Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
“Maaf, kami tidak menerima lamaran langsung.”
Untuk kelima kalinya pagi itu, Elang menerima jawaban dengan kalimat serupa di perusahaan yang ia datangi. Ia mengangguk kepada resepsionis yang berdiri di balik meja marmer dengan senyum yang tak pudar.
“Baik. Terima kasih.” Elang menurunkan CV-nya dari meja, lalu berjalan meninggalkan lobi gedung.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka, udara panas langsung menyambutnya. Ia mengembuskan napas panjang sambil melihat jam di ponsel yang kini menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Kemejanya yang sebelumnya rapi mulai kusut, rambutnya tidak serapi saat ia berangkat pagi ini.
Sejak pagi, lima perusahaan sudah ia datangi. Perusahaan pertama meminta seluruh proses dilakukan melalui situs resmi, dua perusahaan tidak membuka lowongan, dan dua perusahaan lagi menolak menerima berkas sebelum ia selesai menjelaskan tujuannya.
Elang menatap deretan gedung tinggi di sepanjang jalan, kepalanya menggeleng pelan dengan satu keyakinan kesempatan lain pasti akan datang.
“Masih banyak," gumamnya menyemangati dirinya sendiri, sedikit pun tidak berniat menyerah hanya karena lima penolakan.
Ia memasukkan kembali ponsel ke saku, kemudian membawa langkahnya menuju gedung berikutnya. Bangunan itu jauh lebih besar dibandingkan lima perusahaan yang ia datangi sebelumnya dengan papan nama besar terpasang di bagian depan gedung.
DANESWARA CRISIS MANAGEMENT
Elang menghentikan langkah sejenak, berdiri beberapa meter dari pintu masuk dengan kepala sedikit tengadah menatap nama perusahaan di depannya. Ia mengenal perusahaan itu.
Daneswara Crisis Management merupakan perusahaan konsultan yang menangani masalah operasional, restrukturisasi, audit internal, hingga krisis perusahaan besar. Beberapa bulan lalu, ia pernah membaca profil mereka ketika sedang mencari pekerjaan. Yang ia ketahui, perusahaan itu tidak sedang membuka lowongan pekerjaan.
Namun, setelah lima kali penolakan hari ini, tidak ada salahnya mencoba. Ia menaiki beberapa anak tangga, kemudian memasuki lobi utama. Ruangan itu cukup luas dengan meja resepsionis di bagian tengah. Beberapa pegawai berlalu-lalang sambil membawa dokumen di tangan mereka.
“Permisi.” Elang menyapa ramah begitu ia berdiri di depan meja resepsionis.
Seorang wanita di balik meja mengangkat wajah. "Ya, ada yang bisa saya bantu?"
“Saya ingin bertanya. Apakah Daneswara Crisis Management sedang membuka lowongan?”
Wanita itu memeriksa layar komputer di hadapannya sebelum kembali menatap Elang tanpa menurunkan ekspresi ramah di wajahnya.
“Maaf, untuk saat ini belum ada penerimaan pegawai baru.”
"Begitu ya," Elang kembali menelan rasa kecewa. “Boleh saya meninggalkan CV?” lanjutnya bertanya.
Resepsionis tampak ragu. “Biasanya seluruh proses perekrutan dilakukan melalui bagian personalia.”
Elang mengangguk mengerti. “Baik. Terima kasih.”
Ia baru saja hendak berbalik ketika suara langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk.
“Jangan sampai ada dokumen yang tertinggal. Semua berkas rapat harus sudah ada di ruanganku sebelum pukul dua.”
Seorang wanita berjalan memasuki lobi dengan langkah tegas diikuti dua orang staf.
“Bu Keira, pihak klien meminta rapat ditunda setengah jam,” ucap salah satu staf.
“Tidak."
“Tapi beberapa orang mereka belum datang,” ucap staf itu lagi.
Keira bahkan tidak memperlambat langkah saat ia menjawab, “Jika mereka ingin perusahaannya tetap berdiri bulan depan, mereka akan datang tepat waktu.”
“Baik, Bu.”
Elang yang masih berdiri dekat meja resepsionis sempat menahan pandangannya pada sosok wanita yang mereka panggil Bu Keira selama beberapa saat. Bukan karena penampilan wanita itu, melainkan nama yang staf itu sebutkan.
Keira Daneswari, pemimpin utama dari Daneswara Crisis Management. Suara stiletto hitamnya yang beradu dengan lantai marmer menggema seiring langkah yang dia ambil, setelan blazer putih yang membalut tubuhnya mempertegas aura kepemimpinan yang dia miliki, dan rambut panjang yang diikat rapi ke belakang membuat wajah tegas wanita itu terlihat lebih jelas.
Mereka berjalan seirama menuju lift. Namun, ketika mereka hampir melewati posisi di mana Elang berdiri, map di tangan salah satu staf terlepas, beberapa lembar dokumen jatuh dan berhamburan di lantai.
“Maaf, Bu!” ujar staf itu sedikit panik.
Staf itu segera berjongkok. Elang refleks membantu mengambil beberapa lembar kertas yang jatuh di dekat kakinya.
“Terima kasih,” ujar staf tersebut cepat.
Elang hendak menyerahkan lembar dokumen yang ia kumpulkan ketika matanya tanpa sengaja melihat tabel angka pada salah satu halaman. Dahinya berkerut. Ia menatapnya sekali lagi, dan menemukan sesuatu yang tidak sesuai.
“Sebentar.”
Staf itu menoleh. “Ada apa?”
Elang menunjuk satu bagian pada tabel. “Total jumlah ini salah.”
Kalimat itu membuat Keira berbalik cepat, tatapannya mengunci wajah pria asing di hadapannya. “Apa yang salah?”
Elang mengangkat lembaran dokumen di tangannya. “Baris sebelas sampai enam belas.”
Kerutan tipis terbentuk di dahi Keira saat ia membawa langkahnya mendekati posisi Elang dengan satu tangan terulur. “Berikan.”
Elang menyerahkan dokumen itu.
Keira melihat bagian yang ditunjuk. “Totalnya sesuai.”
“Kalau hanya menjumlahkan angka yang tertulis, memang sesuai,” jawab Elang.
Alis Keira terangkat “Lalu?”
“Volume barang di kolom sebelumnya berubah,” jawab Elang.
Salah seorang staf mendekat untuk memastikan.
Elang menunjuk salah satu baris. “Jumlah pengiriman turun hampir dua belas persen, tetapi biaya transportasi justru naik sembilan belas persen.”
Keira memperhatikan angka yang Elang sebutkan. “Bisa saja karena tarif.”
“Kalau tarif naik, perubahan seharusnya muncul pada seluruh jalur distribusi.” jawab Elang sembari menunjuk baris yang lain. “Yang berubah hanya tiga rute ini.”
Keira sudah membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi Elang melanjutkan ucapannya lebih cepat. “Dan ketiganya menggunakan vendor yang sama.”
Salah satu staf segera mengambil tablet dan membuka berkas, menggulir layarnya sebentar, kemudian menyerahkannya pada Keira. Beberapa detik kemudian, sorot mata Keira berubah.
“Vendor Sentra Logistik?”
“Iya, Bu,” jawab staf.
“Sejak kapan mereka menangani tiga rute sekaligus?” tanya Keira.
“Saya akan mengeceknya.” ucap staf sebelum berjalan menjauh untuk menghubungi seseorang.
Tatapan Keira kembali beralih pada Elang, menelisik penampilan pemuda di depannya dari atas sampai bawah. “Namamu?”
“Elang Mahesa.”
“Konsultan?” tanya Keira.
Elang menggeleng. "Bukan."
Alis Keira terangkat samar, pandangannya turun ke map di tangan Elang.
“Pelamar kerja?”
“Lebih tepatnya, saya sedang mencari pekerjaan,” jawab Elang.
“Kamu menemukan ketidaksesuaian dari dokumen yang kamu lihat hanya dalam satu menit?” tanya Keira dengan nada tak percaya.
“Angkanya mencolok.”
Keira menatap lekat pria di hadapannya selama beberapa saat, lalu meraih dokumen lain dari tangan staf yang masih ada di dekatnya dan menyodorkan dokumen itu pada Elang
“Ada lagi?”
Elang sedikit terkejut. “Apa?”
“Kesalahan lain,” ucap Keira.
Elang menerima dokumen itu. Netranya bergerak cepat membaca setiap baris angka yang tertulis dan segera menemukan permasalahannya dalam waktu singkat.
“Ini bukan kesalahan hitung, melainkan ada pengiriman yang dipecah,” kata Elang.
Keira melangkah lebih dekat. “Jelaskan.”
“Nomor kontrak dan tujuannya sama, tanggal hanya berbeda sehari. Tapi ditulis sebagai dua transaksi berbeda.” jelas Elang sembari mengembalikan dokumen di tangannya pada pemiliknya.
“Kenapa itu masalah?”
“Karena masing-masing berada tepat di bawah batas nominal yang membutuhkan persetujuan direktur.”
Keira terdiam. Waktu seolah berhenti bergerak saat penjelasan itu meluncur begitu mulus dari bibir Elang.
“Kamu lulusan apa?”
“Manajemen operasional,” jawab Elang.
Keira mengangguk pelan. “Pengalaman?”
“Magang delapan bulan di perusahaan manufaktur. Beberapa proyek kampus dan pekerjaan lepas.”
“Belum pernah menjadi analis?” tanya Keira lagi.
“Hampir.”
Keira mengerutkan dahi. “Hampir?”
“Saya diterima sebagai analis lapangan di perusahaan konstruksi. Tapi kontraknya batal sebelum sempat dimulai.”
“Kenapa?”
Elang diam sejenak. “Masalah pribadi.”
Keira tidak mendesak, tetapi tangannya terulur ke depan. “CV.”
“Apa?” Elang mengerjap bingung.
“Bukankah kamu sedang mencari pekerjaan?” Keira balas bertanya.
Elang segera menyerahkan CV yang berada di tangannya.
Keira menerima. Matanya bergerak cepat membaca. “IPK bagus. Beasiswa?”
“Iya," jawab Elang.
“Kenapa hanya satu pengalaman magang?” tanya Keira kembali mengangkat wajahnya.
“Ada beberapa kesempatan yang tidak jadi saya ambil.”
Keira hanya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh, lalu menyerahkan CV itu kepada staf di belakangnya.
“Elang Mahesa. Besok pukul delapan, datang lagi kemari.”
"Untuk apa?" tanya Elang bingung.
"Tes," Keira menjawab singkat.
"Bukankah di sini tidak ada lowongan?" tanya Elang semakin tidak mengerti.
"Sekarang ada."
Tanpa menunggu jawaban, Keira membalikkan badan, kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju lift meninggalkan Elang yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"T-tunggu!"
Denting pintu lift yang terbuka menarik Elang dari ketertegunannya, namun ia terlambat mengejar saat pintu lift sudah menutup sebelum ia memiliki kesempatan untuk mempertanyakan apa maksud wanita itu.
.
.
“Bu Keira.”
“Hmm?”
“Anda benar-benar akan mengetesnya?” tanya staf di samping Keira begitu pintu lift menutup.
“Kenapa tidak?”
“Kita memang membutuhkan analis tambahan, tapi pengalaman dia hampir tidak ada.”
Keira menyerahkan dokumen yang beberapa saat lalu diperiksa Elang. “Empat orang di tim kita membaca laporan itu sejak semalam.”
Staf itu terdiam.
“Tidak satu pun dari tim kita menemukan dua kejanggalan yang dia lihat hanya dalam waktu kurang dari dua menit.” Keira membuka pintu ruang rapat. “Pengalaman bisa dibentuk, tapi cara berpikir jauh lebih sulit untuk didapatkan.”
"Kita membutuhkan orang seperti dia."
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????