BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 persiapan untuk keberangkatan
Dengan langkah yang tidak terlalu cepat maupun lambat, mereka berempat berjalan menuju kediaman Kepala Desa.
Di sepanjang perjalanan, suasana desa tampak begitu hidup. Riuh tawa anak-anak yang sedang bermain terdengar bersahutan, berpadu dengan suara aktivitas warga yang menjalani keseharian mereka.
“Kak Yefan!” teriak seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dari kejauhan.
Yefan menoleh. Senyum tipis terukir di wajahnya saat melihat bocah itu tengah asyik berlari-larian.
Beberapa kali kakinya tersandung hingga tubuh mungilnya terjatuh ke tanah. Namun, bocah itu sama sekali tidak menangis. Ia justru segera bangkit, menepuk-nepuk debu yang menempel di pakaiannya, lalu kembali berlari dengan tawa yang lebih ceria sembari terus memanggil nama Yefan.
Pemandangan sederhana itu menghadirkan kehangatan tersendiri di dalam hati Yefan, seolah untuk sesaat mampu meredakan luka yang masih menganga di dalam hati nya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kediaman Kepala Desa yang terletak tepat di pusat pemukiman.
Berbeda dari rumah warga lainnya, bangunan dua lantai itu berdiri kokoh meski seluruh strukturnya hanya terbuat dari kayu sederhana dengan atap anyaman daun bambu. Bangunan tersebut memancarkan kesan kuno, tetapi sekaligus memberikan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Tepat di ambang pintu, seorang pria tua dengan tongkat kayu di tangannya telah berdiri menunggu.
Tatapannya yang redup menyimpan sedikit antisipasi ketika melihat kedatangan Yefan dan ketiga sahabatnya.
Yefan, Yunlan, Xifeng, dan Fanyun pun kompak membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat.
“Haha... Baik, baik. Tidak perlu terlalu formal. Mari masuk, Nak,” sambut Kepala Desa dengan suara seraknya.
Setelah saling pandang sejenak, mereka berempat kemudian melangkah masuk dan mengikuti Kepala Desa menuju meja utama di lantai dua.
Begitu semuanya duduk, Kepala Desa membuka pembicaraan.
“Yefan, Yunlan, Xifeng, Fanyun. Kakek mengundang kalian kemari karena ada suatu hal penting yang membutuhkan bantuan kalian.”
“Bantuan seperti apa yang Kakek maksud?” tanya Yefan lugas.
“Haha, sebenarnya tidak terlalu rumit. Kakek membutuhkan Teratai Hitam Tujuh Daun yang tumbuh di perbatasan bagian dalam hutan.”
Kepala Desa berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Tentu saja, tumbuhan langka itu tidak tumbuh tanpa penjagaan. Di sana terdapat seekor binatang buas bernama Tupai Berekor Tiga. Kalian harus ekstra waspada saat menghadapinya.”
Sorot mata Kepala Desa menjadi lebih serius.
“Tupai Berekor Tiga terkenal karena kecepatannya yang luar biasa dan penciumannya yang sangat tajam. Kalian harus bekerja sama dengan solid. Meskipun binatang itu belum memiliki kultivasi seperti kalian, ia memiliki kemampuan alami untuk memanggil kawanannya dalam radius tiga kilometer.”
“Selain itu, meskipun lokasi teratai berada di area luar hutan, bukan berarti tempat itu sepenuhnya aman. Tidak menutup kemungkinan kalian akan berpapasan dengan binatang buas yang telah memiliki kecerdasan layaknya manusia, bahkan mampu berkultivasi seperti manusia.”
Mendengar penjelasan tersebut, Fanyun, Xifeng, dan Yunlan seketika menegang.
“I-ini... bukankah terlalu berbahaya?! Bukankah itu sama saja dengan mengantarkan nyawa ke liang kubur?!” sergah Fanyun dengan suara bergetar.
Keceriaan yang biasanya memenuhi wajahnya lenyap seketika. Wajah Xifeng dan Yunlan pun berubah pucat.
Hanya Yefan yang tetap tenang.
Tidak ada riak emosi yang terlihat di wajahnya. Bahkan detak jantungnya tetap stabil, seolah ancaman yang baru saja dijelaskan Kepala Desa tidak lebih dari perkara sepele.
Ketenangan tersebut sungguh tidak sesuai dengan usianya yang baru genap delapan tahun.
Kepala Desa terkekeh pelan. Namun, di balik tawanya, sepasang mata tuanya yang keruh diam-diam mengamati Yefan dengan binar ketertarikan yang sulit disembunyikan.
“Tidak, tidak! Aku tidak mau!” Fanyun tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dengan tubuh gemetar.
“Aku tidak bisa! Aku tidak mau mati muda!”
Ia buru-buru menolak tugas berbahaya tersebut.
Xifeng dan Yunlan sebenarnya hendak menyetujui penolakan Fanyun. Namun, sebelum keduanya sempat berbicara, Kepala Desa telah menyela dengan tenang.
“Jika kalian berhasil membawa pulang Teratai Hitam Tujuh Daun, Kakek akan menyuling salah satu kelopaknya menjadi ramuan khusus. Dengan ramuan itu, kalian bertiga akan memiliki kesempatan untuk menapaki jalan seorang kuktifator.”
Seketika, kata-kata penolakan Fanyun tertahan di tenggorokannya.
Xifeng dan Yunlan pun terdiam seribu bahasa.
Ketiganya saling pandang.
Tak satu pun berbicara, tetapi tatapan mereka seolah telah melakukan sebuah diskusi panjang tanpa suara.
Menjadi seorang kultivator.
Dua kata sederhana itu merupakan impian terbesar mereka.
Namun bagi Yefan, kata tersebut justru seperti sebilah pisau yang kembali menusuk luka lama.
Dadanya mendadak terasa sesak. Gelombang emosi yang selama ini ia tekan kembali berdesakan dari dalam.
Ia sangat ingin menjadi seorang kultivator.
Sayangnya, impian itu telah menjadi sesuatu yang mustahil baginya.
Yefan segera menyembunyikan gejolak tersebut di balik sebuah senyuman masam.
Kepala Desa yang menyadari perubahan raut wajahnya hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.
Ia memahami betul luka yang tersimpan di dalam dada anak kecil itu.
Sayangnya, sepanjang hidupnya, bahkan di dalam catatan-catatan kuno tertua yang pernah ia baca sekalipun, tidak pernah ditemukan metode kultivasi yang memungkinkan seseorang tanpa dantian untuk berkultivasi.
Kepala Desa kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Ia berjalan menuju sebuah rak kayu tua di sudut ruangan sebelum mengambil sebuah tanduk hitam sepanjang satu meter.
Ujung tanduk itu runcing, sementara permukaannya masih menyisakan noda gelap. Bau amis darah yang menyengat bahkan masih melekat kuat pada benda tersebut.
Kepala Desa kemudian menyerahkannya kepada Yefan.
Begitu melihat benda itu, tatapan Yefan berubah.
Ingatan tentang tragedi kematian ayahnya seketika menyeruak ke dalam benaknya.
Tanduk inilah...
Tanduk yang telah mencabut nyawa ayahnya.
Jari-jari Yefan mengepal erat.
Amarah yang membara di dalam dadanya nyaris kembali meledak, tetapi ia segera menarik napas dalam-dalam dan menekannya sekuat tenaga.
Ia tidak boleh kehilangan kendali.
Sementara itu, setelah mempertimbangkan tawaran tersebut, Xifeng, Fanyun, dan Yunlan akhirnya sepakat untuk menerimanya.
Kesempatan untuk menjadi seorang kultivator adalah sesuatu yang sangat langka.
Mereka tidak tahu apakah kesempatan seperti ini akan datang untuk kedua kalinya di dalam hidup mereka.
“Hahaha! Bagus, bagus! Kalau begitu, tangkap ini!”
Kepala Desa terkekeh puas sembari melemparkan sebuah gulungan peta yang terbuat dari kulit domba.
Yunlan segera mengulurkan tangan dan menangkapnya.
Ketika dibentangkan, peta itu memiliki ukuran hampir satu meter persegi. Di atasnya tergambar berbagai rujukan wilayah, mulai dari gugusan pegunungan, aliran sungai, hingga beberapa zona terlarang yang ditandai dengan simbol tengkorak.
Sebuah jalur utama menunjukkan perjalanan ke arah timur sejauh seratus kilometer menuju lokasi tumbuhnya Teratai Hitam Tujuh Daun, tepat di balik hamparan pegunungan purba yang dipenuhi pepohonan lebat.
“Begitu mendapatkan Teratai Hitam Tujuh Daun, langsung kembali. Jangan pernah sekali-kali menyimpang dari rute yang telah ditunjukkan pada peta,” tegas Kepala Desa.
“Baik!”
Mereka menjawab serempak.
Ketiga sahabat itu kemudian membalikkan tubuh dan menatap Yefan dengan penuh harap.
Yefan tentu memahami arti tatapan tersebut.
Meskipun dirinya tidak mampu berkultivasi, ketenangan serta kemampuan analisisnya yang tajam merupakan pilar utama yang selalu mereka andalkan ketika menghadapi situasi sulit.
Dan itulah alasan sebenarnya Kepala Desa mengikutsertakan Yefan dalam perjalanan tersebut.
Sejatinya, Yefan telah membaca niat Kepala Desa sejak awal.
Namun, ia memilih untuk diam.
Demi keselamatan sahabat-sahabatnya, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada Kepala Desa yang selama ini telah mengabdikan hidupnya untuk melindungi desa, Yefan akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Aku akan mendampingi mereka.”
Kepala Desa terkekeh puas, seolah keputusan tersebut memang telah ia duga sejak awal.
Namun, Yefan tidak menyadari adanya senyum tipis nan misterius yang terukir di bibir Xifeng, Fanyun, dan Yunlan.
Setelah mematangkan rencana, mereka memutuskan untuk berangkat dua hari lagi.
Mereka pun berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing untuk menyiapkan segala perbekalan yang diperlukan sebelum perjalanan menuju hutan.
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏