Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haselyn Afrasya

Meski terlahir dari rahim yang sama, kehidupan Nisrina dan Haselyn berjalan di dua jalan yang sangat berbeda.

Sejak kecil, Nisrina dikenal sebagai anak yang cerdas, ramah, mudah bergaul, serta patuh kepada orang tua. Ia hampir tak pernah membantah dan selalu sigap membantu siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika namanya selalu menjadi kebanggaan keluarga besar Afrasya.

Sementara itu, Haselyn Afrasya, putri bungsu Mahendra Afrasya dan Mayrah Adisti, tumbuh dengan karakter yang jauh berbeda.

Ia sama cerdasnya dengan kedua kakaknya. Prestasinya pun tak pernah mengecewakan. Namun, Haselyn memiliki prinsip yang begitu kuat. Ia tidak mudah menerima sesuatu hanya karena diminta menurut. Baginya, setiap keputusan harus memiliki alasan yang masuk akal.

Sayangnya, sikap itu justru dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

Ia kerap dicap keras kepala, sulit diatur, bahkan terlalu sering membantah orang tua. Setiap kali pendapatnya berbeda dengan anggota keluarga yang lain, Haselyn selalu menjadi pihak yang diminta mengalah. Seolah mempertahankan prinsip adalah sebuah kesalahan.

Lama-kelamaan, perbedaan cara berpikir itu membangun jarak yang semakin lebar antara Haselyn dan keluarganya.

Perbedaan perlakuan itu sudah dirasakan Haselyn sejak usianya masih sebelas tahun.

Kala itu, ia baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dengan nilai yang membanggakan. Sejak lama ia mengincar sebuah sekolah menengah pertama favorit yang dikenal memiliki kualitas pendidikan terbaik, tenaga pengajar yang kompeten, serta fasilitas lengkap untuk mendukung perkembangan siswanya.

Namun, sekolah impiannya juga dikenal sebagai salah satu sekolah dengan biaya pendidikan yang tidak sedikit.

Meski begitu, Haselyn tetap memberanikan diri menyampaikan keinginannya kepada sang ibu.

"Kenapa aku tidak boleh sekolah di sana, Ma?" tanya Haselyn dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Di usianya yang masih sebelas tahun, ia belum memahami bahwa tidak semua impian dapat diraih hanya dengan kerja keras. Terkadang, ada keadaan yang memaksa seseorang mengubur keinginannya, meski hatinya belum benar-benar rela.

Mayrah Adisti menatap putri bungsunya dengan wajah mengeras. Tatapannya menunjukkan bahwa keputusan itu sudah bulat.

"Sekolah itu biayanya sangat mahal, Haselyn," ucapnya tegas. "Mama tidak sanggup membiayainya. Kamu sekolah di sekolah yang lain saja."

Haselyn menundukkan kepala sesaat. Namun, keinginan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun membuatnya belum rela menyerah begitu saja.

"Tapi aku punya tabungan, Ma," katanya pelan. "Uang itu cukup untuk membayar biaya sekolahku selama satu tahun."

Tabungan itu bukanlah uang yang datang begitu saja. Sedikit demi sedikit Haselyn menyisihkan uang pemberian saat ulang tahun, hadiah dari keluarga, hingga uang sakunya. Semua ia kumpulkan dengan satu tujuan: bersekolah di tempat yang selama ini menjadi impiannya.

Sayangnya, penjelasan itu tidak meluluhkan hati Mayrah.

"Kamu pikir sekolah di sana cuma satu tahun?" nada suaranya mulai meninggi. "Masih ada dua tahun berikutnya. Mama harus mencari dari mana sisa biayanya?"

Haselyn menggigit bibir bawahnya.

"Masih ada waktu satu tahun untuk menabung, kan, Ma?" balasnya hati-hati. "Berarti kita masih bisa berusaha bersama."

Bagi Haselyn yang saat itu baru berusia sebelas tahun, pemikirannya terdengar sederhana sekaligus masuk akal. Ia percaya bahwa waktu satu tahun adalah kesempatan yang cukup untuk mempersiapkan biaya pendidikan berikutnya.

Lagi pula, keluarganya bukan hidup dalam kekurangan. Mereka memang bukan keluarga yang bergelimang harta, tetapi juga bukan keluarga yang harus berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di mata Haselyn, impian itu masih mungkin diwujudkan jika semua orang mau berusaha.

Mayrah mengembuskan napas panjang sebelum berkacak pinggang. Wajahnya mulai memerah menahan emosi.

"Kamu pikir keluarga ini tidak punya kebutuhan lain?" tanyanya dengan nada tinggi. "Uang itu bukan cuma untuk biaya sekolahmu, Haselyn. Kita juga harus makan, membayar tagihan, dan memenuhi kebutuhan rumah."

Ucapan itu membuat dada Haselyn semakin sesak.

Air matanya mulai menggenang hingga akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

"Tapi..." suaranya bergetar. "Kakak juga sekolah di sekolah yang bagus. Kenapa aku tidak boleh?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Sejak taman kanak-kanak, kedua kakaknya selalu bersekolah di tempat yang dianggap terbaik oleh orang tuanya. Sementara dirinya, berkali-kali diminta menerima sekolah yang berbeda dengan alasan yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Mayrah memejamkan mata sejenak, lalu menggeleng pelan.

"Itu berbeda."

"Apa bedanya, Ma?" Haselyn menatap ibunya dengan mata yang memerah. "Bukankah aku juga anak Mama dan Ayah?"

Pertanyaan polos itu membuat suasana mendadak hening.

Namun, alih-alih memberi penjelasan yang menenangkan, emosi Mayrah justru semakin memuncak.

"Jelas berbeda!" bentaknya.

"Kakakmu itu anak yang penurut. Mereka tidak pernah membantah orang tua. Mereka selalu membantu Mama, berbicara dengan sopan, dan mengerti keadaan keluarga."

Mayrah mengangkat telunjuknya ke arah Haselyn.

"Sedangkan kamu..." suaranya terdengar lebih pelan, tetapi justru lebih menusuk. "Sedikit-sedikit membantah. Selalu ingin pendapatmu dituruti. Kamu tidak pernah mau mengalah."

Haselyn terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan sedang ditolak karena impiannya terlalu tinggi, melainkan karena dirinya dianggap tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Dan sejak hari itu, sebuah pertanyaan mulai tumbuh di dalam hatinya...

Apa benar aku diperlakukan berbeda hanya karena aku bukan anak yang mereka harapkan?

"Mama tidak adil!" seru Haselyn di sela isak tangisnya.

"Kak Faezya dan Kak Nisrina bisa bersekolah di sekolah terbaik sejak SD. Bahkan sejak taman kanak-kanak mereka selalu mendapat sekolah yang bagus. Kenapa hanya aku yang harus masuk sekolah biasa? Padahal kita bukan keluarga yang kekurangan."

Suara gadis kecil itu bergetar. Bukan karena marah semata, melainkan karena kecewa. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa perlakuan yang diterimanya berbeda dengan kedua kakaknya.

Mayrah menarik napas panjang, berusaha mengakhiri perdebatan yang menurutnya sudah tidak ada gunanya.

"Pokoknya Mama tidak akan mendaftarkanmu ke sekolah itu," katanya tegas. "Keputusan Mama sudah bulat."

"Tapi aku ingin sekolah di sana, Ma!" balas Haselyn. Kali ini suaranya terdengar lebih lantang, dipenuhi tekad yang tak mudah dipatahkan.

Mayrah menatap putrinya tanpa mengubah keputusan.

"Kalau kamu tetap ingin sekolah di sana, silakan saja," ujarnya dingin. "Tapi jangan berharap Mama yang membayar semua biayanya. Cari sendiri uangnya."

Kalimat itu membuat Haselyn terdiam beberapa detik.

Ia mengepalkan kedua tangannya erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan.

"Baik," ucapnya lirih, tetapi penuh keyakinan.

"Aku akan membayar sekolahku sendiri."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Haselyn berbalik meninggalkan ibunya. Langkah kecilnya terdengar tergesa, sementara tangis yang sedari tadi ia tahan kembali pecah.

Di balik air matanya, tersimpan sebuah tekad yang tak pernah ia lupakan.

Jika suatu hari nanti ia benar-benar mampu berdiri di atas kakinya sendiri, ia tidak akan lagi menggantungkan impian kepada siapa pun.

Sejak hari itu, Haselyn mulai belajar bahwa terkadang seseorang harus berjuang sendirian untuk mendapatkan kesempatan yang dengan mudah diberikan kepada orang lain.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!