Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 – Rumah yang Selalu Menungguku

“Dicintai keluarganya adalah hal yang membahagiakan, sampai aku sadar kehilangan mereka juga bisa menghancurkanku.”

--

Bagi sebagian orang, pulang berarti kembali ke rumah tempat mereka dilahirkan. Namun bagi Alina, pulang memiliki arti yang sedikit berbeda. Selain rumah kecil yang ia tempati bersama ayah dan kakak perempuannya, ada satu tempat lain yang selalu memberinya rasa nyaman—rumah keluarga Adhyaksa.

Sebuah rumah bercat putih di kawasan Jakarta Selatan dengan halaman depan yang dipenuhi bunga mawar dan melati yang mekar hampir sepanjang tahun, dan setiap akhir pekan, tanpa perlu membuat janji terlebih dulu, Alina selalu datang kesana.

Terkadang, ia datang hanya untuk makan siang bersama, menemani seseorang minum teh di teras atau hanya sekedar menghabiskan sore seraya membantu merawat bunga. Hari itu pun demikian, mobil yang dikendarai Birendra berhenti perlahan didepan pagar rumah, belum sempat mesin dimatikan, pintu utama sudah terbuka lebih dulu.

Seorang wanita setengah baya keluar dengan senyum yang begitu hangat. Usianya telah melewati lima puluh tahun, tetapi wajahnya masih memancarkan kelembutan yang sulit dijelaskan. Rambut hitamnya mulai diselipi helai putih, namun sorot matanya tetap teduh seperti langit selepas hujan.

Dian Adhyaksa, satu-satunya orang yang sejak awal menerima Alina tanpa pernah memandang latar belakangnya.

“Alina,” beliau berjalan menghampirinya lebih dulu, bukan kepada putranya, melainkan kepada Alina. Pelukan hangat langsung menyambut wanita itu begitu ia turun dari mobil. “Sudah makan, Nak?” Tanyanya lagi.

Pertanyaan sederhana itu selalu menjadi kalimat pertama yang keluar dari mulut Dian setiap kali bertemu dengannya. Bukan soal menanyakan kabar atau soal pekerjaan, melainkan memastikan apakah Alina sudah mengisi perutnya.

“Sudah, Tante.” Alina mengangguk seraya tersenyum.

“Jangan bohong.” Dian menatapnya penuh dengan selidik.

“Tadi aku sudah sarapan, Tante.”

“Yang dipaksa Birendra itu, kan?” Alina menoleh kepada pria di sampingnya. Birendra hanya mengangkat kedua bahu, sama sekali tidak merasa bersalah karena ternyata ibunya mengetahui semua kebiasaannya. Melihat ekspresi keduanya, Dian terkekeh. “Masuklah. Tante masak banyak hari ini.” Ucapnya lagi.

Rumah keluarga Adhyaksa selalu terasa hidup, rumah tersebut tidak dipenuhi oleh kemewahan yang berlebihan meski mereka mampu membelinya. Ruang tamunya didominasi warna-warna hangat dengan rak buku besar di salah satu sisi ruangan.

Disana juga terdapat foto-foto keluarga yang terpajang rapi di atas lemari kayu, memperlihatkan perjalanan hidup mereka dari tahun ke tahun. Di antara semua foto itu, pandangan Alina berhenti pada satu bingkai yang sudah sangat dikenalnya, yaitu foto Birendra saat masih berusia sekitar sepuluh tahun.

Rambut Birendra di foto tersebut terlihat sedikit berantakan, senyumnya lebar tanpa beban. Ia berdiri di antara kedua orang tuanya seraya memegang sebuah piala lomba menggambar.

“Dia menang lomba desain pertama kali waktu SD,” ujar Dian yang menyadari arah pandang Alina.

“Sampai sekarang masih disimpan?”

“Semua kenangan berharga akan selalu disimpan.” Alina tersenyum kecil mendengar itu. Kalimat tersebut sangat sederhana, namun entah kenapa hatinya terasa hangat saat mendengarnya.

Kali ini, mereka sudah berada di ruang makan. Meja panjang yang mampu menampung delapan orang itu telah dipenuhi berbagai masakan rumahan. Aroma sup buntut, ayam bakar madu, tumis sayur hingga sambal buatan Dian memenuhi seluruh ruangan.

Melihat masakan yang tersedia selalu berhasil membuat Alina merasa takjub. Pasalnya, setiap kali ia datang, selalu ada makanan favoritnya di atas meja tersebut, padahal ia tidak pernah memintanya.

“Kenapa Tante selalu repot begini?” Tanyanya pelan. Kemudian Dian meletakkan semangkuk sup dihadapannya.

“Karena ada anak perempuan yang sulit makan.” Alina tertawa kecil bersamaan dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.

“Birendra cerita lagi, ya?”

“Bukan cerita.” Dian melirik ke arah putranya sekilas, kemudian kembali menoleh ke arah Alina. “Dia mengeluh.” Pungkasnya lagi.

“Mama.” Protes Birendra.

“Apa? Salah?” Birendra hanya dapat menghela napas pasrah, sementara Alina tak mampu menahan tawanya.

Suasana makan siang berlangsung hangat. Mereka berbincang tentang pekerjaan, koleksi baru yang akan diluncurkan perusahaan, hingga rencana liburan keluarga yang tak kunjung terlaksana karena kesibukan masing-masing.

Sesekali Dian memperhatikan Alina diam-diam. Semakin lama wanita itu berada didekatnya, semakin besar keyakinannya bahwa pilihannya tidak akan salah. Ia masih mengingat hari pertama putranya membawa Alina ke rumah.

Wanita muda itu datang dengan wajah yang gugup dan berkali-kali meminta maaf hanya karena merasa tidak enak datang tanpa membawa buah tangan. Padahal, sejak pertama kali melihat sorot matanya, Dian sudah tahu satu hal, bahwa Alina datang bukan membawa sesuatu, melainkan ia membawa sebuah ketulusan, dan ketulusan adalah hal yang paling sulit ditemukan.

Usai makan siang, mereka duduk di teras belakang rumah. Angin berhembus pelan, menggoyangkan bougenville yang merambat di pagar. Birendra sedang menerima panggilan telepon dari kantornya meninggalkan Alina berdua dengan ibunya.

“Alina.”

“Iya, Tante?”

“Akhir-akhir ini Birendra sering pulang larut.” Keluh Dian sedikit dan hal itu membuat Alina mengangguk pelan, karena ia sendiri tahu kesibukan apa yang tengah dialami oleh kekasihnya itu dikantor.

“Itu karena sedang banyak persiapan peluncuran koleksi baru.” Terang Alina.

“Kalau nanti dia terlalu sibuk sampai lupa makan atau tidak makan…” Dian meraih tangan Alina dengan lembut. “… tolong marahi dia, ya.” Alina tersenyum mendengar permintaan tersebut.

“Kenapa harus aku?”

“Karena dia lebih takut dimarahi kamu dibanding Mama.” Pungkas Dian dan akhirnya mereka tertawa bersama.

Beberapa detik kemudian, tawa itu berubah menjadi keheningan yang nyaman. Dian memandang langit yang mulai berwarna jingga sebelum akhirnya kembali menatap Alina.

“Kalau suatu hari nanti kalian menikah…” ucapan itu menggantung untuk sejenak. “… mama tidak berharap rumah ini menjadi lebih mewah. Mama hanya berharap rumah ini tetap dipenuhi tawa seperti hari ini.” Beliau kemudian mengusap punggung tangan Alina perlahan.

Alina menundukkan kepalanya, entah kenapa kedua matanya agak memanas mendengar ucapan Dian. Sejak ibunya meninggal bertahun-tahun lalu, tak banyak orang yang memperlakukannya dengan kasih sayang seperti yang Dian berikan padanya.

Dian tidak pernah mencoba menggantikan posisi ibunya. Beliau hanya hadir dan membuat kekosongan itu terasa sedikit lebih ringan. Dari kejauhan, Birendra memperhatikan keduanya dengan senyum tipis.

Dalam benaknya, tidak pernah terlintas keraguan. Wanita yang sedang duduk di samping ibunya itulah yang ingin ia ajak untuk menua bersama. Ia hanya belum tahu bahwa beberapa minggu lagi, rumah yang hari itu dipenuhi tawa akan menjadi saksi bagaimana cinta, pengorbanan, dan air mata yang saling bertabrakan. Saat hari itu tiba, orang yang paling pertama menangis bukanlah Alina, melainkan ibunya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!