Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. SUREL YANG TERLAMBAT

BAB 3. Surel yang Terlambat

Sudut bibir Hagia nyaris membentuk senyum kecil. Nika adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa Xavier bukanlah nama sesungguhnya. Sejak Amara meninggal, perempuan itulah yang tetap menjaga seluruh kerja sama yang dulu dibangun ibunya.

Hagia segera membuka surel tersebut.

Subjek: Kamu harus buka email ini sekarang.

Hagia,

Kalau kamu membaca email ini, berarti akhirnya kamu sempat membuka laptopmu.

Selamat. Kita berhasil.

Setelah berbulan-bulan begadang, revisi tanpa henti, dan semua kekacauan yang kita hadapi, akhirnya proyek itu menjadi milik kita.

Aku sengaja tidak menelepon karena tahu kamu sedang mengurus sesuatu yang sangat penting hari ini.

Email resmi dari panitia sudah keluar. Aku lampirkan semuanya di bawah.

Dan satu hal lagi...

Xavier benar-benar mengalahkan Arshaka Group.

Aku rasa kamu akan tersenyum saat membaca bagian itu. Tapi jangan terlalu lama. Masa sanggah masih berjalan, jadi kita tetap harus berhati-hati.

Istirahatlah kalau bisa.

— Nika

Tatapan Hagia perlahan bergeser menuju berkas lampiran yang ikut dikirim bersama surel tersebut.

Ia membukanya. Beberapa detik kemudian, sebuah dokumen resmi memenuhi layar.

Perihal: Pemberitahuan Hasil Evaluasi Tender Pembangunan Stadion Nasional

Berdasarkan hasil evaluasi administrasi, teknis, dan biaya, proposal yang diajukan oleh Xavier Design Studio memperoleh nilai tertinggi dan ditetapkan sebagai Calon Pemenang Tender, dengan ketentuan tetap mengikuti masa sanggah sesuai peraturan pengadaan yang berlaku.

Hagia membaca kembali kalimat itu untuk kedua kalinya. Lalu untuk ketiga kalinya. Jemarinya perlahan terlepas dari touchpad. Ruangan mendadak terasa begitu sunyi. Ia memang berhasil. Studio ibunya berhasil diselamatkan. Xavier kembali hidup. Dan Arshaka Group benar-benar kalah. Namun... ia merasa, semuanya terlambat.

Tatapannya perlahan beralih ke cincin sederhana yang kini melingkar di jari manis kirinya. Andaikan ia membuka surel ini beberapa jam lebih awal dan mengetahui hasil tender itu sebelum duduk berhadapan dengan Kalandra di ruang CEO, mungkin saat ini studio ibunya tetap dapat diselamatkan tanpa perlu menerima lamaran transaksional dari lelaki itu. Dan mungkin, statusnya tidak akan berubah secepat ini.

Hagia mengembuskan napas panjang. Penyesalan itu hanya datang sesaat. Karena ia tahu, tidak ada gunanya lagi untuk menyesal. Pernikahan itu telah sah. Keputusan juga sudah telanjur diambil. Mulai besok dia hanya harus menjalani peran barunya tanpa membuka identitas yang ditinggalkan ibunya.

Hagia perlahan menutup laptopnya. Kepalanya bersandar sejenak pada sandaran kursi. Sejak membuka surel itu, pikirannya belum juga benar-benar tenang.

Ting...

Suara lembut dari panel interkom memecah keheningan penthouse.

Hagia spontan mengangkat kepala. Ia baru teringat bahwa Kalandra sempat mengatakan dirinya akan pulang larut malam. Kalau begitu, siapa yang datang saat ini?

Ia bangkit dari kursi, lalu berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama. Sebuah layar kecil yang terpasang di dinding samping pintu telah menyala otomatis. Di sana terlihat seorang pria berseragam jasa antar makanan sedang berdiri sambil membawa dua kantong kertas berwarna cokelat.

Hagia mengernyit. Ia tidak merasa pernah memesan makanan. Baru saja tangannya hendak menyentuh panel interkom itu, layar ponsel yang berada di genggamannya tengah menyala.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum tersimpan.

[Makan malammu sudah datang. Silakan ambil di luar.]

Belum sempat Hagia bereaksi, satu pesan lain kembali muncul.

[Besok hari pertama kerja. Jangan ada alasan sakit hanya karena telat makan.]

"Ck. Kerja kerja dan kerja yang dia bahas. Tidak salah lagi, ini pasti pesan dari Kalandra."

Ia bisa saja menolak pekerjaan barunya karena di luar kesepakatan. Namun, setiap kali Kalandra menyebut nama sang kakek sebagai alasan, rasa iba mengalahkan egonya.

Kini, tatapannya berpindah dari layar ponsel menuju layar interkom, lalu kembali lagi ke ponsel.

Meski nomor itu tidak memiliki nama, ia langsung mengetahui siapa pengirimnya hanya dengan membaca isi pesan tadi.

Entah kapan pria itu menyimpan nomor ponselnya. Entah kapan pula ia sempat memesan makanan di tengah jadwal yang sejak pagi begitu padat. Hagia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya membuka pintu.

"Selamat malam, Bu."

Kurir itu menyerahkan dua kantong makanan dengan sopan.

"Pesanan atas nama Pak Kalandra."

"Terima kasih."

Pintu kembali tertutup. Hagia membawa kedua kantong itu menuju meja makan. Aroma sup hangat segera memenuhi ruangan begitu ia membukanya. Ia kembali melirik layar ponselnya. Hanya ada dua pesan singkat itu. Tidak ada pertanyaan apakah makanan sudah diterima. Tidak ada kalimat yang menanyakan apakah ia menyukainya. Hanya dua pesan pendek yang terdengar lebih seperti perintah daripada perhatian. Namun, tanpa disadarinya, sudut bibir Hagia perlahan terangkat.

"Pria aneh..." gumamnya lirih sebelum menarik kursi dan mulai menikmati makan malam pertamanya di penthouse itu.

Malam itu, tidak ada lagi yang mengganggu keheningan penthouse. Setelah menghabiskan semangkuk sup hangat dan beberapa potong roti, Hagia membereskan meja makan seperlunya. Ia sempat menoleh ke arah dapur yang bersih dan tertata rapi. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa tempat itu benar-benar sering digunakan untuk memasak.

Setelah membawa gelas terakhir ke wastafel, Hagia kembali masuk ke kamar. Sebelum menutup pintu, pandangannya sempat menyapu ruang tengah yang kini kembali sunyi. Rumah sebesar ini, hanya dihuni dua orang yang nyaris tidak saling mengenal.

Ia mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur di samping ranjang. Pikirannya masih berputar antara pernikahan kilat yang dilakukannya hari ini, lalu berbagai upaya yang dia lakukan demi menyelamatkan studio milik ibunya, juga tentang tender Xavier yang baru saja dimenangkannya. 

Untuk malam ini, semua pikiran itu harus ia simpan sementara waktu. Besok pagi dia harus bersiap menjadi asisten pribadi dari lelaki yang tak hanya berstatus sebagai suami, juga sebagai lawan yang dikalahkan dalam sebuah perebutan tender.

Hagia membaringkan tubuhnya perlahan. Jemarinya tanpa sadar menyentuh kembali cincin sederhana yang melingkar di jari manis kirinya. Ia memejamkan mata, berharap rasa lelah mampu mengalahkan pikirannya yang terus bekerja.

Sementara itu, beberapa kilometer dari penthouse, ruang CEO Arshaka Group masih diterangi cahaya lampu. Jam dinding telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika Haris memasuki ruangan sambil membawa setumpuk map.

"Pak, seluruh dokumen yang tadi tertunda sudah selesai ditandatangani."

Kalandra hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

"Rapat dengan investor Singapura saya pindahkan ke lusa," lanjut Haris. "Sedangkan evaluasi proyek kawasan timur sudah dijadwalkan ulang."

"Baik."

Jawaban itu begitu singkat. Haris sebenarnya sudah terbiasa dengan atasannya yang irit bicara. Namun, malam itu ada satu hal yang ingin diucapkannya.

"Pak..."

Kalandra akhirnya mengangkat kepala. "Masih ada yang lain?"

Haris tampak ragu beberapa detik.

"Maaf."

"Kenapa?"

"Selamat atas pernikahan Pak Kalandra hari ini."

Ruangan mendadak sunyi. Beberapa saat Kalandra hanya memandang sekretarisnya tanpa perubahan ekspresi.

"Terima kasih."

Hanya dua kata. Namun, bagi Haris, jawaban itu sudah cukup. Ia tidak bertanya yang lainnya. Selama bertahun-tahun bekerja mendampingi Kalandra, ia tahu atasannya bukan orang yang akan menikah karena dorongan emosi. Kalau keputusan itu sudah diambil, berarti ada alasan yang jauh lebih besar daripada yang diketahui orang lain.

"Kalau begitu saya permisi, Pak."

"Haris."

Sekretaris itu kembali berhenti.

"Besok pagi..." Kalandra menutup laptop di hadapannya. "Nona Hagia mulai bekerja sebagai asisten pribadi saya."

Haris tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk.

"Saya mengerti, Pak."

"Siapkan meja kerja di dalam ruangan ini."

"Di... dalam ruang CEO?"

"Iya."

Tidak ada penjelasan lain. Haris hanya mengangguk sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup. Kalandra menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya beralih ke balik dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap Jakarta di kejauhan.

Kalandra memandang layar ponselnya beberapa detik. Jempolnya sempat berhenti pada nama "Hagia" yang baru tersimpan siang tadi.

Tidak ada pesan yang ia ketik.

Beberapa saat kemudian, ponsel itu kembali diletakkan di atas meja.

Ia mengambil map berikutnya, tetapi entah mengapa tulisan-tulisan di hadapannya tidak lagi mudah untuk dibaca.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!