Indonesia
NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari sebuah kebiasaan (3)

Sore itu, matahari mulai condong ke barat ketika bel pulang berbunyi.

Koridor SMA Bintang Nusantara kembali dipenuhi langkah kaki para siswa yang bergegas meninggalkan kelas. Sebagian menuju gerbang sekolah, sebagian lagi berlari ke lapangan untuk latihan ekstrakurikuler.

Sementara Naya berdiri beberapa saat di depan kelasnya.

Tangannya menggenggam buku catatan berwarna cokelat yang pagi tadi sengaja ia bawa. Di halaman pertama sudah tertulis rapi:

Rapat Perdana Festival Seni

Ia menarik napas panjang.

"Deg-degan?" ucap Tasya membuat Naya menoleh.

"Aku takut salah ngomong."

"Kamu kan sekretaris, bukan pembawa acara." Tasya terkekeh pelan.

"Kalau salah ngomong juga paling bilang, 'maaf, ulang lagi.'" Naya tersenyum tipis. Ia berharap semudah itu.

---

Ruang OSIS berada di pojok lantai dua.

Ketika mereka tiba, beberapa anggota panitia sudah lebih dulu datang. Ada yang menyusun kursi, ada yang sibuk bercanda, ada pula yang membuka laptop.

Naya memilih duduk di kursi paling belakang.Baginya, tempat itu terasa paling aman.

Ia bisa memperhatikan semua orang tanpa menjadi pusat perhatian. Tak lama kemudian, pintu ruangan kembali terbuka.

Naya melihat siapa yang datang dan ternyata Arga yang datang, dia masuk sambil membawa map biru dan sebuah kotak berisi spidol.

"Maaf ya, tadi dipanggil Bu Rina." Salah satu kakak kelas langsung menjawab,

"Santai, Ketua." Arga tertawa kecil.

"Oke, sebelum mulai... siapa yang belum kebagian kursi?" Seorang siswa mengangkat tangan.

"Di sini, Kak." Arga berjalan mengambil kursi lipat yang tersandar di sudut ruangan, lalu meletakkannya di samping siswa itu.

"Nah, sekarang lengkap." Tidak ada yang berlebihan.

Begitulah Arga.

Kalau ada yang membutuhkan bantuan, ia akan membantu. Kalau ada yang kesulitan, ia akan menghampiri.

Sikap itu sudah menjadi kebiasaan yang bahkan tidak ia sadari lagi. Naya memperhatikannya diam-diam.Dalam hati ia tersenyum.

*"Pantas saja banyak yang menghormatinya."*

---

"Oke, kita mulai."

Arga berdiri di depan papan tulis.

"Perkenalkan dulu. saya Arga, ketua panitia Festival Seni tahun ini." Beberapa siswa tertawa.

"Kak, semua orang juga udah tahu." ucap mereka berseru.

"Ya anggap aja formalitas." Suasana rapat langsung mencair begitu Arga mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu, namun dia hanya ingin mencairkan suasana yang menurutnya terasa tegang ini.

Satu per satu anggota panitia memperkenalkan diri.

Ketika giliran Naya tiba, ia berdiri pelan.

"Halo... aku Naya dari kelas sebelas B, aku dibagian sekertaris." ucapnya rada gugup dan menjeda ucapannya sebentar

"Salam kenal semua." Sesingkat itu perkenalan nya.

Namun Arga tetap mengangguk sambil tersenyum.

"Selamat bergabung, Naya." Dua kata sederhana.Tetapi berhasil membuat Naya sedikit lebih tenang.

---

Rapat berlangsung hampir satu jam.Arga tidak mendominasi pembicaraan.Ia justru lebih sering bertanya.

"Menurut kalian, tema apa yang cocok?"

"Kalau acaranya sore gimana?"

"Siapa yang punya ide?"

Semua diberi kesempatan berbicara. Sesekali terjadi perdebatan kecil. Namun Arga selalu berhasil menengahi tanpa membuat suasana menjadi tegang.

Naya sibuk menulis setiap hasil rapat. Sesekali ia mengangkat kepala ketika ada keputusan yang harus dicatat. Di tengah rapat, pulpen yang ia gunakan tiba-tiba berhenti mengeluarkan tinta.

Naya mengusap ujungnya beberapa kali. Tetap tidak bisa. Ia menghela napasnya pelan.

Belum sempat mencari pulpen cadangan, sebuah pulpen hitam diletakkan begitu saja di atas buku catatannya.

"Pakai ini dulu." Naya mendongak. Arga sudah kembali berdiri di depan ruangan, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan tidak melihat ke arah Naya lagi.

"Makasih..." gumam Naya pelan. Mungkin Arga tidak mendengarnya. Atau mungkin memang tidak perlu didengar. Baginya, meminjamkan pulpen hanyalah hal kecil.

Namun bagi Naya... Hal kecil itu berhasil memenuhi pikirannya sepanjang rapat.

---

Menjelang pukul lima sore, rapat akhirnya selesai.

"Terima kasih semuanya." Arga menjeda ucapannya sebentar lalu melanjutkan nya kembalj

"Jangan lupa nanti kita kumpul lagi." ucap Arga

Satu per satu anggota panitia mulai meninggalkan ruangan. Naya masih duduk, merapikan catatan yang akan diketik ulang nanti malam. Saat ia hendak berdiri, sebuah suara kembali memanggilnya.

"Naya."

"Iya, Kak?"

Arga menghampirinya sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam map.

"Notulensinya nanti kirim ke grup panitia sebelum jam sembilan malam, ya."

"Oke."

"Kalau ada yang kurang jelas, chat aku aja."

"Iya."

"Jangan sungkan."

Naya mengangguk pelan. Percakapan itu tidak berlangsung sampai satu menit. Namun entah mengapa, dalam perjalanan pulang ia terus mengingatnya.

Bukan karena kata-kata Arga terdengar istimewa.

Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak lama , ia memiliki alasan untuk mengirim pesan kepada orang yang diam-diam ia sukai.

Dan tanpa disadari keduanya...

Sebuah kebiasaan kecil baru saja dimulai.

......................

Soon to bee

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!