Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3. Pertemuan yang tak pernah kubayangkan

Hari-hari yang kulalui setelah pembicaraan dengan Papa terasa berjalan dalam keheningan yang panjang. Setiap langkahku terasa berat, setiap senyum yang kubentuk terasa paksa. Namanya belum diketahui, wajahnya belum pernah kulihat, namun bayangannya seakan sudah berdiri di depanku, menutupi seluruh masa depan yang kucita-citakan. Papa berjanji akan segera mengatur pertemuan, agar kami saling mengenal sebelum ikatan pertunangan resmi terjalin. Dan hari itu pun akhirnya tiba. Sebuah hari yang sama sekali tak pernah kubayangkan akan menjadi titik balik sepanjang hidupku.

Sore itu, langit tampak begitu indah berwarna jingga kemerahan, seakan Tuhan sedang melukis keindahan di ufuk barat. Namun entah mengapa, pemandangan indah itu tak mampu sedikit pun mengusir kegelisahan yang menggelayut di hatiku. Aku berdiri di balik cermin besar di kamarku, mengenakan gaun sederhana berwarna lembut yang dipilihkan Mama. Rambutku tertata rapi, wajahku tampak bersih dan anggun seperti biasa, namun mataku tak berbinar. Di dalam dadaku, ribuan pertanyaan dan ketakutan saling berebut tempat. Siapakah dia? Bagaimana wajahnya? Apakah dia akan kasar? Apakah dia pun sama sepertiku—terpaksa menerima sebuah takdir yang bukan pilihannya?

"Sudah siap, Sayang?" Suara Mama terdengar lembut dari balik pintu. Ia melangkah masuk, mendekat, lalu membetulkan letak kerah bajuku dengan penuh kasih sayang. "Jangan terlalu cemas. Anggaplah ini sekadar pertemuan biasa. Lihatlah dia sebagai seseorang yang baru engkau kenal. Biarkan hatimu bicara perlahan, tanpa paksaan."

Aku mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Iya, Ma. Lisna akan berusaha."

Perjalanan menuju kediaman kerabat yang telah disepakati sebagai tempat pertemuan itu terasa begitu sunyi. Di dalam mobil, Papa sesekali berbicara, namun telingaku seakan tak mampu menangkap setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Pikiranku melayang jauh, tak tentu arah. Jantungku berdetak kencang seakan hendak meloncat keluar dari rongga dadaku. Semakin dekat tujuan kami, semakin sesak rasanya napasku. Aku merasa seakan sedang berjalan menuju sesuatu yang besar, sesuatu yang akan mengubah seluruh sisa hidupku.

Sesampainya di sana, suasana tampak begitu tenang dan tertata. Rumah yang asri, dipenuhi pepohonan rindang yang menyejukkan mata. Langkah kakiku terasa berat saat melangkah masuk ke ruang tamu yang luas itu. Di sana, sepasang suami istri yang tampak ramah dan berwibawa telah menanti. Mereka adalah sahabat lama Papa dan putranya. Aku menyapa dengan sopan, menunduk hormat, namun mataku berusaha mencari sosok yang selama ini menjadi bayang-bayang tak kasat mata dalam hidupku. Namun belum tampak sosoknya. Hingga tak lama berselang...

Suara langkah kaki terdengar pelan namun tegas mendekat dari arah pintu samping. Langkah yang berirama, tenang, dan penuh keyakinan. Perlahan kepalaku terangkat, dan pandanganku jatuh tepat pada sosok yang baru saja muncul.

Dunia seakan berhenti berputar saat itu juga. Napasku tertahan di kerongkongan, mataku terpaku lekat-lekat tak sanggup beralih. Di hadapanku berdiri seorang pria yang tampak begitu tegap dan gagah. Tinggi tubuhnya berpadu dengan bahu yang lebar, memancarkan kesan kuat namun tetap tenang. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, kulit bersih, dan sepasang mata yang tajam namun teduh seakan menyimpan kedalaman samudra. Alisnya rapi, hidungnya bangkok, dan bibirnya terkatup rapat membentuk garis tenang. Saat ia menatap ke arahku, seketika itu juga rasanya seakan ada getaran halus yang menjalar ke segenap pembuluh nadiku. Pria itu... memiliki wajah yang begitu tenang, namun menyiratkan wibawa yang tak terlukiskan. Lebih muda dari yang kubayangkan, jauh lebih tampan dari yang sempat kuduga, dan... entah mengapa, seakan ada sesuatu yang akrab dalam tatapan matanya itu.

Pria itu melangkah mendekat dengan tenang, tidak terburu-buru sedikit pun. Ia menyapa Papa dan orang tuanya dengan sopan dan berbakti, suaranya rendah namun begitu merdu dan berwibawa. Lalu, perlahan tatapan matanya beralih kepadaku. Menatap lurus ke dalam manik mataku dalam waktu yang terasa begitu lama. Aku menahan napas, tak berani bergerak sedikit pun. Ada keheranan yang melintas sepasang mata itu, seakan ia pun merasa hal yang sama. Seakan ada samar-samar bayangan yang mengenali pertemuan ini.

"Ini putraku, Arga," ucap sahabat lama Papa dengan nada bangga. "Arga, perkenalkan, ini Lisna."

Nama itu meluncur lembut, namun begitu berat maknanya. Arga. Jadi namanya Arga.

Ia membungkuk sedikit memberi hormat, lalu mengulurkan tangan dengan sopan. "Perkenalkan, saya Arga."

Saat tangannya menyentuh ujung jariku sekilas saja, seketika itu pula jantungku berpacu semakin tak beraturan. Sentuhannya begitu hangat, halus, namun penuh ketegasan. Aku menarik tanganku seketika karena gugup, lalu menunduk dalam, berusaha menyembunyikan rona merah yang merambat cepat memerah di pipiku.

"Saya Lisna," jawabku pelan, suaraku nyaris tak terdengar. "Senang berkenalan denganmu."

Hanya itu yang sanggup kuucapkan. Sementara di dalam hatiku, ribuan tanda tanya kembali berputar liar. Mengapa pertemuan ini terasa begitu aneh? Mengapa jantungku berdebar demikian hebatnya? Dan yang paling membuatku tak habis pikir... mengapa wajah Arga ini terasa begitu tak asing bagiku? Seakan aku pernah melihatnya di suatu tempat, pada waktu yang lalu, meski sepenuhnya aku yakin ini adalah pertama kalinya kami berhadapan sedekat ini.

Percakapan pun berlanjut di antara para orang tua, sementara kami berdua duduk agak terpisah, saling diam dan sesekali berpandangan lalu buru-buru memalingkan wajah saat tatapan kami bertemu. Di matanya, aku tak melihat kebahagiaan melainkan sorot mata yang tenang, terkendali, seakan ia pun sedang berusaha memahami apa yang tengah terjadi. Ia tidak banyak bicara. Namun setiap kali ia bersuara, setiap kata yang terucap begitu tertata, bijaksana, dan penuh keyakinan. Pria ini... bukanlah pria sembarangan. Ia tampak teguh pendiriannya, cerdas, dan memiliki kedewasaan yang jauh melampaui usianya.

Sore itu berlalu dalam suasana yang hangat namun penuh keheningan di antara kami berdua. Saat kami bersalaman perpisahan untuk kedua kalinya, Arga menatapku sejenak, lalu berkata dengan nada yang rendah namun terdengar jelas di telingaku. "Terima kasih telah bersedia datang, Lisna. Sampai berjumpa lagi."

Aku hanya mampu mengangguk kaku, tak berani bersuara lagi. Sepeninggal kami dari kediaman itu, sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tak lepas dari sosoknya. Wajahnya, suaranya, tatapan matanya... semuanya terus terbayang-bayang di kepalaku. Pertemuan ini sungguh-sungguh tak pernah kubayangkan. Bukan seperti apa yang kutakutkan selama ini. Ia bukan sosok yang menakutkan ataupun menyebalkan. Namun justru sebaliknya... kehadirannya membawa keanehan yang tak dapat kujelaskan dengan kata-kata. Sebuah pertemuan yang sama sekali tak pernah kubayangkan akan begitu menggetarkan hatiku. Dan di detik itu pula, entah kenapa... aku mulai menyadari bahwa mungkin saja, perjalanan panjang ini belum sepenuhnya kelabu. Bahwa di balik takdir yang berat ini, mungkin saja tersimpan sesuatu yang kelak akan mengubah seluruh pandanganku.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!