Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Mengetuk Pintu
Sudut Pandang Dante
Kebisingan di rumah saudaraku benar-benar… memekakkan.
Anak-anak berlarian. Tawa. Orang-orang bicara serentak. Kekacauan yang tertata rapi dan, anehnya… berfungsi.
Aku bersandar di dinding ruang tamu, segelas minuman di tangan, mengamati semuanya dalam diam.
Aku memang selalu lebih suka mengamati ketimbang ikut serta. Dan di sini pun tak berbeda.
Keponakan-keponakanku berlari ke sana kemari. Yang lebih besar berusaha mengendalikan yang kecil. Para perempuan tertawa. Para pria memperdebatkan hal-hal tolol.
Dan Romulo… di tengah semua itu, seolah memang dilahirkan untuk ini.
Keluarga. Kekacauan. Cinta.
Kuguncang pelan gelasku. Termenung.
Semua ini tak pernah untukku. Tak pernah.
Aku memilih jalan yang berbeda. Arah yang berbeda. Dan aku tak pernah menyesalinya.
Keluarga… adalah kelemahan. Sesuatu yang bisa dipakai untuk melawanmu. Dan di duniaku… kelemahan adalah vonis mati.
Kuteguk minumanku perlahan. Mengamati salah satu bocah kecil tersandung dan jatuh di karpet. Ia bangkit sambil tertawa. Seolah tak terjadi apa-apa.
Alisku mengernyit tipis. Aneh. Kenyataan itu. Keringanan itu. Kepolosan itu.
Hal-hal yang tak pernah kumiliki.
Kuusap rahangku. Mengembuskan napas pelan.
"Sudah terlambat untuk itu…" gumamku pada diri sendiri.
Usiaku empat puluh sekian tahun. Dan aku selalu berhati-hati. Selalu. Tak pernah kubiarkan apa pun terjadi secara kebetulan. Apalagi hal semacam ini.
Anak?
Tidak pernah. Tidak di duniaku. Tidak dalam hidupku. Tidak dengan segala risiko yang kupikul.
Karena siapa pun yang terkait denganku… berubah menjadi sasaran. Dan aku tak akan pernah menempatkan siapa pun dalam posisi itu. Tidak akan.
Ponselku bergetar di saku. Kutarik perlahan. Kulirik layarnya.
New York. Jason. Tangan kananku.
Kuangkat seketika. "Bicara."
"Bos…" suaranya terdengar serius dari seberang. "kau harus kembali."
Tatapanku menajam. "Kenapa?"
Hening sejenak.
"Ada seorang wanita di sini."
Aku mengernyit. "Lalu?"
"Dia tak datang sendirian."
Rahangku sedikit mengeras. "Langsung ke intinya, Jason."
"Dia bersama dua remaja."
Hening. Ada sesuatu… yang ganjil melintas di dadaku. Cepat. Mengusik.
"Dan apa hubungannya denganku?"
Jawabannya datang lugas. Tanpa berputar-putar.
"Dia bilang mereka anak-anakmu."
Waktu seakan berhenti. Tubuhku membeku. Kebisingan rumah itu… lenyap. Seolah aku sendirian di sana.
"Ulangi."
Suaraku keluar rendah. Berbahaya.
"Dia bilang mereka anak-anakmu, Bos."
Aku tertawa kering. Tanpa sedikit pun humor.
"Ini semacam lelucon?"
"Kurasa bukan."
Kuusap wajahku. Mencerna. Menyangkal. Menolak.
"Itu mustahil."
"Aku tahu."
Pikiranku mulai bekerja cepat. Tahun-tahun. Keputusan-keputusan. Kehati-hatian. Aku tak pernah memberi celah. Tak pernah.
"Apa yang sudah kau lakukan?"
"Kubawa mereka ke salah satu propertimu."
Tatapanku mengeras. "Bagaimana caranya?"
"Kuundang," jawabnya seketika. "Bukan sebagai tahanan. Tapi juga tak kubiarkan berkeliaran bebas."
Aku mengangguk tipis. Dia bertindak tepat.
"Mereka di sana?"
"Iya."
"Dan wanita itu?"
"Juga."
Aku terdiam beberapa detik. Berpikir. Menganalisis.
Ini bisa berarti banyak hal. Tipuan. Jebakan. Kesalahan. Atau… hal lain. Sesuatu yang lebih berbahaya.
"Tahan mereka di sana."
Suaraku keluar tegas. Dingin.
"Jangan sentuh mereka."
"Tentu."
"Aku ingin segala informasi tentang mereka sebelum aku tiba."
"Sedang kuurus."
Aku menarik napas dalam. "Aku dalam perjalanan."
Kuputus sambungan. Aku terpaku beberapa saat, ponsel masih di tangan. Berusaha memahami.
Dua remaja. Anak-anakku?
Mustahil.
Tapi… kalau bukan?
Kupejamkan mata sesaat. Lalu kubuka kembali. Lebih dingin. Lebih fokus.
Karena jika itu benar… berarti seseorang telah membohongiku. Dan aku tak suka kebohongan. Apalagi kejutan.
"Ada masalah?"
Suara itu datang dari belakangku. Kupalingkan wajah. Romulo berdiri di sana. Tenang. Tapi waspada. Seperti biasa.
Ia menaruh tangan di bahuku. "Ada apa?"
Kutatap dia sesaat. Lalu kukatakan. "Ada seorang wanita di New York."
Ia mengangkat sebelah alis. "Lalu?"
"Bersama dua remaja."
"Lalu?"
Aku menarik napas dalam. "Katanya mereka anakku."
Keheningan jatuh di antara kami. Berat.
Romulo menatapku lekat. Menganalisis. "Dan kau percaya?"
"Tidak."
Kujawab seketika. Tanpa ragu.
Tapi ada sesuatu di dalam diriku… yang tak seyakin itu.
Ia menyunggingkan setengah senyum. "Kalau begitu, pergilah buktikan bahwa itu tidak benar."
Kuusap wajahku. "Sudah mau berangkat."
Ia meremas bahuku pelan. "Kabari aku."
Aku mengangguk. "Pasti."
Aku beranjak pergi, langsung menyambar kunci.
Kebisingan rumah itu kembali terdengar. Tawa. Anak-anak. Kehidupan.
Tapi pikiranku… sudah berada di tempat lain. New York. Pada wanita itu. Pada dua remaja itu.
Dan pada kemungkinan… bahwa masa lalu yang tak pernah kuinginkan… akhirnya mulai menyusulku.