cahaya biru yang memenuhi dinding gua juga meredup.
Energi spiritual yang telah terkumpul selama ratusan tahun hampir habis.
Shen Luo menghela napas.
"Sial."
Ia memeriksa Dantiannya.
Kultivasinya kini berada di puncak Pengumpulan Qi Tingkat Keenam. Qi di dalam tubuhnya sangat padat dan perlahan menunjukkan tanda-tanda akan berubah menjadi cairan. Ia hanya membutuhkan sedikit dorongan lagi untuk menembus Tingkat Ketujuh.
Sayangnya, Gua Bintang sudah tidak mampu memberinya dorongan tersebut.
Masalah ini sebenarnya sudah ia duga.
Sembilan Akar Spiritual bukanlah akar biasa. Kultivator dengan satu akar spiritual dapat menggunakan energi spiritual di tempat ini untuk meningkatkan kultivasi dengan cepat. Namun Shen Luo memiliki sembilan akar yang harus dipelihara secara bersamaan.
Bahkan untuk menjaga keseimbangan antara Qi Suci dan Qi Iblis di dalam tubuhnya, energi yang ia butuhkan sudah jauh melampaui kultivator biasa.
Tubuhnya seperti jurang tanpa dasar.
Dalam waktu sebulan saja, ia telah menyerap hampir seluruh energi spiritual yang terkumpul selama ratusan tahun di Gua Bintang.
"Kalau terus mengandalkan Qi alam di puncak ini, mungkin aku butuh sepuluh tahun hanya untuk menembus Tingkat Ketujuh."
Shen Luo menatap telapak tangannya.
Seharusnya masalah ini tidak perlu terjadi.
Sebagai juara utama Ujian Sekte Luar, ia berhak memperoleh Batu Spiritual, pil kultivasi, serta akses ke Mata Air Rohani sekte. Semua hadiah itu seharusnya sudah dikirim ke Puncak Hantu Kesunyian pagi tadi.
Namun ketika Shen Luo keluar dari gua, halaman di depannya kosong.
Tidak ada kotak hadiah.
Tidak ada satu pun Batu Spiritual.
Yang ada hanya sebuah gulungan yang dipakukan pada pilar batu menggunakan belati hitam.
Shen Luo berjalan mendekat dan mencabut belati tersebut. Ia membuka gulungan itu dan membaca isinya.
Pemberitahuan Paviliun Logistik.
Atas perintah Dewan Penegak Hukum dan persetujuan Ketua Sekte, seluruh sumber daya untuk Puncak Hantu Kesunyian, termasuk hadiah Ujian Sekte Luar, dihentikan sampai penyelidikan terhadap insiden arena selesai.
Mulai hari ini, tidak seorang pun murid maupun diaken diizinkan mengunjungi Puncak Hantu Kesunyian atau mengirimkan sumber daya ke tempat tersebut.
Di bagian bawah terdapat cap milik faksi Jian Nantian.
Mata Shen Luo perlahan menjadi dingin.
Ia meremas gulungan itu hingga hancur.
Mereka tidak berani membunuhnya secara terang-terangan.
Jadi mereka memilih cara lain.
Memutus sumber dayanya, menutup jalan masuk dan keluar, lalu membiarkannya terkurung di puncak tandus sampai kultivasinya berhenti berkembang.
Shen Luo mencibir.
"Jian Nantian benar-benar tidak tahu malu."
Ia tidak peduli dengan perebutan kekuasaan di dalam sekte. Ia juga tidak tertarik pada pertikaian di antara para tetua.
Namun ada satu hal yang tidak bisa disentuh siapa pun.
Jalannya dalam berkultivasi.
Sepuluh tahun lalu, ia telah berjanji kepada Kakek Putih dan Kakek Hitam untuk mencapai puncak Dao.
Ia tidak punya waktu untuk terjebak dalam pertikaian Sekte Bintang Jatuh.
Jika sekte tidak mau memberinya sumber daya, ia akan mencarinya sendiri.
Shen Luo kembali ke gua dan memeriksa barang-barang yang dibawanya. Harta miliknya tidak banyak. Hanya pedang kayu, dua Cincin Warisan yang masih tersegel, serta sedikit persediaan air.
Ia mengenakan kembali jubah abu-abunya, menarik tudung hingga menutupi sebagian wajah, lalu menjalankan teknik untuk menyembunyikan auranya.
Kali ini ia tidak turun melalui jalan utama.
Jalan itu kemungkinan besar sudah diawasi.
Shen Luo melompat dari tebing barat dan bergerak menuju Aula Misi.
Aula Misi biasanya dipenuhi murid yang datang dan pergi. Namun hari ini suasananya jauh lebih sepi. Sebagian besar murid masih sibuk membicarakan ujian kemarin.
Begitu Shen Luo masuk, beberapa murid langsung mengenalinya dan buru-buru menyingkir.
Tidak ada yang berani menghalangi jalannya.
Shen Luo mengabaikan mereka dan langsung menuju meja di tengah aula. Seorang diaken bertubuh gemuk duduk di belakang meja. Begitu melihat Shen Luo, wajahnya langsung berubah.
"Untuk apa kau datang?"
Suaranya terdengar keras, tetapi tangan yang memegang kuas sedikit gemetar.
"Puncak Hantu Kesunyian sedang dalam larangan. Kau tidak boleh mengambil misi sekte."
Shen Luo menatapnya.
"Aku tidak datang untuk mengambil misi biasa."
"Kalau begitu, segera pergi."
"Buka Papan Misi Terlarang."
Wajah diaken itu seketika berubah.
Papan Misi Terlarang berisi tugas-tugas yang hampir tidak pernah disentuh para murid sekte. Sebagian besar misi berada di wilayah berbahaya yang tidak mendapat perlindungan Sekte Bintang Jatuh.
"Murid luar tidak berhak..."
Brak!
Sebuah token giok jatuh di atas meja.
Token Juara Utama.
Shen Luo berkata dengan tenang, "Aturan sekte memberiku hak memilih misi tanpa persetujuan tetua."
Diaken itu terdiam.
Ia tahu aturan tersebut.
Dengan enggan, ia bangkit lalu membuka segel formasi pada dinding batu hitam. Di baliknya tersimpan puluhan gulungan tua yang sebagian besar telah menguning dimakan usia.
Shen Luo mengamati semuanya.
Mengawal pedagang? Terlalu lama.
Memburu buronan? Terlalu banyak Urusan.
Mengumpulkan bahan obat? Tidak cukup berbahaya.
Tatapannya terus bergerak hingga berhenti pada sebuah gulungan berwarna merah gelap. Ujung gulungan itu telah menghitam oleh darah yang mengering.
Shen Luo mengambilnya.
Nama Misi: Perburuan Binatang Inti Ganda.
Lokasi: Hutan Kabut Berdarah.
Tugas: Mengumpulkan seratus Inti Spiritual Binatang Tingkat Menengah dan satu Inti Spiritual Binatang Tingkat Tinggi dengan inti ganda yang telah mengalami mutasi.
Tingkat Bahaya: Mematikan.
Peringatan: Hutan Kabut Berdarah merupakan wilayah tanpa hukum yang berada di perbatasan antara sekte-sekte Lurus dan Iblis. Kultivator iblis, perampok, dan binatang buas berkeliaran tanpa kendali. Tidak ada perlindungan sekte di wilayah tersebut.
Shen Luo selesai membaca.
Tidak ada keraguan di matanya. Sebaliknya, senyum tipis muncul di wajahnya.
Wilayah tanpa hukum.
Bagus.
Di tempat seperti itu, tidak akan ada orang yang peduli jika ia menggunakan kekuatan Qi Iblis.
Tangannya mengambil gulungan tersebut.
"Kau gila?!" Diaken itu langsung berdiri.
"Hutan Kabut Berdarah dipenuhi binatang buas mutasi dan kultivator iblis dari Lembah Darah Neraka! Bahkan kultivator Pembentukan Fondasi pun tidak berani masuk sendirian!"
Shen Luo meletakkan gulungan itu di atas meja.
"Itu urusanku."
"Jangan menyesal setelah mati!"
"Stempel misinya."
Diaken itu menatap Shen Luo beberapa saat. Kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
Jika Shen Luo mati di Hutan Kabut Berdarah, mereka tidak perlu lagi repot-repot membunuhnya.
Ia segera mengambil stempel darah dan menekannya pada gulungan.
"Semoga kau bisa kembali dengan mayat yang utuh."
Shen Luo mengambil gulungan itu tanpa menjawab.
Matahari mulai tenggelam ketika Shen Luo meninggalkan Aula Misi.
Ia menuruni ribuan anak tangga menuju Gerbang Utama. Sepanjang perjalanan, ia tidak mengirim pesan kepada Su Yuhan dan tidak meninggalkan pesan untuk Mu Qingxue.
Tidak ada yang perlu dikatakan.
Hubungannya dengan Sekte Bintang Jatuh telah berakhir sejak sekte tersebut memutus sumber dayanya.
Shen Luo membutuhkan energi untuk menerobos Pengumpulan Qi Tingkat Ketujuh. Inti spiritual binatang buas mengandung energi alam yang liar dan murni. Bagi kebanyakan kultivator, energi seperti itu sulit dimurnikan.
Namun bagi Shen Luo, justru sebaliknya.
Energi liar itu dapat menjadi makanan bagi Qi Iblis di dalam tubuhnya.
Hutan Kabut Berdarah juga merupakan tempat yang tepat untuknya. Di sana tidak ada aturan sekte, tidak ada tetua yang mengawasi, dan tidak ada orang yang akan mempertanyakan asal-usul kekuatannya.
Ketika Gerbang Utama Sekte Bintang Jatuh semakin dekat, Shen Luo tidak lagi menoleh ke belakang.
Ia melewati gerbang batu raksasa dan terus berjalan menuju kejauhan.
Di belakangnya adalah sekte yang dipenuhi aturan, kepentingan, dan perebutan kekuasaan.
Di depannya terbentang dunia yang liar dan berbahaya.
Shen Luo menarik tudungnya sedikit lebih rendah.
Kali ini, ia tidak pergi sebagai murid yang mencari perlindungan.
Ia pergi untuk mencari jalannya sendiri menuju puncak Dao.
Dukung cerita ini dengan cara Like, Rating, Vote, dan gift ya. Semakin banyak dukungan, semakin banyak updatenya.
Terimakasih👍
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/