Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 : PEREMPUAN YANG MEMILIH PERGI

...BAB 3...

...PEREMPUAN YANG MEMILIH PERGI...

Hari pun semakin larut. Di antara kesunyian dan gelapnya langit malam. Di dalam kamarnya yang kecil. Melda berdiri di depan lemari plastiknya. Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas.

Air matanya sudah tidak lagi mengalir. Wajahnya justru terlihat tenang. Keputusan sudah ia buat matang-matang.

Jika Berry tidak mau mengakui anaknya, ia tidak akan memaksanya lagi. Ia akan meninggalkan rumah bibinya dan terpaksa harus berhenti kuliah, lalu ia akan mencari pekerjaan.

Melda akan bekerja keras, apa pun itu pekerjaannya, yang penting anaknya bisa lahir dan hidup dengan baik.

Melda menatap foto Berry untuk terakhir kalinya. Kemudian memasukkannya ke dalam kotak.

"Mulai sekarang..." Ia menutup kotak itu rapat.

"Aku nggak akan menunggumu lagi."

Dan malam itu, tanpa diketahui oleh siapa pun, seorang perempuan muda memutuskan untuk pergi dari rumah bibinya dan memulai hidup baru bersama bayi yang masih berada di dalam kandungannya.

Sementara Berry masih sibuk meyakinkan dirinya bahwa kehamilan Melda bukanlah urusannya.

 

Pagi itu, langit masih berwarna kelabu ketika Melda keluar dari rumah bibinya.

Sebuah tas kain berukuran sedang menggantung di bahunya. Tidak banyak yang ia bawa. Hanya beberapa pakaian. Dokumen penting dan sedikit uang tabungan.

Melda berdiri beberapa saat di depan pintu rumah itu. Matanya menatap bangunan sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya pulang.

Di rumah itulah ia tumbuh setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Di rumah itu pula bibinya membesarkannya dengan segala keterbatasan.

Melda menarik napas dalam-dalam. Ia sebenarnya ingin berpamitan. Ingin memeluk bibinya. Ingin mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung.

Namun setiap kali membayangkan wajah kecewa bibinya, keberaniannya kembali hilang.

Bukan karena ia takut dimarahi. Melainkan karena ia takut menjadi sumber malu bagi keluarga yang selama ini sudah menerimanya sebagai anak sendiri.

"Maafkan Melda, Bi..." Suara Melda bergetar. Ia menunduk. "Melda pergi dulu."

Tidak ada yang menjawab. Melda berjalan meninggalkan rumah. Setiap langkah terasa berat baginya, namun ia harus terus berjalan.

Tangannya sesekali menyentuh perutnya yang masih rata. "Tenanglah Nak..."

Melda tersenyum tipis meskipun matanya berkaca-kaca. "Ibumu disini, yang akan terus menjagamu."

Beberapa jam kemudian, Melda tiba di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari rumah bibinya.

Ia tidak membawa banyak uang. Karena itu, ia tidak bisa menyewa kamar mahal.

Setelah bertanya kepada beberapa orang, akhirnya ia menemukan sebuah kamar kos sederhana di belakang sebuah rumah makan.

Kamar itu kecil. Hanya ada kasur tipis, lemari plastik, meja kecil, dan kipas angin yang bunyinya berisik.

Namun bagi Melda, tempat itu sudah cukup dan yang penting ia bisa tinggal sendiri.

Pemilik kos memberinya harga murah karena mengetahui Melda sedang mencari pekerjaan.

"Kamu sudah dapat kerja?" tanya pemilik kos.

Melda menggeleng. "Belum Bu..."

"Kebetulan di rumah makan depan gang sedang mencari pegawai."

Melda langsung menoleh. Kedua matanya berbinar. "Benarkah?"

"Iya. Katanya bagian dapur."

"Besok saya akan coba melamar kesana."

Perempuan itu mengangguk. "Kalau serius bekerja, mungkin kamu dapat diterima."

Melda tersenyum lebar. "Terima kasih, Bu."

Malamnya, Melda duduk di atas kasur. Ia membuka tas. Mengeluarkan buku kuliahnya.

Tangannya mengusap sampul buku itu. Ada begitu banyak impian yang pernah ia tulis di sana.

Lulus kuliah lalu mendapatkan pekerjaan yang bagus. Membahagiakan bibinya dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Namun sekarang semuanya terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh. Air matanya kembali mengalir. Melda menutup lagi bukunya.

"Maafkan Melda Bi, sampai saat ini Melda belum bisa membahagiakan Bibi..."

Ia memasukkan buku itu kembali ke dalam tasnya. Untuk sementara, kuliah harus ia tinggalkan dulu.

Saat ini ia hanya membutuhkan uang banyak. Bukan untuk dirinya. Tetapi untuk bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

 

Sementara itu, di sebuah kafe mewah, Berry duduk berhadapan dengan seorang perempuan cantik.

Namanya Vina, pacar baru Berry. Vina tersenyum sambil memainkan sendok di dalam gelas minumannya.

"Dari kemarin, kamu kelihatan melamun terus." ujarnya.

Berry mengangkat wajah menatap pacar barunya. "Hah apa?"

"Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya gadis itu.

Berry tersenyum dan menggeleng pelan. "Nggak mikir apa-apa..."

"Yakin?"

"Yakin."

Vina menyandarkan tubuhnya. "Akhir-akhir ini kamu nggak seperti biasanya."

Berry tertawa kecil. "Memangnya, biasanya aku gimana?"

"Selalu perhatian." Vina tersenyum manja. "Kalau aku diam, kamu pasti langsung tanya kenapa."

Berry tidak menjawab. Pikirannya kembali kepada satu nama.

Melda.

Ia segera mengusirnya. "Jadi malam nanti, mau ke mana lagi?" tanya Berry mengalihkan.

Vina tersenyum. "Terserah kamu."

"Kalau begitu kita pergi." sahut Berry.

"Ke mana?" Mata Vina berbinar.

"Tempat yang kamu suka." lanjut Berry.

Vina tertawa lepas. Berry pun ikut tersenyum. Ia sengaja membuat dirinya sibuk. Ia ingin membuktikan bahwa hidupnya tetap baik-baik saja.

Namun ketika ponselnya bergetar, senyumnya langsung menghilang.

Sebuah pesan masuk dari Melda lagi.

Melda : Mulai hari ini dan seterusnya. Aku tidak akan mengganggumu lagi.

Berry menatap layar.

Entah mengapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa berat. Ia membaca pesan tersebut beberapa kali.

Vina memperhatikan. "Pesan dari siapa?"

Berry segera mematikan layar. "Oh itu. Teman."

"Teman perempuan?"

Berry tersenyum santai. "Bukan siapa-siapa."

Ia memasukkan ponselnya ke saku. Padahal untuk pertama kalinya, Berry merasa ada sesuatu yang salah.

Di rumah makan sederhana yang berada tidak jauh dari kosnya, Melda berdiri di depan pemilik tempat tersebut.

Seorang perempuan paruh baya memandangnya dari atas sampai bawah.

"Kamu pernah kerja di rumah makan?"

"Belum pernah, Bu."

"Pernah cuci piring?"

Melda mengangguk. "Di rumah."

Perempuan itu tertawa kecil. "Kalau di rumah tentu beda."

Melda tersenyum. "Saya mau belajar."

"Kamu bisa kerja bagian cuci piring dulu."

"Kalau boleh saya tahu, berapa gajinya Bu?"

Perempuan itu menyebutkan jumlahnya. Memang tidak besar. Bahkan jauh dari cukup untuk hidup nyaman. Namun Melda langsung mengangguk setuju. "Saya mau."

"Tapi kerjanya dari pagi sampai malam."

"Saya sanggup."

"Yakin?"

Melda mengangguk lagi. "Saya butuh pekerjaan ini."

Perempuan itu memperhatikannya sejenak. "Kamu masih muda. Kenapa mencari kerja seperti orang yang sedang dikejar?"

Melda tersenyum pahit. "Karena saya memang sedang dikejar."

"Dikejar siapa?"

Melda menyentuh perutnya dan menundukkan kepala. "Waktu."

Perempuan paruh baya itu tidak memahami maksudnya. Namun akhirnya Ia mengangguk.

"Besok kamu bisa mulai."

"Terima kasih banyak, Bu." Melda menundukkan kepala lagi. Untuk pertama kalinya sejak pergi dari rumah bibinya, ia merasa sedikit lega.

Ia akhirnya punya pekerjaan setidaknya bisa bertahan hidup dan Melda bisa menjaga calon bayinya, walaupun sendirian.

******

Sementara itu, Reyga sedang berada di bengkel. Motor kesayangannya diperiksa setelah balapan malam sebelumnya.

Berry datang menghampirinya. "Rey."

Reyga menoleh. "Lo dari mana?"

"Ngopi."

"Sama siapa?"

"Vina."

Reyga mengangguk. Kemudian kembali memeriksa motornya.

Berry berdiri di sampingnya. "Lo nggak mau nanya lebih jauh?"

"Ngapain?"

"Pacar gue."

Reyga tertawa. "Setiap minggu pacar lo selalu ganti."

Berry memasang wajah tersinggung. "Nggak setiap minggu."

"Dua minggu?"

"Kurang lebih."

Reyga menggeleng. "Lo nggak capek apa?"

"Capek apanya?"

"Memulai hubungan terus."

Berry terdiam sebentar. Kemudian tersenyum.

"Gue cuma nggak percaya dengan yang namanya hubungan serius."

Reyga menatap sahabatnya. "Kenapa?" tanyanya.

Berry mengangkat bahu. "Karena pada akhirnya semua orang akan pergi."

Reyga tidak menjawab. Ia tahu ada cerita panjang di balik kalimat itu.

"Ngomong-ngomong," Berry mengalihkan pembicaraan. "Bokap lo gimana?

"Masih marah." jawab Reyga singkat.

"Masih nyuruh lo ke kantor?"

"Setiap hari."

Berry tertawa. "Terus?"

"Ya setiap hari gue juga nolak dia."

"Berani juga Lo!"

Reyga tersenyum. "Gue punya rencana."

"Rencana apaan?" tanya Berry penasaran.

"Ikut kejuaraan tingkat nasional."

Berry langsung bersiul. "Serius Lo?"

"Serius."

"Kalau menang?"

"Gue bisa dapat sponsor."

"Kalau kalah?"

"Gue coba lagi."

Berry menepuk bahunya. "Semoga berhasil."

Reyga tersenyum lebar. Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan bengkel.

Ayah Reyga, Darmawan turun dari mobilnya. Wajahnya tampak dingin. Reyga pun langsung tahu kedatangannya. Pastinya masalah baru lagi.

 

Di tempat lain, Amelia sedang berdiri di depan arena latihan. Kamera tergantung di leher. Buku catatan berada di tangannya.

Ia sudah menunggu hampir satu jam lebih. Namun Reyga belum juga muncul. "Katanya latihan jam sepuluh." gumamnya pelan.

Amelia melihat jam tangannya. Sudah hampir sebelas. "Pembalap macam apa sih dia?"

Seorang mekanik yang lewat tertawa. "Reyga memang begitu."

Amelia menoleh. "Mas tahu soal dia?"

"Tentu."

"Dia biasanya datang jam berapa?" tanya Amelia.

"Kalau moodnya bagus, dia datang jam sepuluh."

"Kalau moodnya jelek?"

"Siang hari baru datang."

Amelia menghela napas. "Berarti saya harus menunggunya lebih lama."

Mekanik itu mengangguk. "Kalau kamu mau wawancarai Reyga, ya harus sabar." ujarnya.

Amelia tersenyum kecut. "Ya, untungnya saya punya banyak kesabaran."

Padahal sebenarnya ia tidak punya pilihan lain. Ia membutuhkan berita itu, dan sangat membutuhkan pekerjaan ini.

Karena di rumah ada ibunya yang sakit dan dua adiknya yang masih sekolah.

Amelia kembali melihat pintu masuk. Tak lama kemudian suara motor terdengar.

Reyga datang.

Amelia langsung berdiri. "Nah, itu dia datang!"

Ia mengambil kameranya.

Reyga turun dari motor.

Namun baru beberapa langkah, Amelia sudah menghadangnya.

"Pak Reyga!"

Reyga berhenti. Wajahnya langsung berubah. "Lo lagi?"

Amelia tersenyum lebar. "Iya."

"Ada apa?" ketusnya dingin.

"Saya mau wawancara Bapak."

"Nggak."

"Saya kan belum mulai."

"Jawabannya tetap nggak."

Amelia berjalan mengikutinya. "Kenapa Anda tidak suka diwawancarai?"

"Nggak suka."

"Kenapa?"

"Karena pertanyaan reporter membosankan."

Amelia berhenti. "Kalau begitu saya buat pertanyaannya tidak membosankan."

Reyga menoleh. "Contohnya?"

Amelia tersenyum. "Misalnya..." Ia mengangkat buku catatan. "Kenapa seorang pewaris perusahaan besar justru memilih menjadi seorang pembalap?"

Langkah Reyga terhenti. Untuk pertama kalinya, ia menatap Amelia dengan serius.

Pertanyaan itu berbeda dan Amelia menyadarinya. "Jawabannya?" tanya Amelia menunggu.

Reyga terdiam untuk beberapa detik. Kemudian berkata pelan. "Karena gue nggak ingin hidup gue ditentukan oleh orang lain."

Amelia mencatat. "Berarti Anda tidak bahagia dengan kehidupan sebagai anak seorang pengusaha?"

Reyga menatapnya. "Pertanyaan berikutnya."

Amelia tersenyum. Akhirnya Reyga mau menjawab setidaknya beberapa pertanyaan darinya.

******

Sementara di kota lain...

Melda sedang mencuci piring hingga tangannya memerah. Ia menahan rasa mual yang mulai datang.

Tangannya berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, kemudian menyentuh perutnya.

"Anak Ibu..." Senyumnya tipis. "Maaf kalau sekarang hidup kita nggak mudah."

Lalu ia kembali mencuci piring. Tidak ada yang tahu siapa dirinya. Tidak ada yang tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.

Dan Melda memilih untuk tetap diam. Karena bagi dirinya, lebih baik menanggung semuanya sendirian daripada menjadi beban bagi orang lain.

Sedangkan Berry...

masih belum menyadari bahwa perempuan yang ia abaikan sedang berjuang sendirian demi darah dagingnya sendiri.

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!