Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Ujung mata pena emas itu gemetar hebat saat menyentuh kertas putih berstempel segel hukum. Di bawah sorot lampu neon ruang pemeriksaan yang dingin, setiap goresan tinta hitam terasa seperti mengukir nisannya sendiri.

Andira menahan napas. Air matanya menetes pelan, membasahi sudut kertas tepat di sebelah namanya. Dengan satu tanda tangan itu, ia resmi menjual kebebasannya, masa depannya, dan seluruh sisa hidupnya kepada pria yang berdiri di depannya.

Alvan menyambar dokumen tersebut tanpa menunggu tintanya mengering. Pria itu menyapu pandangannya pada nama Andira Kirana yang terukir di atas garis kurator, lalu menyelipkan kertas itu kembali ke dalam amplop cokelat dengan gerakan yang teramat tenang.

"Pilihan yang bijak," bisik Alvan. Suaranya datar, tanpa ada hembusan kepuasan atau kemenangan, hanya kekosongan yang membeku. "Sebentar lagi, pengacaraku akan mengurus penangguhan penahananmu atas dasar kesepakatan damai keluarga dan jaminan pribadi dariku. Ayahmu sudah dipindahkan ke ruang ICU terbaik di Rumah Sakit Medika. Nyawanya aman... untuk saat ini."

Andira perlahan menengadahkan kepalanya. Wajahnya yang biasa hangat kini pucat pasrah, bibirnya yang pecah-pecah gemetar. "Kapan... kapan aku bisa melihat Ayah?"

Alvan memutar tubuhnya, membelakangi Andira seraya merapikan kancing jas hitamnya. "Setelah akad nikah selesai. Jangan pernah bermimpi melangkah keluar dari lingkaran pengawasanku sebelum statusmu resmi menjadi milikku."

Pria itu berjalan melangkah keluar tanpa sekali pun menoleh kembali. Pintu besi berat terhempas kencang, meninggalkan Andira dalam keheningan yang menyayat.

Andira memeluk kedua lututnya di atas kursi dingin. "Tuhan... jika ini adalah jalan satu-satunya agar Ayah tetap bernapas dan aku bisa menemukan bukti kebenaran di rumah itu, aku akan menanggungnya," batinnya berbisik dalam doa yang patah-patah. "Aku tidak membunuh Roy. Dan aku tidak akan membiarkan dalang sebenarnya tertawa di atas penderitaanku."

~~

Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi kekuasaan Alvan Samudra untuk membalikkan keadaan.

Tuduhan pembunuhan berencana yang tadinya siap menjerat Andira mendadak surut dari ranah publik, digantikan oleh narasi baru yang disusun dengan sangat rapi oleh tim humas Samudra Group. 'Penyelesaian Kekeluargaan dan Pernikahan Tertutup Demi Menghormati Mendiang Roy Samudra.'

Namun, di balik layar, kebebasan Andira hanyalah ilusif.

Dua hari kemudian, di sebuah ruangan privat sebuah hotel berbintang yang disewa khusus tanpa ada liputan media sedikit pun, Andira didudukkan di depan meja kayu jati bertatahkan ukiran kelam. Di sebelahnya, Alvan duduk tegap tanpa menatapnya sama sekali.

Seorang pengacara senior bertubuh tinggi dengan kacamata berlensa tebal meletakkan satu berkas tebal di depan Andira.

"Nona Andira, sebelum prosesi akad nikah dimulai, Tuan Alvan meminta Anda menandatangani draf Perjanjian Pra-Nikah tambahan ini," ujar pengacara itu formal, suaranya monoton tanpa empati. "Harap dibaca dengan teliti."

Andira membuka lembaran demi lembaran dengan jemari yang dingin. Setiap poin di dalam dokumen itu dibuat bukan untuk melindunginya, melainkan untuk mengurungnya tanpa sisa.

'***Poin 1 - Pernikahan dilaksanakan secara tertutup tanpa pesta, tanpa jamuan, dan tanpa kehadiran tamu umum. Status pernikahan tidak akan dipublikasikan ke media massa***.

***Poin 2 - Pihak Kedua (Andira Kirana) secara mutlak melepaskan seluruh hak atas harta bergerak maupun tidak bergerak milik Pihak Pertama (Alvan Samudra), baik yang diperoleh sebelum maupun selama masa pernikahan***.

***Poin 3 - Pihak Kedua wajib mematuhi seluruh aturan rumah tangga yang ditetapkan oleh Pihak Pertama tanpa hak untuk melakukan protes, keberatan, ataupun gugatan hukum***.

***Poin 4 - Pihak Kedua dilarang keras meninggalkan kediaman utama Pihak Pertama tanpa izin tertulis atau pengawalan dari orang yang ditunjuk Pihak Pertama***.

***Poin 5 - Apabila Pihak Kedua terbukti mencoba melarikan diri atau membohongi Pihak Pertama, seluruh bantuan medis untuk Ayah Pihak Kedua akan dihentikan seketika itu juga***.'

Napas Andira terasa tertahan di dada. Poin terakhir adalah jerat paling mematikan yang dipasang Alvan. Pria itu tahu betul bahwa nyawa ayahnya adalah satu-satunya tali kekang yang bisa menundukkan Andira.

"Bagaimana, Nona Andira? Apakah ada pasal yang ingin Anda sanggah?" tanya sang pengacara.

Andira memalingkan wajahnya ke samping, menatap profil samping Alvan. Pria itu tetap memandang lurus ke depan, wajahnya seperti pahatan batu pualam yang tidak memiliki riak emosi.

"Tidak ada," jawab Andira pelan namun mantap. Suaranya tidak lagi bergetar. Rasa takutnya perlahan berganti menjadi keteguhan hati yang dingin. Jika ia harus menjadi tawanan di rumah Alvan, maka ia akan menjadi tawanan yang paling tenang sampai rahasia malam itu terkuak.

Andira meraih pulpen dan menandatangani lembaran pra-nikah tersebut tanpa ragu sedikit pun.

Ruangan tempat akad nikah itu berukuran luas, namun terasa sangat menyesakkan. Tidak ada karpet merah yang ditaburi kelopak mawar, tidak ada denting musik romantis, dan tidak ada dekorasi bunga-bunga segar yang harum. Yang ada hanyalah aroma lilin aroma terapi yang samar dan udara dingin yang dihembuskan dari AC sentral.

Andira mengenakan kebaya putih bersahaja, tanpa hiasan payet yang mewah atau riasan tebal di wajahnya. Wajah cantiknya alami, namun terpancar duka dan kepasrahan yang mendalam. Di lehernya tidak ada kalung emas, hanya kulit mulus yang pucat.

Di seberang meja kecil, penghulu dari kantor urusan agama duduk didampingi dua orang saksi. Di sudut ruangan, berdiri keluarga besar Samudra.

Ibu Rosa, ibu kandung Alvan dan Roy, duduk di atas kursi roda dengan pakaian serba hitam. Matanya sembap, merah, dan memancarkan kebencian yang teramat dalam saat menatap Andira. Di samping Ibu Rosa, berdiri Elena.

Elena mengenakan gaun hitam anggun, berpura-pura mengusap air mata di pipinya dengan saputangan sutra.

Wajah Elena menyiratkan duka yang teramat sangat bagi siapa pun yang melihatnya dari jauh. Namun, saat mata mereka tak sengaja beradu, Andira melihat kilatan kemenangan yang menyala tajam di sudut mata adik tirinya itu.

"Saudara Alvan Samudra bin Reksa Samudra," suara penghulu memecah keheningan yang mencekam. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Andira Kirana binti Hendrawan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai dibayar tunai."

Alvan menggenggam tangan penghulu. Genggamannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya lurus, dingin, dan tajam.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Andira Kirana binti Hendrawan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," ucap Alvan dengan satu hembusan napas yang tegas, lurus, dan tanpa sedikit pun keraguan.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah."

Kata "sah" bergema di ruangan itu bagaikan ketukan palu hakim yang mengunci hukuman seumur hidup bagi Andira.

Tidak ada tepuk tangan riuh. Tidak ada ucapan selamat yang hangat. Ibu Rosa berpaling muka sambil terisak pelan, tidak sudi menatap menantu barunya.

Sementara Alvan langsung menarik tangannya begitu ijab kabul selesai, seolah-olah menyentuh telapak tangan penghulu yang baru saja menjabat tangan Andira adalah sebuah kotoran.

Ketika Andira meraih tangan Alvan untuk menyalin tanda hormat sebagai seorang istri, tangan Alvan terasa begitu kaku dan dingin bagai es. Alvan tidak membalas genggaman itu. Begitu bibir Andira menyentuh punggung tangannya, Alvan menarik tangannya kembali dengan gerakan cepat yang sangat kentara.

"Prosesi selesai," ujar Alvan dingin pada penghulu. Pria itu berdiri bahkan sebelum doa penutup selesai dibacakan secara sempurna. Ia menatap ke arah pengawalnya yang berdiri di dekat pintu. "Bawa dia ke mobil."

Langkah kaki Andira diseret pelan oleh dua pengawal berjas hitam menuju pintu keluar. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah kebaya putih yang ia kenakan terbuat dari timah.

Saat melewati sudut ruangan tempat keluarga berkumpul, Andira menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Elena yang masih berdiri di samping kursi roda Ibu Rosa.

Elena melangkah mendekat, seolah-olah hendak memberikan pelukan perpisahan seorang adik kepada kakaknya yang baru saja menikah.

"Selamat ya, Mbak Andira..." bisik Elena sangat pelan saat tubuh mereka berhimpitan. Suaranya begitu halus, penuh sandiwara yang sempurna untuk telinga orang-orang di sekitar mereka. Namun, di dekat telinga Andira, hembusan napas Elena terasa beracun.

"Nikmatilah sangkar barumu," bisik Elena lagi dengan nada yang sangat dingin dan tawa kecil yang hampir tak terdengar. "Kamu pikir kamu bisa lolos karena menikahi Mas Alvan? Kamu hanya berpindah dari sel penjara polisi ke sel penjara neraka buatan Mas Alvan. Selamat membusuk di sana, Mbak."

Darah Andira berdesir hebat. Amarah yang selama ini ia tekan mendadak bergejolak di dalam dadanya. Ia memutar tubuhnya, menatap mata Elena dengan tajam.

"Kenapa, Elena?" bisik Andira, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku? Apa salahku padamu?!"

Elena mundur satu langkah, memasang kembali raut wajah sedih dan teraniaya dalam hitungan detik. "Mbak Andira... kenapa Mbak bicara begitu padaku? Aku hanya mendoakan pernikahan Mbak..." ujar Elena keras-keras dengan nada terluka, memancing perhatian orang-orang di ruangan.

Ibu Rosa langsung menoleh tajam ke arah Andira. "Cukup, Andira! Kamu sudah membunuh putraku, dan sekarang kamu masih mau menindas adikmu sendiri di depan mataku?!" suara Ibu Rosa melengking penuh kemarahan. "Bawa wanita iblis itu keluar dari sini!"

Pengawal dengan cepat memegang kedua lengan Andira dan membimbingnya memaksa keluar dari ruangan.

Andira tidak meronta lagi. Ia membiarkan dirinya dibawa pergi. Namun, dalam lirikan terakhirnya sebelum pintu ruangan tertutup rapat, ia melihat Elena tersenyum puas. Elena merapikan gaun hitamnya, membelai bahu Ibu Rosa yang menangis, seolah-olah dialah sang malaikat penyelamat di tengah keluarga yang sedang berduka.

"*Tersenyumlah sepuasmu sekarang, Elena," batin Andira membakar ikrar di dalam jiwanya. "Suatu saat nanti, aku sendiri yang akan mencabut topeng malaikat palsumu itu di depan semua orang*."

~~

Mobil sedan hitam mewah melaju membelah jalanan kota yang dingin di bawah guyuran gerimis tipis. Di dalam kabin penumpang bagian belakang, keheningan terasa begitu pekat dan mencekam.

Alvan duduk di dekat jendela sebelah kanan, menatap keluar pada deretan lampu jalan yang membayang kusam akibat titik-titik air hujan di kaca. Ia tidak mengucapkan satu kata pun sejak mereka meninggalkan hotel. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat.

Di sebelahnya, Andira duduk merapat ke pintu sebelah kiri, memberi jarak sejauh mungkin di antara mereka. Tangan Andira yang gemetar memangku buket bunga mawar putih kecil yang diberikan oleh petugas KUA, satu-satunya benda yang menandakan bahwa ia baru saja menjadi seorang pengantin.

Tiba-tiba, ponsel Alvan yang terletak di konsol tengah berdering pendek. Alvan meraihnya, menekan tombol layar, dan membaca sebuah pesan masuk.

Mata Alvan bergulir melirik ke arah Andira.

"Ayahmu baru saja sadar dari komanya," ujar Alvan datar, memecah keheningan kabin.

Andira seketika menoleh, matanya yang redup mendadak berbinar oleh secercah harapan. "Ayah... Ayah sudah sadar? Boleh aku menjenguknya, Mas? Tolong... sebentar saja."

Penggunaan kata 'Mas' membuat alis Alvan bertaut tajam. Tatapan matanya memancarkan rasa jijik yang sangat jelas.

"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu," potong Alvan dingin dan menusuk. "Kamu tidak berhak memanggilku seperti itu."

Andira menelan saliva yang terasa pahit di tenggorokannya. Ia menunduk pelan. "Maaf... Pak Alvan. Tolong, izinkan saya melihat Ayah sebentar saja. Saya ingin memastikan dia baik-baik saja."

Alvan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang empuk, menyilangkan tangannya di dada dengan sikap dominan.

"Kondisi ayahmu stabil karena tim dokter terbaik yang kubayar sedang merawatnya," kata Alvan tanpa emosi. "Tapi kesempatanmu untuk menemuinya tergantung pada sikapmu di rumahku. Jika kamu menurut dan tidak membuat ulah, bulan depan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk mengizinkanmu melihatnya selama lima menit."

"Bulan depan...?" suara Andira tercekat. Satu bulan tanpa bisa melihat ayahnya yang baru saja melewati garis antara hidup dan mati.

"Atau tidak sama sekali," tambah Alvan pendek.

Andira memejamkan matanya rapat-rapat, mengepal jemarinya erat-erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangannya sendiri. Rasa sakit di hatinya begitu dalam, namun ia tahu ia tidak memiliki posisi untuk menawar.

"Baik," bisik Andira pasrah. "Saya akan menuruti semua perintah Anda."

Mobil sedan hitam itu terus melaju, berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit di atas perbukitan yang sepi. Di ujung jalan yang dipagari pohon-pohon pinus tinggi, berdiri sebuah gerbang besi hitam raksasa yang terbuka secara otomatis.

Di balik gerbang itu, sebuah rumah megah berarsitektur modern minimalis berdiri kokoh dengan lampu-lampu sorot yang menyinari dinding betonnya yang dingin.

Rumah yang tampak begitu indah dari luar, namun bagi Andira, bangunan itu tak ubahnya sebuah sangkar emas tempat hukuman terbesarnya baru saja dimulai.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Alvan membuka pintunya sendiri dan melangkah keluar tanpa memedulikan Andira. Pria itu berdiri di samping mobil, menatap Andira yang perlahan melangkah turun dari pintu sebelah kiri.

"Selamat datang di rumahku, Andira," ujar Alvan pelan, suaranya menyatu dengan angin malam yang berhembus dingin. "Mulai malam ini, nerakamu resmi dimulai."

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!