Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Desa Qinghe
..."benci boleh, tapi orang tidak boleh mati karena itu"...
Setelah melewati pos 8 sekte, jing Yue berjalan selama 2 hari tanpa bertemu satu orang pun.
Suara gemuruh hewan di hutan, menutupi bunyi perut nya yang kosong, roti terakhir nya sudah habis sejak hari ke dua.
Dia cuma minum dari air sungai dan memakai daun.
Pada sore hari, dia sampai di sebuah desa di bawah kaki gunung.
Desa itu bernama qinghe, desa yang ramai di mana anak-anak berlari ke sana ke mari, serta asap dapur yang mengepul dari berbagai rumah.
Jing Yue berjalan memasuki desa, dia membungkuk hormat ke setiap orang yang lewat, "permisi, boleh minta air?"
Tidak ada satu pun orang yang menjawab.
Ibu-ibu langsung narik anak nya memasuki rumah dan pintu di tutup dengan keras.
Laki-laki di warung menatap nya dari atas ke bawah, mereka menatap lambang emei di dada nya.
Salah satu dari mereka teriak "emei! pergi sana!"
Jing Yue berhenti "aku tidak berniat jahat, aku hanya ingin lewat"
Kepala desa keluar, umur nya 50an, dia berjalan mendekati jing Yue dan menatap nya dengan wajah yang keras, "5 tahun lalu, murid emei pernah datang ke sini, dia bilang akan melindungi desa ini, ternyata ketika bandit datang menyerang, mereka orang pertama yang kabur meninggal kan kami dan membuat adik ku mati"
Dia meludah ke tanah di depan kaki jing Yue, "jadi jangan sebut nama itu di desa ku lagi, kami semua muak mendengar nama nya"
Jing Yue pergi ke luar desa karena tidak di perbolehkan kan menginap, bahkan mereka melarang jing Yue membeli makan di desa mereka.
Dia kembali tidur di bawah pohon dan harus melewati malam yang dingin untuk kesekian kali nya.
Di tengah malam yang dingin, hujan turun dengan deras nya membuat lampu minyak jing Yue tidak bisa nyala.
Dia hanya bisa memeluk pedang kayu nya dengan gemetar dingin.
Dari kejauhan terdengar jeritan keras.
"tolong! ada bandit! "
Tanpa berpikir lagi, jing Yue langsung berdiri dan berlari menuju desa.
Di depan gerbang desa, ada 3 bandit yang memaksa untuk masuk dengan membawa golok.
Warga desa hanya bisa berteriak dari dalam rumah dengan gemetar takut, tanpa ada yang berani untuk keluar rumah.
Jing Yue melangkah maju dalam diam, berdiri tenang tanpa teriakan, tanpa suara menantang, dia cuma berdiri di tengah jalan.
"hei, anak kecil!" ejek bandit pertama "minggir sana!"
Jing Yue menatap dingin ke tiga bandit itu, dia menghirup nafas panjang dan bersiap pada jurus pedang nya, 'emei jinhong' ucap pelan jing Yue melakukan serangan dengan kecepatan tinggi, membuat ke 3 bandit itu tergeletak dan pingsan.
Mereka tidak mati, tapi dapat di pastikan mereka tidak bisa berdiri selama 3 hari.
Jing Yue kemudian memeriksa satu persatu rumah warga tanpa terlewat, untuk memastikan tidak ada yang terluka.
lalu dia duduk di pinggiran desa, menatap langit dan menunggu hujan berhenti.
Malam yang panjang pun telah berlalu, pagi menyapa dengan sinar yang terang, seluruh warga desa keluar secara perlahan.
Mereka melihat 3 bandit yang sudah di ikat, dan di samping nya ada jing Yue yang tertidur sambil duduk dengan jubah nya yang basah.
Kepala desa mendekat, tangan nya gemetar, "... kenapa kau menolong kami? bukan nya kami sudah mengusir mu"
Jing Yue membuka mata nya pelan, suara nya serak karena kedinginan, "karena guru pernah bilang, emei melindungi... bukan menuntut terimakasih, kalau kami kabur karena takut di benci... maka kami memang pantas untuk di lupakan"
Kepala desa tertegun mendengar ucapan jing Yue, lalu dia berbalik dan pergi, kemudian kembali dengan membawa semangkuk bubur panas dan jubah kering.
"maaf kan kami, nona" kata nya pelan "untuk 5 tahun lalu dan untuk tadi malam"
Dia lalu menunjuk ke papan nama desa, "kau boleh tinggal di desa ini sampai sembuh"
Jing Yue menggeleng dengan tegas "aku harus kembali melanjut kan perjalanan, masih tersisa 26 hari lagi" kemudian dia berdiri dan ingin berjalan pergi.
Sebelum jing Yue pergi, seorang anak kecil berlari menghampiri nya dan menyelipkan bunga liar ke buntalan jing Yue.
Jing Yue tidak mengucap kan apa pun, dia berbalik dan berjalan pergi.
Di hari ke 4 perjalanan jing Yue, dia tidak mendapat kan uang, tidak juga mendapat kan pengakuan besar.
tapi dia mendapat kan satu hal "satu desa yang tadi nya paling membenci nama emei... hari ini memberi makan emei"
Di papan kayu yang bertulis kan nama desa itu, ada coretan baru dengan arang,
'Emei pernah kembali ke Qinghe'