Indonesia
NovelToon NovelToon
NIGHTMARE

NIGHTMARE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:430k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewinisme

Slowly Update!!

Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.

Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.

Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Ruma duduk di tepi tempat tidur. Nafasnya memburu seiring benaknya yang sibuk mencerna kembali apa yang baru saja ia dengar dari lelaki perenggut kehormatannya itu. "Dia benar-benar manusia jelemaan iblis" umpatnya sepenuh jiwa. "Bisa-bisanya dia menjadikanku wanita pemuas nafsunya sendiri" dengus Ruma dengan emosi membara.

"Tenang Ruma, kau akan keluar dari sini. Suatu saat pasti ada satu cara yang bisa membuatmu pergi selamanya dari bajingan itu" Ruma menenangkan diri sendiri.

Ditengah huru hara emosinya yang sedang memuncak pada Rico. Tiba-tiba tulang punggungnya menegak sempurna ketika ia memikirkan keberadaan ayahnya. Meski saat ini hal itu bukan lagi menjadi prioritasnya, namun Ruma sungguh ingin mengetahui kabar mengenai ayahnya. Kondisinya yang berakhir menjadi penebus hutang, tidak membuat Ruma berhenti mencintai ayahnya. Tidak ada sedikitpun perasaan benci dalam hatinya, sekalipun perbuatan ayahnya secara tidak langsung telah menjadi penyebab tunggal dari hilangnya kebebasan--bahkan kesuciannya sebagai seorang wanita.

Beberapa menit yang berlalu, terisi oleh berbagai macam hal yang berkecambuk dalam otaknya. Namun bayangan sosok ayah mendadak lenyap ketika pintu kamar terbuka dari arah luar. Pandangan matanya tertuju pada Rico yang berjalan mendekatinya di tempat tidur. Harus Ruma akui, terlepas dari apapun keburukan yang dilakukannya. Rico memang lelaki tampan yang memiliki pesonanya sendiri. Lelaki itu berjalan gagah diantara desiran angin yang masuk melalui jendela. Lelaki yang berbahaya itu membuat Ruma salah tingkah karena tatapan intensnya pada diri Ruma--lebih tepatnya pada bagian bawah tubuh semampai wanita itu.

Adegan selanjutnya yang tidak kalah membuat Ruma semakin salah tingkah adalah ketika melihat Rico berlutut di hadapannya dengan satu kaki dijadikan penopang. Apa yang sedang dia lakukan? Lelaki itu mengambil sebelah kaki Ruma kemudian diletakkan di pahanya yang kokoh. Ruma bergidik dalam posisi duduknya yang berubah menjadi kaku.

"Kau pasti masih kesakitan" ucap Rico penuh pengertian. Jemarinya memijat lembut kaki Ruma. "Aku tidak tahu bagaimana caranya meredakan sakit itu. Aku hanya bisa melakukan hal kecil ini untukmu"

Ruma mengamati raut wajah misterius dari lelaki di hadapannya. Dia merasakan sesuatu yang tidak biasa telah terjadi pada lelaki itu. "Tolong--bisakah kau tidak seperti ini?" pintanya gugup.

"Aku hanya ingin meredakan sakitmu, dengan cara paling sederhana yang aku tahu, Ruma" ujar Rico sambil terus memijit kaki Ruma.

Ruma tidak menghilangkan kewaspadaannya saat itu. Ia terlanjur mematri lelaki yang kini memijit sebelah kakinya yang lain sebagai lelaki paling berbahaya dalam hatinya. Sekecil apapun kebaikan yang coba ia tunjukkan, tidak berarti bagi Ruma. Kebaikan itu seperti buih dalam lautan yang tersapu oleh ombak keburukannya sendiri.

"Bagaimana? Apa sudah lebih baik?" tanya Rico setelah selesai dengan pengobatan ala kadarnya.

Ruma diam sejenak. Kemudian mengangguk pelan. "Begini lebih baik" sahutnya menghargai usaha Rico.

Rico berdiri dari posisinya. Tangannya menggapai tangan Ruma untuk ikut berdiri bersamanya. Tanpa aba-aba, lelaki itu memeluk tubuh hangat Ruma yang terasa menyenangkan dalam dekapannya. "Aku tidak bisa menahan diri padamu, Ruma" Rico menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Ruma.

Sikap Rico semakin membuat Ruma waspada. Entah bagaimana, Ruma berpikir bahwa lelaki yang memeluknya erat ini seperti memiliki kepribadian ganda. Baru saja dia bersikap arogan hingga membuat Ruma emosi dengan ucapannya. Namun yang terjadi kini, ia malah bersikap seolah sedang menunjukkan sedikit bentuk perhatian dan kasih sayangnya terhadap Ruma. Ini benar-benar aneh. Otak Ruma terlalu tumpul untuk dapat menyimpulkan setiap sikap Rico yang berubah-ubah padanya.

"Akh!" pekik Ruma tiba-tiba.

Rico menyeringai puas sambil melepas pelukannya. Mata tajamnya berkilat gemas melihat wajah kesal Ruma akibat gigitan menggoda yang ia berikan di leher wanita itu. "Sebentar lagi Don akan datang. Aku akan mengantarmu untuk pindah di rumahku yang lain. Aku harap kau tidak berulah disana, Ruma. Karena asal kau tahu, semua aksesmu untuk keluar dari rumah itu dijaga ketat oleh anak buahku" Rico berusaha membuat Ruma mengerti.

Rico kembali memeluk Ruma, ketika tak ada respon apapun yang keluar dari bibir manis wanita itu, Rico meneruskan ucapannya. "Sebelum Don datang, aku ingin tidur bersamamu. Mencumbumu sampai batas senja di cakrawala sana menghilang" ucapan Rico yang terus terang, mengirimkan gelombang ketakutan yang menerjang benteng tipis ketenangan dalam hati Ruma. "Aku rasa itu sepadan dengan pertemuan yang mungkin jarang kita lakukan nantinya" sambungnya kemudian.

Rico menarik Ruma untuk masuk dalam rengkuhannya. Keduanya mengerang saat Rico ******* bibir Ruma yang basah. Dengan gerakan menggoda, bibir Rico menyapu permukaan bibir Ruma. Lelaki itu terbakar oleh gairahnya hanya karena ciuman. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Dalam balutan sesi cumbuan yang terjadi, Rico menyimpulkan bahwa rasa tertariknya pada Ruma, kini telah menjurus pada perasaan yang lebih besar dan megah. Rasa yang bahkan ia sendiri tak percaya akan mengalaminya. Lelaki tampan itu mencintai Ruma! Lebih dari yang ia tahu.

Rico membawa Ruma untuk naik ke atas ranjang. Ia menyeringai saat melihat Ruma tampak kepayahan hanya karena ciuman buas yang tadi ia lancarkan pada bibir Ruma yang memerah.

"Bagaimana bisa Rudi memiliki gadis secantikmu, Ruma" desisnya di depan wajah Ruma. Ruma memalingkan wajah, ia merasa kikuk mendengar pujian yang terlontar dari mulut lelaki itu.

Rico kembali mencium dan merengkuh tubuh Ruma. Dalam dekapan yang semakin erat, jantung keduanya berdebar hebat. Tangan Rico menjamah segala yang bisa ia jamah dari lekukan tubuh Ruma. Sementara Ruma, tidak ada yang bisa ia lakukan selain memilih untuk membiarkan Rico memenuhi tubuhnya dengan gairah yang tak bertepi.

"Rico ... Ada yang ingin aku tanyakan padamu" ucapan Ruma menyusupi gendang telinga Rico.

Rico tidak memberi respon dengan cepat. Benaknya saat itu hanya penuh dengan gairah sensual yang ingin ia tunjukkan dalam bentuk lum*tan dan belaian. Demi Tuhan, Tubuh Ruma seperti candu baginya. Mencecap satu bagian hanya membuatnya menginginkan bagian lainnya.

"Rico" ulang Ruma sambil menepuk pelan bahu Rico yang tenggelam dalam kehangatan dada Ruma.

"Hmm" Rico menjawab dengan malas.

Ia mengangkat sedikit tubuhnya. Menatap bola mata Ruma sebelum merangsekkan bibirnya pada bibir Ruma yang merekah. "Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Rico selepas pertautan bibir itu.

Melihat bibir Ruma menegang, Rico kembali bertanya. "Apa yang ingin kau tahu, Ruma?"

"Ayahku--apa kau tahu kabar ayahku?" tanya Ruma menatap bola mata Rico. "Aku tidak berharap ia membebaskanku--jika itu yang kau pikirkan. Harapanku sudah hilang sejak tenggat waktu itu berakhir, Rico. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya saat ini" tutur Ruma.

Rico termenung beberapa saat. Ingatan tentang berita tragis kematian Rudi kembali berkelebatan dalam benaknya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu yang akan Ruma ajukan padanya. Ia kembali menatap Ruma. Menelengkan kepalanya sedikit dan menyusuri garis bibir Ruma yang mengundang dengan ibu jarinya.

"Aku tidak tahu" Rico menekan keinginan untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. "Mungkin dia sedang berduka atau bahkan menangisimu, sayang" tambahnya dengan bola mata lekat menatap belahan bibir Ruma.

Ruma mendesah. Ia tahu apa yang dikatakan Rico kemungkinan besar adalah kebenaran. Ayahnya pasti merasa terpukul atas ketidak mampuannya menyelamatkan anaknya sendiri. Cinta pertama Ruma itu pasti kini masih sibuk menyalahkan diri sendiri atas hal buruk yang menimpa anaknya. Hati Ruma mencelos ketika memikirkan hal itu. Dia tidak ingin membuat ayahnya terus menerus berkabung dalam kesedihan.

"Rico, jika aku meminta sesuatu padamu. Apakah kau akan melakukannya?" ucap Ruma dengan manik mata serius.

Rico mengernyitkan keningnya. "Apa itu?" Kini Rico memilih untuk bangkit dari atas tubuh Ruma dan duduk bersandar di headboard ranjang. Ruma mengikuti gerakannya.

"Aku akan menulis surat untuk ayahku. Aku ingin kau menyampaikan surat itu padanya" pinta Ruma dengan sedikit keraguan.

"Aku khawatir itu tidak bisa aku lakukan" Penolakan Rico meluncur dengan cepat dan jujur.

Tapi Ruma bertekad untuk membujuknya. "Aku akan patuh padamu, Rico. Aku juga akan menyerahkan diriku sepenuhnya padamu. Aku tidak akan lagi sinis dan memintamu menghentikan apa yang kau mau atas diriku"

Jika ada orang gila yang benar-benar sudah tidak dapat lagi disembuhkan. Maka itu adalah Ruma. Wanita itu tanpa pikir panjang mengatakan sesuatu yang bahkan ia tidak bisa membayangkan sendiri akibatnya. Bodoh! Tapi jika mengingat kesedihan ayahnya, Ruma merasa kegilaannya untuk menyerahkan diri tampak sepadan. Ia tidak mungkin membiarkan ayah yang paling ia cintai menanggung perasaan bersalah lebih dari yang seharusnya.

Setelah Ruma selesai dengan perkataannya. Ia kembali menatap Rico yang tampak berpikir. Ruma terlalu naif hingga tidak menyadari bahwa apa yang ia katakan telah berhasil melambungkan perasaan lega yang penuh oleh kebahagiaan dalam hati Rico. Dalam hatinya, lelaki itu tersenyum lebar. Bahkan jika senyuman itu berwujud, maka akan terlihatlah barisan gigi putih bersih yang rapi dibalik bibir kerasnya.

"Ini penyerahan keduamu, Ruma" Rico menutupi kebahagiaannya. "Aku khawatir kau akan bersikap lain setelah aku melakukan permintaanmu" tuduhnya.

Ruma langsung menggeleng. "Tidak. Tidak akan. Aku akan menepati perkataanku. Asal suratku sampai pada ayah" janjinya seserius tatapan tajamnya.

Rico mendesah malas, meskipun itu hanyalah kepura-puraan namun keseriusan Ruma harus ia imbangi dengan kepiawaiannya berperan ganda. "Baiklah. Aku pegang perkataanmu, Ruma. Kau boleh menulis surat dan akan aku antarkan pada ayahmu" putus Rico akhirnya.

Ruma tersenyum senang untuk pertama kalinya. Hal itu membuat Rico tertegun melihat renggangan bibir manis yang tak sabar ingin ia cecap kembali.

"Bisakah aku menulis surat itu sekarang?" tanya Ruma penuh harap.

Rico menyeringai misterius. "Akan lebih baik jika kau membuktikan penyerahanmu lebih dulu, Ruma" ucap Rico sebelum ia menenggelamkan lipatan bibirnya kedalam bibir Ruma yang terperangah kaget. Kali ini Rico menagih hal yang lebih intim dan memalukan pada Ruma.

🍁🍁🍁

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Ruma akhirnya berhasil menyelesaikan satu surat panjang di meja kamarnya. Rico duduk di dekat Ruma, memperhatikan wanitanya yang kini tengah memasukkan surat ke dalam sebuah amplop dan membubuhkan namanya di bagian depan amplop tersebut.

Ruma menyerahkan surat itu pada Rico. "Aku harap kau bisa segera memberikan surat ini pada ayahku" ucapnya.

"Tidak ada ucapan terima kasih untukku?" tanya Rico sambil mengambil surat itu.

Ruma mendengus kesal. "Ucapan terima kasihku telah lebih dulu aku ucapkan padamu" sanggahnya dengan dagu terangkat, sementara matanya melirik pada ranjang yang berantakan.

Kekehan renyah terdengar dari mulut lelaki di dekatnya itu, saat benaknya berhasil menangkap arti dari lirikan mata Ruma. "Maksudmu saat kita bercinta tadi adalah ucapan terima kasihmu?!" ujar Rico masih dengan kekehan, sementara Ruma mengangguk ragu. Ya Tuhan, betapa Rico menyenangi saat-saat seperti ini. Duduk berdua bersama wanita yang berhasil merubah hari-harinya. Bersenandung dengan tawa sementara sinar senja menerpa lembut permukaan kulit mereka.

"Apa ada yang lucu?" tanya Ruma dengan polosnya.

Rico menegakkan tubuhnya. Berdeham sebelum ia berkata lagi. "Tidak ada yang lucu, sayang" sorot mata Rico berpendar cerah menatap Ruma yang memperhatikannya. "Ngomong-ngomong, aku suka sekali dengan caramu mengucapkan terima kasih" Rico mencondongkan tubuhnya ke arah Ruma. "Itu membuatku ketagihan dan menginginkannya lagi" bisik Rico membuat tubuh Ruma meremang seketika.

🍁🍁🍁

1
Ita Listiana
sungguh aq suka banget sama semua novelmu yg tamat yg aq baca, aq suka bahasamu thor, gk bertele" gk kayak drama ikan terbang muter" gk jelas, tapi kenapa yg baca cuma dikit ya?? btw sukses terus buat othor semangat terus buat berkarya. dan novelmu yg ngegantung tolong dilanjutkan dong thor../Drool//Grin/
Greenenly
ya ampun..sangat menyedihkan sekali, aku menangis pilu😭
Made Ayu
Kecewa
Made Ayu
ini sdh kesekian x baca ulang tetep suka 😍
Fe☕
Alur cerita ringan , enak dibaca

bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌

mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
Cia²
👍👍
sherly
terbaik
sherly
mantull
sherly
part ini paling mengelikan.. asli Thor sampai ngakak pas si Rico ngk mau nyamar malah komplain
sherly
woh
sherly
ini karyamu yg ke 3 yg aku baca Thor dan beneran smuanya bangus pakai banget .. kisah cinta dimana si cowok beneran sayang banget sama pasangannya.. msh blm bisa move on dr sabiel dan Laura, Raka dan raya eh ternyata Rico dan ruma ngk kalah bucin
sherly
keren thor
sherly
seru
sherly
keren banget
sherly
ceritanya bagus, penulisan dan kata2nya luar biasa..
sherly
ngeri ya
sherly
bahasamu Thor sungguh luar biasa
Sang Dewi: terima kasih kaka.. aku baca setiap komen kaka, dan terharu hihi.. makasih banyak sudah mampir 🙏😉
total 1 replies
sherly
ini yg ke 3 karyamu yg aku baca thorr... semoga keren juga seperti yg lain
Hanifah Ifah
rico kamu hrs hati2 jg sm meggy dan ayahnya lucas..... mreka ingin balas dendam
Wanda Sukma
aku yakin ini novel bagus, karna bs dilihat dr pemilihan kosa katanya autor memiliki wawasan luas.
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.

krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.

sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!