Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Tertukar Sang Mafia

Pengantin Tertukar Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silvia

Sejak kematian ibunya, hidup Kayla berubah menjadi neraka. Diambil oleh keluarga paman yang serakah demi warisan yang menjadi haknya, gadis kecil itu tumbuh bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai budak, samsak tinju, dan sasaran hinaan selama bertahun-tahun. Dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.

Lalu takdir mengetuk lewat cara yang paling kejam. Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu menukar Kayla sebagai pengantin—menyerahkannya kepada Arkan Pratama, bos mafia paling ditakuti di kota, sebagai pengganti putri kandung mereka yang sesungguhnya. Malam pertama mereka mengungkap sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: gadis rapuh penuh luka ini bukanlah perempuan yang Arkan kira.

Lelaki yang datang untuk membalas dendam justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—seseorang yang ingin ia lindungi dengan segenap kegelapannya. Sementara Kayla perlahan belajar mengeja dunia, tertawa, dan mencintai, roda pembalasan mulai berputar. Dan mereka yang pernah memadamkan cahayanya… akan segera menuai ganjaran setimpal.

Bisakah cinta menyembuhkan jiwa yang telah remuk? Dan seberapa jauh seorang mafia rela melangkah demi perempuan yang menangis air mata jiwa untuk sampai kepadanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siksaan

Di hari-hari pertama, Kayla kecil keluar dari kamarnya. Dan yang pertama ia jumpai adalah Sasha, yang langsung memasang wajah masam begitu melihatnya.

Sasha melangkah mepet ke arahnya, lalu mendorongnya hingga Kayla terjatuh terduduk. Namun berbeda dengan Sasha yang mulai menjerit-jerit, Kayla tak membuat keributan sama sekali. Vera datang berlari.

"Mama, si yatim itu mendorongku!" Sasha berakting, pura-pura kesakitan.

"Aku tidak melak—"

"Diam, bocah dekil!" bentak Vera. "Pergi ke kamarmu, kau dihukum. Hari ini tidak ada makan malam untukmu."

Begitulah hari-hari berlalu. Untuk hal sepele pun si kecil kerap dihukum tanpa mengerti apa salahnya.

Setiap kali tiba jadwal kunjungan kepala panti, semuanya diakting dengan rapi. Kayla sudah lebih dulu diancam agar tidak buka mulut, maka ia membungkam segalanya karena ketakutan.

Kepala panti memang melihat tubuh Kayla makin kurus, tapi ia menganggapnya wajar—perubahan tak selalu berjalan mulus, pikirnya.

"Sampai jumpa bulan depan," ujar lelaki itu. Namun Ferdinand sudah muak dengan kunjungan-kunjungan itu. Ia telah menguras uang warisan milik Kayla, dan sama sekali tak menguntungkannya bila ada orang yang terus mengendus-endus. Maka tak lama kemudian, sang kepala panti lenyap tanpa jejak.

Sebulan berlalu lagi, dan Kayla terperangkap dalam hari-hari yang tak ia pahami. Ia nyaris tak diberi makan, dan yang sedikit itu pun hanya karena para perempuan di dapur merasa iba.

Tak lama, genap satu tahun. Tapi Kayla tak melihat perubahan apa pun—hukuman yang sama, hari-hari dengan roti dan air. Ia mendambakan sepotong kue cokelat. Jendela kamarnya menghadap ke halaman. Di sana sedang berlangsung pesta ulang tahun besar untuk Sasha: hadiah, permen, kue. Kayla memandanginya dengan takjub.

Dari halaman tempat pestanya digelar, Sasha melihat Kayla. Ia melempar senyum palsu, memamerkan semua yang ia dapatkan.

Bulan demi bulan, Kayla hanya membisu.

Tak lama kemudian datanglah pukulan pertama, saat Kayla berusia tujuh tahun. Yang pertama menyerangnya adalah lelaki itu, melampiaskan kekesalan akibat pertengkarannya dengan sang istri. Sejak saat itu, pukulan datang bertubi-tubi, satu demi satu.

Namun yang terburuk belum tiba. Vera berkata sudah waktunya Kayla membayar dengan kerja atas semua yang telah "diberikan" keluarga itu. Maka Kayla dibebani tugas: mencuci pakaian dengan tangan, dan berbagai pekerjaan berat yang tak masuk akal untuk anak sekecil itu—menyapu, mengepel, mencuci piring, membersihkan apa saja yang terlintas di benak istri kejam lelaki itu.

Suatu hari, dengan takut-takut, Kayla mendatangi ruang kerja lelaki yang—saat ia dibawa dulu—disebut sebagai pamannya. Ia mengetuk pintu pelan.

"Masuk, pintunya tidak dikunci," terdengar suara dari dalam.

Kayla masuk dengan kepala tertunduk. Ketika lelaki itu meliriknya, dahinya berkerut.

"Sedang apa kau di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk? Keluar!"

"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu."

"Maafkan aku," ucapnya, kini lebih gugup dari tadi.

"Bicara yang cepat, aku tak punya waktu untuk hal-hal bodoh," katanya tanpa minat.

"Tuan, aku sudah tujuh tahun," ucap Kayla sambil meremas-remas tangannya.

Lelaki itu mengangkat kepala.

"Lalu?"

"Aku ingin bertanya apakah Tuan bisa menyekolahkanku. Aku ingin belajar."

Lelaki itu menyeringai sarkastis.

"Kau tak perlu belajar apa pun," katanya sambil menghunjamkan tatapan hina. "Perempuan hanya cocok untuk dapur dan pekerjaan bersih-bersih, dan untuk itu tak dibutuhkan sekolah. Jangan sampai aku mendengar soal ini lagi."

Kayla keluar dengan kecewa. Ia memang sudah menduga akan sulit lelaki itu menerima permintaannya. Ia bergegas pergi sebelum Vera memanggilnya untuk memijat kaki. Namun kesedihan tergurat jelas di matanya.

Saat Kayla berumur sepuluh tahun, ia belum pernah melihat lelaki itu semabuk itu—menendang segala yang dilewatinya sambil berteriak bahwa ada seseorang yang hendak menghancurkan hidupnya. Bu Marni, sang juru masak, buru-buru memperingatkannya dan menyuruhnya bersembunyi di bawah meja; ia yang akan melindunginya.

Lelaki itu masuk ke kamar bagai binatang buas mencari Kayla, dan ketika tak menemukannya, ia mulai mengobrak-abrik sambil berteriak-teriak. Vera sudah tak ada di dalam rumah; ia muak dengan pertengkaran yang tak henti-henti akibat kebiasaan suaminya menenggak minuman.

Hari itu Kayla lolos dari pukulan. Tapi hanya hari itu. Sebab pada hari ketiga, ia tak sempat kabur ketika lelaki itu mencengkeram lehernya dan merobohkannya dengan tendangan, seakan sedang menghajar orang lain. Setelah lelah, lelaki itu pergi tidur. Tak seorang pun mencampuri. Vera menyaksikannya, dan yang ia lakukan hanya mengangkat bahu, seolah bocah sepuluh tahun itu memang layak diperlakukan begitu.

Bu Marni menyelinap masuk ke ruang bawah tanah yang kini menjadi kamar Kayla—tempat lembap dan berbau tak sedap. Ia membawa beberapa krim dan handuk berisi air hangat untuk berusaha merawat luka-luka gadis itu. Ini sungguh tidak adil, katanya dalam hati sambil menggeleng.

Hari itu ia menemani Kayla, menurunkan demamnya dengan handuk yang dicelup air dingin, hingga demam itu reda dan Kayla tersadar.

"Bu Marni, tolong bantu aku kabur dari sini," ucap Kayla, matanya lekat menatap perempuan yang memandanginya dengan terkejut.

"Sayang, jangan lakukan itu," kata Bu Marni cemas. "Kalau mereka menangkapmu, mereka bisa saja menghajarmu sampai mati." Ia bergidik hanya membayangkannya.

"Kumohon," Kayla memelas dengan air mata. "Aku sudah tak sanggup lagi dengan keadaan ini."

"Lalu kau mau ke mana?" tanya Bu Marni gelisah. "Kau masih terlalu kecil untuk menghadapi kejamnya dunia."

Tapi ia memikirkannya beberapa saat. Mungkin saja berhasil. Gadis kecil ini adalah jiwa yang penuh cahaya, dan cahaya itu sedang mereka padamkan. Terlalu banyak kekejaman dan pukulan—semua itu tak pantas menimpa makhluk sepolos dia.

"Kau ikut denganku saja," Bu Marni memutuskan. Ia hidup sebatang kara, dan mereka bisa bertahan bersama. Lagi pula, ia bisa meminta bantuan pada lembaga untuk perempuan tanpa keluarga. Soal Kayla, ia sudah mendengar bahwa warisan gadis itu telah dirampas.

"Mereka semua perampok," bisiknya pada diri sendiri.

Malam itu keduanya bertekad melakukannya. Bu Marni membawa sedikit uang—cukup untuk bertahan beberapa hari sampai ia menemukan pekerjaan.

Hanya berbekal pakaian yang melekat di tubuh, mereka telah siap. Pukul sembilan malam adalah waktu mereka bertemu di pintu belakang.

Namun mereka tak menyangka percakapan itu telah didengar Yuni, si pembantu bagian kebersihan, yang buru-buru melapor kepada majikannya. Ia ingin mengambil hati para tuan agar menjadi pelayan kesayangan.

Ketika Bu Marni dan Kayla hampir melangkah keluar menuju apa yang mereka kira sebagai kebebasan, empat pria bertubuh kekar—dengan Ferdinand di samping mereka—membuat darah keduanya membeku…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!